Tampilkan postingan dengan label my favorite film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my favorite film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Akhirnya Nonton Snow White and The Hunstman


Ngambil gambar dari sini

Saya mengaku, kerap kali menjadi kompor. Namun lebih sering lagi jadi pihak yang terkompori. Ah, istilah macam mana pula ini. Baiklah, mari mulai fokus.

Pada sebuah ritual makan siang bersama geng Pantry Office. Stephanie, yang lebih seringnya saya panggil dengan Hantu Rambut menceritakan film Snow White and The Hunstman (SWATH). Dia menyanjung-nyanjung film itu setinggi langit. Menggali rasa penasaran saya sampai titik maksimal.

Terlebih, sebelum makan siang itu, saya sempat melihat thriller Si Dark Snow White ini di You Tube. Sempat salah info, konon baru masuk Indonesia awal Juli, eh lah kok ternyata sudah eksis aja di awal Juni.
Katakan saya korban keberhasilan tim marketing film SWATH.

Sejak film ini masih dalam proses pembuatan, sudah begitu lihai mematik keinginan saya untuk menonton. Saya ingat persis, bagaimana infotainment memberitakan perseteruan Charlize Theron dengan Kristen Stewart. Ya maaf saja, tontonan infotainment saya kelas Hollywood. Uhuk.

Beberapa artikel dari Koran yang saya baca nyaris setiap pagi juga kerap menyinggung bagaimana film ini masuk dalam list harus tonton. Menjanjikan kegelapan yang pekat. Jadilah, niat suci menonton film ini semakin menjadi.

Tapi, tentu saya tak akan iseng ngeblog kalau acara nonton ini biasa saja.

Saya mengajak Mas Mario. Ada semacam peraturan tak tertulis, mengajak mas Mario, sama juga halnya harus mengajak kembaran siamnya, Mbak Mardahlia Johan. Jadi, ajakan ini harus meyakinkan mereka, bahwa film SWATH layak tonton.

Ajakan mulai meningkat jadi rayuan. Tak berhasil juga, kadarnya ditinggikan lagi menjadi permohonan. Akhirnya proposal nonton bersama disetujui oleh mereka. Tapi, sialnya jam tayang film fenomenal ini tak ramah bagi saya yang harus pulang ke pelosok Bekasi. Sigh.

Jadwal tayang di tiga bioskop, Plaza Indonesia, EX dan Djakarta Theatre seragam. 17.05 dan 19.05. Dilematis. Mengambil pilihan pertama, sangat riskan tertinggal cerita awal, terbentur absensi kantor yang baru memperbolehkan pulang di jam 17.00.

Memilih jam kedua, saya yang riskan. Jadwal kereta menuju Bekasi sungguh tak ciamik. Jika nekat, alamat akan sampai rumah jam 11 malam. Dalam kondisi stamina sedang kurang fit, pilihan ini tentu tak bijak.

Akhirnya kami bertiga menyepakati untuk nonton di jam 17.05 pada Selasa, 5 Juni, tentu dengan mengerahkan strategi nomor wahid. Tiket dibeli saat jam makan siang. Gilanya, saya dan Mas Mario bahkan melakukan simulasi jalan cepat untuk mengukur kecepatan waktu, dari kantor menuju bioskop. Sakit.

Dari lobi BII Tower menuju XXI EX, kami membutuhkan waktu 5 menit, pas, tak kurang tak lebih. Tiket dibeli, ditraktir oleh si mas terganteng sedunia lah pokoknya, hehe..

Sore telah tiba. Masing-masing dari kami harus bisa membebaskan diri dari kubikel kantor. Bagaimanapun caranya, jam 5 teng kami harus sudah ada di mesin absen. Mbak Lia sempat disapa bos nya. Untung dia bisa selamat.

Takdir telah tertulis, kami direstui oleh dunia.

Kecepatan kami berjalan layak diberi applause. Kami sampai di XXI jam 17.08.

Sampai di bangku, menonton dengan manis, memenuhi hasrat penasaran. Sambil ngos-ngosan, dan special untuk saya, sambil menahan pipis.

Cerita film SWATH tak biasa, dia mematahkan beberapa mitos yang sudah terlanjur melekat. Seperti jumlah kurcaci dan si pencium tuan putri. Tapi ini justru menunjukkan bahwa kita tak perlu terikat dengan hal-hal yang sudah menjadi kepercayaan publik bukan?

Lalu, apakah film SWATH memenuhi ekspektasi saya? Saya jawab ya. Meskipun tak akan saya masukkan dalam kategori bagus yang layak dianugerahi gelar ‘ayo tonton lagi’, namun film ini cukup menarik, sekian. Oh ya, si Hunstman, matanya bikin khilaf :D

Keesokan harinya, saya diledek oleh duo Lia-Mario.

“Jangan deket-deket Endang, ntar diajak ngos-ngosan”. Sial.

Ah, tapi kalian berdua baik hati, sini-sini tak peluk satu-satu. Wink.

Rabu, 17 Agustus 2011

Balada Nonton Harry Potter dan Setelahnya..


Mengambil gambar di sini
Wah, lama sekali tak mengunjungi rumah ini. Maaf ya, bukan karena saya sibuk luar biasa. Ya ya ya, baiklah memang ada yang luar biasa dengan saya beberapa waktu belakangan ini, yakni malas luar biasa.

Hari ini menginjak hari ke-18 untuk bulan Agustus dan puasa. Stamina pun sedang tak memberi dukungan yang bulat penuh. Tenggorokan saya sukses serak sejak kemarin malam. Kuat dugaan akibat bermotor ria jam 12 malam dari Plaza Senayan menuju rumah di Bekasi. Sebenarnya malam itu sudah ada gejala, hanya saja saya mengabaikan. Jadi, sekarang ya terima saja hasilnya. Silahkan dinikmati rasa sakitnya.
Apakah menderita? Aw..aw..jangan ditanya!

Dalam situasi normal, serak tenggorokan itu bikin susah. Bisa agak dihalau dengan minum air hangat dan mengoleskan semacam balsam atau minyak kayu putih di tenggorokan. Tapi ya tapi..ini kan bulan Ramadhan sodara-sodara. Yang artinya saya ndak boleh minum sepanjang siang, baru boleh nanti selepas magrib. Jadi pilihannya, ya dinikmati saja. Ibu bilang biar saya lebih mensyukuri nikmat sehat yang selama ini Tuhan beri.

Ya, Ebeth dulu pernah bilang. Katanya fisik saya itu tergolong kuat. Mungkin perkataan Ebeth yang diamini beberapa teman itu bikin saya jumawa. Jadi suka gak perhatian sama badan, gak toleran meski dia minta diistirahatkan.

Kembali ke topik sebelumnya soal malam gaul saya ke PS. Akhirnya saya dan beberapa kawan jadi juga nonton Harry Potter edisi pamungkas setelah berkali-kali gagal rencana. Tim terdiri dari lima personel. Saya, Mas Andreas, Mbak Arie, Daus dan Mas Fahri. Berasal dari tiga penjuru mata angin, Daus yang dari selatan, saya yang dari utara dan trio Mbak Ari Mas andreas dan Mas Fahri dari barat, kami bertemu di PS. Kesibukan dan segala keribetan akhirnya membuat kami baru bisa menonton untuk yang jam 21.00. Jujur, saya agak deg-degan mengingat harus pulang ke rumah Bekasi. Ibu sudah memberi peringatan, saya harus pulang, gak boleh nginep. Seperti biasa, resiko belakangan saja dipikirkan, yang penting nonton dulu.

Film selesai jam 23.30. Larut memang. Tapi duo Daus dan Mas Andreas masih saja berenergi untuk berdiskusi. Haduuh, padahal otak saya sudah tak konsen, memikirkan perjalanan pulang yang nun jauh dimato.

Ini persoalan baru sebetulnya. Saya baru pulang kerumah Bekasi lebih kurang 45 hari setelah sebelumnya 6 tahun kost. Terbiasa dengan main hingga larut malam, pulang tak perlu sungkan karena yang menunggu ya hanya pintu dan kasur. Kali ini berbeda kasus, ada ibu yang khawatir atau bapak yang terkantuk-kantuk menunggui pintu. Jadi, jika mau pulang malam ya harus mengesampingkan rasa peduli mereka. Biasanya saya memilih jalan praktis. Tak usah pulang sekalian, menginap di tempat teman.

Agak merengek bin merajuk, akhirnya kami beranjak menuju parkiran. Saya meminta daus mengantar sampai Cawang, setelahnya angkot yang berbicara.

Saya fasih mengetahui jalur angkot, tapi untuk jalur alternatif mati kutu. Entah petunjuk apa yang saya beri ke Daus kami kok malah sukses sampai ke kuburan. Tengah malam, bermotor ria menerabas kuburan. Perfecto. Setelah Tanya sini dan sana akhirnyamenemukan jalanan angkot yang saya tahu.

Ternyata oh ternyata lagi, daus dengan begitu baik hatinya malah mengantarkan saya sampai rumah. Sampai di depan rumah ada persoalan baru muncul. Daus buta jalan pulang. Hadeuh!!! Apalagi ditambah GPS tidak mendeteksi keberadaan rumah saya. Duh Gusti!!! Berbekal arahan seadanya, akhirnya Daus pulang.

Besoknya saya sms daus menanyakan dia sampai rumah jam berapa. Untung dia sampai dengan selamat dengan waktu tempuh satu jam. Tapi sungguh kasihan, secara tak sengaja Daus menghapur ribuan file foto di server.

Daus itu seorang web designer sekaligus pengelolanya. Jadi hidup mati web plus server ya ada di tangannya. Lewan pesan pendek Daus memberi laporan singkat, bahwa dia harus begadang hingga subuh untuk memperbaiki. Oh, so pitty you.

Kembali ke masa di mana saya mengetik bait aksara ini. Duduk manis di kantor lantai 33 sambil menyaring berita. Melayani chat beberapa teman yang sukanya bertanya soal lowongan kerja dan dengan seorang sahabat yang berkantor di lantai 22 di gedung yang sama dengan saya bekerja.

Juga sambil menikmati serak tenggorokan. Ah, membayangkan tenggorokan ini diguyur air hangat tentu akan nikmat sekali. Tapi saya sedang PUASA!!!

Minggu, 27 Juni 2010

Juni Berakhir..


gambar diunduh dari www.juni.ca/
Juni sebentar lagi berlalu, melintasi putaran waktu. tak banyak yang terjadi di bulan ini, kecuali perjalanan gila ke Ujungkulon tanggal 23 Juni lalu. saya katakan 'gila' karena sungguh tak sebanding dengan usaha menuju lokasi.

ya, saya hanya berada 6 jam di tempat 'sulur-sulur surga' itu, sedang total perjalanan yang harus ditempuh adalah 16 jam, edan. yah, namanya juga perjalanan gratis dan nebeng, gak boleh banyak protes apalagi tuntutan. paling tidak, saya pernah menjejakkan kaki di tempat maha indah itu.

saya sempat tumbang di pertengahan bulan. sakit yang tak parah, namun menggagalkan semua rencana indah. gara-gara sakit, saya melewatkan kesempatan ke Carita bersama para ibu-ibu seru CHS dan tentu saja tim Healthy Life. sempat tak terima dan kecewa berat, melewatkan kesempatan menyambangi pantai. tapi hidup selalu begitu bukan? tak semua asa bisa terealisasi, dan saya sebagai manusia harus nerimo.

sakit yang berdurasi satu minggu, praktis menjadikan saya tahanan kota (kali ini saya mengaku lebay). selama seminggu, trayek yang ditempuh sepatu kanvas merah saya hanya kontrakan-kantor. tak ada tuh, menyelinap barang sebentar ke Mall Puri untuk nonton atau sekedar makan sambil mendengarkan alunan musik di Foodcourt yang cozy itu.

namun akhirnya, tak gaul selama seminggu dibalas dengan kesumat tingkat tinggi. tak tanggung-tanggung, selama tiga hari berturut-turut saya menyambangi XXI. urutan film yang ditonton, hapal di luar kepala. Karate Kid, Letters to Juliet, The A Team.

Karate Kid
remake film legendaris yang sempat booming tahun 1987 (bener gak ya tahunnya?). film ini habis-habisan menampilkan Jayden Smith yang berperan sebagai Dre Parker. kalimat yang perlu di stabilo adalah saat Mr Han (Jackie Chan) menyemangati Dre dengan kalimat sakti,
"Hidup boleh saja mengalahkanmu, namun kamu boleh memilih untuk bangkit kembali atau tidak"

jalan cerita film ini lumayan touchy, namun kok ada yang menggelitik. film ini lebih pantas diberi judul Kungfu Kid, karena jenis ilmu silat yang diumbar ya kungfu bukannya karate. bukan..saya bukanlah orang yang expert dalam dunia silat. hanya berdasarkan pembicaraan mereka yang mengupas kungfu bukannya karate.

yah, saya juga menyukai wardrobe si Dre. bagus dan enak dilihat, meski saya adalah tipikal orang yang tak tahu mode. entah mengapa, semua yang dikenakan Jayden Smith dalam film ini terasa pas.

Letters to Juliet

film ini asli romantis. bersetting kota Verona, mengajak saya untuk terbuai dalam atmosfer roman mellow. dimainkan oleh Amanda Seyfried (yang kondang lewat Mammamia) berperan sebagai Sophie.

Sophie adalah warga NY yang berprofesi sebagai checker atau pemeriksa fakta di New York Times. berani sumpah, baru kali ini saya menonton film yang menyajikan profesi tokohnya adalah checker, sebuah profesi yang saya baru tahu keberadannya juga karena berkenalan dengan Andreas Harsono dkk.

bersama kekasih, Sophie terbang ke Verona untuk mencari bahan makanan terlezat yang kemudian akan dijadikan suplier untuk restoran yang dimiliki sang kekasih.

merasa tak nyambung dengan dunia sang pacar, akhirnya Sophie mencari kesibukan sendiri. kisah terus mengalir sampai Sophie harus berpetualang bersama seorang nenek dan cucunya mencari Lorenzo.

ending dapat ditebak. akhir bahagia layaknya dongeng. film ini mengajarkan kita untuk berani melakukan aksi demi cinta.

pf..ff..apa iya, semua perjuangan untuk cinta selalu bahagia?

The A Team
film yang seru dan berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. bercerita mengenai kekompakan tim gila nan asal tapi selalu beruntung. banyak hal yang tak masuk akal dalam film ini.

misalnya saja tentang rencana gila menerbangkan pesawat yang diawaki oleh orang sakit jiwa. banyak manuver-manuver seru menghibur.

namanya juga film komedi. bagi saya, ketakmasukakalan cerita selalu dimaafkan dalam ranah komedi. apalagi, jalan cerita film ini masih sangat-sangat terkonsep dengan cerdas dan bertanggungjawab.

yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan adalah kunjungan ke kediaman Daoed Joesoef, sang menteri pendidikan era Soeharto. bapak tua ini mirip dengan pak uwo saya. memandangnya, mengingatkan saya pada kakek tegas namun penyayang yang telah wafat sejak saya duduk di kelas 3 SD.

dirumahnya, saya mendengarkan kuliah singkat mengenai kepemimpinan. caranya mengajar membosankan, saya sampai mencoba beberapa gaya duduk untuk menghalau kantuk. setelah satu jam berlalu, sesi tanya jawab dibuka.

Thanks God, untuk adanya sesi ini.

sesi tanya jawab berlangsung seru. terungkaplah alasan-alasan Daoed dulu sering mengambil keputusan ekstrim saat masih menjabat sebagai menteri. dialah sosok yang melarang adanya libur sekolah di bulan ramadhan. dia pulalah tokoh yang membredel media kampus dan memperkenalkan Normalisasi Kegiatan Kampus atau NKK. wah, pasti pak tua ini dibenci sangat oleh aktivis pada jamannya.

disela-sela tanya jawab, bahkan Daoed Joesoef berani membuka aib Buya Hamka yang terkenal shalih. entahlah, benar atau tidak, yang pasti saya sudah tidak bisa melakukan konfirmasi kebenaran pada Buya bukan?

hm..ternyata banyak hal menarik yang saya lalui. semoga Juni menjadi semakin manis untuk dikenang dalam hati.

Ups, hampir lupa, 21 Juni si batu akhirnya juga mendapat pekerjaan. pekerjaan yang masih terasa tak masuk akal, saking menyenangkannya. selamat ya, semoga kamu menikmati, meski waktu kerjanya menggila.

sampai jumpa Juni, semoga kita masih bisa bersua tahun depan. Adios!!!

Selasa, 16 Desember 2008

Twilight



ehm..suasana hati saya sedang mengacu pada sebuah karakter bernama edward cullen. ya, dia si pria tampan nan baik hati yang sayangnya bukan dari bangsa manusia. kemarin, saya menyaksikan aksinya dalam menjaga Bella Swan lewat film Twilight

sungguh, sebenarnya si tokoh tidak bisa dikatakan ganteng mutlak, masih banyak tokoh lainnya yang jauh lebih rupawan, hanya saja..
karakter yang diperankannya begitu apik, dengan sosok yang selalu ada saat sang pacar sedang membutuhkan..
uhm, sebuah karakter yang tentunya di inginkan oleh perempuan manapun.

namun dari semua adegan, yang di dominasi oleh atmosfer misteri sekaligus aksi tak biasa seperti terbang diantara pepohonan (jujur saja mengingatkan saya pada film china 'n the gank), saya justru terpukau saat Bella tanpa sengaja menjatuhkan apel dan Edward dengan sigapnya mengambilkan.





Film ini mengajak penonton (atau tepatnya saya pribadi) untuk merenung, saat cinta memilih seseorang untuk mencintai, maka akan di ikuti oleh berbagai konsekuensi, selanjutnya yang datang adalah seberapa kuat niat untuk menjalankan komitmen tersebut.

Edward, seorang vampir yang dihadapkan pada pilihan sulit. mencintai bangsa manusia, yang berarti juga membahayakan anggota keluarga yang lainnya. begitu pula Bella, semenjak menjalin hubungan dengan Cullens malah membahayakan diri. dengan kekuatan cinta, keduanya berusaha untuk saling menjaga.

film yang diangkat dari novel berjudul sama ini kini sedang menjadi pembicaraan hangat. penulis novelnya Stephine Meyer mendapat julukan the new JK Rowling dalam usia relatif muda, 38 tahun. Hm..sebuah usia yang membuat iri usia manapun dengan tangga kesuksesan yang berhasil di raihnya.

kesimpulannya, film ini saya amsukkan dalam kategori ordinary love story, yang membedakan adalah bahwa si tokoh pria merupakan bangsa Vampir, dan ehm..ternyata Vampir ada juga yang menjadi vegetarian.
ada juga dialog yang mengsankan, "Bangsa vegetarian seperti kami tidak jauh berbeda dengan manusia yang selalu memakan tofu, mereka dapat bertahan hidup hanya saja tidak sampai merasa amat puas akibat pengendalian diri".
makna untuk saya pribadi, jika saya bisa mengendalikan diri untuk tidak terlalu memenuhi keinginan, maka saya dapat menjadi orang yang lebih bijak tanpa dikuasai oleh hawa nafsu.
sama persis dengan tulisan seseorang yang saya kagumi,
Jangan takut untuk memberi, kamu tidak akan kekurangan karenanya. Jika kamu merasa kekurangan, maka tinggal kurangi saja keinginanmu, maka semua akn mnejdi impas, tidak lebih tidak kurang.

Selasa, 26 Agustus 2008

The Pursuit of Happines



film ini menurut saya masuk dalam kategori sangat layak di tonton. Berisi kisah seorang sales mesin deteksi tulang bernama Chris Gardner. Setiap hari sebelum menawarkan dagangannya, Chris mengantarkan anaknya ke tempat penitipan.

Keadaan ekonomi sulit menyebabkan semuanya tidak mudah. Belum lagi kewajiban membayar sewa flat yg sudah jatuh tempo sejak lama sampai kebutuhan lainnya yg tidak akan terpenuhi selama si mesin deteksi tulang tidak jga laku terjual.

Keadaan makin genting, sang istri memutuskan untuk meninggalkannya. Sampai harus menginap di motel samapi berebut tempat tidur di panti sosial demi menghindari tidur beratap langit.

Sampai satu ketika, Crish berkesempatan mengikuti pendidikan menjadi seorang pialang. Saya bukan orang yg pandai menceritakan detif film, namun ada satu kalimat yg terus terngiang di kepala saya. Kalimat ini muncul saat Chrish sedang menasehati sang putra tercinta, "Jangan biarkan orang lain berkata kau tidak akan bisa, termasuk diriku." Sebuah kalimat yg amat sangatlah sederhana, namun mengandung kekuatan yang amat sangat.

dan, jika direalisasikan, maka akan menciptakan manusia pantang menyerah untuk mengejar keinginan, bukan karena agar impian terwujud namun untuk membuktikan pada orang disekeliling bahwa kita bisa melakukan apapun tanpa kecuali.

sebuah film yg sangat inspiratif, terlebih lagi film ini memang based on true story, bukan fiksi rekaan semata.

So, bukan hal yg tidak mungkin bukan menggapai mimpi tanpa kecuali?