Tampilkan postingan dengan label racun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label racun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

Menjadi Gampangan



                                                           Taken picture from here
Perempuan yang jatuh cinta, maka akan jadi gampangan. Entah ini anggapan ngawur atau teori sahih. Tapi sepertinya memang benar adanya. Saat menulis ini, saya sembari mengingat-ingat kelakuan saya saat sedang jatuh cinta.

Sepertinya anggapan itu benar, yiacks.

Saat sedang jatuh cinta sungguhan, saya jadi orang yang berbeda. Mau melakukan apa saja, karena saya tau, laki-laki yang saya cinta menyukainya. Gampangan tidak selalu berafiliasi pada hal-hal negatif. Meskipun konotasinya mengarah negatif.

Semisal, saya sangat sadar, saya ini tipikal independen. Tidak suka diatur harus ini-itu. Tidak suka dibatasi dengan larangan. Saya bisa menjaga diri, jadi tak perlu dikhawatirkan berlebihan.

Namun saat saya jatuh cinta?

Saya bagai kerbau. Tak boleh banyak begadang jika bukan untuk urusan yang penting, nurut. Tak boleh pulang lebih dari jam 10 malam, nurut. Jadi meski sedang asik bercengkrama dengan teman, saat jarum jam sudah menunjukkan jam 10 malam, saya akan pamit pulang. Meski hati inginnya tetap tinggal dan berhaha-hihi bersama teman, namun saya memilih pulang karena sudah kadung janji dengan pacar.

Lalu apakah dalam hidup yang banyak larangan itu saya bahagia. Jawaban nya, IYA. Saya senang-senang saja dilarang ini-itu. Saya senang memenuhi larangannya karena saya sadar, sikap penurut saya membuat nya tenang. Saya tidak berkeliaran di jalanan Jakarta hingga dini hari, membuatnya tidak perlu merasa was-was.


Sampai sejauh ini, saya baru sekali, memasrahkan perasaan sedemikian dalam. Menuruti orang sedemikian patuh dengan kesadaran mutlak. Mungkin itu yang namanya jatuh cita sejatuh-jatuhnya. Pada kemudian hari hubungan kami kandas, saya tidak menyesali pernah menjadi sepenurut itu.

Jumat, 04 Maret 2016

say goodbye to bestfriend


                                              gambar diambil dari sini
Sahabat itu, bicara langsung jika tak berkenan. Bukan memilih pergi saat kecewa.

Persahabatan, sebuah relasi unik yang tulusnya ngalahin pacaran. Kenapa begitu? Dalam persahabatan, tidak ada perhitungan laba rugi, bahkan tak ada kata posesif. Dalam beberapa kasus, ada sih yang posesif, namun saya yakin tak banyak. Setiap orang bisa memiliki sahabat lebih dari satu, dan tak perlu ada yang merasa cemburu. Beda sekali dengan hubungan antar kekasih, punya lebih dari satu? Runyam.

Meski begitu, persahabatan menjadi sebuah relasi yang sangat cair. Kita tidak pernah menyadari kapan tepatnya seseorang statusnya meningkat, dari sekedar teman menjadi sahabat. Juga berlaku sebaliknya, sahabat sering pergi, tanpa penjelasan apa-apa.

Saya pernah mengalami. Beberapa kali. Teman yang sudah saya anggap serupa sahabat, tiba-tiba terasa asing. Beberapa disebabkan karena berkurangnya intensitas bertemu, bidang pekerjaan yang berbeda, membuat obrolan tak selalu senyambung dulu, namun persahabatan selalu mampu menemukan jalan untuk ngobrol berlama-lama bukan? Apakah saya masih menyayanginya? Jawabannya iya, saya jawab tanpa keraguan. Ini untuk kasus, sahabat-sahabat yang memang sudah semakin jarang bertemu, namun hubungan kami tetap baik-baik saja. Saya memiliki beberapa. Bahkan frekuensi kami bertemu, belum tentu terjadi satu kali dalam setahun, padahal masih tinggal di satu kota. Yang di luar kota, tentu lebih parah lagi.

Dan ada sahabat yang tiba-tiba menjauh pergi. Tanpa keterangan. Hilang saja, tanpa alasan. Mungkin saya berbuat salah. Mungkin saya telah melakukan hal-hal yang membuat kecewa, namun tidak saya sadari, bisa jadi tanpa sengaja. Saya pernah ditinggalkan. Sahabat pergi, menjauhkan diri, tanpa keterangan. Tanpa sumpah serapah. Menghilang, hingga tak memberikan saya kesempatan untuk bertanya. Bagi yang seperti itu, saya memilih menerima. Mereka meninggalkan lubang gelap di hati. Sesekali, saya mengenang mereka, mengundang kesedihan yang menguatkan. Toh kita memang tidak bisa mendapatkan semua yang diharapkan dalam hidup bukan? Ini dunia bung, bukan surge, tempat kita (konon) akan mendapatkan semua pengharapan.

Untuk sahabat yang pernah memutuskan pergi, terimakasih. Setidaknya kita pernah saling mempercayakan aib masing-masing. Doakan saya, tidak lagi pernah melakukan kesalahan sama, yang membuatmu pergi.


Senin, 29 Februari 2016

Untukmu yang Pernah Menjadi Segala

                                                         taken picture from here

Untukmu yang pernah menjadi segala dalam setiap hariku. Apa kabarmu di sana? Bahagia kah? Kuharap demikian.

Baiklah..sesekali aku mengingatmu. Tenang saja, tidak ada lagi cinta ataupun benci juga amarah. Hanya mengenang, tentang kebodohan masa muda. tentang bagaimana aku mengijinkan orang asing mengendalikan hidupku, rasaku.

Yang pasti, aku semacam terlahir kembali. Menjadi orang yang tidak lagi sama. Pengalamanku bertambah tentu saja. Menjadi lebih berhati-hati untuk memasrahkan perasaan. Paling tidak, aku belajar mengendalikan diri. Bahwa apa-apa selain pekerjaan, tidak perlu dilakukan dengan totalitas yang membabi buta. Karena, harapan yang menjadi nyata itu omong kosong adanya.

Bukannya aku pesimis, bukan itu. Jangan salah sangka. Aku percaya tetang keinginan yang mewujud nyata. Hanya saja, kadar akurasinya yang aku ragukan. Hidup sempurna itu tidak ada. Pun demikian dengan mimpi yang mewujud nyata bulat-bulat adanya. Pasti ada celah yang tak terpenuhi.


Hei kamu yang pernah menjadi segala dalam setiap hariku. Kamu membantuku untuk menjadi manusia yang realistis. Terima kasih.

Jumat, 26 Februari 2016

Surat untuk Lelaki Masa Depan #1

Hei pendamping hidup di masa depan. Apa kabarmu? Semoga baik-baik saja ya. Jangan lupa jaga kesehatan, karena aku ingin kelak kita melewati waktu bersama dalam waktu yang lama.

Apakah kamu harus tampan? Tentu saja tidak. Cukup menggunakan jam di tangan kanan, itu sudah mampu membuatku betah berlama-lama bersamamu. Kamu yang memiliki mata segaris saat tertawa. Kamu juga orang yang mudah merasa bahagia. Hal apa saja bisa kamu tertawakan. Terimakasih untuk selalu menyebarkan energi positif.

Kira-kira bagaimana kita bertemu ya? Mari bayangkan saat ini kita belum saling mengenal. Kamu bukanlah teman main yang sudah kukenal sajak lama.

Mungkin kita bertemu dalam sebuah perjalanan. Saat aku sedang impulsif, tiba-tiba ingin pergi mencari sunyi. Naik kereta bisnis, dengan tempat duduk favorit, pinggir jendela. Kamu pun demikian, di pinggir jendela namun sisi sebrang. Perempuan di sebelahku, menanyakan, apakah kamu bersedia bertukar tempat duduk dengannya. Perempuan itu awalnya memintaku untuk bertukar bangku dengannya, namun aku menolak. Kemudian ia memintamu, dan kamu bersedia. Kita jadi duduk bersebelahan. Entah bagaimana awalnya, ternyata kita teman ngobrol yang asik.

Kita bertukar nomor telepon untuk janji bertemu jika sudah kembali ke Jakarta. Saat itu, tujuan kita memang berbeda, aku turun lebih dulu. Kamu sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi ibu.

Ya, kita kemudian cukup sering bertemu. Nonton film bersama atau sekedar duduk-duduk dan kita melakukan hobi masing-masing. Kamu dengan orat-oret sketsa, sedang aku cekikikan mengobrol di grup whatsapp atau membaca novel picisan.

Kita menjalani hubungan tanpa ekspektasi juga bumbu romansa. Hanya saling nyaman dengan kehadiran satu sama lain, itu sudah. Sampai satu ketika, tanpa emosi yang meluap-luap ataupun perasaan buncah, kita memutuskan untuk bersama.

Kamu bukan lelaki romantis. Tapi kamu tahu memperlakukanku dengan tepat. Seperti pada sebuah dini hari, aku belum berniat tidur, sedang kamu terbangun tengah malam. Kamu menelpon ku dan bertanya sedang apa. Kujawab sedang menyelesaikan pekerjaan menulis. kamu menyemangati dan mengatakan akan melanjutkan tidur. Aku suka caramu yang pengertian tidak menggerutu dengan cara hidupku yang nocturnal. Pengertian yang sederhana seperti ini justru mampu membuat hatiku penuh.

Sebuah akhir pekan, biasanya menjadi surga bagimu untuk bermalas-malasan. Aku seringnya mendukung aksi malas-malasan ini. Namun kamu tak pernah keberatan jika aku menyabotasenya, menjadikan akhir pekan sebagai waktunya piknik bersama.

Kamu, si pekerja kantoran dengan pola hidup teratur. Selalu merencanakan setiap tahapan kehidupan. Agak kaku. Aku dengan segala hal yang serba tak stabil, memberi sedikit pendar di hidupmu. Aku ibarat sebuah lingkaran yang berusaha menumpulkan setiap siku-siku tajam dalam hidupmu. Sebaliknya, kamu membenarkan arahku. Membangun sebuah jalan agar lebih terarah, membuatku menjalani hari tidak lagi semena-mena sesuka hati. Kita saling melengkapi.


Lalu, pertanyaan terpenting, kapan kita bertemu? Segera.

Jumat, 09 Januari 2015

Surat untuk Pria Kesayangan

Mengambil gambar di sini

Malam merepih. Tetiba saja, aku membayangkan tentangmu hei pria kesayangan. Kamu yang selalu mampu membawa potogan ketenangan dalam teduhnya tatapan. Kamu yang sempat menjadi telinga atas setiap keluh kesah. Namun kamu pula yang menjadi kekecewaan terbesar.

Hidup harus melaju bersama waktu. Tak usah kau ajari, aku sudah tahu.

Belakangan, ada gelombang besar memasuki pusara waktuku. Kabar baiknya, sampai detik ini aku masih bisa berdiri. Baik-baik saja, tak rapuh seperti dulu.


Maafkan aku, pernah menyakitimu tanpa sengaja. Kau pun membalas kesakitan itu dengan impas. Jadi, bagaimana jika mulai sekarang kita berbaikan saja?

Kamis, 30 Oktober 2014

Kenali Bahasa Tubuhmu




Foto diambil dari sini


Bahasa tubuh tak bisa berdusta, saya kali ini benar-benar meyakini setelah tak sengaja mendapati sorot mata penuh kebencian. Saya tergugu, tak pernah menyaksikannya sebelumnya. Tatapan mata penuh benci, amarah yang entah disebabkan oleh apa. Saya pikir, tatapan seperti itu hanya akan didapati di sinetron yang dimiliki oleh tokoh antagonis. Nyatanya ia menjelma nyata, berjarak tak sampai dari lima meter di depanku.

Hati-hati menjaga perasaanmu nona, sebab bahasa tubuhmu menerjemahkan suasana hati dengan sangat nyata. Lebih baik banyak-banyak lah bergembira, banyak bersenang-senang. Masa muda kan seharusnya banyak di isi dengan penuh suka cita, bukan sebaliknya.

Jumat, 29 Agustus 2014

Menikmati Kenangan





 Mengambil gambar dari sini

Aku pernah jatuh cinta, pada lekatnya tatapan matamu. Aku pernah begitu memuja, setiap tawaran tanganmu untuk selalu menggenggam tanganku. Itu dulu. Saat kamu pernah memasrahkan diri untuk dimiliki. Kumiliki.

Aku menghargai setiap kenangan asam manis tentang kita. Menyimpannya dengan baik di salah satu lipatan otak. Entah bagaimana denganmu, namun aku begini adanya.

Kuduga, kamu pun sempat menyimpan beberapa kenangan kita. Beberapa saja, tak banyak. Dan memang tak usah banyak-banyak. 

Katamu, sempat melintasi beberapa tempat petilasan kita, dengan sengaja, tak untuk tujuan yang genting, hanya untuk mengenang. Ini mengejutkan bagiku, tapi tetap tak perlu ditanggapi dengan pesta raya. 

Kenangan, memang sebaiknya letakkan saja di belakang. Sekali-kali dikenang tak mengapa. 

Mari kita, aku, kamu, juga mungkin kalian..saling mengenang dengan tenang, untuk setiap masa lalu penuh cinta dan rasa bungah.  

Rabu, 06 Agustus 2014

Fase Manusia dalam Filosofi Pandawa Lima, yang Manakah Kamu?


mengambil gambar di sini

Inspirasi bisa datang dari manapun. Bisa dari siapa saja, tak terbatas. Saya baru bertemu seorang laki-laki yang dalam pengamatan sejauh ini, terlihat keren mutlak. Dia seorang illustrator. Tapi kali ini saya sedang tak ingin membahas mengenai pekerjaannya, dan siapa dia. Hanya ingin menulis tentang sepotong materi perbincangan kami, yang terjadi baru saja. Sangat mengesankan dan menohok, sampai merasa ini harus segera diabdikan dalam barisan kata sebelum lupa.

Rasanya, nyaris setiap orang mengetahui kisah pandawa lima. Menurutnya, pandawa lima adalah penggambaran manusia. Penggambaran bagaimana kematangan seseorang dalam bersikap.
  1. Yudhistira
  2. Bima
  3. Arjuna
  4. Nakula
  5. Sadewa
Itu urutan dari yang tertua. Namun sebenarnya manusia, melewati fase lima tingkat ini, dimulai dari yang terkecil.

Sadewa. Orang yang berada di fase ini, adalah mereka-mereka yang merasa bak dewa. Hebat, terpaling. Tak ada yang salah dengan orang yang merasa hebat. Merasa hebat mungkin juga bukan sebuah dosa. Hanya saja..biasanya orang yang sungguh-sungguh hebat, tidaklah merasa. Jadi silahkan simpulkan sendiri ya..

Saya merasa malu, selama ini masih terkurung dalam persepsi diri bahwa saya seorang yang hebat, ah..malluuuwww..

Nakula. Ini adalah tahapan saat seseorang mulai banyak berpikir. Kritis. Banyak mempertanyakan tentang peristiwa dan apapun. Isi kepalanya selalu penuh tanda tanya. Bukan karena ia tidak mengerti akan banyak hal, namun karena ada kegelisahan dalam hati, menuntut jawaban atas setiap remah cerita penuh misteri yang ditawarkan semesta.

Arjuna. Kaum hawa tentu fasih mengenal nama ini. Namun kali ini, saya tak tertarik membahas mengenai sosoknya yang rupawan. Arjuna digambarkan sebagai orang yang ala kadarnya. Hanya memakai jubah, tak memakai perhiasan untuk menarik perhatian. Sosoknya menarik, bukan karena ketampanan lahiriah. Fase ini menggambarkan manusia seperti cawan yang kososng dan siap menerima ilmu kehidupan. Ia akan membiarkan diri kosong agar bisa menerima banyak hal. Ia akan menarik dengan sifatnya yang rendah hati. Keren namun tak merasa keren. Mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkannya.

Bima. Dalam kisah pewayangan, fase ini memiliki cerita paling panjang. Fase ini adalah masa mencari jati diri secara mendalam. Manusia menerjemahkan visi dan berusaha mencapainya. Bisa lari ke puncak tertinggi, atau menyelam ke dasar laut terdalam. Ini adalah masa mencari tujuan hidup dan meresapi saripati hidup. Bima digambarkan memakai kalung ular, menggambarkan seorang yang bijak sekalipun mungkin pernah menjadi jahat. Masa lalu yang buruk tidak untuk dihilangkan dan dilupakan, di kubur di tempat terdalam. Masa lalu yang buruk, sebaiknya menjadi pengingat, seseorang pernah melakukan kesalahan, cukup diingat tidak untuk diulang. Berdamailah dengan masa lalu, tak perlu menutupinya.

Yudhistira. Ini adalah fase kematangan kepribadian. Tahap ini adalah masa dimana seseorang benar-benar telah mampu menyerap ilmu kehidupan. Kesombongan bisa jadi sudah tak ada dalam diri. Ia belajar memahami tidak lagi menghakimi. Konon Yudhistira juga seorang yang tak pernah berbohong.

Jadi, sudah ada di tahap manakah kamu?

Terima kasih banyak untuk Sweta Kartika yang membagi cerita tentang filosofi pewayangan ini. 

Kamis, 03 Juli 2014

Happy Birthday for Me!


Awal Juli selalu mengingatkan ku pada kelahiran. Tepat di angka satu bulan ini, saya dilahirkan bertahun-tahun lalu. Malas ah, menyebut bilangan usia di kavling ini.


hal yang menyenangkan saat berulang tahun adalah kesadaran, betapa ada banyak cinta yang mengelilingi. Ulang tahun selalu berhasil membuat saya takjub, terharu, hingga buncah tak terkira.

Tahun ini, saya melewatinya di Eagle Institute Indonesia. Sudah nyaris lima bulan, saya menjadi keluarga Eagle. Bertemu dengan teman yang kebanyakan lebih muda, oke..saya menjadi dituakan, ah..bagian ini terasa menyebalkan. Namun meski demikian, saya yang bermental bocah ini, tentu tak terpengaruh, senangnya memang bermain bersama dengan mereka yang lebih muda, biar sesuai dengan guratan wajah yang selalu lebih muda, ahseeeek..


Teman-teman kantor, membuat kejutan. Mereka membuat video ucapan selamat ulang tahun, sangat manis sekali. Ah..rasanya ingin memeluk mereka satu per satu, tapi nanti malah jadi terkesan drama queen, jadi abaikan ide ini.


Kejutannya masih berjalan ternyata. Meja kantor dipenuhi gambar-gambar lucu ucapan selamat. Aduh..ini sungguh tindakan sederhana yang sangat manis.


Merangkum ucapan selamat yang datang dari beragam lini, agaknya secara singkat saya bisa membuat notulensi sederhana, dari doa-doa penuh kebaikan yang dipanjatkan teman-teman tersayang.


1. Semoga segera menikah, bertemu jodoh dan punya pacar

Entah mengapa, tema mendapat pasangan ini menempati urutan pertama. Teman-teman tersayang ini agaknya sehati dengan ibu, menginginkan saya segera menikah. Sejenak saya merenung, sebenarnya..seberapa ingin saya menikah ya? Ya, saya ingin menikah, dengan laki-laki yang akan menjadi patner hidup, siapapun dia, karena hingga saat ini belum bertemu. Tapi segera? Entahlah.

 Hey kamu, siapapun yang nantinya akan menjadi patner hidup, tetap di situ ya. Satu permintaan saya, jangan berlari menjauh, tapi tak perlu juga berlari menujuku. Biarkan semua berjalan apa adanya, mengikuti kuantum waktu yang telah ditentukan. Biarkan semua, pas pada waktunya. Saya juga tak mau terburu, nanti malah pertemuan dan hubungan kita menjadi premature, seperti saya, si bayi berusia kandungan tujuh bulan yang tak sabar menyapa dunia.


2. Semoga semakin banyak menjelajah, jalan-jalan keliling nusantara bahkan dunia

Nah..doa ini pasti disampaikan oleh teman-teman yang memahami sepenuh hati, apa-apa yang menjadi kesukaan saya. Saya mengamini doa mereka sepenuh hati, bahagia tak terkira atas doa yang dengan suka-suka saya terjemahkans ebagai restu. Ah dunia, kapan saya bisa mengelilingimu ya? Bersabar ya, jangan segera kiamat, saya sedang mencicil menjelajahi tempat-tempat asing. Tak harus selalu indah, saya selalu suka mendatangi tempat-tempat baru bertemu dengan jiwa-jiwa baru, yuhuuu..

*lempar tinju ke udara


3. wish me all the best

Ini harapan agar saya senantiasa mendapat yang terbaik. Terima kasih banyak, semoga saya selalu mendapatkans egala yang terbaik, ehm..mungkin lebih tepatnya, semoga saya selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan, supper amin.


4. Semoga saya selalu bahagia

Aha..ini doa yang sungguh menyenangkan. Di sini, ijinkan saya juga melempar doa untuk semesta, SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA!


5. Semoga karier makin baik

Ini jenis doa menyenangkan, karena hingga detik ini, saya amat sangat bersyukur, selalu diberi pekerjaan yang saya sukai. Tak jauh dari yang namanya passion. Menulis dan membaca. Yang belum berhasil saya dapatkan adalah pekerjaan yang membawa saya semakin banyak melangkah, tetep ya..

Terima kasih untuk setiap teman terbaik, yang menaburkan beragam doa ya, saya merasa amat beruntung memiliki kalian. Jangan sungkan untuk menegur jika saya mulai menyebalkan, tengil dan sebagainya, sebab teman yang baik adalah yang meluruskan jalan jika saya mulai berbelok dan keluar jalur bukan membiarkan dan menggunjing kemudian.


Peluk paling hangat dan penuh cinta untuk kalian semua temans..

Minggu, 10 November 2013

Saat Harapan Poranda Karena Janji yang Ingkar

gambar diambil dari sini
Seorang teman pernah berkata,

‘Kurangi harapanmu, maka bahagia akan lebih mudah kau peluk’.

Nasihat yang selalu saya ingat dengan baik, saat ambisi mulai menguasai diri. Saya tak mau menjadi orang yang banyak ingin dan khufur nikmat. Namun, ada kalanya kita sudah terlanjur berharap, akan semua yang terencana, dan harapan yang membulat itu tiba-tiba saja pecah, berserakan.

Ini terjadi seminggu lalu. Sesaknya masih terasa hingga hari ini. Tentang apa yang sudah direncanakan, membayangkan tiap detik yang akan terlewati dalam balutan rencana ini. Semuanya rusak tiba-tiba saja, karena seorang teman (yang setidaknya dulu saya pernah menganggapnya baik) telah ingkar.

Pengalaman ini mengajarkan, agar saya tak lagi-lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.

Bahagia atau tidak, semuanya harus bersumber pada diri sendiri. Jangan membiarkan orang lain mengacaukan rencana atau bahkan hidupmu.

Untukmu, seorang yang dulunya saya anggap cukup baik, semoga tidak lagi mudah ingkar. Sebab, salah satu tolak ukur berharga atau tidak dirimu, diukur dari seberapa banyak kamu mampu memenuhi janji yang pernah kau buat.

Mungkin besok, lusa atau tahun-tahun mendatang, kesan baik yang saya miliki untukmu akan kembali, tapi kini tidak dulu.


Bekasi, 11 November 2013

Rabu, 04 September 2013

Pare-Kampung Inggris, Welcome Errors


Hari ke-2 di Pare..tarik nafas..huh..hah..

Paling nggak, bahasa inggris di sini tak semenakutkan biasanya. Aku yang biasanya tiap ketemu bahasa inggris langsung kabur, kali ini minimal diam di tempat.

Seneng banget pas tutor bilang, motto belajar di sini adalah,
“WELCOME ERRORS…english is breeze”

Jadi, di sini gak akan ada orang yang akan menertawakan, sekonyol apapun bahasa inggris yang kau gunakan.

Yang kutemukan adalah muka memaklumi dan mereka dengan senang hati membenarkan.

Aku bukan orang yang terbata-bata dalam bercas cis cus, lancar malah..tapi..salah semua..

Oia, selama mengikuti program, aku tinggal di English camp. Tempat wajib untuk selalu berbahasa inggris, dengan tutor pengawas yang lumayan jutek. Huh..

Sialnya dia juga pengajar di kelasku. Namanya Miss Nindi. Herannya jika sudah di kelas, sikapnya lebih hangat, ramah dan asik. Entah mengapa, jika di camp di berubah jutek, mungkin karena sering kesal, kami sering melanggar aturan dalam bertutur kata. Maaf ya Miss Nindi.

Oia, aku kebagian di kelas A, isinya sekitar 24 orang, nanti kuhitung ulang ya..

Sebagian besar berasal dari Jogja, beberapa dari Makassar, sisanya bermacam wilayah di jawa, dan yang dari Bekasi ada 3 orang termasuk aku. Dua lainnya pak ustadz. Yes, ustadz. Mereka mengajar di sebuah pesantren di daerah pekayon, Bekasi.

Inilah saat melihat pak guru yang sedang berguru. Berburu ilmu. Syukurlah, berkat mereka, aku selamat dari tuduhan sebagai murid tertua.


Pare, 11 Juli 2013

Rabu, 14 Agustus 2013

Stop Menanyakan ‘Kapan Kawin?’

gambar lucu ini, ngambil di sini
Ada fenomena unik menjelang Idul Fitri kali ini. Di twitter, saya mendapati gerakan
‘Stop menayakan “kapan kawin?” pada pertemuan keluarga’

Gerakan yang boleh juga, guman saya.

Jika tetap ada yang nekad bertanya, maka kita sah-sah saja untuk menjawab “kapan mati?”

Mengapa demikian? Karena rejeki, jodoh dan kematian, sepenuhnya menjadi misteri ilahi.

Jawaban yang harusnya cukup memberi efek jera, pada mulut-mulut usil. Agar tidak lagi membuat depresi para lajang.

Dipikir-pikir, kenapa sih, urusan perkawinan sebegitu menariknya untuk dibahas?

Mengapa orang sedemikian suka berbasa-basi dengan menanyakan kapan seseorang akan kawin?

Kelak, saat saya sudah melepas masa lajang, saya berjanji, untuk tak bermulut usil, menanyakan hal paling menyebalkan itu.

Ah..rasanya masih ingin bersikap sengit pada si mulut usil. Bukankah mereka pernah mengalami, tak enaknya ditanya dengan kalimat super menyebalkan itu? Aha..saya tahu. Kuat dugaan mereka sebenarnya sedang melakukan pembalasan dendam. Dengan menyebar terror, melalui pertanyaan ‘kapan kawin?’, berharap luka masa lalunya terobati.

Mulai sekarang, mari kita putus mata rantai dendam tersebut. Putus terror itu. Ternyata terror tidak hanya dengan bom, namun bisa dengan kata-kata ya. Sebab, kata-kati pun bisa menyakiti, hingga ulu hati. Setuju?

Note: kata kawin juga bisa diganti dengan kata nikah, tak usah dipermasalahkan. Saya percaya, logika berpikir Anda tidak kampungan kan? Sampai masalah pemilihan kata seremeh ini pun menarik perhatian untuk dibahas.


Selat Sunda, 9 Agustus 2013

Kamis, 13 Juni 2013

Cinta yang Tak Layak, Kala itu

Mengambil gambar di sini

Pernahkah kamu jatuh cinta yang sungguh-sungguh pada orang yang tak layak? Seluruh orang terdekatmu memperingatkan, cintamu kali ini sungguh tak layak diperjuangkan. Namun hatimu bebal, kamu tetap cinta.
Aku pernah ada di posisi itu.

Sekarang, saat mengenang masa-masa itu, aku hanya tersenyum. Sesekali masih mengecek akun jejaring sosialnya. Berusaha mencari sebab, apa yang dulu membuatku begitu memujanya. Romantisme macam apakah yang ditawarkan duniaku kala itu?

Semua pada akhirnya tidak bermuara pada jawaban yang memuaskan hati. Tak apa. Toh dulu, saat mabuk kepayang sedang meraja, aku tetap merasakan buncah nya hati yang jatuh cinta. Meski pada akhirnya, ada kecewa yang menderas. Dunia seolah-olah memperolokku dengan kalimat yang paling kubenci,

“Ku bilang juga apa?”

Hatiku pernah patah. Patah sepatah-patahnya. Juga mematahkan kaki, hingga aku tak sanggup melangkah ke depan, melepas kenganan-kenangan bersama si cinta yang konon tak layak itu.

Kini, aku sudah baik-baik saja. Tidak ada penyesalan. Hanya heran saja.


Hai cinta masa lalu (yang konon tak layak itu). Apa kabarmu? Semoga kini kamu cukup layak menjadi cinta untuk orang yang lain. Hati bukan untuk bermain-main sayang.

Bali, 14 Juni 2013

Selasa, 07 Mei 2013

don't disturb, I am busy now..



Mengambil gambar di sini
Hidupku seperti roller coaster belakangan ini. Melepaskan pekerjaan yang sudah ada, bahkan dengan status karyawan tetap. Apa yang kucari? Nothing.

Ya, buat kebanyakan orang, yang kukerjakan saat ini bukanlah apa-apa. Tak sedikit yang mencibir, yang kulakukan hanyalah omong kosong.

Tapi, sebenarnya apa yang kulakukan sekarang?

Menulis untuk sebuah buku yang saat terbit pun namaku tak terpampang. Orang menyebutnya ghost writer, aku lebih suka dengan sebutan penulis pendamping. Terserah mana yang benar, yang pasti eksistensiku lebih terasa di sini.

Program yang baru saja berlalu adalah membidani filler sebuah produk perusahaan BUMN. Awalnya aku menjadi creative, namun seiring kerumitan kerja, peranku bergulir menjadi producer. Mengatur komunikasi antarpihak yang cukup ruwet.

Pekerjaan kedua datang dari sebuah partai politik yang akan melakukan pemilihan 50 anak muda untuk dikirim ke One Young World, Johhanesberg, Afrika Selatan pada 2-6 September 2013 mendatang. Rumitnya sudah mulai terasa dari sekarang.

Adalagi tawaran menjadi producer tayangan pagi di sebuah TV baru. Masih ujicoba untuk materi tayangannya.

Yang baru saja saya tolak, tawaran content creative sebuah pekerjaan sosialisasi hemat energi dari Kementerian ESDM. Awalnya saya meng-iya-kan namun belakangan saya sadar, sehebat apapun saya berusaha, pekerjaan ini tak akan selesai.

Sederet pekerjaan di atas, mau tak mau membuat saya nyaris jungkir balik. Tak memiliki kemerdekaan waktu. Jadi, saat ada orang super syirik, yang dengan sangat bodohnya mengatakan hidup saya luntang-luntung bak pengangguran, huh..kamu sungguh tak tahu rasanya menjadi akuhh *drama queen style*