Tampilkan postingan dengan label my stone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my stone. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2013

Cinta yang Tak Layak, Kala itu

Mengambil gambar di sini

Pernahkah kamu jatuh cinta yang sungguh-sungguh pada orang yang tak layak? Seluruh orang terdekatmu memperingatkan, cintamu kali ini sungguh tak layak diperjuangkan. Namun hatimu bebal, kamu tetap cinta.
Aku pernah ada di posisi itu.

Sekarang, saat mengenang masa-masa itu, aku hanya tersenyum. Sesekali masih mengecek akun jejaring sosialnya. Berusaha mencari sebab, apa yang dulu membuatku begitu memujanya. Romantisme macam apakah yang ditawarkan duniaku kala itu?

Semua pada akhirnya tidak bermuara pada jawaban yang memuaskan hati. Tak apa. Toh dulu, saat mabuk kepayang sedang meraja, aku tetap merasakan buncah nya hati yang jatuh cinta. Meski pada akhirnya, ada kecewa yang menderas. Dunia seolah-olah memperolokku dengan kalimat yang paling kubenci,

“Ku bilang juga apa?”

Hatiku pernah patah. Patah sepatah-patahnya. Juga mematahkan kaki, hingga aku tak sanggup melangkah ke depan, melepas kenganan-kenangan bersama si cinta yang konon tak layak itu.

Kini, aku sudah baik-baik saja. Tidak ada penyesalan. Hanya heran saja.


Hai cinta masa lalu (yang konon tak layak itu). Apa kabarmu? Semoga kini kamu cukup layak menjadi cinta untuk orang yang lain. Hati bukan untuk bermain-main sayang.

Bali, 14 Juni 2013

Sabtu, 26 November 2011

365 hari berselang


mengambil gambar di sini


365 hari telah berselang. Aku melanjudkan hidup, pun demikian denganmu. Kuduga hidupmu melaju pesat, sedang aku? Tidak, hidupku berjalan normal, perlahan dan pasti maju. Sedikit demi sedikit kuisi tabula mimpiku.

Harapanku, kau melakukan hal yang sama.

Meski tak mudah, kini aku sedang menumpuk satu-demi satu bata yang akan kugunakan untuk membangun rumah yang kunamakan mimpi.

Benar kata orang bijak, terkadang kita tidak harus selalu memakai jalan pintas untuk menuju sesuatu yang kita mau. Terkadang kita harus melewati jalanan terjal bahkan memutar. Namun saat mimpi itu menjadi nyata, setiap proses yang kita lewati, setiap kucuran keringat yang kita seka di dahi, mungkin juga ada beberapa luka yang menggores kaki, semuanya akan menjadi penghias. Menjadi kenangan manis-asam yang akan menggenapi kebahagiaan.

Dan aku mempercayainya.

Lalu bagaimana dengan hidupmu? Jangan kau pikir aku tak tahu, akan rencana besar yang mungkin terwujud di Januari mendatang. Katakan saja tak usah sungkan. Toh kita masih berteman.

Saat aku menuliskan barisan aksara ini, aku sedang berada di sebuah desa penuh kebersahajaan. Tempat yang mematik ingatan akan dunia di masa kecilku. Desa dengan riak tawa anak-anak yang bermain dibawah sinar bulan. Menggerombol, berlari-lari disepanjang jalan tanpa khawatir ada klakson yang memekakkan telinga. Pematang sawah dengan hamparan padi menghijau menyerupai permadani.

Yang paling kusukai, adalah angin sepoi-sepoi yang menyentuh pipi. Ya, angin ini dengan magisnya mampu menyelusupkan keping damai yang perlahan dan pasti sampai ke hati. Untuk merasa bahagia, terkadang kita hanya perlu mendengarkan isyarat alam. Membiarkannya menghampiri hati gundah, dan kita hanya perlu merentangkan tangan. Voila..seketika ingatan ini berhianat. Melupakan segala resah, hanya bisa merasa damai. Jika sudah begini, hati kecil ini hanya bisa berujar,
“Nikmat mana lagi yang berani aku dustakan?”

Kamis, 25 Agustus 2011

Bolehkah aku Menyebut ini Kisah Tahun ke-2?


gambarnya kuambil dari sini looh..

Hari pertama kita melalui dengan senyum. Bahagia menyeruak tak tentu rimba. Ada kegelisahan, tapi hanya sedikit. Dia malu-malu bersembunyi diantara punggungmu. Ada juga secarik kegelisahan yang kusimpan rapi dalam saku celanaku. Aku tak mau menghiraukannya. Bahagia yang membuncah mampu menyimpan rapat gelisah ternyata.

Kemudian putaran hari berjalan dengan pasti. Bahagia yang kita rasakan pun timbul tenggelam. Sekali waktu dia merajai hari. Meski tak jarang dia menghilang dan baru datang usai kita memanggilnya begitu keras. Seharusnya kita mulai sadar, saat bahagia tak lagi mudah diundang, seharusnya kita mulai belajar untuk melepaskannya. Tapi ternyata kita bukan orang yang pandai belajar.

365 hari kemudian datang. Aku rasa saat itu kita memaksakan kebahagiaan. Tak peduli yang terjadi di belakang, hari itu kita harus bahagia. Kamu mengorbankan satu hari kerja. Aku mengorbankan setengah harinya.

Ingatanku masih segar, bagaimana hari itu sejak pagi aku gelisah. Mencari laci kreativitas dari dasar jiwa terdalam. Entah dia hilang atau memang tak kutemukan sejak awal. Usai menyelesaikan tanggung jawab yang cuma secuil, aku menggunting, merangkai dan menyatukan. Sebuah potongan kenangan, harapan juga asa. Semua kukemas dengan apa adanya.

Kukayuh sepeda, menuju sebuah toko foto copy. Menjilid rangkaian buku orange sederhana. Mengapa orange? Karena warna itu sarat dengan semangat. Sarat dengan keceriaan. Meski tak jarang manipulatif.

Kenanganku mulai buram. Kabur. Tak ada lagi yang aku ingat tentang peristiwa 365 hari silam. Aku justru lebih fasih mengingat 365 hari yang pertama.

Hari ini, 365 hari berikutnya. Setelah momen buku orange. Apa yang terjadi?
Kita menjalani legenda pribadi masing-masing. Tidak di satu jalan, bersisian mungkin. Sesekali aku masih mengenang. Awalnya mengenang dengan sakit. Namun kini sudah tidak sakit lagi. Jika ditanya, bagaimana rasanya? Aku tidak tahu, apa nama rasa yang saat ini bersemayam. Datar.

Aku bisa tersenyum mengingat potongan-potongan kenangan tentang kita, tapi sakitnya sudah tidak terasa. Hm..mungkin aku telah berhasil membayar dengan lunas, hutang bahagia bersamamu dengan kesedihan selama lebih kurang sembilan bulan ini.

Pemujaanku padamu, kucukupkan sampai di sini. Tidak ada lagi mimpi buruk. Tidak ada lagi caci maki. Juga tidak ada lagi harapan. Semua lunas tak bersisa. Jika nanti, sengaja atau tidak kita bertatap muka. Aku akan menawarkan persahabatan yang hangat. Lenganku terbuka. Menawarkan pelukan hangat. Tenang saja, jangan khawatir. Pelukan ini sama dengan yang kuberikan pada teman-temanku tercinta. Teman-teman yang membantuku tegar berdiri usai kau mematahkan kakiku. Tidak ada sedikitpun dendam. Aku menyayangimu, hanya karena aku mengenalmu, tidak lebih.

Kamis, 07 April 2011

Kenangan Kelabu


mengambil gambar di sini

I just wanna hold you
I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side


Itu petikan lagu by my side yang dinyanyikan David Choi. Saya tak tahu persis seberapa tenar dia dalam dunia musik. Saya juga tak tahu dia berasal dari mana. Yang saya tahu, suara-nya dalam lagu itu berhasil membolak-balikan hati. Mengingatkan saya pada tragedi patah hati.
Kejadiannya akhir November tahun 2010 lalu. Saya tak ingat tanggal persisnya. Baiklah, sebentar saya cek di facebook.

Mari kita mulai mendongeng pilu.

27 November 2010 kami, saya dan batu, memutuskan untuk mengakhiri semua.
Saya merasa baik-baik saja. Sedih pasti, namun jujur reaksi saya sangat jauh lebih baik dari yang saya duga. Tadinya saya berpikir, saat putus saya akan menangis meraung-raung, tak bisa tersenyum, meski sekedar senyum palsu, dan menjadi pendiam sangat hingga tak mau bertemu orang.
Ternyata yang terjadi justru lebih baik. Sangat jauh lebih baik malah. Saya merasa datar-datar saja. Merasa tidak terjadi apa-apa. Getas. Hambar.

Sampai dua hari setelah itu, kesadaran yang menyesakkan mulai menyeruak. Ternyata kesedihan yang begitu dalam justru akan terasa pelan-pelan namun menyakitkan. Di bawah sadar, kesedihan itu merasuk sukma. Menggerogoti tiap detik waktu yang ada. Datang bersama kesakitan luar biasa. Tak bisa dilihat, hanya bisa dirasa. Sesak.

Hari-hari di waktu itu sama sekali tak memiliki aspek bahagia. Semua rata menjadi kelabu. Semuanya bermanifesto dalam tindakan. Saya jadi banyak melakukan kesalahan yang seharusnya tak perlu. Berangkat pagi-pagi menuju kantor, malah nyasar ke Roxy, padahal kantor saya ada di Thamrin. Besoknya, saya pulang dari kantor menuju kost, malah nyasar sampai ke Serpong, padahal saya kost di kawasan Meruya. Tidak cukup rupanya. Besoknya, dengan bodoh saya meninggalkan sepatu di apartemen teman.

Awalnya, saya berpikir semua baik-baik saja. Sampai kesadaran menyeruak dengan keji. Saya terluka. Sebenar-benarnya terluka. Hingga kesedihan merasuk di alam bawah sadar.

Bahkan, saat merangkai bait-bait aksara ini, rasa sesak itu kembali menjelma. Padahal, peristiwa itu pun telah berlalu. Melintasi 131 putaran dalam hitungan hari. 4 bulan lebih.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi putaran waktu yang saya butuhkan. Untuk menjadikan saya kembali utuh. Tidak terbelah.
Yang saya tahu, saat ini dia baik-baik saja. Harapan saya juga demikian tentu.

Senin, 10 Januari 2011

Rumah Ceria---> tamu yang datang


Layaknya sebuah rumah, rumah ceria juga kedatangan tamu-tamu selain penghuni. Ada yang beberapa jadi sering singgah untuk minta disedekahi makanan. Sudah saya ceritakan bukan? Butet dan Dydit itu pandai memasak. Ini bukan pujian semata, olahan bumbu yang diracik oleh mereka bukan main lezatnya. Tak ada seorang pun yang menolah tuduhan saya ini. Siapa yang sudah membuktikannya? Hm..jangan ditanya. Bahkan teman-teman kantor saya yang baru mengakui kelihaian Butet mengolah makanan mentah menjadi santapan siang menggiurkan.

Baiklah, kali ini saya mencoba mereview siapa saja tamu yang pernah singgah.
*teman, jangan marah ya..

Pertama ada Ucok, jika tak salah nama aslinya Hoshea Sembiring. Jasanya yang paling kuingat adalah kesediaannya membantu kami memasang kassa nyamuk di setiap lubang ventilasi rumah ceria. Ucok pula yang membeli gorden serta memasang paku-paku.

Dulu Ucok sering bertaruh bola dengan Butet. Jika kalah bertaruh, maka sebagai kompensasi Ucok akan membeli martabak telur. Untuk bagian ini tentu saya yang bersorak-sorak. Pernah juga Ucok membeli pizza, tapi untuk perayaan apa, saya tak ingat jelas. Juga pernah Ucok membeli durian, sungguh malang, saat itu saya sedang tak di rumah. Jadi, dengan miris saya tak ikut ambil bagian mencicip buah tropis beraroma menyengat namun lezat rasanya.

Ah, maaf Ucok. Kenangan yang aku ingat hanya seputar makanan saja. Makanan yang cukup sering dimasak saat Ucok berkunjung adalah bakso. Bakso yang masaknya dengan mangkok rice cooker karena kami tidak memiliki panci berukuran besar. Bakso olahan Butet yang ladanya terasa mengigit lidah.
Kemudian ada Bang Jimmi, nama lengkapnya Jimmi Aruan. Periode kunjungannya paling singkat. Yang paling kuingat adalah tanggal kali pertama kunjungan Bang Jimmi. 3 Januari 2010, Bang Jimmi pertama kali datang ke rumah ceria. Makanan yang paling kuingat saat Bang Jimmi berkunjung adalah Ayam Goreng Kremes Ny Nita. Ya, Bang Jimmi pernah mentraktir kami, penghuni rumah ceria dengan ayam goreng kremes tulang lunak milik Nyonya Nita.

Jika Bang Jimmi memiliki periode kunjungan yang singkat, ada lagi yang bisa dikatakan kilat. Yaitu Erik Hermawan yang lebih akrab di telinga kami dengan sapaan Aang. Laki-laki yang ini merupakan suami Dydit yang saat ini berada di Pontianak menjadi abdi negara. Jadi wajarlah dia jarang datang, jauh dan mahal ongkosnya.

Ada juga Rere. Nama lengkapnya Muhammad Reza Kurniawan. Makanan khas kedatangannya tak terdeteksi, karena dia menyantap apa saja yang Butet masak. Rere partner main kartu bagi kami berempat. Entah ada kaitannya dengan gender atau tidak, dia juara umum dalam bermain kartu. Dulu, dia juga partner berdiskusi yang menyenangkan bagi kami yang terkadang ingin tahu bagaimana sudut pandang laki-laki dalam memandang sesuatu.

Ke empat laki-laki ini adalah tamu yang datangnya bisa dikatakan cukup sering dan terprediksi. Mereka pernah menjadi spesial bagi masing-masing dari kami. Kecuali untuk Aang tentunya. Dia masih dan selalu menjadi yang spesial untuk Dydit hingga saat ini dan seterusnya.

Kemudian ada Hans dan Daus. Mereka merupakan founder millexplorer, bersama saya. Saat itu kami sedang mati ide dan tak punya tempat untuk melanjudkan rapat tentang manajemen wisata yang kami kelola. Saya mengajak mereka berdua untuk datang ke rumah ceria dan menginap. Sampai rumah ceria bubar, Hans hanya datang sekali, sedang Daus beberapa kali singgah. Butet menyukai Daus karena selera makannya yang gragas. Daus mau saja menghabiskan semua makanan yang tersaji, membuat Butet jatuh sayang padanya.

Selanjutnya ada Vinsen. Jangan protes, memang begini spelling namanya. Nama panjangnya Vinsen Arnold Silitonga. Dia keponakan Butet, si brondong kelahiran 1992 yang kini masih di tingkat satu Universitas Padjadjaran Bandung mengambil jurusan geologi. Saya kerap menjulukinya si tukang batu. Butet sangat over protektif pada Vinsen. Mungkin Vinsen menjadi kelinci percobaan yang mengasah jiwa keibuan Butet sampai licin mengkilap.

Ada juga Mas Fahri dan Tami. Keduanya datang bersamaan untuk kali pertama. Seingat saya, misi mereka adalah untuk menghibur saya yang tiba-tiba bad mood. Lagi-lagi jerat rumah ceria bekerja dengan efektif. Mereka juga menyukai kunjungan ke rumah ceria.

Mas Fahri merupakan mentor menulis saya di kelas menulis narasi. Tubuhnya jangkung sangat, Butet menjulukinya Mister Long. Jika ada award, mungkin Mas Fahri akan menjadi pemenang dengan kategori sebagai pria yang dianggap paling baik.
*dianggap paling baik ya mas, jadi jangan ge er

Tak berbeda dengan Mas Fahri, Tami juga memiliki tinggi badan menjulang. Setiap ada Tami, kami rawan tertawa. Ada-ada saja ulahnya yang membuat kami terbahak. Mulai dari gayanya yang kocak menirukan Iis Dahlia bersenandung “keeee…jjaaaaammm..”

Di waktu-waktu terakhir, Butet kedatangan tamu dari pulau nun jauh di sana. Teleng namanya. Saya tak tahu pula nama sebenarnya. Teleng teman Butet saat dulu menetap di Batam. Teleng pula yang memberi inspirasi pada Butet untuk mengadu nasib di Pulau Natuna beberapa bulan mendatang, jika tak ada aral melintang tentu saja. Butet pernah berkata, Teleng memiliki karakter yang nyaris serupa dengan saya. Pantas kami lekas akrab.
*Toast Teleng!

Sebenarnya, ada lagi beberapa tamu yang singgah. Namun sayang, daya ingat saya yang terbatas tak sanggup menceritakan kisah-kisah mereka. Sebut saja Rita, adik Ebeth yang juga beberapa kali singgah. Juga ada Soren teman Vinsen. Butet dan Ebeth juga beberapa kali membawa rekans esama suster untuk menginap. Kita anggap saja mereka anonim ya?
*Sepakat aja ya biar cepet

Minggu, 02 Januari 2011

its enough


Pasrah
Berdamai dengan hati
Tak peduli

Ah, entahlah. Beberapa hari lalu aku meyakinkan diri, tak ada lagi cinta. Beberapa waktu lalu, aku berkata dengan tegar, tak ada lagi pemujaan. Its enough.

Seharusnya memang begitu bukan?

Tapi ternyata, kenyataan terkadang kejam. Ya, masih ada segunung rasa yang tertuju untukmu. Masih ada rasa ingin tahu yang begitu besar, tentang semua hal yang berhubungan denganmu.

Terkadang ingin marah, ingin membuat perhitungan. Biar kamu tahu rasa. Biar tak lagi-lagi kamu main-main dengan hal remeh bernama hati.

Kali lain, justru merasa bodoh. Mau-maunya dipecundangi. Tak lagi-lagi.

Ya, kamu bisa melenggang. Mungkin tanpa beban. Mungkin juga menanggung setangkup rasa bersalah. Tapi ketahuilah, kamu sama sekali tidak tahu rasanya menjadi aku. Sama sekali tak tahu. Jangan pernah ulangi, itu saja.

Jika dulu kamu pernah ditipu, tak seharusnya kamu melampiaskan rasa sakit itu pada siapapun. Urusanmu hanya dengannya, yang entah kini ingat atau tidak padamu. Kamu pernah terluka, bukan berarti kamu boleh mencipta luka pada orang lainnya bukan?

Kamu tahu? Luka ini mungkin tak akan pernah sembuh. Akan menguatkan tentu saja, untuk bagian ini kamu tak perlu khawatir. Aku akan menjadi lebih kuat, jika diwaktu mendatang ada orang setega kamu, niscaya aku telah bersiap.

Untukmu? aku cukupkan sampai disini.

Rabu, 15 Desember 2010

rak ingatan


Sedang tidak memiliki pretense apa-apa. Tanpa sengaja mengingatmu saat menyaksikan tayangan di you tube. Keyword yang saya masukkan adalah Utada Hikaru First Love. Teringat perkataan teman tentang kedalaman makna yang tersirat dalam tiap bait lagunya. Sejujurnya, saya tidak tahu menahu mengenai gambaran video klip-nya.

Setelah memilih, ternyata yang saya pilih adalah kompilasi adegan dari serial korea Princess Hour dengan latar suara ya lagu First Love milik si Utada Hikaru itu.

Mungkin sangat match dengan suasana hati yang sendu. Kompilasi scene di film itu begitu indah. Sekedar catatan, saya bukanlah orang yang bisa dikategorikan sebagai penggemar serial korea, namun untuk Princess Hour, saya memiliki catatan tersendiri. Entah mengapa, saya suka sekali dengan jalan cerita yang dimiliki. Konflik yang ada begitu dinamis dan menggugah rasa ingin tahu. Tsaah..
Alhasil, serial ini menjadi satu-satunya hingga saat ini menjadi tayangan yang saya tonton hingga akhir episodenya.

Selama ini, setiap ada serial baru yang tayang (biasanya di Indosiar) saya ikut-ikutan heboh kena demam koreanisme. Namun euphoria ini biasanya tidak bertahan lama. Sampai di pertengahan kisah rasa penasaran sudah tidak terpatik dengan kencang.

Kembali ke awal, jadi dalam tayangan itu ada scene dimana si putra mahkota, Sin, memakaikan sepatu Chekiong yang terlepas. Deg.

Entahlah, adegan sederhana itu mematik kembali ingatan saya pada batu (silahkan senyum-senyum jika kamu membaca ini). Entah batu mengingat dengan baik atau tidak, namun dulu dia beberapa kali melakukan adegan serupa. Yup, memakaikan sepatu di kaki saya. Bukan sepatu balerina yang manis tentu saja, karena sepatu model itu tentu saya tidak memilikinya.

Saat kami akan pergi bersama, dia akan memakaikan sepatu converse merah motif batik di kaki saya. Mungkin sekilas seperti adegan menye-menye gombal cap kadal. Toh, saya tetap perempuan yang senang dikadali, ha..ha..ha..(tertawa miris)

Pernah juga satu kali, sandal yang saya kenakan putus, dan kami harus mencari sandal jepit. Beberapa warung disambangi, sampai di warung kelima baru menemukan sandal jepit dengan warna dan ukuran yang pas. Si batu tanpa sungkan mengganti sandal saya yang putus dengan sandal jepit baru itu. Setiap adegan penggantian sandal itu disaksikan oleh ibu-ibu penjaga warung. Saya sampai risih sendiri melihatnya.

Memori yang saya pikir tidak akan terlalu membekas dan lupa begitu saja ternyata masih bersemanyam dengan nyaman di lipatan ingatan ini. Sial.

Bukannya saya menyesali kisah yang terjalin lalu kandas ini. Bagaimanapun saya mensyukuri. Seperti yang dikatakan seorang teman, yang mengaku senang kisah saya berakhir. Dasar.

Pasti ada pembelajaran yang bisa saya petik. Setidaknya saya pernah merasa bahagia menjalaninya.

Adios. Hanya kata itu yang bisa saya sematkan di pintu keluar.

Selasa, 05 Oktober 2010

i'm crying

Kamu terbaring sakit disana, dan aku disini setengah mati menahan rasa khawatir. Tolong lekaslah sembuh. Mungkin aku terlalu egois, ingan kamu lekas sembuh hanya biar rasa kekhawatiranku hilang. Tahukah kamu, dalam situasi ini, aku ingin berdiri kaku disampingmu. Sigap membantu apapun yang kau butuhkan.

Namun, karena situasi rumit nan keparat ini, menahan keinginanku sepanjang hari untuk menjelma disampingmu. Tahukah kamu, aku ingin menjadi orang yang paling kamu butuhkan, setelah kedua orang tuamu.

Aku ingin ada disampingmu, dalam situasi tak menyenangkanmu. Tapi tiba-tiba kesadaran menghempaskanku, keinginan itu nyaris mustahil terealisasi. Jika itu terjadi, mungkin kita berdua akan hancur. Ketaknyamanan akan mendera, sedikit bagiku, namun sangat besar untukmu.

Aku yang terlalu cengeng, akhirnya hanya bisa menangis. Tersedu, mumpung sedang dalam kesendirian meratapi semua. Sampai tiba-tiba kamu menelpon. Tak jelas juga maksudnya, dan seketika aku mati-matian menahan tangis. Tak mau kamu menjadi khawatir, sedang badanmu pun sedang lemas bukan kepalang.

Mungkinkah kamu merasakan sesak luar biasa, seperti yang aku alami saat ini?
Aku ingin menjadi bagian dari setiap masamu. Saat tertawa maupun saat duka. Aku masih bisa tahan tidak berada diantara derai tawamu. Namun, percayakah kamu? Sungguh sulit berdiam diri saat tahu kamu sedang tak berdaya disana?

Satu-satunya hal yang menahanku untuk tetap bertahan disini adalah bayangan buruk yang akan terjadi jika aku lebih mementingkan ego. Baru kupercaya kini, sungguh sulit melawan diri sendiri. Pun seperti kamu tahu, aku selalu mengikuti apapun yang ingin kulakukan, tapi tidak kali ini. Semua hanya bermuara pada kehancuran jika aku mementingkan ego untuk berada disampingmu.

Jadi, lekaslah sembuh. Segeralah membatu.