Tampilkan postingan dengan label around the world yuks... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label around the world yuks... Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

After Meet Syndrome

Dengan berat hati, saya mengakui, ternyata saya memang terlahir dengan jiwa romantis akut. Ini kutukan atau malah berkah, entahlah. Mungkin pasangan saya kelak yang bisa memutuskan.

Dimulai saat semalam iseng membuka email. Mendapati folder yang isinya surat cinta, untuk seseorang yang pernah menjadi kekasih di masa lalu. Amboi, banyak sekali kalimat beraroma bunga-bunga penuh cinta dan pemujaan. Tenang saja, saya tidak sedang terkena demam kenangan. Toh, tergila-gila, jatuh cinta hingga batas maksimal dan entah apalagi istilahnya itu, tentu dialami oleh semua orang. Buat yang memungkiri, duh, kasihan sekali kamu.

Meski tak selalu berakhir bahagia, jatuh cinta tentu menjadi hal terindah yang harus disyukuri.

Diantara beragam email cinta itu, saya mendapati istilah ciptaan bernama after meet syndrome. Istilah ini bisa adi melintas di kepala karena saya sempat menjadi script writer untuk program talkshow kesehatan selama bertahun-tahun.

Jadi, after meet syndrome adalah istilah yang sering saya ucapakan, untuk menggambarkan betapa saya sedang merasa rindu sangat pada kekasih, justru setelah bertemu. Rindunya malah jadi berkalilipat hebatnya, dan baru akan menurun kadar intensitasnya setelah berhari tak bertemu, begitu.

Dipikir-pikir, after meet syndrome ternyata tak hanya berlaku pada sebuah hubungan, namun juga pada sebuah pengalaman. Saya yang gemar bepergian, biasanya masih akan terbayang-bayang tempat cantik yang baru saya singgahi, hingga berhari-hari kemudian. Masih tersenyum membayangkan kesenangan berada di sebuah tempat, bersama teman tersayang.


                        coba, bagaimana tempat seperti ini tak membuat terbayang-bayang?

Jadi, untuk setiap kejadian menyenangkan yang terjadi dihidupmu, dan hingga berhari setelahnya kamu masih mengenangnya komplit dengan paket senyum dikulum, itulah yang namanya after meet syndrome.

Kamis, 03 Juli 2014

Happy Birthday for Me!


Awal Juli selalu mengingatkan ku pada kelahiran. Tepat di angka satu bulan ini, saya dilahirkan bertahun-tahun lalu. Malas ah, menyebut bilangan usia di kavling ini.


hal yang menyenangkan saat berulang tahun adalah kesadaran, betapa ada banyak cinta yang mengelilingi. Ulang tahun selalu berhasil membuat saya takjub, terharu, hingga buncah tak terkira.

Tahun ini, saya melewatinya di Eagle Institute Indonesia. Sudah nyaris lima bulan, saya menjadi keluarga Eagle. Bertemu dengan teman yang kebanyakan lebih muda, oke..saya menjadi dituakan, ah..bagian ini terasa menyebalkan. Namun meski demikian, saya yang bermental bocah ini, tentu tak terpengaruh, senangnya memang bermain bersama dengan mereka yang lebih muda, biar sesuai dengan guratan wajah yang selalu lebih muda, ahseeeek..


Teman-teman kantor, membuat kejutan. Mereka membuat video ucapan selamat ulang tahun, sangat manis sekali. Ah..rasanya ingin memeluk mereka satu per satu, tapi nanti malah jadi terkesan drama queen, jadi abaikan ide ini.


Kejutannya masih berjalan ternyata. Meja kantor dipenuhi gambar-gambar lucu ucapan selamat. Aduh..ini sungguh tindakan sederhana yang sangat manis.


Merangkum ucapan selamat yang datang dari beragam lini, agaknya secara singkat saya bisa membuat notulensi sederhana, dari doa-doa penuh kebaikan yang dipanjatkan teman-teman tersayang.


1. Semoga segera menikah, bertemu jodoh dan punya pacar

Entah mengapa, tema mendapat pasangan ini menempati urutan pertama. Teman-teman tersayang ini agaknya sehati dengan ibu, menginginkan saya segera menikah. Sejenak saya merenung, sebenarnya..seberapa ingin saya menikah ya? Ya, saya ingin menikah, dengan laki-laki yang akan menjadi patner hidup, siapapun dia, karena hingga saat ini belum bertemu. Tapi segera? Entahlah.

 Hey kamu, siapapun yang nantinya akan menjadi patner hidup, tetap di situ ya. Satu permintaan saya, jangan berlari menjauh, tapi tak perlu juga berlari menujuku. Biarkan semua berjalan apa adanya, mengikuti kuantum waktu yang telah ditentukan. Biarkan semua, pas pada waktunya. Saya juga tak mau terburu, nanti malah pertemuan dan hubungan kita menjadi premature, seperti saya, si bayi berusia kandungan tujuh bulan yang tak sabar menyapa dunia.


2. Semoga semakin banyak menjelajah, jalan-jalan keliling nusantara bahkan dunia

Nah..doa ini pasti disampaikan oleh teman-teman yang memahami sepenuh hati, apa-apa yang menjadi kesukaan saya. Saya mengamini doa mereka sepenuh hati, bahagia tak terkira atas doa yang dengan suka-suka saya terjemahkans ebagai restu. Ah dunia, kapan saya bisa mengelilingimu ya? Bersabar ya, jangan segera kiamat, saya sedang mencicil menjelajahi tempat-tempat asing. Tak harus selalu indah, saya selalu suka mendatangi tempat-tempat baru bertemu dengan jiwa-jiwa baru, yuhuuu..

*lempar tinju ke udara


3. wish me all the best

Ini harapan agar saya senantiasa mendapat yang terbaik. Terima kasih banyak, semoga saya selalu mendapatkans egala yang terbaik, ehm..mungkin lebih tepatnya, semoga saya selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan, supper amin.


4. Semoga saya selalu bahagia

Aha..ini doa yang sungguh menyenangkan. Di sini, ijinkan saya juga melempar doa untuk semesta, SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA!


5. Semoga karier makin baik

Ini jenis doa menyenangkan, karena hingga detik ini, saya amat sangat bersyukur, selalu diberi pekerjaan yang saya sukai. Tak jauh dari yang namanya passion. Menulis dan membaca. Yang belum berhasil saya dapatkan adalah pekerjaan yang membawa saya semakin banyak melangkah, tetep ya..

Terima kasih untuk setiap teman terbaik, yang menaburkan beragam doa ya, saya merasa amat beruntung memiliki kalian. Jangan sungkan untuk menegur jika saya mulai menyebalkan, tengil dan sebagainya, sebab teman yang baik adalah yang meluruskan jalan jika saya mulai berbelok dan keluar jalur bukan membiarkan dan menggunjing kemudian.


Peluk paling hangat dan penuh cinta untuk kalian semua temans..

Selasa, 25 Desember 2012

Menikmati Papandayan bersama Tim Blengcek

(ki-ka): Yudhis, Ochi, Anty, Putri, Jeremi, Becca, Tyas, Hendra, saya, Nita, Delly


Pulanglah ke rumah ketika di luar tak aman, pergilah ke luar ketika di rumah tak nyaman’ by @pup0

Quote di atas saya baca di linimasa milik Putri.

Perjalanan selalu memberi rasa buncah, nyaris bagi sebagian besar orang. Kali ini, saya cukup beruntung, bersama orang-orang terbaik, memiliki kesempatan untuk mengunjungi Gunung Papandayan, Garut.

Hari #1, Jumat, 21 Desember 2012

Janji bertemu pukul 20.00 WIB. Kami datang dari setiap penjuru mata angin, mengarah pada satu titik, Terminal Kampung Rambutan.

Orang yang pertama sampai, justru peserta yang datang dari titik terjauh. Tyas Listyo datang dari Tangerang, cukup beruntung tak menemui kemacetan. Tyas orang yang ceria, saya menyukainya. Tyas menjadi semacam ibunya anak-anak semenjak trip pertama kami ke Gua Buniayu, September silam. Dia mendapat panggilan sayang dari kami semua. Budhe, begitu kami memanggilnya. Meski begitu, jangan salah sangka, dia sama sekali bukan peserta tertua, bukan pula yang paling dewasa. Paling gila mungkin saja iya.

Bisa dibilang, Tyas selalu menjadi orang paling bersemangat tiap mau ngetrip. Belum tau mau ke mana saja dia sudah packing. Paling kompor.

Kembali pada jumat malam, sebagai peserta yang sampai duluan, Tyas mulai berisik di chat conference. Mengabsen satu-persatu peserta sudah sampai di mana.

Pukul 20.30 peserta mulai berkumpul. Tema obrolan kami nyaris seragam, lapar dan macet di mana-mana. Jakarta malam itu sungguh menyebalkan. Tak rela rupanya, ditinggal beberapa warganya untuk berlibur barang sebentar.

Di trip kali ini, ada tiga peserta baru. Nama, wajah, asal muasal benar-benar tak terdeteksi. Mereka adalah Anty, Ochi, dan Becca. Maafkan jika saya salah menuliskan nama. Tiga perempuan ini adalah bawaan Hendra. Entah teman apa, sampai sekarang saya juga tidak paham. Yang pasti bukan teman kerja juga bukan teman main. Mungkin temannya teman. Ah, sudahlah. Yang pasti kehadiran mereka menyemarakkan perjalanan kali ini.

Pukul 22.10 bus kami bergerak menuju Garut. Saya ingat persis, formasi duduk kami. Saya duduk bersama Milani Yunitasari atau Nita. Di belakang kami ada Delly dan Yudhis, lanjut Tyas dan Hendra, Putri dan Jeremi, dan di seberang, di bangku tiga ada trio Anty, Ochi serta Becca.

Nita adalah patner sehati saya. Kami pertama bertemu pada Mei 2011 silam, saat trip ke Dieng. Kami sering ngebolang bersama. Mengenalnya makin menjerumuskan saya pada trip yang satu ke trip yang lain. Tak apalah, toh ini penjerumusan yang menyenangkan, tanpa paksaan. Nita orang yang kalem tapi dalem. Dialah mama bolang sejati. Pengalamannya berpetualang tak diragukan lagi. Nita juga orang yang sangat lihai mengatur keuangan. Mau travelling murah, percayakan saja keuangan padanya, dijamin, kamu akan mendapat harga terbaik.

Pernah satu waktu, dia tak bisa menyertai saya ke Semarang. Pesannya akan akan saya ingat sampai mati:
Ingatlah, lebih baik kamu lapar mata disbanding lapar perut

Ini merujuk pada sifat saya yang sering kalap jika melihat barang asli daerah tujuan. Prinsip saya, sebisa mungkin memiliki kenang-kenangan benda. Baru menjadi masalah saat saya kalap membeli ini-itu. Pergi bersama Nita membuat saya merasa aman dalam hal financial. Dia akan cerewet membatasi pengeluaran saya, tidak berhenti di situ, dia juga akan memberi pinjaman jika pengendalian diri saya kelewat buruk. Terima kasih ya Ta, untuk kebaikannya selama ini.

Kirim cium di udara, mmuah..

Hari #2, Sabtu, 22 Desember 2012
Kami sampai di Terminal Guntur Garut pukul 03.00 dinihari. Udara dingin mulai menunjukkan aksi. Kami kompak merapatkan jaket kecuali Yudhis, si Pakdhe. Yudhis adalah pemimpin dalam trip ini. Dia bertanggungjawab penuh nyaris untuk segala urusan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai urusan menu Yudhis lah yang mengatur. Kami tinggal terima enaknya saja, terima jadi. Yudhis pula yang ngotot, harus membeli bawang bombay. Cita-citanya adalah kami semua bisa menikmati spaghetti di puncak Papandayan. Kami lebih setuju, Yudhis ingin kami menggelar gala dinner di puncak sana. Ransum kami banyak bukan main, lebih dari cukup.

Terima kasih Pakdhe Yudhis, untuk kerealaannya memimpin kami, yang masih suka banyak protes, suka sedikit bandel tapi tetap diajak ngetrip. Sebagai ucapan terima kasih, kami persembahkan Budhe Tyas untukmu, hahahahaha..

Dari Terminal Guntur, perjalanan kami lanjutkan ke Cisurupan. Awalnya, pendegaran saya berhianat. Saya mendengarnya ‘kesurupan’. Jika benar, ngeri sekali nama daerah itu, untunglah, saya salah dengar.

Tak banyak yang bisa diceritakan. Jalanan masih gelap, pagi juga masih buta. Hanya dingin yang makin unjuk gigi. Kami sampai di Cisurupan pukul empat pagi. Cisurupan ini hanya perempatan jalan. Ada banyak mobil bak terbuka (bakter) yang parkir.

Kami menjadi rombongan pertama yang datang. Sempat mati gaya. Instruksi ini itu, istirahat berbagai posisi, juga berbelanja telur dilakukan di sini. Satu persatu rombongan lain mulai datang. Mereka tak membutuhkan waktu lama, hanya istirahat sejenak, melanjutkan perjalanan dengan bakter.

Kami baru mulai menuju pos terakhir sekitar pukul tujuh pagi. Saya dan Nita duduk disamping sopir. Tempat ternyaman. Sisanya, berkumpul macam ketan yang siap ditaburi kelapa di bakter bersama tumpukan ransel yang besarnya ampun-ampunan.

Sampai di pos, sekitar pukul delapan. Kami kembali beristirahat, sambil menunggu nasi selesai dimasak. Waktu mulai merayap ke pukul 10. Akhirnya kami benar-benar mulai mendaki. Sambil pasang senyum sumringah, kami mulai memasang tas di punggung.

Gunung Papandayan tergolong landai. Meski ketinggiannya mencapai 2.665 dpl, namun jalur pendakiannya relatif ringan. Baru sekitar 100 meter melangkah, gunung ini sudah mulai narsis pamer diri. Suguhan landscape nya luar biasa. Dibalik bukit kapur, terbentang banyangan puncak-puncak gunung berwarna biru muda. Seperti backdrop saja. Kami kompak melongo, terkagum-kagum dengan mahakarya Tuhan kali ini.
Sepanjang jalan, mata kami berwisata. Tidak hanya hijau rimbun pepohonan, namun juga putih gradasi bukit kapur sungguh menakjubkan.

Pendakian ini relatif santai. Sering berhenti untuk mengunyah ransum. Menu utama adalah agar-agar INACO, Choki-Choci, dan coklat Silverqueen yang jadi rebutan.

Kami tiba di Pondok Salada pukul 13.00. Di sini kami akan mendirikan tenda. Sudah ada banyak tenda berdiri. Pondok salada hari itu menjamu banyak tamu.

Kami membawa tiga tenda Lafuma kuning. Lokasi kami berkemah agak jauh dari peradaban, mengingat kami ini berisik bukan main, rasanya ini keputusan bijak.

Dari siang hingga malam, kami berkegiatan tak banyak macam. Masak, makan, masak lagi dan tentu saja makan lagi. Saat petang mulai merambat, suhu udara makin menggigil, ditambah hujan yang turun semakin memperparah suhu. Keberisikan kami mulai padam pukul 21.00. Kami mulai kalem di dalam tenda masing-masing. Entah apa yang terjadi di tenda lain, namun di tenda kami yang berisi saya, Tyas, Nita dan Putri masih cukup aktif. Putri menjadi orang yang terlelap lebih dulu, disusul Nita. Saya dan Tyas kemudian malah asik berbagi kegalauan.

Hari #3, Minggu, 23 Desember 2012
Sekitar pukul 05.00 Tyas mulai membangunkan saya. Kami ingin ke tegal Alun. Namun dengan alami, rencana itu bubar jalan. Kami malah heboh memasak spaghetti impian Yudhis. Pagi itu ceria sekali, kami malas berjamaah, sulit sekali mencari relawan pengambil air dan pencuci piring.

Masak-memasak dimulai, dengan api cukup kecil, serta banyaknya topping, akhirnya spaghetti impian matang sudah. Asli, selama saya mendaki, ini adalah makanan gunung termewah. Spaghetti dengan bumbu Bolognese daging cincang plus sosis goreng dan telor kornet. Beuh, sarapan pagi yang enak luar biasa jendral.

Eit, saya nyaris lupa. Ada seorang yang tak menikmati menu dahsyat pagi itu. Dia adalah Delly Andrian. Saya lebih senang menyebutnya si klimis. Sebutan ini tentu bukan tanpa alasan. Tampilannya selalu rapi, kinclong tak ternoda. Delly juga sosok paling misterius, tak tertebak. Pembawaannya kalem, tak banyak tingkah, tapi sekali berucap, nusuk sampe ke ulu hati. Delly tipikal pemilih, terbukti dari menu makannya yang tak seperti kami semua. Untungnya, meski ia mengaku tak menyukai spaghetti, dia sungguh tak merepotkan. Untuk menu sarapan paginya, Delly cukup puas dengan mie instant. Delly agak rewel saat mulai meminta tutu otat. Maksudnya susu coklat. Ah, biar sok cadel, keimutan sama sekali malas mendekatimu Delly Mince!!!

Akhirnya baru sekitar pukul 11 kami baru selesai berkemas. Mengingat jalur yang tak mudah menuju Tegal Alun, sebaiknya kami tidak membawa banyak barang. Dengan penuh besar hati, Delly dan Anty memutuskan tak ikut serta. Mereka berdua menjaga tas kami. Duh, kalian berdua baik sekali, kami berhutang budi..

Kami bersembilan menuju padang edelweiss Tegal Alun. Jalur yang dilewati tak bisa dibilang mudah. Setelah melewati hutan mati, jalanan menjadi licin ditambah pula dengan guyuran air hujan. Terpaksalah kami memakai jas hujan.

Namun tak ada perjuangan yang sia-sia. Kelelahan kami dibayar lunas oleh pesona padang edelweiss. Puas berfoto, kami memutuskan segera turun. Tak tega membiarkan duo Delly-Anty menjaga tas kami lebih lama lagi.

Sekitar pukul 14.00 tim telah kembali lengkap. Kami turun gunung. Bertekad secepatmungkin sampai pondokan, kami tak banyak beristirahat. Sempat ada sedikit insiden, saat rombongan ingin menjajal jalur yang berbeda. Setelah menyebrangi sungai cukup terjal, ternyata itu baru permulaan. Setelahnya, ada jalur nyaris vertical. Kengerian makin diperparah oleh teriakan rombongan lain. Mereka berteriak, menyuruh kami berputar arah, karena jalur di depan kami adalah jurang. Dilema mulai terjadi, untuk berputar membutuhkan energi yang tidak sedikit, namun jalur yang akan kami lalui juga tak memberi harapan pasti.
Di sini, Jeremi mulai unjuk gigi. Jeremi Lee yang sehari-hari bekerja sebagai guru sejarah ini memang memiliki sifat melindungi. Di jalur terjal, Jeremi mendampingi setiap orang yang turun. Mulai dari menahan, memberi instruksi batu pijakan, sampai menjadi pengaman dari runtuhan batu. Kang Jeremi teh heroik pisan lah.

Bercerita soal Jeremi, kamu bisa menanyakan apa saja padanya, dan dia akan selalu memiliki jawaban. Otaknya seperti gudang ilmu. Ensiklopedia. Setiap orang yang dekat dengannya, juga akan sangat mudah merasakan ketulusan hatinya. Pokoknya kalo cari pacar, carilah yang mirip Jeremi. Hahaha..

Tapi, diantara keceriaannya yang mendalam, saya menduga kuat, Jeremi adalah seorang introvert terselubung. Entah peristiwa apa yang dialaminya, sepertinya ada kenangan buruk yang cukup membuatnya belajar dan menjadi kuat dalam menjalani hidup. Maaf ya Jer, kalau sok tahu saya kambuh, piss ah..

Setelahnya, jalur yang harus kami lalui cukup aman. Lawan terberat kami adalah rasa lelah. Ajaibnya, saya masih bisa melihat wajah sumringah penuh semangat. Inilah wajah Putri Sari Suci. Dialah adik bagi kami semua. Si penebar kebahagiaan. Seseorang yang quote nya saya ambil tanpa izin untuk di pasang dia wal tulisan ini.

Putri seorang yang ceria. Semua sepertinya terasa enteng dimatanya. Dalam hal ketulusan, Putri sejajar dengan Jeremi. Karena dia sempat mengenyam pendidikan di Newcastle, England, Putri sering menjadi bahan olok-olok bagi kami.

Putri adalah anggota rombongan yang seharusnya paling berat hati untuk pergi. Karena sampai menjelang keberangkatan, ibunya tak juga kunjung memberi restu. Entah karena nekad atau bujukan kami terlalu manjur, Putri nekad berangkat meski tidak berbekal restu.

Delly sempat berucap, kesalahan terbesar Putri adalah bertemu kami, para jemaah bolang. Namun saya lebih meyakini sebaliknya.

Putri selalu ceria. Disuruh apa saja dia mau. Saat kami mati gaya dan nyaris mati bosan, maka Putri akan bernyanyi menghibur kami semua. Lagaknya bak komposer kelas dunia. Pilihan lagunya pun, beragam bukan main. Terima kasih ya Putri, untuk hiburannya, serta semangatnya selama perjalanan, energimu menular ke kami semua.

Sekitar pukul 17.00 akhirnya kami tiba di pos. menandakan perjalanan Papandayan akan segera berakhir. Langkah makin gontai, lelah mulai merambati kaki. Namun, saat perjalanan nyaris finish, Hendra justru tersandung. Jalannya menjadi pincang, saya duga kakinya terkilir. Sedih sekali melihat laki-laki tak banyak cakap ini harus jalan tertatih.

Hendra adalah sosok mulut terkunci, jarang bicara, pelit senyum, lengkap sudah dengan muka yang cukup banyak cemberut pula. Tapi kesemua sifatnya, merujuk pada satu karakter, cool. Saya dan Tyas setuju menyebutnya tengil. Hendra seperti leader bayangan. Ia menyuplai beberapa kebutuhan trio Anty-Ochi-Becca.

Bahkan, saat kepulangan pun, Hendra pulang lebih dulu bersama trio ini.

Berhubung waktu liburan masih jauh dari usai, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Rancabuaya. Namun empat orang dari kami tak ikut serta.

Ah, senang sekali mengenang perjalanan kali ini. Ingin rasanya, membekukan setiap kenangan yang ada, meletakkannya di lipatan otak, agar tak usang dimakan waktu. Terima kasih ya untuk kebersamaan dan aroma persahabatan yang akrab. Kalian semua blengcek!!! 

Selasa, 15 Mei 2012

Belanda ke Indonesia Dulu, untuk apa?

Mengambil gambar di sini

Belanda. Apa yang terlintas di benak Anda jika saya menyebut negara ini?

Saya sempat menanyakan hal serupa pada beberapa kawan. Jawabannya cukup beragam dan tak ada yang dominan. Benteng, tulip, kincir angin, dan penjajah. Tak ada satupun yang menjawab Vereegnigde Oostindische compagnie (VOC). Padahal, saat ditanya apa yang terlintas di benak saya tentang Belanda, jawaban saya ya hanya tiga huruf ini, VOC.

Tahun 2012 ini VOC memperingati hari jadi ke 410 tahun karena telah berdiri sejak 1602 silam.
VOC menjadi simbol keberhasilan Belanda kala itu, yang mampu menciptakan sebuah perusahaan multinasional dengan cengkraman mendunia. Hebatnya lagi, Belanda seakan menjadi kuda hitam di tengah dominasi negara besar Inggris, Spanyol dan Portugis, terutama dalam hal penjelajahan dan mengarungi dunia baru kala itu.

Bagi Belanda, VOC merupakan kekayaan sejarah yang membanggakan.VOC  dianggap telah membawa kemakmuran. VOC juga menjadi monumen keberhasilan Belanda akan kemampuannya menjelajahi dunia dan turut serta menyumbang berbagai hasil penelitian pada permulaan abad ke-17. Generasi muda saat ini mengenal VOC sebagai karya leluhur yang membawa kejayaan di masa lampau. Bahkan, terkait dengan Indonesia, hingga saat ini banyak penduduk Belanda yang menganggap kedatangan Belanda ke Tanah Air adalah mengusung semangat positif, diantaranya:
(1) Men-civilized-kan orang-orang Indonesia yang masih primitif;
(2) Memberi kemakmuran kepada orang-orang Indonesia yang masih terbelakang;
(3)  Mempersatukan orang-orang Indonesia yang selalu berkelahi antar mereka;
(4) Memberi pendidikan dan kemajuan rakyat indonesia, dan
(5) Kedatangan VOC ke Indonesia semata-mata untuk berdagang saja.

Itulah pandangan sekilas mengenai VOC dari sudut pandang warga Belanda. Apakah Anda menyetujuinya?

Saya pribadi tidak sepaham. Bagaimanapun, kehadiran VOC di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kolonialisme Belanda di Indonesia. Kurikulum pendidikan sejarah di Indonesia bercerita betapa dahulu kala, negeri makmur sentosa ini harus rela memberikan kesejahteraan yang direnggut paksa oleh Belanda. Belanda adalah penjajah, titik.

Memiliki pengalaman pahit, pernah menjadi negeri jajahan ini, mendorong Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan membenci penjajahan. Tergambar dengan sangat jelas dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “penjajahan di dunia harus dihapuskan”.

Tak cukup sampai di situ, dalam sikap berpolitik pun Indonesia memerangi kolonialisme dalam bentuk pengambilan sikap politik di kancah internasional dengan memilih jalan Politik Bebas Aktif.

Kembali pada persoalan dan kisah Indonesia-Belanda di jaman dulu kala. Bagaimana seharusnya generasi masa kini mengambil sikap? Bolehkah tidak peduli dan menganggap apa yang terjadi di masa lampu hanyalah sejarah untuk dikenang belaka? Atau malah memaafkan dengan tangan terbuka, memilih untuk membuka lembaran baru, menjalin relasi baru bernama persahabatan? Agakanya, jawaban kedua yang mendominasi saat ini. Tentu saja tak apa. Ini merupakan salah satu bentuk perdamaian dunia bukan?


*Tulisan ini mengambil buah pikiran dari Abdul Irsan yang pernah menjadi diplomat di Belanda.

Kamis, 29 Maret 2012

Jejak Pertama di Borneo


Pekatnya biru pada langit mempercantik gumpalan awan yang menenangkan

Bulan April telah menjelang, akan menimbun Maret dengan gegap gempita. Pikiran melayang, kembali mengingat, apa-apa saja yang telah saya kerjakan. Jawabannya tak banyak. Tetap bepergian, menjejelajah ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru.

Kejadian lama yang selalu berulang, adalah kemalasan saya untuk membuat catatan perjalanan. Tapi, baiklah, saya sedang berusaha menyisihkan rasa malas ini.

Pertengahan Maret lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Borneo. Benar-benar baru pertama kali. Untuk bekerja.

Menumpang maskapai lokal, Trigana Airlines. Ada yang tidak tahu maskapai macam apa ini?

Tenang saja, memang tak banyak yang tahu dengan keberadaan maskapai ini. Sekedar intermezzo, Trigana merupakan satu-satunya maskapai yang menyediakan rute penerbangan Jakarta-Pangkalan Bun. Tidak ada maskapai lain, tak satupun.

Saya berangkat seorang diri pada 13 Maret. Tertera pada tiket, jam keberangkatan saya adalah pukul 09.50. Saya diwanti-wanti agar datang sepagi mungkin, jangan sampai terlambat, mengingat sehari sebelumnya, kolega sempat membuat insiden tertinggal pesawat dari maskapai yang sama. Alhasil, saya sama sekali tak terlambat, malahan terlalu cepat. Bayangkan, jarum jam belum menunjuk ke angka 7 dan saya sudah duduk manis di terminal 1C menunggu loket check in dibuka. Takut terlambat dan terlalu bersemangat memang berbeda tipis.

Jam 9 teng, penumpang dipersilahkan masuk ke dalam pesawat. Jujur, saya agak khawatir. Terbang seorang diri, ke daerah yang lumayan pelosok pula. Begitu sampai di dalam pesawat, oh la la. Kursi penumpangnya cukup membuat saya tertegun. Kursi busa yang lumayan usang. Ah, beginilah wajah maskapai penerbangan kecil, batin saya.

Singkat kata, saya lumayan menikmati perjalanan. Menikmati gelembung awan yang menyerupai marsmellow. Menikmati suguhan alam dan hutan Kalimantan dari udara. Pohon-pohon yang meranggas hijau, menyerupai brokoli. Juga ada petak-petak berjajar rapi, saya duga itu adalah perkebunan sawit.

Bandar Udara Iskandar, Pangkalan Bun jauh lebih kecil dari yang saya bayangkan. Sederhana dan menenangkan. Bahkan saya sempat bertemu dengan Fred, anak laki-laki dr. Birute Mary Galdikas, seorang tokoh yang cukup disegani karena kepeduliannya pada kelangsungan hidup orangutan. Saya hanya menatap penuh kagum, dia ganteng.

Dari Pangkalan Bun, perjalanan saya berlanjut ke Hanau. Di sini saya menemukan sebuah kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang bersahaja, penuh kesederhanaan.

Sebuah sekolah dasar yang berdiri kokoh, lengkap dengan berbagai sarana penunjang. Melihat anak-anak ini penuh semangat menimba ilmu, serta penuh tawa berlari-larian. Ah, saya jadi iri dengan ketenangan hidup di tempat ini.

Sekolah ini mengajak saya untuk menjelajahi kenangan belasan tahun silam. Saat saya masih mengenakan seragam putih merah. Bermain dengan riang bersama teman sebaya. Di Jakarta, pemandangan anak-anak kecil bermain di lapangan dengan bebas di waktu istirahat pasti nyaris mustahil. Anak-anak metropolis lebih memilih untuk diam dikelas, bermain dengan gadget terbaru. Aktivitas fisik bukanlah sesuatu yang menggugah minat.

Di depan sekolah terdapat bangunan dengan atap biru cerah. Bangunan ini adalah rumah pintar. Sebuah bangunan yang ditujukan untuk menggali potensi bagi anak-anak maupun para ibu. Di rumah ini, setiap orang memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk bermain sambil belajar. Ada perpustakaan, ada televidi dan DVD beserta playernya, ada computer, dan banyak mainan anak. Saya yang sudah dewasa saja betah berlama-lama memainkan setiap fasilitas yang ada di rumah pintar ini.

Bagi para ibu, tersedia sentra kriya. Terdapat mesin jahit yang kelak akan digunakan untuk melatih kemampuan para ibu. Sewaktu saya berkunjung, para ibu ini sedang mempraktikkan smoke, seni melipat dan menjahit kain yang menghasilkan bentuk unik.

Pengelola program di rumah pintar ini ada dua. Mereka disebut tutor dan asisten tutor. Dwi Puspa Setiasih dan Nur Indah Fitriani. Mereka adalah dua orang berhati mulia yang membaktikan diri untuk pengembangan rumah pintar ini.

Hidup di sebuah perkebunan macam ini, mau tak mamu memaksa setiap orang untuk menyelami kesederhanaan. Mengikuti ritme yang kadang berjalan terlalu lamban. Menjalani rutinitas yang trlampau monoton. Lalu, apakah saya merasa bosan? Tidak.

Saya menikmati setiap detik yang berjalan di tempat asing ini. Menikmati setiap fragmen bersama dengan orang-orang asing di tempat terpencil. Ketulusan hati yang ditawarkan dengan sebongkah senyum sayang menjadi pewarna alami disetiap waktu yang saya habiskan.

Bahkan, di malam terakhir, seorang ibu menyempatkan diri membuatkan empek-empek. Rasanya jangan ditanya, enak bukan kepalang. Di sini, saya mengucapkan terima kasih untuk Ibu Harefa yang dengan baik hatinya membuatkan kami makanan lezat yang bahkan begitu terpatri kuat dalam semak-semak ingatan.

Tepat di hari keempat, saya harus kembali. Pulang menjejakkan kaki di bentangan Jawa. Kembali disambut macet, bising dan orang-orang bersuara keras yang memekakkan telinga. Di perjalanan pulang menuju rumah, lamunan saya melayang. Mengingat setiap peristiwa di tanah Borneo. Mengingat senyum anak-anak yang tanpa beban. Mengingat eratnya pelukan para ibu yang saya pamiti. Ah, saya pasti kembali, entah kapan.

Sabtu, 26 November 2011

365 hari berselang


mengambil gambar di sini


365 hari telah berselang. Aku melanjudkan hidup, pun demikian denganmu. Kuduga hidupmu melaju pesat, sedang aku? Tidak, hidupku berjalan normal, perlahan dan pasti maju. Sedikit demi sedikit kuisi tabula mimpiku.

Harapanku, kau melakukan hal yang sama.

Meski tak mudah, kini aku sedang menumpuk satu-demi satu bata yang akan kugunakan untuk membangun rumah yang kunamakan mimpi.

Benar kata orang bijak, terkadang kita tidak harus selalu memakai jalan pintas untuk menuju sesuatu yang kita mau. Terkadang kita harus melewati jalanan terjal bahkan memutar. Namun saat mimpi itu menjadi nyata, setiap proses yang kita lewati, setiap kucuran keringat yang kita seka di dahi, mungkin juga ada beberapa luka yang menggores kaki, semuanya akan menjadi penghias. Menjadi kenangan manis-asam yang akan menggenapi kebahagiaan.

Dan aku mempercayainya.

Lalu bagaimana dengan hidupmu? Jangan kau pikir aku tak tahu, akan rencana besar yang mungkin terwujud di Januari mendatang. Katakan saja tak usah sungkan. Toh kita masih berteman.

Saat aku menuliskan barisan aksara ini, aku sedang berada di sebuah desa penuh kebersahajaan. Tempat yang mematik ingatan akan dunia di masa kecilku. Desa dengan riak tawa anak-anak yang bermain dibawah sinar bulan. Menggerombol, berlari-lari disepanjang jalan tanpa khawatir ada klakson yang memekakkan telinga. Pematang sawah dengan hamparan padi menghijau menyerupai permadani.

Yang paling kusukai, adalah angin sepoi-sepoi yang menyentuh pipi. Ya, angin ini dengan magisnya mampu menyelusupkan keping damai yang perlahan dan pasti sampai ke hati. Untuk merasa bahagia, terkadang kita hanya perlu mendengarkan isyarat alam. Membiarkannya menghampiri hati gundah, dan kita hanya perlu merentangkan tangan. Voila..seketika ingatan ini berhianat. Melupakan segala resah, hanya bisa merasa damai. Jika sudah begini, hati kecil ini hanya bisa berujar,
“Nikmat mana lagi yang berani aku dustakan?”

Kamis, 28 April 2011

Perjalanan yang Membekukan


mengambil gambar di sini

Menyebalkan. Itu satu kata yang mewakili kamu. Tidak ada lagi kata lain. Cukup.

Padahal saya sempat memberi kamu poin plus. Saya sempat berharap kamu akan menjadi teman menyenangkan di perjalanan pulang. Tapi semua langsung sirna.

Ya, kita hanya berdua tentu bersama penumpang asing, melintasi kota Banjarnegara, Purwokerto, Cilacap, Garut dan kota-kota lain sebelum bus malam kita menginjak Jakarta.

Saya tidak ingat persis, materi obrolan kita. Seputaran dunia militer, Tan Malaka dan Madilog-nya, sampai salah tempat menuntut ilmu. Ya, Pemikir yang justru berkuliah di sekolah tempat kaum borju. Tidak ada yang salah dengan kampus kamu, namun citra kapitalis yang melekat dalam institusi itu tentu menggelitik rasa penasaran saya. Bagaimana kamu melewati waktu di kawasan borjuis itu, sedang pemikiran-pemikiran kamu tentu melakukan penolakan.

Benar saja. Dalam satu putaran waktu, kamu nyaris di drop out gara-gara menentang sistem penjualan buku. Hal yang sepele sebenarnya, namun kamu yang keras kepala tentu tak mau mengalah begitu saja. Kamu tahu? Itu cerita seru, saya masih mengingat sangat tiap detail yang kamu ceritakan, kecuali pada bagian nama-nama yang kamu sebutkan tentu saja. Saya pengingat nama yang payah.

Perbincangan bergeser soal agama. Kita sama-sama tidak begitu fasih dan memahami. Akhirnya bahasan malah meluas, menyentuh Ayatullah Khomeini sampai Mahmoud Ahmadinejad. Untuk nama yang terakhir, tentu sedikit banyak saya tahu, dulu pernah membaptis diri jadi penggemar.

Menceritakan dunia-dunia kita yang ternyata bersinggung di masa lalu. Ya, kita pernah menginjak tempat yang sama. Mungkin berbeda putaran harinya, namun orang-orang yang kita jumpai kurang lebih sama. Saat itu saya merasa senang sekali.

Memiliki teman seperjalanan yang asik, seru, nikmat mana lagi yang berani saya dustakan?!
Namun, semua langsung poranda. Saat kamu mengatakan agar saya lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Sebenarnya bukan masalah besar. Namun kemudian menjadi masalah besar karena kamu tidak mau menjelaskan maksud kalimat itu. Kamu hanya memberi saya sebaris senyum tengil menyebalkan.

Kamu tahu? Ada tipikal orang yang akan sangat terganggu hidupnya karena didera rasa penasaran hebat. Itu yang saya alami. Sejak saat itu, hingga saat ini, saat saya merangkai aksara. Lebih menyebalkan lagi saat tahu kamu hanya tersenyum-senyum tidak mau menjelaskan. Saya terus memburu jawaban, tapi tidak dapat juga jawabannya sampai saat ini. Akhirnya saya mengambil kesimpulan sepihak.

Kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Padahal malam itu, belum separuh perjalanan yang harus dilalui. Kamu memutuskan untuk pindah bangku. Mau tidur, begitu pamitmu. Sebodo teuing!

Pukul 2 pagi kamu kembali. Kedinginan dan berusaha menghangatkan badan dengan memakai kaos berlapis-lapis. AC bus memang keparat bukan main saat itu. Saya juga merasa kedinginan, namun tidak bisa berbuat banyak. Salah kostum pula. Celana kargo panjang yang saya bawa, melesak jauh di bawah ransel, sangat repot jika saya mau memakai. Rasa malas tak mengenal waktu dan tempat rupanya.

Yang saya takutkan terjadi. Bus terlalu dini sampai di Jakarta. Akhirnya saya turun lebih dulu. Tidak ada salam perpisahan yang hangat. Semua membeku, semenjak kamu tidak memenuhi tuntutan saya akan penjelasan. Saya sempat melihat kamu memandang keluar jendela bus. Selamat tinggal teman. Semoga kita bisa berjumpa dalam suhu persahabatan yang lebih hangat. Akan sangat menyenangkan tentu saja, jika kamu bermurah hati. Tidak hanya menyodorkan seuntai senyum tengil itu. Deal kakak pramuka?!

Perjalanan Pulang yang Membekukan



mengambil gambar di sini

Menyebalkan. Itu satu kata yang mewakili kamu. Tidak ada lagi kata lain. Cukup.

Padahal saya sempat memberi kamu poin plus. Saya sempat berharap kamu akan menjadi teman menyenangkan di perjalanan pulang. Tapi semua langsung sirna.

Ya, kita hanya berdua tentu bersama penumpang asing, melintasi kota Banjarnegara, Purwokerto, Cilacap, Garut dan kota-kota lain sebelum bus malam kita menginjak Jakarta.

Saya tidak ingat persis, materi obrolan kita. Seputaran dunia militer, Tan Malaka dan Madilog-nya, sampai salah tempat menuntut ilmu. Ya, Pemikir yang justru berkuliah di sekolah tempat kaum borju. Tidak ada yang salah dengan kampus kamu, namun citra kapitalis yang melekat dalam institusi itu tentu menggelitik rasa penasaran saya. Bagaimana kamu melewati waktu di kawasan borjuis itu, sedang pemikiran-pemikiran kamu tentu melakukan penolakan.

Benar saja. Dalam satu putaran waktu, kamu nyaris di drop out gara-gara menentang sistem penjualan buku. Hal yang sepele sebenarnya, namun kamu yang keras kepala tentu tak mau mengalah begitu saja. Kamu tahu? Itu cerita seru, saya masih mengingat sangat tiap detail yang kamu ceritakan, kecuali pada bagian nama-nama yang kamu sebutkan tentu saja. Saya pengingat nama yang payah.

Perbincangan bergeser soal agama. Kita sama-sama tidak begitu fasih dan memahami. Akhirnya bahasan malah meluas, menyentuh Ayatullah Khomeini sampai Mahmoud Ahmadinejad. Untuk nama yang terakhir, tentu sedikit banyak saya tahu, dulu pernah membaptis diri jadi penggemar.

Menceritakan dunia-dunia kita yang ternyata bersinggung di masa lalu. Ya, kita pernah menginjak tempat yang sama. Mungkin berbeda putaran harinya, namun orang-orang yang kita jumpai kurang lebih sama. Saat itu saya merasa senang sekali.

Memiliki teman seperjalanan yang asik, seru, nikmat mana lagi yang berani saya dustakan?!
Namun, semua langsung poranda. Saat kamu mengatakan agar saya lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Sebenarnya bukan masalah besar. Namun kemudian menjadi masalah besar karena kamu tidak mau menjelaskan maksud kalimat itu. Kamu hanya memberi saya sebaris senyum tengil menyebalkan.

Kamu tahu? Ada tipikal orang yang akan sangat terganggu hidupnya karena didera rasa penasaran hebat. Itu yang saya alami. Sejak saat itu, hingga saat ini, saat saya merangkai aksara. Lebih menyebalkan lagi saat tahu kamu hanya tersenyum-senyum tidak mau menjelaskan. Saya terus memburu jawaban, tapi tidak dapat juga jawabannya sampai saat ini. Akhirnya saya mengambil kesimpulan sepihak.

Kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Padahal malam itu, belum separuh perjalanan yang harus dilalui. Kamu memutuskan untuk pindah bangku. Mau tidur, begitu pamitmu. Sebodo teuing!

Pukul 2 pagi kamu kembali. Kedinginan dan berusaha menghangatkan badan dengan memakai kaos berlapis-lapis. AC bus memang keparat bukan main saat itu. Saya juga merasa kedinginan, namun tidak bisa berbuat banyak. Salah kostum pula. Celana kargo panjang yang saya bawa, melesak jauh di bawah ransel, sangat repot jika saya mau memakai. Rasa malas tak mengenal waktu dan tempat rupanya.

Yang saya takutkan terjadi. Bus terlalu dini sampai di Jakarta. Akhirnya saya turun lebih dulu. Tidak ada salam perpisahan yang hangat. Semua membeku, semenjak kamu tidak memenuhi tuntutan saya akan penjelasan. Saya sempat melihat kamu memandang keluar jendela bus. Selamat tinggal teman. Semoga kita bisa berjumpa dalam suhu persahabatan yang lebih hangat. Akan sangat menyenangkan tentu saja, jika kamu bermurah hati. Tidak hanya menyodorkan seuntai senyum tengil itu. Deal kakak pramuka?!


Rabu, 27 April 2011

Bersama Kalian, Dieng Lebih Mengesankan


Kau nyanyikan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini telah kau bawa aku menuju kesana..


Petikan lagu negeri di awan yang dilantunkan Katon Bagaskara, saya rasa cocok menjadi soundtrack perjalanan saya menelusuri Dieng.

Dataran tinggi diatas 2000 kaki. Tak heran jika Dieng juga mendapat julukan negeri di atas awan. Dalam situasi tertentu, saat mata memandang kebawah, hanya hamparan kabut putih yang terlihat.

Bersama 8 orang yang semuanya berlabel baru kenal. Tidak ada kesepakatan sahih, tapi saya senang menamakan rombongan ini dengan geng KYU. Mengacu pada permainan kartu yang merujuk pada angka 9.

Berangkat dari terminal lebak bulus, bersama dengan Meldawati (si kepala suku) dan Milani Yunitasari aka Nita.

Melda memiliki karakter super ceria. Dialah peramai suasana, dengan celoteh ini itu, kadang penting kadang tak penting. Hihihi. Bisa dikatakan, Berkat Melda-lah geng KYU terbentuk. Dia yang mengajak dan membuat woro-woro rencana trip ini. Semua informasi kepesertaan berpusat padanya. Bahkan, namanya lah yang menjadi jaminan booking ini itu, mulai dari booking penginapan, elf, sampai tiket pulang. Sembah nuwun ya Melda, untuk kerelaannya bersibuk ria mengurusi kepentingan operasional ini. Seminggu sebelum keberangkatan, saya bertemu dengan Melda, membicarakan itinerary.

Untuk Nita. Sebelumnya saya belum pernah bertemu dengannya. Perawakannya kurus. Kesan pertama yang mampir di otak saya, dia kalem. Senyum saja cuma segaris. Terlihat menjadi antithesis Melda jika mereka berdiri berdampingan. Nita bekerja di GE, General Electric. Semoga saya tidak salah menuliskannnya. Saya tidak tahu persis job desk Nita, pokoknya berurusan dengan kartu kredit. Kesan pertama, saya langsung menyukainya. Nampaknya, dia akan menjadi teman seperjalanan yang asik.

Saat petang mulai beranjak, bus yang kami tumpangi berangkat. Ternyata, kami menjemput penumpang di Rawamangun.

Sekitar pukul 21.00 WIB bus baru bisa dikatakan sah meninggalkan Jakarta.

Eng ing eng, belum apa-apa jadwal kami sudah berantakan. Perkiraan awal, kami sampai di terminal wonosobo sekitar jam 5 pagi, paling telat jam 7. Tapi ya tapi, bus Malino Putra baru dengan manisnya memasuki terminal lebih dari jam 12 siang.

Tim yang datang dari Surabaya dan Jogja sudah tiba sejak pagi. Mereka memutuskan untuk menunggu kami di Dieng saja.

Saya, Melda, dan Nita langsung menuju loket untuk membeli bus pulang. Antisipasi.

Diterminal, rombongan bertambah satu orang, Muhammad Ali Firman, biar singkat panggil saja Firman. Sebelumnya Firman satu kantor dengan Nita, namun kini dia telah berpaling dan mengapdi pada CIMB Niaga. Urusannya masih sama, seputaran kartu kredit. Firman berperawakan tinggi semampai. Rambutnya pendek dan keriting. Orangnya easy going. Usut punya usut, dia baru memiliki kamera DSLR Sony. Seri-nya saya tidak tahu.

Kami bersemangat mencari Mie Ongklok yang tersohor itu. Tanya sana-sini, Mie Ongklok tak ditemukan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan seadanya. Saya dan Nita memilih soto daging, sedangkan Melda soto ayam. Firman? Hm..untuk menu kedua, dia makan bakso. Sebelum bertemu dengan kami, Firman mengaku telah makan nasi rames.

Sedang menikmati santap siang, kami kedatangan seorang laki-laki yang mengaku bernama Dwi. Dialah guide yang akan mendampingi petualangan kami menggerayangi Dieng Plateau. Nama panjangnya Dwi Yono. Cukup panggil Mas Dwi. Saya tak menyangka, guide kami ternyata masih muda. Belakangan, saya mendapat informasi, Mas Dwi itu kelahiran 1984. Pantas aja masih muda. Mas Dwi cocok sekali menjadi pemandu wisata, pribadinya menyenangkan. Usahanya untuk melucu cukup baik, meski hasilnya suka garing. Tapi karena kegaringannya itulah, kami jadi punya bahan celaan. Kami ber-4 belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Dieng karena masih menunggu satu peserta yang juga datang dari Jakarta, Andika Ferdiansyah.

Sekitar pukul 4 sore, Dika tiba. Kami langsung meluncur menuju Dieng Plateau. Kami tidak langsung berkenalan dengan Dika. Sama-sama capek, kami malah asik mendengarkan lagu dangdut pantura yang diputar di Elf. Dika sosok yang cool. Bekerja di perusahaan advertising. Cita-citanya menjadi marketing handal. Cita-cita aneh, terlebih setelah Dika positif terdeteksi sebagai manusia elang versi saya. Ya, di perjalanan ini, saya menemukan si manusia elang. Ah, senang sekali. Saya sedang tidak ingin menceritakan apa itu manusia elang, lain kali saja.

Tak berlebihan rasanya, jika Dieng dijuluki negeri di awan. Awan putih yang biasa hanya bisa kita pandangi di angkasa, di Dieng dia tak malu-malu menghampiri. Ya, kami bersentuhan dengan kabut putih yang biasa disebut awan itu.

Sampai di Dieng, ada 4 orang perempuan yang menghampiri. Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri. Vera, Ovie, Fatma dan Ami. Kostum mereka sudah sangat siap tempur melawan suhu kejam Dieng. Topi kupluk, sarung tangan dan syal.

Tim akhirnya sudah lengkap, 9 orang plus Mas Dwi. Kami menuju Dieng Plateau Theater. Disana kami bertemu dengan bocah berambut gimbal. Nita namanya. Kami menyaksikan film berdurasi 12 menitan tentang Dieng. Film ini cukup informatif. Saya jadi tahu, tahun 1976, gunung meletus. Setidaknya ada 149 orang tewas keracunan gas CO2 yang muncul dari dalam perut bumi.

Film ini juga menunjukkan objek-objek menarik yang bisa dikunjungi. Telaga Warna, Candi, Kawah Sikidang, dan kawah Candradimuka.
Sebelum berangkat, seorang teman mewanti-wanti saya untuk tidak melewatkan kawah Candradimuka. Dia tidak menjelaskan alasan spesifik. Tapi sayang, karena keterbatasan waktu dan jarak tempuh yang lumayan, geng KYU tak sempat menyambanginya.

Malam semakin merapat, kami makan malam berjamaah. Makan mala mini menjadi semacam momen sambung rasa. Kami berbincang untuk mengenal lebih jauh. Saya sendiri, berusaha menghafal nama. Ini kelemahan akut saya. Sulit menghafal nama.

Paling saya ingat Vera. Dia menjadi satu-satunya perempuan yang membawa kamera DSLR. Peralatan pembeku momennya lumayan lengkap. Lensa ini itu sampai tas kedap air. Vera kerja di Surabaya, di Phapros. Jika tak salah, sebenarnya, rumah Vera di Jakarta. Surabaya hanyalah tempat untuk mendulang rupiah. Malam itu dia memakai topi kupluk merah. Khusus untuk Vera, saya menggarisbawahi penampilannya. dia memang memakai kupluk, sarung tangan dan syal. Tapi blus yang dikenakannya justru tipis. Celananya juga pendek. Jadi, saya tak habis pikir, bagaimana dia bisa menahan hawa dingin yang malam itu begitu kejam menyergap. Saya ingat Nita pernah nyeletuk mengomentari penampilan Vera. “Leher ke atas untuk digunung, tapi leher ke bawah gaya pantai”. Vera malah kegirangan jika dikomentari perihal penampilan ini. Saya memanggilnya Mami Vera.

Keesokan harinya, kami telah siap siaga di jam 4 pagi. Tekad kami bulat, menyaksikan golden sunrise yang tersohor itu. Cuaca membekukan tidak menghalangi semangat membaja kami. Ternyata, trek yang harus ditempuh lumayan juga. Bagi yang tak terbiasa dengan aktivitas fisik, tentu lumayan menyita energi, saya termasuk di dalamnya. Namun, beratnya perjalanan langsung terbayar lunas.

Semburat kuning nampak mempesona di ufuk timur. Perlahan dan pasti, Gunung Sindoro makin jelas terlihat. Keindahan alam, sahih tak terbantahkan. Saat cakrawala menyajikan nyanyian alam berupa gradasi warna, dan gerakan anggun matahari yang merangkak naik perlahan dan pasti.

Ovie sangat terlihat menikmati suguhan alam kali ini. Ovie belakangan saya tahu, dia seorang dokter yang tinggal di Jogja. Dalam geng KYU, Ovie satu-satunya anggota yang sudah menikah. Kami sempat mendengar cerita, bagaimana Ovie merayu Vera agar memintakan ijin pada suami untuk diperbolehkan turut serta. Saya tebak, Ovie bukanlah orang yang senang mendominasi. Beberapa kali saya lihat, dia hanya tersenyum melihat celoteh masing-masing dari kami. Tipikal pengamat.

Sampai menjelang pulang, saya sering tertukar antara Ovie dan Fatma. Fatma juga seorang dokter yang sedang mengambil spesialis syaraf di Jogja. Bisa dikatakan, Fatma adalah anggota yang paling memperhatikan gaya berbusana. Semua outfit yang dikenakan nampak serasi. Fatma pandai memadupadankan warna dalam pakaian. Ya, Fatma jadi terlihat cantik. Tak heran, selama trip, Fatma berhasil mendapat penggemar, minimal satu. Hahahaha

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Telaga Warna. Untuk menghindari tagihan tiket masuk, kami diajak Mas Dwi untuk mendaki. Lumayan juga jalur yang harus kami lewati. Lagi-lagi Mas Dwi tidak mengecewakan. Kami mendapat sudut pandang terbaik untuk melihat Telaga Warna. Gratis pula. Di sini, kali pertama kami melakukan photo keluarga. Lengkap.

Yang paling kasihan adalah Mbak Ami. Dia terlihat kelelahan. Saat turun, Mbak Ami dibantu Dika. Mbak Ami itu kalem-kalem punya sisi premanisme. Saya ingat, dialah yang memastikan pembayaran makan malam sudah seperti seharusnya. Dengan gayanya yang khas, dia mengecek satu-satu nominal uang yang harus di bayar oleh masing-masing dari kami. Kekhawatirannya terbukti, uang malah lebih ternyata. Jumlahnya Rp 5.500,- menjadi tanggung jawab Dika untuk mengembalikan. Mbak Ami juga orang paling misterius dalam rombongan. Alamat FB-nya menjadi yang paling terakhir saya ketahui. Meski begitu, dia penyayang. Saya terharu, saat di perjalanan pulang menerima pesan pendek darinya.

Setelah mengunjungi Telaga Warna, kini giliran Kawah Sikidang dam Candi Arjuna. Kami diwanti-wanti oleh Mas Dwi, agar tidak terlalu lama berada di sekitar kawah. Gas CO2 yang tidak berwarna dan tidak berbau bisa membahayakan nyawa. Selanjutnya kami menuju candi Arjuna. Seperti turis pada umumnya, kami banyak membekukan momen disini. Konon, keberadaan candi di Dieng ini merupakan bukti bahwa pemeluk agama Hindu pertama di Indonesia berasal dari Dieng. Bukan Bali.

Setelah makan siang dan mengepak barang, kami menuju Sumur Jalatunda. Mitos yang berlaku, barangsiapa berhasil melempar batu hingga ke seberang, maka keinginannya akan terkabul. Melihat besarnya diameter sumur, saya tidak heran jika banyak yang tidak berhasil melakukannya.

Dika nyeletuk, “Saya kalo mau keinginannya terkabul, ya usaha!” Statemen yang masuk akal Dik.

Destinasi berikutnya adalah pemandian air panas. Setelah berunding, akhirnya kami menuju pemandian kalianget di kota Wonosobo. Tiket masuknya murah sekali. Tapi begitu melihat air dalam kolam, yaiy..saya sempat bergidik. Warna airnya coklat. Jujur, bukan karena saya merasa jijik. Namun karena saya takut warna kaus saya akan mengalawi pemudaran warna permanen. Melihat Dika dan Nita cuek, saya akhirnya tertarik juga. Ada yang menarik di kolam ini. Ada sejoli di pojok nun jauh di sana. Yang tak lazim, si perempuan memakai kacamata hitam. Baru ini, kali pertama saya melihat orang berenang memakai kacamata hitam. Hitam loh ya, bukan kacamata renang. Sejoli ini memiliki percaya diri luar biasa. Mereka cuek sekali, tak peduli dengan sekeliling. Ini kolam renang paling ajaib yang pernah saya datangi. Menjelang beranjak, saya dan Dika sempat menggunjing sejoli lain yang asik berfoto dengan ponsel, dengan bahasa tubuh birahi tinggi. Hadoooh, saya langsung merasa ada di kawasan penuh lumpur dosa. Lebaaaaay.

Least but not last. Kami berburu Mie Ongklok. Diantara telepon agen bus yang memastikan kami agar tidak terlambat sampai di terminal. Dika sampai menamainya “Mie Ongklok Rush Hour” di twitternya. Akhirnya saya mencicipi mie khas Wonosobo ini. Mie Ongklok menjadi penutup yang sempurna dalam perjalanan ini.

Bahkan, saat saya menyusun bait aksara ini, sudah empat hari lalu berselang. Namun kebahagiaannya masih menyusup dalam tiap pori. Terimakasih ya, untuk sepotong perjalanan yang membahagiakan ini. Kebahagiaan semakin sempurna, karena perjalanan ini mempertemukan saya dengan orang-orang menyenangkan seperti kalian teman. sinih..sinih, tak peluk satu-satu.

Minggu, 06 Maret 2011

meninggalkan jejak

tidak sedang ingin bercerita
hanya mau meninggalkan sedikit jejak
semacam petilasan
saat aku
sedang berada jauh dari pusat dunia
jauh dari ari-ari yang tertanam

semua yang kutemukan
mengerucut pada satu simpulan
kecintaan pada akar budaya
bagaimanapun
sesuatu yang membiasakan memang mencipta nyaman

itu mutlak

Selasa, 21 September 2010

Maaf, Saya Ingkar Janji


Katri Prameswari, sahabat saya dikantor mengajak saya untuk jalan besok, mengingat sudah cukup lama kami tidak bertemu. Sayang, saya tidak bisa menerima ajakan tersebut karena saya harus pulang ke rumah Bekasi malam nanti. Kemudian saya menawarkan untuk bertemu hari senin saja, dan berharap Mila Hidayatullah, teman saya yang lain juga bisa bergabung.

Sekitar jam 7 malam, saya bersiap menempuh perjalanan dari Kedoya ke Bekasi. Saya berencana berada di rumah mulai jumat malam hingga senin pagi.

Semua berjalan lancar, saat tiba di terminal Kampung Melayu, ada pesan masuk ke ponsel saya dari Deppy Marlinda, teman kampus saya. Isi pesannya mengajak saya nonton bareng film Sang Pencerah. Lagi-lagi saya menolak ajakan dengan alasan akan pulang ke rumah orang tua. Deppy masih menawarkan untuk berjumpa di hari minggu, saya balas akan berada di rumah setidaknya hingga senin pagi. Pertanyaan kembali diajukan Deppy, mengenai kesanggupan saya untuk nonton bareng. Takut tak bisa memenuhi janji, mengingat hari senin saya telah memiliki janji dengan Katri dan Mila, saya sampaikan terus terang mengenai ketidakberanian saya untuk membuat janji dengan Deppy.

Sekedar informasi, citra saya sebagai seseorang yang memenuhi janji cukup buruk. Tak jarang saya membatalkan janji dengan tiba-tiba. Tak mau memperburuk citra tersebut, kini saya cenderung hati-hati jika akan membuat janji bersama teman.

Untuk kasus Deppy, akhirnya disepakati, kami tidak jadi bertemu dalam waktu dekat.

Jam 9 lewat saya sampai di rumah. Kebetulan tadi di jalan saya mampir untuk membeli martabak telor. Di rumah saya, ibu, ayah dan adik menikmati martabak telor yang masih panas sambil berbincang. Malam semakin merayap, akhirnya kami mulai memisahkan diri. Saya dan adik akhirnya nonton tivi di lantai dua.

Merasa besok akan memiliki waktu cukup longgar, saya memutuskan untuk menelpon teman SMA yang jarak rumahnya tak terlalu jauh dengan rumah saya, Sri Maryati dan biasa disapa dengan Iyan. Setelah Idul Fitri ini kami belum bertemu, hitung-hitung sekalian silaturahmi. Ternyata Iyan besok masuk kerja seharian, akhirnya kami sepakat untuk bertemu hari minggu saja sekitar jam 2 siang, setelah Iyan pulang kerja.

Merasa bosa dengan program televisi yang ada, saya melihat-lihat koleksi buku. Aha..saya menemukan buku tentang Ahmad Wahib yang di cari Rosmiyati Dewi Kandi beberapa waktu lalu. Katanya sebagai bahan referensi karena Kandi berencana menulis sebuah buku. Dengan bersemangat saya mengirimkan pesan, jika mau dia boleh meminjam buku tentang Ahmad Wahib ini. Meski tidak sama persis dengan buku yang dicari sebelumnya, namun lumayanlah masih ada hubungannya dengan si Ahmad Wahib, pikir saya.

Benar dugaan saya, Kandi tak kalah antusias menyambut tawaran peminjaman buku ini. Kami akhirnya malah berbalas sms seru, sampai akhirnya Kandi mengajak saya untuk hiking. Sebagai penggemar jalan-jalan, saya tanggapi ajakan Kandi. Saya katakana padanya, status saya adalah siap menunggu invitation darinya. Tak dinyana, ternyata dia malah menyebut besok.

Bimbang. Tawaran menggiurkan, namun mengapa harus mendadak? Saya menyesalkan ajakan mendadak tersebut.

Namun ternyata jiwa spontanitas lebih mendominasi. Saya terima tantangan hiking besok bersama orang-orang yang tidak saya kenal, kecuali Kandi. Sekedar pemberitahuan, saat ini adalah jam 11 lewat.

Akhirnya terpikir strategi esok hari, agar saya bisa meminimalisir jam keterlambatan yang besar kemungkinan akan terjadi. Mengingat rute yang harus saya tempuh adalah Bekasi-Kedoya-Cawang. Saya harus tiba setidaknya jam 08.30 di Cawang. Cadas.

*****

Saya harus kembali dulu ke Kedoya untuk mengambil baju dan ‘alat perang’ semacam handuk bepergian, celana non jeans, serta printilan lainnya.

Syukur Alhamdulillah, saya bisa tiba di Cawang, lokasi pertemuan saya dan Kandi jam 8. Lebih cepat dari perkiraan. Sebelum sampai di Cawang, saya sempat mengupdate status facebook,

Tiba-tiba hiking, cihuy!!

Sepertinya Katri membaca status tersebut, karena ada sms masuk yang isinya keinginannya untuk ikut dalam hiking ini. Mengingat saya sudah dalam perjalanan, jadi cukup sulit untuk mengikutsertakan Katri. Ada sedikit protes darinya, mengingat sebelumnya saya menolak ajakannya dengan alasan akan pulang ke Bekasi. Saya minta maaf, dan mengatakan ajakan hiking ini juga datangnya tiba-tiba tanpa perencanaan. Sejujurnya semalam saya sempat terpikir untuk untuk mengajak Katri, namun saya ingat sempat membaca status di twitter, sepertinya Katri dan Ihsan akan rafting. Ya sudah.

Akhirnya saya hiking bersama Kandi dan 13 orang lainnya. Bisa dikatakan saya nyaris tidak mengenal ke-13 orang yang semuanya laki-laki ini. Beberapa orang mememang alumni IISIP, tapi jangan Tanya yang mana saja orangnya. Saya tak tahu persis.

Petualangan kali ini sungguh seru dan melelahkan, apalagi bagi saya sangat amatir. Tak heran jika saya adalah orang yang paling menghambat dengan keluhan capek dan lambatnya berjalan. Untung mereka semua baik serta toleran terhadap si amatir bernama Endang Prihatin ini.
****
Hari minggu saya baru mendapatkan signal ponsel. Mati-matian saya berusaha menelpon Iyan, mengingat saya memiliki janji untuk bertemu dengannya. Saya harus kembali menjadi orang yang ingkar janji, dan kali ini Iyan korbannya. Sekitar jam 11 siang saya baru berhasil menghubungi Iyan dan mengabarkan posisi saya yang tidak memungkinkan untuk menemuinya jam 2 siang nanti. Meski kaget karena tiba-tiba saya ada di Bogor, Iyan memahami. Thanks God, saya selamat dari amukan.

Perjalanan pulang kembali dilanjutkan. Saya langsung menuju Kedoya.

Sampai di Citraland, saya kembali membuka facebook dengan ponsel. Ada Deppy yang mengomentari status. Isinya kekecewaannya terhadap saya. Diajak meononton saya menolak dengan dalih akan ke Bekasi, tapi diajak hiking langsung mau. Alamak, saya khilaf lagi. Kali ini ada seorang lagi yang saya kecewakan. Maaf ya, sungguh ini diluar perencanaan. Jiwa spontanitas terkadang muncul tanpa di duga.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk di dedikasikan pada Katri Prameswari yang telah saya tolak ajakannya. Juga untuk Sri Maryati karena saya telah membatalkan janji bahkan hanya 3 jam sebelum waktu yang disepakati. Terpenting untuk Deppy Marlinda yang telah saya kecewakan sangat karena menolak ajakannya untuk menonton film Sang Pencerah yang durasinya pun tak sampai dua jam namun malah menerima tawaran hiking dua hari satu malam.

Saya juga mengucapkan terimakasih pada Rosmiyati Dewi Kandi yang telah nekad mengajak saya untuk hiking. Semoga dia tidak menyesal telah menyertakan saya dalam perjalanan ini. Juga terimakasih tak hingga pada ke-13 kawan baru yang begitu baik memahami dan mengerti saya. Adios!!!

Minggu, 27 Juni 2010

Juni Berakhir..


gambar diunduh dari www.juni.ca/
Juni sebentar lagi berlalu, melintasi putaran waktu. tak banyak yang terjadi di bulan ini, kecuali perjalanan gila ke Ujungkulon tanggal 23 Juni lalu. saya katakan 'gila' karena sungguh tak sebanding dengan usaha menuju lokasi.

ya, saya hanya berada 6 jam di tempat 'sulur-sulur surga' itu, sedang total perjalanan yang harus ditempuh adalah 16 jam, edan. yah, namanya juga perjalanan gratis dan nebeng, gak boleh banyak protes apalagi tuntutan. paling tidak, saya pernah menjejakkan kaki di tempat maha indah itu.

saya sempat tumbang di pertengahan bulan. sakit yang tak parah, namun menggagalkan semua rencana indah. gara-gara sakit, saya melewatkan kesempatan ke Carita bersama para ibu-ibu seru CHS dan tentu saja tim Healthy Life. sempat tak terima dan kecewa berat, melewatkan kesempatan menyambangi pantai. tapi hidup selalu begitu bukan? tak semua asa bisa terealisasi, dan saya sebagai manusia harus nerimo.

sakit yang berdurasi satu minggu, praktis menjadikan saya tahanan kota (kali ini saya mengaku lebay). selama seminggu, trayek yang ditempuh sepatu kanvas merah saya hanya kontrakan-kantor. tak ada tuh, menyelinap barang sebentar ke Mall Puri untuk nonton atau sekedar makan sambil mendengarkan alunan musik di Foodcourt yang cozy itu.

namun akhirnya, tak gaul selama seminggu dibalas dengan kesumat tingkat tinggi. tak tanggung-tanggung, selama tiga hari berturut-turut saya menyambangi XXI. urutan film yang ditonton, hapal di luar kepala. Karate Kid, Letters to Juliet, The A Team.

Karate Kid
remake film legendaris yang sempat booming tahun 1987 (bener gak ya tahunnya?). film ini habis-habisan menampilkan Jayden Smith yang berperan sebagai Dre Parker. kalimat yang perlu di stabilo adalah saat Mr Han (Jackie Chan) menyemangati Dre dengan kalimat sakti,
"Hidup boleh saja mengalahkanmu, namun kamu boleh memilih untuk bangkit kembali atau tidak"

jalan cerita film ini lumayan touchy, namun kok ada yang menggelitik. film ini lebih pantas diberi judul Kungfu Kid, karena jenis ilmu silat yang diumbar ya kungfu bukannya karate. bukan..saya bukanlah orang yang expert dalam dunia silat. hanya berdasarkan pembicaraan mereka yang mengupas kungfu bukannya karate.

yah, saya juga menyukai wardrobe si Dre. bagus dan enak dilihat, meski saya adalah tipikal orang yang tak tahu mode. entah mengapa, semua yang dikenakan Jayden Smith dalam film ini terasa pas.

Letters to Juliet

film ini asli romantis. bersetting kota Verona, mengajak saya untuk terbuai dalam atmosfer roman mellow. dimainkan oleh Amanda Seyfried (yang kondang lewat Mammamia) berperan sebagai Sophie.

Sophie adalah warga NY yang berprofesi sebagai checker atau pemeriksa fakta di New York Times. berani sumpah, baru kali ini saya menonton film yang menyajikan profesi tokohnya adalah checker, sebuah profesi yang saya baru tahu keberadannya juga karena berkenalan dengan Andreas Harsono dkk.

bersama kekasih, Sophie terbang ke Verona untuk mencari bahan makanan terlezat yang kemudian akan dijadikan suplier untuk restoran yang dimiliki sang kekasih.

merasa tak nyambung dengan dunia sang pacar, akhirnya Sophie mencari kesibukan sendiri. kisah terus mengalir sampai Sophie harus berpetualang bersama seorang nenek dan cucunya mencari Lorenzo.

ending dapat ditebak. akhir bahagia layaknya dongeng. film ini mengajarkan kita untuk berani melakukan aksi demi cinta.

pf..ff..apa iya, semua perjuangan untuk cinta selalu bahagia?

The A Team
film yang seru dan berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. bercerita mengenai kekompakan tim gila nan asal tapi selalu beruntung. banyak hal yang tak masuk akal dalam film ini.

misalnya saja tentang rencana gila menerbangkan pesawat yang diawaki oleh orang sakit jiwa. banyak manuver-manuver seru menghibur.

namanya juga film komedi. bagi saya, ketakmasukakalan cerita selalu dimaafkan dalam ranah komedi. apalagi, jalan cerita film ini masih sangat-sangat terkonsep dengan cerdas dan bertanggungjawab.

yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan adalah kunjungan ke kediaman Daoed Joesoef, sang menteri pendidikan era Soeharto. bapak tua ini mirip dengan pak uwo saya. memandangnya, mengingatkan saya pada kakek tegas namun penyayang yang telah wafat sejak saya duduk di kelas 3 SD.

dirumahnya, saya mendengarkan kuliah singkat mengenai kepemimpinan. caranya mengajar membosankan, saya sampai mencoba beberapa gaya duduk untuk menghalau kantuk. setelah satu jam berlalu, sesi tanya jawab dibuka.

Thanks God, untuk adanya sesi ini.

sesi tanya jawab berlangsung seru. terungkaplah alasan-alasan Daoed dulu sering mengambil keputusan ekstrim saat masih menjabat sebagai menteri. dialah sosok yang melarang adanya libur sekolah di bulan ramadhan. dia pulalah tokoh yang membredel media kampus dan memperkenalkan Normalisasi Kegiatan Kampus atau NKK. wah, pasti pak tua ini dibenci sangat oleh aktivis pada jamannya.

disela-sela tanya jawab, bahkan Daoed Joesoef berani membuka aib Buya Hamka yang terkenal shalih. entahlah, benar atau tidak, yang pasti saya sudah tidak bisa melakukan konfirmasi kebenaran pada Buya bukan?

hm..ternyata banyak hal menarik yang saya lalui. semoga Juni menjadi semakin manis untuk dikenang dalam hati.

Ups, hampir lupa, 21 Juni si batu akhirnya juga mendapat pekerjaan. pekerjaan yang masih terasa tak masuk akal, saking menyenangkannya. selamat ya, semoga kamu menikmati, meski waktu kerjanya menggila.

sampai jumpa Juni, semoga kita masih bisa bersua tahun depan. Adios!!!

Sabtu, 03 April 2010

Jelajah Tidung Bersama Tim 11 Untar



Baru saja miLLe Explorer mengadakan trip perdana menjelajahi pulau yang selalu dan selalu saya rindukan. Pulau Tidung. Sebuah pulau yang berada dalam jajaran Kepulauan Seribu dan merupakan pulau kedua yang berpenghni setelah Pulau Pramuka.

Pulau Tidung memang tidak memiliki kepopuleran seperti Pulau Pramuka yang konon memiliki lokasi penangkaran penyu, namun pulau ini memiliki daya tarik yang tidak kalah.

Salah satu keistimewaan terletak pada jembatan yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Panjang jembatannya tak kurang dari 2 kilometer. Setiap pengunjung bisa melaluinya dengan sepeda ataupun berjalan kaki. Meskipun untuk pilihan kedua, saya sangat tidak menyarankannya, terlebih jika panas sedang menyengat di siang yang terik.

Perjalanan yang berlangsung 19-21 Maret ini menyisakan kisah dalam beragam warna. Ada merah, hijau, kuning, biru, abu-abu, bahkan hitam pekat bagi beberapa orang. Namun secara keseluruhan, jika boleh, saya ingin memasukkannya dalam kotak kuning. Tak ada alasan spesifik, apalagi bermuatan filosofis. Hanya alasan sederhana, keceriaan yang tercipta begitu sempurna, meski sempat ada sebuah insiden, tak berhasil merusak kegembiraan yang kami lalui bersama. Yah, saya rasa, kuning warna yang cocok.

Perjalanan diawali dengan janji bertemu dengan rombongan pukul 5 dinihari di pelataran Universitas Tarumanagara (bener ya spell-nya?). Dibanding saya, Hans datang lebih dulu. Meski demikian, Hans rupanya didahului oleh Layar, peserta yang paling dewasa diantara rombongan. Kedewasaannya terlihat dari sikapnya memperlakukan 10 peserta lain yang notabene memang juniornya di kampus.

Saat saya sampai dilokasi yang dijanjikan, rupanya telah hadir dua peserta. Peserta kedua yang datang bernama Anto. Laki-laki berperawakan sedang dengan rambut yang berpotongan penuh gaya ini memberikan saya catatan khusus. Dia sangat senang difoto. Percayalah, berapapun banyaknya lensa kamera menjepret, gayanya tak akan pernah habis. Selalu tersedia. Seperti halnya model pakaian yang dikenakan. Di hari kedua, Anto malah menggunakan kaos dengan model tak lazim.

Selanjutnya saya tidak ingat persis, siapa saja urutan peserta yang hadir. Satu persatu datang berkumpul, dan saya berusaha sekuat tenaga mengingat tiap fragmen wajah mereka. Sayang, usaha saya gagal total di hari pertama. yang tidak saya lupa adalah peserta yang terakhir datang. Setelah diatas kapal, baru saya tahu, peserta pamungkas dalam perjalanan ini bernama Yeni. Sosoknya mungil. Paling mungil malah, jika dibandingkan dengan peserta lainnya. Namun, jangan coba-coba meragukan nyalinya. Semua temannya saya rasa akan menyepakati, keberanian Yeni saat melakukan terjun diatas jembatan dengan ketinggian 5 meter sungguh mengejutkan. Si pendiam yang cenderung enggan ambil bagian saat yang lain bersenda gurau ini memiliki mental malas bicara langsung saja bertindak. Voila…semua terkejut dan terkagum-kagum.

Dua peserta perempuan yang memiliki nyali tak kalah besar adalah Shanti dan Yantica atau biasa disapa dengan sebuatn Asuang. Keduanya sama-sama berambut panjang. Sama-sama suka difoto, dan yang pasti sama-sama berisik. Konon, tempat tinggal merekapun berdekatan, benar-benar sabahat siam saya rasa.

Perjalanan kami dimulai dengan menumpang Taxi Transcab menuju Muara Angke. Ternyata, jadwal pelayaran kapal tidak secepat yang saya kira, malah rombongan kami termasuk penumpang yang pertama hadir. Selama perjalanan, kami saling bercerita, bercanda, dan tentu saja mencela. Kebiasaan khas anak muda.

Anto mengusulkan untuk bermain kartu. Akhirnya, saya dan 3 peserta lainnya terlibat dalam permainan kartu yang seru. Semuanya sibuk dengan keriuhan masing-masing sampai kapal mendarat di dermaga Pulau Tidung.

Di Dermaga, kami dijemput oleh Ricky, si anak pulau yang kalem.

Saya berkenalan dengannya pada awal tahun ini saat kali pertama menyambangi Tidung. Ricky sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas Islam Syarif Hidatullah Jakarta. Saat ini dirinya bekerja di tiga istitusi berbeda dengan posisi yang berbeda pula. Bahasa kerennya, Ricky menjalani tiga profesi dengan job desk dan lokasi berbeda dalam waktu bersamaan. Wow…siapa yang tak kagum?! Pembawaannya yang santun menambah daftar kekaguman saya padanya. Dugaan saya, pasti banyak gadis-gadis yang menaruh hati. Terasa sekali saat beberapa kali saya berboncengan motor, ada beberapa makhluk hawa yang melemparkan senyum simpul. Senyum itu tidak mungkin untuk saya kan?!!

Mengikuti instruksi Ricky, kami menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal selama bermukim di Tidung. Jaraknya lumayan jauh, apalagi bagi yang tidak biasa berjalan, pasti cukup menyiksa.

Tibalah kami disebuah rumah yang memiliki ruang tengah cukup lapang. Pemiliknya bernama Pak Sueb. Keluarga ini meminjamkan dua kamar tidur dan satu ruang tengahnya untuk kami.

Begitu sampai, kami langsung menyantap makan siang yang disediakan oleh tuan rumah. Menunya adalah nasi, sayur asam, ikan asin, lalapan, sambal dan tempe goreng.

Sen Sen menjadi satu-satunya peserta yang tidak memakan daging alias vegetarian. Selama disana, menu specialnya adalah telor mata sapi dan sambal. Saya sempat lupa tidak memesankan si telor mata sapi, akhirnya dia hanya makan dengan tempe goreng. Kasians ekali saya melihatnya, tapi yam au apa lagi? Tak ada yang bisa dilakukan juga.

Usai makan siang, kami langsung bergegas memilih sepeda dan mulai menggenjotnya. Semilir angin yang sepoi-sepoi semakin mempertegas suasana pesisir. Saya dan Hans akhirnya membelah diri. Bersama para sahabat miLLex, Hans mengajak berkeliling pulau, sedang saya ditemani Ricky menyiapkan bibit bakau yang akan kami tanam di Tidung Kecil.

Satu persatu pohon Bakau kami tanam. Peserta penuh rasa antusias menanamkan tunas-tunas harapan yang semoga saja suatu hari kelak dapat menghadang arus ombak laut yang terkadang merusak.

Usai menanam bakau, rencana awalnya adalah menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Sayang seribu sayang, bapak-bapak si pemetik kelapa sedang pergi ke Tangerang. Kesempatan menikmati segarnya kelapa muda raib sudah.

Sambil menunggu sunset, kami semua membekukan momen lewat jepretan kamera yang di bawa Hans, Layar, Yenny, dan tentu saja Jimmi. Jimmi bisa dikatakan si kepala suku dalam kelompok perjalanan ini. Dialah yang mengkoordinir semua peserta agar turut serta. Ekspektasinya mengikuti trip ini adalah menambah koleksi foto-foto yang saya yakin sudah berjibun. Belakangan saya ketahui, Jimmi pengusaha muda yang mumpuni. Like this dua jempol untuk keuletannya menjalankan ini itu dalam usia yang masih belia.

Sunset yang ditunggu pun datang. Sekali lagi, dengan kemenangan mutlak, alam mempesonakan mata kami. Kami, sekelompok remaja yang terkadang begitu pongah terhadap realitas dunia, terangkum dalam satu suara, mengagumi keindahan suguhan sang pencipta.

Begitu gelap menjelang, kami menuju jalan pulang. Bersepeda ria, menyusuri setapak . Entah bagaimana ceritanya, kelompok tercerai berai menjadi tiga sub kecil. Untunglah, kami selamat sampai rumah, lengkap.

Setelah makan malam, jadwal berikutnya adalah mencari ikan di dermaga utara.

Air laut begitu jernih. Kami juga diberi bonus taburan bintang yang memenuhi angkasa raya. Meski hasil pancingan tak seperti yang diharapkan, namun kenyamanan suasana dermaga membuat kami malas beranjak. Beberapa anak harus dipaksa agar mau beranjak pulang dan beristirahat.

Hari kedua, waktunya snorkeling.

Tunggu dulu, ada yang harus dilakukan sebelum menaiki kapal. Ya, peserta diharuskan untuk memungut sampah yang ada di dermaga. Maaf kawan, untuk sesi ini saya tak begitu tahu apa yang terjadi. Hans bercerita, kalian menunjukkan sikap yang rupa-rupa. Ada yang bersemangat, ada juga yang malas. Tak apa, paling tidak, ini akan menjadi pengalaman yang patut diceritakan. Paling tidak, kali ini kalian telah member sesuatu pada alam. Bukankah kita juga terlalu banyak menikmati alam?

Pelayaran akhirnya dimulai. Tujuan pertama adalah pulau Karang Beras. Kami berencana untuk makan siang di pulau kecil tak berpenghuni ini. Meski tak sama persis, saya ingin peserta merasakan makan di pulau pribadi sambil ditemani kicau burung dan semilir angin laut yang melenakan.

Ternyata kata tak berpenghuni tidak sepenuhnya tepat saya tujukan bagi pulau karang Beras. Di pulau ini sedang di bangun resort, yang rencananya mulai beroprasi per oktober 2013. Ada dua orang patugas yang berjaga, untungnya kami diperbolehkan makan siang di pulau mungil ini, asalkan tidak mencipta sampah. Selain makan siang bersama, peserta memulai snorkeling. Nyaris semua peserta menceburkan diri, kecuali Meryska. Meryska mirip dengan saya, bernyali ciut jika dihadapkan dengan renang. Gadis berambut panjang ini juga baru mengaku di hari kedua, jika dirinya tak terlalu menyukai ikan. Glek. Padahal menu sehari-hari yang saya rencanakan adalah ikan dan ikan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju lokasi snorkeling sesungguhnya.

Kapal mengantarkan kami ke parairan yang terlihat dangkal. Dari kapal saja terlihat karang dan ikan-ikan berwarna-warni yang seolah mengundang kami untuk menyambanginya. Satu persatu terjun. Tiap orang mulai asik dengan kekagumannya masing-masing.

Disini, Yenni dan Asuang tanpa sengaja menjatuhkan alat snorkeling di perairan yang dalamnya lebih dari 22 meter. Keceriaan langsung raib dari wajah mereka. Peserta lain berusaha menghibur.

“Tak apa kawan, soal ganti rugi, nantilah kita bicarakan, yang bisa kita lakukan saat ini adalah lanjutkan kesenangan agar tak menyesal kemudian hari,” guman saya.

selain bersnorkel ria, beberapa peserta juga memancing. Setiap ada ikan yang berhasil kami pancing, sorak-sorak bergembira langsung berkumandang. Bahkan Okem dengan senang hati menyiksa binatang-binatang malang yang berhasil kami tangkap. Entah dari mana, Okem mewarisi sifat sadis ini. Laki-laki ini memiliki perpaduan sifat yang agak janggal menurut saya. Sekali waktu dia begitu manis dengan hobinya yang suka jajan. Namun, di waktu berikutnya, dia sangat bersemangat melihat ikan menggelepar akibat ulahnya. Aneh.

Petualangan terus berlanjut menuju jembatan. Yang memiliki nyali besar tak melewatkan kesempatan untuk terjun diatas ketinggian 5 meter. Ada Yenni, Asuang, Shanti, Anto, Okem, Sensen, Layar, Anto, Cipto, dan Rendy yang menikmati sensasi lepas bebas melayang dan kemudian terhempas di air.

Untuk Cipto dan Rendy harus melalui sesi khusus. Awalnya mereka berdua takut, namun peserta lain begitu bersemangat menggoda.

Rendy malah sempat menemukan teman seperguruan dalam hal meragu. Ya, laki-laki kurus yang jago mengedit foto ini akhirnya berani menghempaskan diri dari ketinggian 5 meter.

Kami menikmati kegiatan berkecipak-kecipuk dalam air hinggam senja menjelang.Kemudian kami pulang.

Selanjutnya adalah Time To Barbeque. Meski lelah bukan kepalang, usai membersihkan diri dan makan malam, kami beranjak ke dermaga untuk membakar hasil pancingan siang tadi. Sambil mengelilingi api unggun dan diiringi gitar pinjaman, kami menyampaikan keluh kesah dan tentu saja kesan yang berhasil terekam dengan mendalam. Senang rasanya, setiap peserta ternyata merasa bahagia dengan petualangan yang nyaris berakhir ini. Beberapa memberikan saran untuk mille Explorer. Sambil menikmati gurihnya ikan, kami semua larut dalam suasana akrab.

Ups, tidak bisa dikatakan semua. Cipto asik sendiri menceburkan diri di dermaga. Dia sepertinya takjub dengan jernihnya air, sehingga ikan-ikan terlihat jelas. Tangannya menyorong-nyorong. Berusaha menangkap ikan dengan kedua tangannya.

Kebersamaan kami terus berlanjut hingga larut. Kelompok terakhir baru meninggalkan dermaga sekitar pukul 02.00 dinihari.

Keesokan harinya, kami bergegas dan bersiap-siap pulang. Tak ada satu pun dari kami yang mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi seadanya. Takut tak mendapatkan kuota tumpangan, saya datang lebih cepat dari pada si penjual tiket. Di dermaga, saya juga menyelesaikan masalah ganti rugi alat snorkeling yang hilang. Dari Jimmi, saya ketahui, seluruh peserta sepakat untuk patungan demi mengganti alat yang hilang. Salut untuk kekompakan dan rasa setia kawan kalian.

Sekitar pukul 08.00 kapal mulai berlayar menuju Muara Angke. Usai sudah perjalanan. Terimakasih kawan, untuk pengalaman mengesankan bersama kalian. Semoga, kebersamaan kita bukanlah yang terakhir, melainkan pintu yang membuka cakrawala untuk perjalanan-perjalanan berikutnya. Adios!!

Jakarta Barat, 1 April 2010

Senin, 23 November 2009

lagi mati gaya..


ahay..jam belum genap pukul 11 tapi gak tau kenapa mata sepet banget, pengennya terpejam terus. padahal kalo diakumulasiin, jam tidur semalam juga gak kurang, atau mungkin kualitasnya yang masih jauh dari standarisasi tidur berkualitas.

hh..hh..akhir-akhir ini sering merasa hambar. mungkin karena rutinitas terlalu rutin, sampai-sampai merasa bosan alang kepalang.

sempat usaha melakukan perjalanan, berharap akan mengembalikan segenap semangat, berjumpa dengan kawan-kawan lama, ternyata tidak memberikan dampak besar. senang sih senang, tapi gak merubah apa-apa.

mungkin memang saat ini saya yang sedang sulit dibuat merasa bahagia. inginnya menghilang sejenak. eit..tapi pengertian sejenak ini berapa lama ya? karena sejenak buat saya kan belum tentu sama dengan orang lain. pertanyaannya lagi, selama masa menghilang ini mau ngapain aja?!! lah, kalo gak ngapa-ngapain kan ya sama aja boong.

seru kali ya..tiba-tiba saya melancong ala sendal jepit (istilah kerennya backpaker)dengan budget minim, gakperlulah jauh-jauh. cukup ke Cilacap, terus main-main ke pantai sampai puas. kalo masih ada sisa sangu, mampir ke greencanyon yang beberapa waktu terakhir ini sempat menjadi perbincangan. uhm..otak kok rasanya jadi ikutan nyengir, ahay..

smuga bisa tercapai setelah momen 17 desember ah..

jadi, sekarang yg harus dilakukan adalah mengontak seorang teman yang dulu kala pernah menawarkan bantuan jika saya ke Cilacap. bersedia. siap. YA!!!!!!!!!

Minggu, 14 Juni 2009

Hikmah Kehilangan..

jika dilihat dari kacamata supper positif, tentu semua yang di dapatkan manusia adalah anugerah, tanpa kecuali. sekali lagi jika dilihat dari sudut pandang positif, atau malah super positif. hal ini terbukti, ternyata saya selalu berhasil menemukan pembenaran atas apapun, meski terkadang akhirnya malah memberikan ketidakadilan pada beberapa pihak lainnya. paling tidak, beberapa peristiwa mengajak saya untuk kembali merenung, dan semoga saja bisa mengambil hikmah.

ingatan saya melayang pada peristiwa yang terjadi sekitar maret 2007 silam. saya dan dua orang teman Sleepy dan Udin merencanakan berlibur ke kota klenik Yogyakarta. rencana sangat matang disusun, pengumpulan dana pun sudah dilakukan berbulan-bulan sebelumnya. mau tahu berapa? hanya Rp.15.000,- saja seminggu. yah, waktu itu, kami masih mahasiswa berlabel kere yang kudu memperhitungkan segala sesuatu jika mau selamat kembali lagi ke pangkuan bunda.

niatnya sih, biar tidak memberikan kesan terlalu hura-hura, kami merencanakan untuk membuat film dokumenter tentang pencuci gerbong kereta api di solo baru kemudian sesi bersenang-senang-nya di jogja itu. begitu dana sudah terkumpul, waktu keberangkatan pun telah ditetapkan, pastinya pas kami libur semester dong! untuk menekan budget, kami merencanakan untuk menumpang kereta api ekonomi dari stasiun pasar senen. sekedar informasi, kami bertiga ini tidak lebih dari sekelompok gadis sok tau yang tidak akan menyerah sampai tahu rasanya gagal. dan ini perjalanan pertama kami ke luar kota secara independen tanpa featuring keluarga atau institusi apalagi nama sekolah dan lembaga. tidak sama sekali, kami pyur independen.

begitu sampai di stasiun, kok rasanya agak ngeri melihat mas-mas calo di stasiun, syerem gitu dan garanglah. mengingat kami bertiga juga kelompok spontanitascholic, kami memutuskan untuk keterminal pulo gadung saja, mencari bus ekonomi yang menuju solo. diterminal, setelah menawar, kami emndapatkan harga Rp.45.000,-/orang. murah kan?!!!

eit, tapi ternyata, ditengah jalan kami ditodong para calo, katanya tarif seharusnya adalah Rp.80.000,-/orang. secara, saat itu saya sedang semangat-semangatnya menjiwai karakter seorang jurnalis. kebenaran harus ditegakkan bung! tsah!!!! kesal bukan main karena merasa dipermainkan, saya ngotot jika tadi perjanjiannya telah deal, jadi saya menolak untuk membayar tambahan dana yang dituntut oleh awak bus. awak bus itu mengancam akan menurunkan saya dan teman-teman plus tidak dikembalikannya uang yang telah disetorkan. tak mau kalah, saya malah mengancam mereka akan melaporkan ke YLKI (wuidih..sok intelek lah pokonya!!!) dan membuat laporan ke surat kabar mengenai armada bus yang tidak jelas paraturannya itu. biar lebih dramats, saya mengatakan, justru saya yang dirugikan, pihak bus harus mengembalikan uang yang telah kami bayar, karena mereka juga telah merugikan kami dengan pelayanan yang seenaknya serta waktu beberapa jam yang terbuang percuma. aih, cara ini berhasil, kami hanya menambahkan Rp.15.000,- dan perjalanan dilanjutkan dengan damai dan tentram.
ternyata kehebohan itu baru permulaan. sampai di terminal solo, yah, kamera dan ponsel yang dibawa sleepraib. dengkul langsung lemas. bukannya apa-apa, klo soal ponsel, biarlah, itu milik sleepy. tapi kamera. hiks, kamera itu milik teman SMA yang sengaja saya pinjam untuk mengabadikan momen. apa mau dikata, akhirnya kami memutuskan untuk melupakan masalah kehilangan kamera sejenak, nantilahs etelah sampai di Jakarta dipikirkan mekanisme panggantian.

bagi saya, peristiwa kehilangan kamera itu menjadi sebuah titik balik. kami bertiga sepakat untuk patungan sama rata. caranya bagaimana terseranh, yang pasti setiap orang diharuskan menyetorkan uang Rp.700.000,- saya bertekad untuk tidak menyilitkan orang tua. mulai dari sinilah saya rajin mencari lowongan kerja, padahals ebelumnya ditawari kerja saja saya menolak-nolak. sampai ada lowongan di majalah kesehatan. niatnya saat itu hanya untuk mengumpulkan uang 700ribu itu saja, begitu gaji pertama, sudahlah keluar saja, lanjutkan hidup seperti sediakala. mendengar bidang majalahnya saja jujur, saya malas bukan kepalang. kesehatan gitu, lah wong kesehatan diri sendiri saja saya malas memperhatikannya apalagi menggeluti dan membuat artikel kesehatan. ugh..malas euy..

tapi mau bagaimana lagi, kamera tetap harus diganti. ternyata saya diterima dengan mudah, terimakasih ya allah. dan gajinya melebihi harapan saya. ya, saya dibayar satu juta perbulan. ternyata setelah menjalani, lama-lama saya malah keasyikan. tim yang solid serta atmosfer kerja yang menyenangkan membuat saya lupa tujuan awal. ya, kemudian saya malah menikmati sepenuh hati. saya jadi bekerja sambil kuliah.

masuk bulan ke-8, saya malah diterima sebagai script writer untuk program kesehatan di Metro TV. memang hanya sebagai freelance, namun stasiun TV ini tentu memberikan prestige tersendiri. lebih dari itu, Metro TV pun telah memberikan segudang pengalaman menakjubkan. sampai sekarang saya masih bernaung di televisi berita ini. ada enak ada susah, ada senang ada duka, ada kebosanan dan ada juga gairah menggebu. semuanya saya rasakan disini. ya, di tempat saya menuliskan post ini.

kembali ke tema sentral yang saya tulis di awal. bisa jadi, saya tidak akan mendapatkan pencapaian sepertis ekarang ini, jika tidak ada maling yang mencuri kamera. akhirnya, saya memilih untuk menjadikan peristiwa itu sebagai jembatan saya menuju sebuah pencapaian. kehilangan kamera itu ternyata menyimpan sejuta berkah yang akhirnya masih saya rasakan hingga saat ini.

yang paling saya syukuri, saya tidak sempat merasakan luntang-luntung cari kerja. bingung dan malu pada keluarga dan teman saat ditanya sudah kerja atau belum. saya memang tak pernah merasakannya (maaf ya, bukan bermaksud sombong), namun saya bisa membayangkan tidak enaknya berada di kondisi demikian. tahu tidak nyaman rasanya, biasanya saya memilih untuk tidak menanyakannya. alih-alih biasanya saya malah mengumpulkan alamat email teman dan sahabat, siapa tahu saya memiliki informasi lowongan yang bisa saya forward ke meraka.

jadi kesimpulannya, bencana sebesar apapun, pasti memiliki hikmah, tergantung bagaimana kita memberikan sudut pandang dalam peristiwa tersebut. saya memilih untuk bersyukur, bisa jadi, tanpa si pencuri kamera itu,, saya masihlah pencari kerja yang mengalami rendah diri akut dan malu tak hingga. dan yang terpenting, saya jadi ikhlas luar dalam dengan kehilangan itu. tak ada lagi rasa kesal dan menghujat. saya memilih untuk berterimakasih. tanpa pencuri kamera itu, bisa jadi nasib saya pun tidak sebaik sekarang. dan ada sebait doa yang terselip di relung hati ini, semoga kamera itu lebih berguna di tangannya ketimbang di tangan kami. amin. saya ihlas..