tentu setiap orang pernah merasakan kondisi semua aspek kehidupan rasanya menjengkelkan. bahkan sapa ramah teman di samping saya pun terasa seperti menyulut amarah. saya tidak tahu persis apa yang terjadi, mungkin karena beban pekerjaan yang rasanya overload, sehingga tanpa sengaja saya justru mengalihkannya dengan mengumbar rasa marah ini pada orang-orang di sekeliling.
saya mencoba merenungkan kembali, benarkah pekerjaan saya memang sungguh-sungguh banyak? atau malah saya saja yg terlalu manja, sehingga setiap tanggung jawab merupakan ajang untuk berkeluh kesah.
sebenarnya apa saja ya pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini? mm..coba saya review dulu..
untuk program techno & mobile masih ada satu ulasan mengenai launching kamera dari cannon yg harus selesai, padahal tidak bisa mengecek kaset liputannya, (trus gimana mo bikin script coba?!!!) semoga bisa selesai sebelum jam 5, supaya bisa take VO sama mas Faisal yg klo ba'da magrib udah menghilang.. ugh..semoga bisa ngejar..
juga harus kirim script host buat Kamidia Radisti, klo bisa udah di imel sebelum jam 6, biar dia punya waktu lebih banyak untuk baca-baca, jadi besok gak perlu retake berulang-ulang. selain biar si Disti enak, juga memudahkan PA-nya kan.
Bikin rundown special program buat Dinas Tata Kota, tadi di telp sama AE besok mo miting jam 2 sore. sumpah, padahal rundown bukan tugas gue neh! yo weslah, membantu sesama sepertinya dianjurkan dalam semua agama deh..
sebenarnya bukan gak mau bikin, lebih ke perasaan takut salah, saya kan masih script writer junior. selain itu klo bisa juga udh bikin draft lagu yg mo dibawain sama Letto, contact Ussie, siapa aja yg bisa ngisi acara buat host dan grup lawaknya. sebenarnya sambil berharap-harap cemas, Letto bisa gak ya? tanpa bermaksud membawa obsesi pribadi saya pada Letto, untungnya si klien memang minta mereka sebagai pemanis di talkshow nanti.
hati kecil saya sebenarnya tidak rela kalau kangmas Noe dan konco-konco itu cuma buat pemanis aja, mereka kan canggih banget, syair lagunya keren banget deh..
jadi inget sama motto sang vocalis, "Jalani setiap detikmu dengan sungguh-sungguh, soal besok urusan Tuhan". sebaris kalimat sakti inilah yang membaptis saya jadi fans mas Noe..
kalau bisa, saya harus menyelesaikan program DTK ini malam ini juga, biar besok gak nyusahin..
trus klo masih ada energi, baru buka file yg ditawarin Vampir, katanya saya disuruh bikin script untuk program 30 menit yg rencananya tayang 30 menit di salah satu tivi kabel. saya cuma berharap gak ngecewain Vampir yg udah ngasih kepercayaan, sekalian mumpung dengan status seperti saya ini kan selingkuh masih halal.
itung-itung biar laptop impian juga cepet kebeli. berbicara soal laptop, saya jadi berpikir apa saja ya daftar keinginan saya?
gaji bulan ini, setengahnya akan di dedikasikan untuk melunasi cicilan motor, yups, tinggal selangkah lagi si Archiles stroberi yg biasa mengantarkan saya kemanapun pergi itu menjadi hak milik sepenuhnya. amien..
saya juga ingin mengambil kursus bahasa inggris, yg satu ini seakan menjadi musuh terbesar saya. entahlah, mengapa saya bodoh sekali untuk bagian ini. Ingat percakapan dengan Mimit, katanya
"Yang gue tahu lo tuh orang yang senang belajar, selalu menerjang tantangan, tapi klo untuk belajar bahasa inggris herannya ada aja alasan buat menghindar"
aseli, sindirannya ngena banget! yah, saya orang yang senang mempelajari apapun, hal-hal baru juga hajar bleh, kecuali untuk bahasa inggris. harga diri saya langsung turun di level terendah deh klo udah diledekin soal kemampuan ber cas cis cus ini..
tapi kali ini saya akan berusaha, pertama yg harus dilakukan tentu mengatur pola pikir di kepala ini. saya penganut mahzab 'musuh terbesar manusia adalah pikurannya sendiri', jadi saya harus berhasil mensugesti diri, belajar bahasa inggris sama sekali bukan hal yang menakutkan.
lagipula, banyak sekali kesempatan yang terlewat, karena saya minder akibat kemampuan menguasai bahasa global ini. saya sengaja tidak mengambil tawaran beasiswa S2 ke negara manapun dan jurusan apapun itu, saya juga mengurungkan niat mengambil summer course di VOA selama 6 bulan, belum lagi harus kehilangan momen saat harus membrief dokter-dokter Singapura yg sampai saat ini masih emnjadi klien saya.
entah, apalagi kesempatan di waktu mendatang yg akan terlewat karena kemampuan berbahasa inggris saya yg ampyun ini.. jadi mulai sekarang, siapkan tekad yg lebih keras dari baja dan kemamuan yg tak lekang untuk menundukkan si bahasa inggris..
saya juga ingin memiliki notebook, tak usah yang canggih, cukup yang bisa di gunakan untuk mengetik dan beberapa aplikasi sederhana semacam photoshop.
setelah semua, saya juga ingin ganti hape, biar gak drpo klo dipake menelpon lama. juga biar gak perlu pke karet klo mau charge batere yg suka gak konek listrinya..
terakhir, semoga tahun ini saya sempat ke Makasar atau manapun yg penting keluar pulau Jawa. saya ingin mencecap aroma tanah nusantara ini, selain pulau jawa. meski saya tidak dilahirkan di Pulau yg katanya paling makmur ini, namun hampir seluruh hidup telah saya habiskan di sini. jadi, semoga saya berkesempatan melakukan perjalanan ini, bersama Sleepy dan Udin.
ah, sedang apa ya mereka saat ini? sudah lama aku tidak bertemu meski nyaris tiap hari bertelepon ria..
sekarang saya akan mengumpulkan segenap niat untuk mengerjakan semua..
semoga selesai hari ini, dan saya tidak menusahkan siapapun.. amin..
Rabu, 15 Oktober 2008
Selasa, 14 Oktober 2008
mari berkaca
tadi di kantor sempat ada sedikit kehebohan..
pasalnya salah satu partai politik yang sebelumnya menjanjikan akan datang dalam program partai bicara, membatalkan tiba-tiba, bahkan hanya sesaat sebelum taping..
padahal, ada seorang menteri yg hadir dan ajudannya yg berjumlah enam orang (ampyun..6 orang) selalu mendesak para kru, mengapa acara tidak segera di mulai..
akhirnya producer mengatakan, proses taping di tunda karena ada partai yg belum hadir..
dari tim menteri, mereka terus mendesak agar rekaman segera dilangsungkan..
sampai pada akhirnya, si Bapak Producer yg dari awal sebenarnya berusaha menjaga perasaan menteri kita itu, mengatakan bahwa yg membatalkan secara tiba-tiba adalah partai dimana si bapak menteri itu selama ini bernaung..
saya bisa membayangkan, bagaimana perasaan sang Menteri..
Mungkin malu amat sangat, namun saya rasa yg paling dia sesalkan adalah perilakuknya yg terus mendesak agar acara segera dilaksanakan, menyakitkannya, tertundanya proses recording justru karena ulah kelompoknya sendiri..
saya merasa kasihan, pada semuanya..
pada teman saya yg bertugas mendatangkan cluster, pastinya nanti dia akan dicerca mengapa salah satu parpol ini bisa membatalkan secara tiba-tiba..
pada menteri yg terpaksa harus menanggung malu..
pada partai yg telah bersedia hadir tepat waktu, namun tidak mendapat lawan diskusi seperti yg diharapkan sebelumnya..
pada partai yg membatalkan hadir, pasti mereka memiliki alasan tersendiri hingga membatalkan janji, menyedihkannya tentu akan banyak pihak yg tidak mau tahu dengan alasan mereka..
ehm..mungkin juga pada diri sendiri yg tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan, kecuali hanya menuliskan sepenggal kisah ini..
bukannya berlagak sok alim, kejadian ini mengajak saya untuk belajar tidak menilai seseorang langsung, tanpa mencari tahu alasan yg sebenar-benarnya mengapa seseorang atau bahkan sesuatu melakukan sesuatu yg kurang berkenan bagi sebagian besar orang.
mereka pasti memiliki alasan, bahkan saat alasan itu hanya bernama rasa malas sekalipun. tentu rasa malas itu pasti disebabkan oleh sesuatu hal yg mungkin pada akhirnya kita akan memakluminya..
pasalnya salah satu partai politik yang sebelumnya menjanjikan akan datang dalam program partai bicara, membatalkan tiba-tiba, bahkan hanya sesaat sebelum taping..
padahal, ada seorang menteri yg hadir dan ajudannya yg berjumlah enam orang (ampyun..6 orang) selalu mendesak para kru, mengapa acara tidak segera di mulai..
akhirnya producer mengatakan, proses taping di tunda karena ada partai yg belum hadir..
dari tim menteri, mereka terus mendesak agar rekaman segera dilangsungkan..
sampai pada akhirnya, si Bapak Producer yg dari awal sebenarnya berusaha menjaga perasaan menteri kita itu, mengatakan bahwa yg membatalkan secara tiba-tiba adalah partai dimana si bapak menteri itu selama ini bernaung..
saya bisa membayangkan, bagaimana perasaan sang Menteri..
Mungkin malu amat sangat, namun saya rasa yg paling dia sesalkan adalah perilakuknya yg terus mendesak agar acara segera dilaksanakan, menyakitkannya, tertundanya proses recording justru karena ulah kelompoknya sendiri..
saya merasa kasihan, pada semuanya..
pada teman saya yg bertugas mendatangkan cluster, pastinya nanti dia akan dicerca mengapa salah satu parpol ini bisa membatalkan secara tiba-tiba..
pada menteri yg terpaksa harus menanggung malu..
pada partai yg telah bersedia hadir tepat waktu, namun tidak mendapat lawan diskusi seperti yg diharapkan sebelumnya..
pada partai yg membatalkan hadir, pasti mereka memiliki alasan tersendiri hingga membatalkan janji, menyedihkannya tentu akan banyak pihak yg tidak mau tahu dengan alasan mereka..
ehm..mungkin juga pada diri sendiri yg tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan, kecuali hanya menuliskan sepenggal kisah ini..
bukannya berlagak sok alim, kejadian ini mengajak saya untuk belajar tidak menilai seseorang langsung, tanpa mencari tahu alasan yg sebenar-benarnya mengapa seseorang atau bahkan sesuatu melakukan sesuatu yg kurang berkenan bagi sebagian besar orang.
mereka pasti memiliki alasan, bahkan saat alasan itu hanya bernama rasa malas sekalipun. tentu rasa malas itu pasti disebabkan oleh sesuatu hal yg mungkin pada akhirnya kita akan memakluminya..
Sabtu, 11 Oktober 2008
masih soal manusia rawa..
entahlah apa yang terjadi pada diri ini. rasanya kokmakin susah memahami apa yang saya mau. kalau sudah begini,saya akhirnya merasa bingung sendiri. jika saya sendiri saja tidak tahu, apalagi orang lain?
hari ini tidak punya cerita..
hanya membuang waktu dengan kemalasan tak berujung..
pikiran saya masih saja dipenuhi oleh manusia rawa, semoga besok sudah tidak lagi..
tapi sebenarnya ada rasa takut akan kehilangan..
hari ini tidak punya cerita..
hanya membuang waktu dengan kemalasan tak berujung..
pikiran saya masih saja dipenuhi oleh manusia rawa, semoga besok sudah tidak lagi..
tapi sebenarnya ada rasa takut akan kehilangan..
Jumat, 10 Oktober 2008
manusiarawa itu..
beberapa hari belakangan ini banyak yang berjejal di kepala..
tiba-tiba harus banyak belajar mengenai sesuatu yang yang sbeleumnya sama sekali tidak saya pedulikan. ada juga klien yang blocking di Healthy Life, klien ini merupakan salah satu departemen pemerintah yang pimpinannya amat haus akan publikasi.
semoga saya bisa mengemban amanat departemen yang tentu tidak sedikit merogoh kocek demi sesuatu yang dinamakan publikasi.
pikiran saya sebenarnya juga dipenuhi oleh manusia pemilik halamanrawa, tak usahlah saya sebutkan namanya, namun manusia ini amat filosofis memandang hidup. sepertinya hari-hari yang dilalui-nya pun tidak selalu baik, dan dia menyembul sendiri diantara deretan tekanan yang terus menghunjam.
saya tidak tahu banyak tentangnya, yang saya tahu, sepertinya hidup saya lebih mudah dibanding dirinya. saya akan mencarinya, untuk berkenalan lebih jauh, semoga suatu hari nanti ada banyak sifat bijaknya yang menular pada saya..
berkatnya, saya terpuruk akan suatu kesadaran, saya masih harus banyak belajar.
saya juga menyadari akan ke-alpa-an, ada mimpi yang terkubur dari hati ini.
sempat saya melupakannya, dan sekali lagi terimakasih untuk mengingatkannya..
duh, apalagi ya..
mungkin, besok-besok saya bisa mengunjungi rumah ini dalam kondisi yang lebih baik..
dan dengan bekal pikiran yang berisi..
tiba-tiba harus banyak belajar mengenai sesuatu yang yang sbeleumnya sama sekali tidak saya pedulikan. ada juga klien yang blocking di Healthy Life, klien ini merupakan salah satu departemen pemerintah yang pimpinannya amat haus akan publikasi.
semoga saya bisa mengemban amanat departemen yang tentu tidak sedikit merogoh kocek demi sesuatu yang dinamakan publikasi.
pikiran saya sebenarnya juga dipenuhi oleh manusia pemilik halamanrawa, tak usahlah saya sebutkan namanya, namun manusia ini amat filosofis memandang hidup. sepertinya hari-hari yang dilalui-nya pun tidak selalu baik, dan dia menyembul sendiri diantara deretan tekanan yang terus menghunjam.
saya tidak tahu banyak tentangnya, yang saya tahu, sepertinya hidup saya lebih mudah dibanding dirinya. saya akan mencarinya, untuk berkenalan lebih jauh, semoga suatu hari nanti ada banyak sifat bijaknya yang menular pada saya..
berkatnya, saya terpuruk akan suatu kesadaran, saya masih harus banyak belajar.
saya juga menyadari akan ke-alpa-an, ada mimpi yang terkubur dari hati ini.
sempat saya melupakannya, dan sekali lagi terimakasih untuk mengingatkannya..
duh, apalagi ya..
mungkin, besok-besok saya bisa mengunjungi rumah ini dalam kondisi yang lebih baik..
dan dengan bekal pikiran yang berisi..
Senin, 15 September 2008
Cinta pertama saya pada Al Jarreau
Saya menjadi salah satu orang yang beruntung menyaksikan perhelatan akbar Al Jerreau dan George Benson di Plenary Hall Jakarta Convention Center semalam, 14 September 2008.Meski sejujurnya nih, sebelumnya saya sama sekali tidak tahu siapa dua musisi ini, bahkan beberapa hari sebelum pertunjukkan saya bertanya-tanya pada beberapa teman,
"Siapa sih mereka?"
"Emang terkenal ya?"
Jangan kaget ya, karena selera musik saya memang sungguh-sungguh memalukan, jadilah begini bentuknya.
Jadi motivasi menonton pun hanya sekedar tidak ingin melewatkan kesempatan (yg sepertinya) bagus.
Tidak enak hati pada yg bermurah hati memberikan tiket masuk, saya cuma sekedar ingin menonton meski tidak mengenal dua musisi ini, sedang yg berbaik hati memberikan kesempatan sedang pontang panting bekerja, akhirnya saya menawarkan diri untuk membantunya.
Akhirnya, malam itu saya ditugaskan untuk mewawancarai sejumlah penonton mengenai kesan mereka terhadap George Benson dan Al Jarreau. Wow, antusiasme mereka heboh sekali. Dan menyedihkannya, saya sama sekali tidak tahu si musisi yg sedang jadi pembicaraan, hiks..
Bahkan saat pertunjukkan sudah di mulai, saya masih menyempatkan diri untuk menemani salah seorang teman untuk merokok di teras JCC. Di depan banyak sekali calo yg lalu lalang, iseng saya cari tahu berapa harga tiket untuk menonton konser ini, dan hasilnya cukup mengejutkan saya.
Wow, tiketnya dijual dengan range harga 2,5 juta sampai 500ribu rupiah. Barulah saya sadar, anugrah besar yg saya dapatkan, tanpa perlu merogoh uang sepeserpun saya memiliki kesempatan untuk menyaksikan pertunjukkan musik musisi kelas dunia, meskipun saya tidak mengenalnya.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikan konser ini, dan sekali lagi meskipun selera musik saya amat memalukan, ternyata saya amat menikmati pertunjukkan kali ini.
Al Jarreau amat memukau apalagi saat pria kelahiran 1940 ini mulai ber-skat ria.
Hm..tahulah saya, mengapa harga tiket konser ini mahal harganya.
George Benson pun tampil tidak kalah memukaunya...
Saya lupa mencatat, pertunjukkan berjalan berapa lama, maklum saya kan tidak sedang bertugas, hanya menonton, he.he..he..
Malam itu juga, saya membaptis diri, saya pengidola Al Jarreau, meski terlambat.
Sebagai fans, tentu ingin sekali minta tanda tangan, jadi bersama beberapa orang teman saya menunggu mereka di pintu keluar, sayangnya ternyata saya kurang beruntung karena mereka keluar lewat pintu yg berbeda.
Namun, selama semangat masih dikandung badan, kesempatan akan bermunculan. Salah seorang dari promotor memberikan bocoran jika dua musisi ini akan pergi ke salah satu bar di hotel Sultan. Meluncurlah kami ke tempat yg dimaksud, setelah berputar-putar akhirnya kami menemukan tempat yg di maksud. Saya masih sempat melihat George Benson, namun Al Jarreau sudah masuk ke kamar hotel, mungkin lelah ya..
Di satu sisi saya sedih karena tidak bisa bertemu dgn opa Al Jarreau, namun di sisi lain saya amat mensyukuri kesempatan yg saya peroleh hingga akhirnya saya merasakan yg namanya love at the first sight pd opa Al Jarreau.
Minggu, 07 September 2008
Afgan oh Afgan

Rasanya tidaka da satu orang pun yang tidak mengenal Afgan, tentunya untuk kawasan Indonesia saja ya, dan jika boleh di persempit untuk kawasan kota besar yg ada di Indonesia.
Sama sekali tidak bermaksud untuk menganaktirikan saudara kita yg tinggal di pelosok negeri, namun kita tidak dapat menutup mata bukan dengan fakta bahwa masih ada beberapa wilayah yg belum tersentuh kemewahan bernama radio dan televisi kan?
Afgan, si solois yg melejit lewat single "Terimakasih Cinta" ini langsung mendapatkan popularitas yg mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Seperti berpola, lagu-lagu berikutnya pun asal dinyanyikan oleh Si Kasep ini akan menjadi top 40 di chart musik.
Pada 6 September lalu, tanpa sengaja saya menonton live performance Afgan bersama dua band yg juga tidak kalah populer, tidak perlulah saya sebutkan apa nama band ini, meskipun setengah mati saya memuja salah satunya..
Yang ingin saya ceritakan adalah, pengalaman yg tanpa sengaja tercipta justru setelah konser berlangsung. Masih dalam semnagat go green nih, semacam komitmen yg sengaja saya patri dalam hati sebagai wujud cinta saya pada bumi tercinta. Belum banyak yg bisa saya lakukan, hanya komitmen untuk membuang sampah pada tempatnya. Sepele bukan? Tapi percayalah, untuk saya hal ini menjadi hal yg cukup sulit untuk di realisasikan.
Tanpa sengaja, saya melihat ada tisu melayang dengan pasrah di jalanan, dan terlihat dengan amat sangat jelas yg membuang adalah seseorang yg mengendarai sedan, meski bukan Mercy atau BMW, sedan tentu menempati kasta tersendiri dalam jagad permobilan bukan?
Saat itu, yg terlintas dalam otak yg terkadang suka lemot ini hanyalah 'Orang kaya belum tentu memiliki pribadi yg juga kaya'.
dan, eng..ing..eng.. pasa kepala ini menoleh untuk tahu rupa si pembuang sampah sembarangan ini, ternyata..
benar sodara-sodara, yg membuang selembar (yaks, memang cuma selembar) tisu ini adalah si Kasep yg banyak di idolakan oleh para kaum hawa itu, siapa lagi klo bukan Afgan.
Mungkin, ada yg berpikir klo saya terlalu membesar-besarkan, tapi buat saya ini sama sekali bukan hal yg kecil.
Bagaimana bisa, seorang public figure yg tengah berada di puncak popularitas ini seenaknya saja membuang sampah (sekali lagi saya tekankan, memang hanya selembar tisu), sembarangan?!!!
Ayolah afgan, lebih cintai bumi kita yg cuma sebiji ini, syukur-syukur kamu labih milih untuk pke sapu tangan..
hi..hi..hi..
Kamis, 04 September 2008
Hari Berat Euy..
minggu ini rasanya berat banget, saya dipaksa untuk mempelajari sesuatu yg sebelumnya sama sekali tidak saya sukai, teknologi.
Bukannya saya orang yg anti teknologi, hanya saja selama ini saya sudah terlanjur tidak peduli dengan tetek bengek gadget,
lah wong BlackBerry itu ternyata merk saja saya baru tahu, selama ini saya pikir BlackBerry itu semacam layanan supercanggih yg terdapat dalam ponsel.
Jadi, saat orang lain cuma perlu berjalan untuk mencari tahu teknologi terbaru kemudian memindahkannya dalam bentuk tulisan, saya mati-matian harus berlari untuk membekali otak ini dengan pengetahuan yg mungkin menurut orang lain sangatlah sepele. Beban ini semakin diperberat dengan kehadiran seorang mentor yg entah mengapa, kok pandangan saya terhadap beliau selalu negatif.
Kok rasanya, mentor saya selalu menjatuhkan saya yah?
Untungnya, selain sang mentor, orang yg terlibat langsung dengan produksi saya sisanya baik semua, malah saya yg jadi tidak enak hati sendiri, dan saya tidak pernah bosan untuk membungkuk sambil berujar, "Tolong yg sabar ya, menunggu saya belajar," dan ajaibnya mereka tersenyum bijak sambil mengangguk penuh pengertian.
Terimakasih ya Tuhan untuk kesulitan yg berselimut dengan seribu kemudahan ini..
Hm..sejenak menarik nafas, mungkin jika saya mampu melewati semua ini, di masa depan, justru kerikil kali inilah yg akan menghantarkan saya ke sebuah kenyamanan yg jauh lebih baik dari sekarang, semoga saja..
Rasanya sangat ingin marah dan berteriak, tapi pada siapa, saya bingung sendiri.
Jadi yg bisa dilakukan hanya bersabar, semoga kesulitan ini cepat berubah menjadi hikmah ygpada akhirnya akan saya sukuri, seperti bencana yg menimpa saya dan dua orang sahabat saat sedang bertandang ke kota gudeg, Jogjakarta..
Langganan:
Komentar (Atom)