Tampilkan postingan dengan label sandaljepit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sandaljepit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

Menikmati Papandayan bersama Tim Blengcek

(ki-ka): Yudhis, Ochi, Anty, Putri, Jeremi, Becca, Tyas, Hendra, saya, Nita, Delly


Pulanglah ke rumah ketika di luar tak aman, pergilah ke luar ketika di rumah tak nyaman’ by @pup0

Quote di atas saya baca di linimasa milik Putri.

Perjalanan selalu memberi rasa buncah, nyaris bagi sebagian besar orang. Kali ini, saya cukup beruntung, bersama orang-orang terbaik, memiliki kesempatan untuk mengunjungi Gunung Papandayan, Garut.

Hari #1, Jumat, 21 Desember 2012

Janji bertemu pukul 20.00 WIB. Kami datang dari setiap penjuru mata angin, mengarah pada satu titik, Terminal Kampung Rambutan.

Orang yang pertama sampai, justru peserta yang datang dari titik terjauh. Tyas Listyo datang dari Tangerang, cukup beruntung tak menemui kemacetan. Tyas orang yang ceria, saya menyukainya. Tyas menjadi semacam ibunya anak-anak semenjak trip pertama kami ke Gua Buniayu, September silam. Dia mendapat panggilan sayang dari kami semua. Budhe, begitu kami memanggilnya. Meski begitu, jangan salah sangka, dia sama sekali bukan peserta tertua, bukan pula yang paling dewasa. Paling gila mungkin saja iya.

Bisa dibilang, Tyas selalu menjadi orang paling bersemangat tiap mau ngetrip. Belum tau mau ke mana saja dia sudah packing. Paling kompor.

Kembali pada jumat malam, sebagai peserta yang sampai duluan, Tyas mulai berisik di chat conference. Mengabsen satu-persatu peserta sudah sampai di mana.

Pukul 20.30 peserta mulai berkumpul. Tema obrolan kami nyaris seragam, lapar dan macet di mana-mana. Jakarta malam itu sungguh menyebalkan. Tak rela rupanya, ditinggal beberapa warganya untuk berlibur barang sebentar.

Di trip kali ini, ada tiga peserta baru. Nama, wajah, asal muasal benar-benar tak terdeteksi. Mereka adalah Anty, Ochi, dan Becca. Maafkan jika saya salah menuliskan nama. Tiga perempuan ini adalah bawaan Hendra. Entah teman apa, sampai sekarang saya juga tidak paham. Yang pasti bukan teman kerja juga bukan teman main. Mungkin temannya teman. Ah, sudahlah. Yang pasti kehadiran mereka menyemarakkan perjalanan kali ini.

Pukul 22.10 bus kami bergerak menuju Garut. Saya ingat persis, formasi duduk kami. Saya duduk bersama Milani Yunitasari atau Nita. Di belakang kami ada Delly dan Yudhis, lanjut Tyas dan Hendra, Putri dan Jeremi, dan di seberang, di bangku tiga ada trio Anty, Ochi serta Becca.

Nita adalah patner sehati saya. Kami pertama bertemu pada Mei 2011 silam, saat trip ke Dieng. Kami sering ngebolang bersama. Mengenalnya makin menjerumuskan saya pada trip yang satu ke trip yang lain. Tak apalah, toh ini penjerumusan yang menyenangkan, tanpa paksaan. Nita orang yang kalem tapi dalem. Dialah mama bolang sejati. Pengalamannya berpetualang tak diragukan lagi. Nita juga orang yang sangat lihai mengatur keuangan. Mau travelling murah, percayakan saja keuangan padanya, dijamin, kamu akan mendapat harga terbaik.

Pernah satu waktu, dia tak bisa menyertai saya ke Semarang. Pesannya akan akan saya ingat sampai mati:
Ingatlah, lebih baik kamu lapar mata disbanding lapar perut

Ini merujuk pada sifat saya yang sering kalap jika melihat barang asli daerah tujuan. Prinsip saya, sebisa mungkin memiliki kenang-kenangan benda. Baru menjadi masalah saat saya kalap membeli ini-itu. Pergi bersama Nita membuat saya merasa aman dalam hal financial. Dia akan cerewet membatasi pengeluaran saya, tidak berhenti di situ, dia juga akan memberi pinjaman jika pengendalian diri saya kelewat buruk. Terima kasih ya Ta, untuk kebaikannya selama ini.

Kirim cium di udara, mmuah..

Hari #2, Sabtu, 22 Desember 2012
Kami sampai di Terminal Guntur Garut pukul 03.00 dinihari. Udara dingin mulai menunjukkan aksi. Kami kompak merapatkan jaket kecuali Yudhis, si Pakdhe. Yudhis adalah pemimpin dalam trip ini. Dia bertanggungjawab penuh nyaris untuk segala urusan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai urusan menu Yudhis lah yang mengatur. Kami tinggal terima enaknya saja, terima jadi. Yudhis pula yang ngotot, harus membeli bawang bombay. Cita-citanya adalah kami semua bisa menikmati spaghetti di puncak Papandayan. Kami lebih setuju, Yudhis ingin kami menggelar gala dinner di puncak sana. Ransum kami banyak bukan main, lebih dari cukup.

Terima kasih Pakdhe Yudhis, untuk kerealaannya memimpin kami, yang masih suka banyak protes, suka sedikit bandel tapi tetap diajak ngetrip. Sebagai ucapan terima kasih, kami persembahkan Budhe Tyas untukmu, hahahahaha..

Dari Terminal Guntur, perjalanan kami lanjutkan ke Cisurupan. Awalnya, pendegaran saya berhianat. Saya mendengarnya ‘kesurupan’. Jika benar, ngeri sekali nama daerah itu, untunglah, saya salah dengar.

Tak banyak yang bisa diceritakan. Jalanan masih gelap, pagi juga masih buta. Hanya dingin yang makin unjuk gigi. Kami sampai di Cisurupan pukul empat pagi. Cisurupan ini hanya perempatan jalan. Ada banyak mobil bak terbuka (bakter) yang parkir.

Kami menjadi rombongan pertama yang datang. Sempat mati gaya. Instruksi ini itu, istirahat berbagai posisi, juga berbelanja telur dilakukan di sini. Satu persatu rombongan lain mulai datang. Mereka tak membutuhkan waktu lama, hanya istirahat sejenak, melanjutkan perjalanan dengan bakter.

Kami baru mulai menuju pos terakhir sekitar pukul tujuh pagi. Saya dan Nita duduk disamping sopir. Tempat ternyaman. Sisanya, berkumpul macam ketan yang siap ditaburi kelapa di bakter bersama tumpukan ransel yang besarnya ampun-ampunan.

Sampai di pos, sekitar pukul delapan. Kami kembali beristirahat, sambil menunggu nasi selesai dimasak. Waktu mulai merayap ke pukul 10. Akhirnya kami benar-benar mulai mendaki. Sambil pasang senyum sumringah, kami mulai memasang tas di punggung.

Gunung Papandayan tergolong landai. Meski ketinggiannya mencapai 2.665 dpl, namun jalur pendakiannya relatif ringan. Baru sekitar 100 meter melangkah, gunung ini sudah mulai narsis pamer diri. Suguhan landscape nya luar biasa. Dibalik bukit kapur, terbentang banyangan puncak-puncak gunung berwarna biru muda. Seperti backdrop saja. Kami kompak melongo, terkagum-kagum dengan mahakarya Tuhan kali ini.
Sepanjang jalan, mata kami berwisata. Tidak hanya hijau rimbun pepohonan, namun juga putih gradasi bukit kapur sungguh menakjubkan.

Pendakian ini relatif santai. Sering berhenti untuk mengunyah ransum. Menu utama adalah agar-agar INACO, Choki-Choci, dan coklat Silverqueen yang jadi rebutan.

Kami tiba di Pondok Salada pukul 13.00. Di sini kami akan mendirikan tenda. Sudah ada banyak tenda berdiri. Pondok salada hari itu menjamu banyak tamu.

Kami membawa tiga tenda Lafuma kuning. Lokasi kami berkemah agak jauh dari peradaban, mengingat kami ini berisik bukan main, rasanya ini keputusan bijak.

Dari siang hingga malam, kami berkegiatan tak banyak macam. Masak, makan, masak lagi dan tentu saja makan lagi. Saat petang mulai merambat, suhu udara makin menggigil, ditambah hujan yang turun semakin memperparah suhu. Keberisikan kami mulai padam pukul 21.00. Kami mulai kalem di dalam tenda masing-masing. Entah apa yang terjadi di tenda lain, namun di tenda kami yang berisi saya, Tyas, Nita dan Putri masih cukup aktif. Putri menjadi orang yang terlelap lebih dulu, disusul Nita. Saya dan Tyas kemudian malah asik berbagi kegalauan.

Hari #3, Minggu, 23 Desember 2012
Sekitar pukul 05.00 Tyas mulai membangunkan saya. Kami ingin ke tegal Alun. Namun dengan alami, rencana itu bubar jalan. Kami malah heboh memasak spaghetti impian Yudhis. Pagi itu ceria sekali, kami malas berjamaah, sulit sekali mencari relawan pengambil air dan pencuci piring.

Masak-memasak dimulai, dengan api cukup kecil, serta banyaknya topping, akhirnya spaghetti impian matang sudah. Asli, selama saya mendaki, ini adalah makanan gunung termewah. Spaghetti dengan bumbu Bolognese daging cincang plus sosis goreng dan telor kornet. Beuh, sarapan pagi yang enak luar biasa jendral.

Eit, saya nyaris lupa. Ada seorang yang tak menikmati menu dahsyat pagi itu. Dia adalah Delly Andrian. Saya lebih senang menyebutnya si klimis. Sebutan ini tentu bukan tanpa alasan. Tampilannya selalu rapi, kinclong tak ternoda. Delly juga sosok paling misterius, tak tertebak. Pembawaannya kalem, tak banyak tingkah, tapi sekali berucap, nusuk sampe ke ulu hati. Delly tipikal pemilih, terbukti dari menu makannya yang tak seperti kami semua. Untungnya, meski ia mengaku tak menyukai spaghetti, dia sungguh tak merepotkan. Untuk menu sarapan paginya, Delly cukup puas dengan mie instant. Delly agak rewel saat mulai meminta tutu otat. Maksudnya susu coklat. Ah, biar sok cadel, keimutan sama sekali malas mendekatimu Delly Mince!!!

Akhirnya baru sekitar pukul 11 kami baru selesai berkemas. Mengingat jalur yang tak mudah menuju Tegal Alun, sebaiknya kami tidak membawa banyak barang. Dengan penuh besar hati, Delly dan Anty memutuskan tak ikut serta. Mereka berdua menjaga tas kami. Duh, kalian berdua baik sekali, kami berhutang budi..

Kami bersembilan menuju padang edelweiss Tegal Alun. Jalur yang dilewati tak bisa dibilang mudah. Setelah melewati hutan mati, jalanan menjadi licin ditambah pula dengan guyuran air hujan. Terpaksalah kami memakai jas hujan.

Namun tak ada perjuangan yang sia-sia. Kelelahan kami dibayar lunas oleh pesona padang edelweiss. Puas berfoto, kami memutuskan segera turun. Tak tega membiarkan duo Delly-Anty menjaga tas kami lebih lama lagi.

Sekitar pukul 14.00 tim telah kembali lengkap. Kami turun gunung. Bertekad secepatmungkin sampai pondokan, kami tak banyak beristirahat. Sempat ada sedikit insiden, saat rombongan ingin menjajal jalur yang berbeda. Setelah menyebrangi sungai cukup terjal, ternyata itu baru permulaan. Setelahnya, ada jalur nyaris vertical. Kengerian makin diperparah oleh teriakan rombongan lain. Mereka berteriak, menyuruh kami berputar arah, karena jalur di depan kami adalah jurang. Dilema mulai terjadi, untuk berputar membutuhkan energi yang tidak sedikit, namun jalur yang akan kami lalui juga tak memberi harapan pasti.
Di sini, Jeremi mulai unjuk gigi. Jeremi Lee yang sehari-hari bekerja sebagai guru sejarah ini memang memiliki sifat melindungi. Di jalur terjal, Jeremi mendampingi setiap orang yang turun. Mulai dari menahan, memberi instruksi batu pijakan, sampai menjadi pengaman dari runtuhan batu. Kang Jeremi teh heroik pisan lah.

Bercerita soal Jeremi, kamu bisa menanyakan apa saja padanya, dan dia akan selalu memiliki jawaban. Otaknya seperti gudang ilmu. Ensiklopedia. Setiap orang yang dekat dengannya, juga akan sangat mudah merasakan ketulusan hatinya. Pokoknya kalo cari pacar, carilah yang mirip Jeremi. Hahaha..

Tapi, diantara keceriaannya yang mendalam, saya menduga kuat, Jeremi adalah seorang introvert terselubung. Entah peristiwa apa yang dialaminya, sepertinya ada kenangan buruk yang cukup membuatnya belajar dan menjadi kuat dalam menjalani hidup. Maaf ya Jer, kalau sok tahu saya kambuh, piss ah..

Setelahnya, jalur yang harus kami lalui cukup aman. Lawan terberat kami adalah rasa lelah. Ajaibnya, saya masih bisa melihat wajah sumringah penuh semangat. Inilah wajah Putri Sari Suci. Dialah adik bagi kami semua. Si penebar kebahagiaan. Seseorang yang quote nya saya ambil tanpa izin untuk di pasang dia wal tulisan ini.

Putri seorang yang ceria. Semua sepertinya terasa enteng dimatanya. Dalam hal ketulusan, Putri sejajar dengan Jeremi. Karena dia sempat mengenyam pendidikan di Newcastle, England, Putri sering menjadi bahan olok-olok bagi kami.

Putri adalah anggota rombongan yang seharusnya paling berat hati untuk pergi. Karena sampai menjelang keberangkatan, ibunya tak juga kunjung memberi restu. Entah karena nekad atau bujukan kami terlalu manjur, Putri nekad berangkat meski tidak berbekal restu.

Delly sempat berucap, kesalahan terbesar Putri adalah bertemu kami, para jemaah bolang. Namun saya lebih meyakini sebaliknya.

Putri selalu ceria. Disuruh apa saja dia mau. Saat kami mati gaya dan nyaris mati bosan, maka Putri akan bernyanyi menghibur kami semua. Lagaknya bak komposer kelas dunia. Pilihan lagunya pun, beragam bukan main. Terima kasih ya Putri, untuk hiburannya, serta semangatnya selama perjalanan, energimu menular ke kami semua.

Sekitar pukul 17.00 akhirnya kami tiba di pos. menandakan perjalanan Papandayan akan segera berakhir. Langkah makin gontai, lelah mulai merambati kaki. Namun, saat perjalanan nyaris finish, Hendra justru tersandung. Jalannya menjadi pincang, saya duga kakinya terkilir. Sedih sekali melihat laki-laki tak banyak cakap ini harus jalan tertatih.

Hendra adalah sosok mulut terkunci, jarang bicara, pelit senyum, lengkap sudah dengan muka yang cukup banyak cemberut pula. Tapi kesemua sifatnya, merujuk pada satu karakter, cool. Saya dan Tyas setuju menyebutnya tengil. Hendra seperti leader bayangan. Ia menyuplai beberapa kebutuhan trio Anty-Ochi-Becca.

Bahkan, saat kepulangan pun, Hendra pulang lebih dulu bersama trio ini.

Berhubung waktu liburan masih jauh dari usai, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Rancabuaya. Namun empat orang dari kami tak ikut serta.

Ah, senang sekali mengenang perjalanan kali ini. Ingin rasanya, membekukan setiap kenangan yang ada, meletakkannya di lipatan otak, agar tak usang dimakan waktu. Terima kasih ya untuk kebersamaan dan aroma persahabatan yang akrab. Kalian semua blengcek!!! 

Kamis, 26 Juli 2012

Si Bluwek, teman setia..


Saat saya bersama Si Bluwek di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin


Saya tak ingat persis sejak kapan suka ngebolang. Yang pasti saya selalu bersemangat jika akan mendatangi tempat baru. Yang pasti selalu saya butuhkan adalah ransel. Selama bepergian, saya menggunakan si ransel hitam yang saya beli sejak awal 2008 silam. Merek Export dengan kompartemen untuk laptop di dalamnya.

Ya, saya membelinya tak lama berselang setelah saya membeli laptop. Tas ini multifungsi, saya pakai bekerja, tak jarang juga diajak ngebolang. Meski sesekali saya juga meinjam ransel milik Mas Fahri, jika membutuhkan tas dengan ukuran lebih besar.

Cinta mati saya pada si Export harus berakhir. Bukan karena salah satu dari kami berhianat, namun perpisahan memang harus segera dilakukan.

Bermula dari musibah kecopetan Part I dengan TKP Jembatan Tosari. Saya kehilangan dompet serta beberapa kartu yang tak begitu penting. Nominal uang yang ada saya juga sudah tak ingat. Yang menyesakkan, musibah berikutnya. Kecopetan Part II dengan TKP sama.

Ini sungguh keterlaluan. Tak hentinya saya mengutuki diri sendiri. Bodoh kok berulang. Kecopetan kedua ini membuat saya sempat menjadi warga gelap, tanpa identitas dan uang barang sepeser pun. Setelah melakukan pengurusan kartu ini dan itu, akhirnya saya kembali memiliki KTP dan ATM.

Seharusnya dua musibah kriminal sudah cukup bukan?

Nyatanya tidak. Sabtu, 10 Desember 2011 kehilangan kembali terjadi. Tak tanggung-tanggung, kali ini uang Rp 4,4 juta raib. Bukan kecopetan, levelnya sedikit lebih tinggi. Pencurian. Saya sedang berada di Pulau Tidung. Kamar tempat kami menginap, jendelanya di congkel paksa dan uang dalam dompet digasak si pencuri. Anehnya, si maling ini kok ya sempat-sempatnya cuma mengambil uang, dompet ditinggalkan.

Tak mau kejadian buruk terulang, saya mulai menabung. Akhirnya dengan setengah memaksakan diri, saya membeli ransel baru. Lebih tepatnya carriel. Deuter Futura 24 SL. Berwarna biru cerah, biru donker dan abu-abu. Warna ransel ini cukup feminim, belakang saya tahu, memang istilah future disematkan Deuter bagi carriel yang akan dipakai oleh penjelajah perempuan.

Saya membelinya di toko Tandike kawasan Seskoal Ciledug. Konon, toko ini cukup terkenal di kalangan penjelajah. Harganya lumayan miring dan keaslian terjamin.

Si Deuter Futura 24 SL ini memulai debutnya pada 31 Desember 2011. Menemani saya berhiking ria di Gunung Guntur Garut. Cukup memuaskan dan penuh gaya. Meski daya tampungnya tak terlalu banyak, saya mencintainya amat sangat. Hm..kira-kira apa ya nama yang tepat untuk tas baru ini. Aha..tiba-tiba terpikir satu nama. BLUWEK. Baiklah, saya akan memanggilnya dengan Si Bluwek saja.

Bluwek, temani saya kemanapun ya. Jangan bosan dan tolong jaga barang-barang berharga saya. Juga jaga setiap kenangan bersama kita. J

Kamis, 29 Maret 2012

Jejak Pertama di Borneo


Pekatnya biru pada langit mempercantik gumpalan awan yang menenangkan

Bulan April telah menjelang, akan menimbun Maret dengan gegap gempita. Pikiran melayang, kembali mengingat, apa-apa saja yang telah saya kerjakan. Jawabannya tak banyak. Tetap bepergian, menjejelajah ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru.

Kejadian lama yang selalu berulang, adalah kemalasan saya untuk membuat catatan perjalanan. Tapi, baiklah, saya sedang berusaha menyisihkan rasa malas ini.

Pertengahan Maret lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di tanah Borneo. Benar-benar baru pertama kali. Untuk bekerja.

Menumpang maskapai lokal, Trigana Airlines. Ada yang tidak tahu maskapai macam apa ini?

Tenang saja, memang tak banyak yang tahu dengan keberadaan maskapai ini. Sekedar intermezzo, Trigana merupakan satu-satunya maskapai yang menyediakan rute penerbangan Jakarta-Pangkalan Bun. Tidak ada maskapai lain, tak satupun.

Saya berangkat seorang diri pada 13 Maret. Tertera pada tiket, jam keberangkatan saya adalah pukul 09.50. Saya diwanti-wanti agar datang sepagi mungkin, jangan sampai terlambat, mengingat sehari sebelumnya, kolega sempat membuat insiden tertinggal pesawat dari maskapai yang sama. Alhasil, saya sama sekali tak terlambat, malahan terlalu cepat. Bayangkan, jarum jam belum menunjuk ke angka 7 dan saya sudah duduk manis di terminal 1C menunggu loket check in dibuka. Takut terlambat dan terlalu bersemangat memang berbeda tipis.

Jam 9 teng, penumpang dipersilahkan masuk ke dalam pesawat. Jujur, saya agak khawatir. Terbang seorang diri, ke daerah yang lumayan pelosok pula. Begitu sampai di dalam pesawat, oh la la. Kursi penumpangnya cukup membuat saya tertegun. Kursi busa yang lumayan usang. Ah, beginilah wajah maskapai penerbangan kecil, batin saya.

Singkat kata, saya lumayan menikmati perjalanan. Menikmati gelembung awan yang menyerupai marsmellow. Menikmati suguhan alam dan hutan Kalimantan dari udara. Pohon-pohon yang meranggas hijau, menyerupai brokoli. Juga ada petak-petak berjajar rapi, saya duga itu adalah perkebunan sawit.

Bandar Udara Iskandar, Pangkalan Bun jauh lebih kecil dari yang saya bayangkan. Sederhana dan menenangkan. Bahkan saya sempat bertemu dengan Fred, anak laki-laki dr. Birute Mary Galdikas, seorang tokoh yang cukup disegani karena kepeduliannya pada kelangsungan hidup orangutan. Saya hanya menatap penuh kagum, dia ganteng.

Dari Pangkalan Bun, perjalanan saya berlanjut ke Hanau. Di sini saya menemukan sebuah kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang bersahaja, penuh kesederhanaan.

Sebuah sekolah dasar yang berdiri kokoh, lengkap dengan berbagai sarana penunjang. Melihat anak-anak ini penuh semangat menimba ilmu, serta penuh tawa berlari-larian. Ah, saya jadi iri dengan ketenangan hidup di tempat ini.

Sekolah ini mengajak saya untuk menjelajahi kenangan belasan tahun silam. Saat saya masih mengenakan seragam putih merah. Bermain dengan riang bersama teman sebaya. Di Jakarta, pemandangan anak-anak kecil bermain di lapangan dengan bebas di waktu istirahat pasti nyaris mustahil. Anak-anak metropolis lebih memilih untuk diam dikelas, bermain dengan gadget terbaru. Aktivitas fisik bukanlah sesuatu yang menggugah minat.

Di depan sekolah terdapat bangunan dengan atap biru cerah. Bangunan ini adalah rumah pintar. Sebuah bangunan yang ditujukan untuk menggali potensi bagi anak-anak maupun para ibu. Di rumah ini, setiap orang memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk bermain sambil belajar. Ada perpustakaan, ada televidi dan DVD beserta playernya, ada computer, dan banyak mainan anak. Saya yang sudah dewasa saja betah berlama-lama memainkan setiap fasilitas yang ada di rumah pintar ini.

Bagi para ibu, tersedia sentra kriya. Terdapat mesin jahit yang kelak akan digunakan untuk melatih kemampuan para ibu. Sewaktu saya berkunjung, para ibu ini sedang mempraktikkan smoke, seni melipat dan menjahit kain yang menghasilkan bentuk unik.

Pengelola program di rumah pintar ini ada dua. Mereka disebut tutor dan asisten tutor. Dwi Puspa Setiasih dan Nur Indah Fitriani. Mereka adalah dua orang berhati mulia yang membaktikan diri untuk pengembangan rumah pintar ini.

Hidup di sebuah perkebunan macam ini, mau tak mamu memaksa setiap orang untuk menyelami kesederhanaan. Mengikuti ritme yang kadang berjalan terlalu lamban. Menjalani rutinitas yang trlampau monoton. Lalu, apakah saya merasa bosan? Tidak.

Saya menikmati setiap detik yang berjalan di tempat asing ini. Menikmati setiap fragmen bersama dengan orang-orang asing di tempat terpencil. Ketulusan hati yang ditawarkan dengan sebongkah senyum sayang menjadi pewarna alami disetiap waktu yang saya habiskan.

Bahkan, di malam terakhir, seorang ibu menyempatkan diri membuatkan empek-empek. Rasanya jangan ditanya, enak bukan kepalang. Di sini, saya mengucapkan terima kasih untuk Ibu Harefa yang dengan baik hatinya membuatkan kami makanan lezat yang bahkan begitu terpatri kuat dalam semak-semak ingatan.

Tepat di hari keempat, saya harus kembali. Pulang menjejakkan kaki di bentangan Jawa. Kembali disambut macet, bising dan orang-orang bersuara keras yang memekakkan telinga. Di perjalanan pulang menuju rumah, lamunan saya melayang. Mengingat setiap peristiwa di tanah Borneo. Mengingat senyum anak-anak yang tanpa beban. Mengingat eratnya pelukan para ibu yang saya pamiti. Ah, saya pasti kembali, entah kapan.

Kamis, 28 April 2011

Perjalanan yang Membekukan


mengambil gambar di sini

Menyebalkan. Itu satu kata yang mewakili kamu. Tidak ada lagi kata lain. Cukup.

Padahal saya sempat memberi kamu poin plus. Saya sempat berharap kamu akan menjadi teman menyenangkan di perjalanan pulang. Tapi semua langsung sirna.

Ya, kita hanya berdua tentu bersama penumpang asing, melintasi kota Banjarnegara, Purwokerto, Cilacap, Garut dan kota-kota lain sebelum bus malam kita menginjak Jakarta.

Saya tidak ingat persis, materi obrolan kita. Seputaran dunia militer, Tan Malaka dan Madilog-nya, sampai salah tempat menuntut ilmu. Ya, Pemikir yang justru berkuliah di sekolah tempat kaum borju. Tidak ada yang salah dengan kampus kamu, namun citra kapitalis yang melekat dalam institusi itu tentu menggelitik rasa penasaran saya. Bagaimana kamu melewati waktu di kawasan borjuis itu, sedang pemikiran-pemikiran kamu tentu melakukan penolakan.

Benar saja. Dalam satu putaran waktu, kamu nyaris di drop out gara-gara menentang sistem penjualan buku. Hal yang sepele sebenarnya, namun kamu yang keras kepala tentu tak mau mengalah begitu saja. Kamu tahu? Itu cerita seru, saya masih mengingat sangat tiap detail yang kamu ceritakan, kecuali pada bagian nama-nama yang kamu sebutkan tentu saja. Saya pengingat nama yang payah.

Perbincangan bergeser soal agama. Kita sama-sama tidak begitu fasih dan memahami. Akhirnya bahasan malah meluas, menyentuh Ayatullah Khomeini sampai Mahmoud Ahmadinejad. Untuk nama yang terakhir, tentu sedikit banyak saya tahu, dulu pernah membaptis diri jadi penggemar.

Menceritakan dunia-dunia kita yang ternyata bersinggung di masa lalu. Ya, kita pernah menginjak tempat yang sama. Mungkin berbeda putaran harinya, namun orang-orang yang kita jumpai kurang lebih sama. Saat itu saya merasa senang sekali.

Memiliki teman seperjalanan yang asik, seru, nikmat mana lagi yang berani saya dustakan?!
Namun, semua langsung poranda. Saat kamu mengatakan agar saya lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Sebenarnya bukan masalah besar. Namun kemudian menjadi masalah besar karena kamu tidak mau menjelaskan maksud kalimat itu. Kamu hanya memberi saya sebaris senyum tengil menyebalkan.

Kamu tahu? Ada tipikal orang yang akan sangat terganggu hidupnya karena didera rasa penasaran hebat. Itu yang saya alami. Sejak saat itu, hingga saat ini, saat saya merangkai aksara. Lebih menyebalkan lagi saat tahu kamu hanya tersenyum-senyum tidak mau menjelaskan. Saya terus memburu jawaban, tapi tidak dapat juga jawabannya sampai saat ini. Akhirnya saya mengambil kesimpulan sepihak.

Kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Padahal malam itu, belum separuh perjalanan yang harus dilalui. Kamu memutuskan untuk pindah bangku. Mau tidur, begitu pamitmu. Sebodo teuing!

Pukul 2 pagi kamu kembali. Kedinginan dan berusaha menghangatkan badan dengan memakai kaos berlapis-lapis. AC bus memang keparat bukan main saat itu. Saya juga merasa kedinginan, namun tidak bisa berbuat banyak. Salah kostum pula. Celana kargo panjang yang saya bawa, melesak jauh di bawah ransel, sangat repot jika saya mau memakai. Rasa malas tak mengenal waktu dan tempat rupanya.

Yang saya takutkan terjadi. Bus terlalu dini sampai di Jakarta. Akhirnya saya turun lebih dulu. Tidak ada salam perpisahan yang hangat. Semua membeku, semenjak kamu tidak memenuhi tuntutan saya akan penjelasan. Saya sempat melihat kamu memandang keluar jendela bus. Selamat tinggal teman. Semoga kita bisa berjumpa dalam suhu persahabatan yang lebih hangat. Akan sangat menyenangkan tentu saja, jika kamu bermurah hati. Tidak hanya menyodorkan seuntai senyum tengil itu. Deal kakak pramuka?!

Perjalanan Pulang yang Membekukan



mengambil gambar di sini

Menyebalkan. Itu satu kata yang mewakili kamu. Tidak ada lagi kata lain. Cukup.

Padahal saya sempat memberi kamu poin plus. Saya sempat berharap kamu akan menjadi teman menyenangkan di perjalanan pulang. Tapi semua langsung sirna.

Ya, kita hanya berdua tentu bersama penumpang asing, melintasi kota Banjarnegara, Purwokerto, Cilacap, Garut dan kota-kota lain sebelum bus malam kita menginjak Jakarta.

Saya tidak ingat persis, materi obrolan kita. Seputaran dunia militer, Tan Malaka dan Madilog-nya, sampai salah tempat menuntut ilmu. Ya, Pemikir yang justru berkuliah di sekolah tempat kaum borju. Tidak ada yang salah dengan kampus kamu, namun citra kapitalis yang melekat dalam institusi itu tentu menggelitik rasa penasaran saya. Bagaimana kamu melewati waktu di kawasan borjuis itu, sedang pemikiran-pemikiran kamu tentu melakukan penolakan.

Benar saja. Dalam satu putaran waktu, kamu nyaris di drop out gara-gara menentang sistem penjualan buku. Hal yang sepele sebenarnya, namun kamu yang keras kepala tentu tak mau mengalah begitu saja. Kamu tahu? Itu cerita seru, saya masih mengingat sangat tiap detail yang kamu ceritakan, kecuali pada bagian nama-nama yang kamu sebutkan tentu saja. Saya pengingat nama yang payah.

Perbincangan bergeser soal agama. Kita sama-sama tidak begitu fasih dan memahami. Akhirnya bahasan malah meluas, menyentuh Ayatullah Khomeini sampai Mahmoud Ahmadinejad. Untuk nama yang terakhir, tentu sedikit banyak saya tahu, dulu pernah membaptis diri jadi penggemar.

Menceritakan dunia-dunia kita yang ternyata bersinggung di masa lalu. Ya, kita pernah menginjak tempat yang sama. Mungkin berbeda putaran harinya, namun orang-orang yang kita jumpai kurang lebih sama. Saat itu saya merasa senang sekali.

Memiliki teman seperjalanan yang asik, seru, nikmat mana lagi yang berani saya dustakan?!
Namun, semua langsung poranda. Saat kamu mengatakan agar saya lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Sebenarnya bukan masalah besar. Namun kemudian menjadi masalah besar karena kamu tidak mau menjelaskan maksud kalimat itu. Kamu hanya memberi saya sebaris senyum tengil menyebalkan.

Kamu tahu? Ada tipikal orang yang akan sangat terganggu hidupnya karena didera rasa penasaran hebat. Itu yang saya alami. Sejak saat itu, hingga saat ini, saat saya merangkai aksara. Lebih menyebalkan lagi saat tahu kamu hanya tersenyum-senyum tidak mau menjelaskan. Saya terus memburu jawaban, tapi tidak dapat juga jawabannya sampai saat ini. Akhirnya saya mengambil kesimpulan sepihak.

Kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Padahal malam itu, belum separuh perjalanan yang harus dilalui. Kamu memutuskan untuk pindah bangku. Mau tidur, begitu pamitmu. Sebodo teuing!

Pukul 2 pagi kamu kembali. Kedinginan dan berusaha menghangatkan badan dengan memakai kaos berlapis-lapis. AC bus memang keparat bukan main saat itu. Saya juga merasa kedinginan, namun tidak bisa berbuat banyak. Salah kostum pula. Celana kargo panjang yang saya bawa, melesak jauh di bawah ransel, sangat repot jika saya mau memakai. Rasa malas tak mengenal waktu dan tempat rupanya.

Yang saya takutkan terjadi. Bus terlalu dini sampai di Jakarta. Akhirnya saya turun lebih dulu. Tidak ada salam perpisahan yang hangat. Semua membeku, semenjak kamu tidak memenuhi tuntutan saya akan penjelasan. Saya sempat melihat kamu memandang keluar jendela bus. Selamat tinggal teman. Semoga kita bisa berjumpa dalam suhu persahabatan yang lebih hangat. Akan sangat menyenangkan tentu saja, jika kamu bermurah hati. Tidak hanya menyodorkan seuntai senyum tengil itu. Deal kakak pramuka?!


Rabu, 27 April 2011

Bersama Kalian, Dieng Lebih Mengesankan


Kau nyanyikan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini telah kau bawa aku menuju kesana..


Petikan lagu negeri di awan yang dilantunkan Katon Bagaskara, saya rasa cocok menjadi soundtrack perjalanan saya menelusuri Dieng.

Dataran tinggi diatas 2000 kaki. Tak heran jika Dieng juga mendapat julukan negeri di atas awan. Dalam situasi tertentu, saat mata memandang kebawah, hanya hamparan kabut putih yang terlihat.

Bersama 8 orang yang semuanya berlabel baru kenal. Tidak ada kesepakatan sahih, tapi saya senang menamakan rombongan ini dengan geng KYU. Mengacu pada permainan kartu yang merujuk pada angka 9.

Berangkat dari terminal lebak bulus, bersama dengan Meldawati (si kepala suku) dan Milani Yunitasari aka Nita.

Melda memiliki karakter super ceria. Dialah peramai suasana, dengan celoteh ini itu, kadang penting kadang tak penting. Hihihi. Bisa dikatakan, Berkat Melda-lah geng KYU terbentuk. Dia yang mengajak dan membuat woro-woro rencana trip ini. Semua informasi kepesertaan berpusat padanya. Bahkan, namanya lah yang menjadi jaminan booking ini itu, mulai dari booking penginapan, elf, sampai tiket pulang. Sembah nuwun ya Melda, untuk kerelaannya bersibuk ria mengurusi kepentingan operasional ini. Seminggu sebelum keberangkatan, saya bertemu dengan Melda, membicarakan itinerary.

Untuk Nita. Sebelumnya saya belum pernah bertemu dengannya. Perawakannya kurus. Kesan pertama yang mampir di otak saya, dia kalem. Senyum saja cuma segaris. Terlihat menjadi antithesis Melda jika mereka berdiri berdampingan. Nita bekerja di GE, General Electric. Semoga saya tidak salah menuliskannnya. Saya tidak tahu persis job desk Nita, pokoknya berurusan dengan kartu kredit. Kesan pertama, saya langsung menyukainya. Nampaknya, dia akan menjadi teman seperjalanan yang asik.

Saat petang mulai beranjak, bus yang kami tumpangi berangkat. Ternyata, kami menjemput penumpang di Rawamangun.

Sekitar pukul 21.00 WIB bus baru bisa dikatakan sah meninggalkan Jakarta.

Eng ing eng, belum apa-apa jadwal kami sudah berantakan. Perkiraan awal, kami sampai di terminal wonosobo sekitar jam 5 pagi, paling telat jam 7. Tapi ya tapi, bus Malino Putra baru dengan manisnya memasuki terminal lebih dari jam 12 siang.

Tim yang datang dari Surabaya dan Jogja sudah tiba sejak pagi. Mereka memutuskan untuk menunggu kami di Dieng saja.

Saya, Melda, dan Nita langsung menuju loket untuk membeli bus pulang. Antisipasi.

Diterminal, rombongan bertambah satu orang, Muhammad Ali Firman, biar singkat panggil saja Firman. Sebelumnya Firman satu kantor dengan Nita, namun kini dia telah berpaling dan mengapdi pada CIMB Niaga. Urusannya masih sama, seputaran kartu kredit. Firman berperawakan tinggi semampai. Rambutnya pendek dan keriting. Orangnya easy going. Usut punya usut, dia baru memiliki kamera DSLR Sony. Seri-nya saya tidak tahu.

Kami bersemangat mencari Mie Ongklok yang tersohor itu. Tanya sana-sini, Mie Ongklok tak ditemukan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan seadanya. Saya dan Nita memilih soto daging, sedangkan Melda soto ayam. Firman? Hm..untuk menu kedua, dia makan bakso. Sebelum bertemu dengan kami, Firman mengaku telah makan nasi rames.

Sedang menikmati santap siang, kami kedatangan seorang laki-laki yang mengaku bernama Dwi. Dialah guide yang akan mendampingi petualangan kami menggerayangi Dieng Plateau. Nama panjangnya Dwi Yono. Cukup panggil Mas Dwi. Saya tak menyangka, guide kami ternyata masih muda. Belakangan, saya mendapat informasi, Mas Dwi itu kelahiran 1984. Pantas aja masih muda. Mas Dwi cocok sekali menjadi pemandu wisata, pribadinya menyenangkan. Usahanya untuk melucu cukup baik, meski hasilnya suka garing. Tapi karena kegaringannya itulah, kami jadi punya bahan celaan. Kami ber-4 belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Dieng karena masih menunggu satu peserta yang juga datang dari Jakarta, Andika Ferdiansyah.

Sekitar pukul 4 sore, Dika tiba. Kami langsung meluncur menuju Dieng Plateau. Kami tidak langsung berkenalan dengan Dika. Sama-sama capek, kami malah asik mendengarkan lagu dangdut pantura yang diputar di Elf. Dika sosok yang cool. Bekerja di perusahaan advertising. Cita-citanya menjadi marketing handal. Cita-cita aneh, terlebih setelah Dika positif terdeteksi sebagai manusia elang versi saya. Ya, di perjalanan ini, saya menemukan si manusia elang. Ah, senang sekali. Saya sedang tidak ingin menceritakan apa itu manusia elang, lain kali saja.

Tak berlebihan rasanya, jika Dieng dijuluki negeri di awan. Awan putih yang biasa hanya bisa kita pandangi di angkasa, di Dieng dia tak malu-malu menghampiri. Ya, kami bersentuhan dengan kabut putih yang biasa disebut awan itu.

Sampai di Dieng, ada 4 orang perempuan yang menghampiri. Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri. Vera, Ovie, Fatma dan Ami. Kostum mereka sudah sangat siap tempur melawan suhu kejam Dieng. Topi kupluk, sarung tangan dan syal.

Tim akhirnya sudah lengkap, 9 orang plus Mas Dwi. Kami menuju Dieng Plateau Theater. Disana kami bertemu dengan bocah berambut gimbal. Nita namanya. Kami menyaksikan film berdurasi 12 menitan tentang Dieng. Film ini cukup informatif. Saya jadi tahu, tahun 1976, gunung meletus. Setidaknya ada 149 orang tewas keracunan gas CO2 yang muncul dari dalam perut bumi.

Film ini juga menunjukkan objek-objek menarik yang bisa dikunjungi. Telaga Warna, Candi, Kawah Sikidang, dan kawah Candradimuka.
Sebelum berangkat, seorang teman mewanti-wanti saya untuk tidak melewatkan kawah Candradimuka. Dia tidak menjelaskan alasan spesifik. Tapi sayang, karena keterbatasan waktu dan jarak tempuh yang lumayan, geng KYU tak sempat menyambanginya.

Malam semakin merapat, kami makan malam berjamaah. Makan mala mini menjadi semacam momen sambung rasa. Kami berbincang untuk mengenal lebih jauh. Saya sendiri, berusaha menghafal nama. Ini kelemahan akut saya. Sulit menghafal nama.

Paling saya ingat Vera. Dia menjadi satu-satunya perempuan yang membawa kamera DSLR. Peralatan pembeku momennya lumayan lengkap. Lensa ini itu sampai tas kedap air. Vera kerja di Surabaya, di Phapros. Jika tak salah, sebenarnya, rumah Vera di Jakarta. Surabaya hanyalah tempat untuk mendulang rupiah. Malam itu dia memakai topi kupluk merah. Khusus untuk Vera, saya menggarisbawahi penampilannya. dia memang memakai kupluk, sarung tangan dan syal. Tapi blus yang dikenakannya justru tipis. Celananya juga pendek. Jadi, saya tak habis pikir, bagaimana dia bisa menahan hawa dingin yang malam itu begitu kejam menyergap. Saya ingat Nita pernah nyeletuk mengomentari penampilan Vera. “Leher ke atas untuk digunung, tapi leher ke bawah gaya pantai”. Vera malah kegirangan jika dikomentari perihal penampilan ini. Saya memanggilnya Mami Vera.

Keesokan harinya, kami telah siap siaga di jam 4 pagi. Tekad kami bulat, menyaksikan golden sunrise yang tersohor itu. Cuaca membekukan tidak menghalangi semangat membaja kami. Ternyata, trek yang harus ditempuh lumayan juga. Bagi yang tak terbiasa dengan aktivitas fisik, tentu lumayan menyita energi, saya termasuk di dalamnya. Namun, beratnya perjalanan langsung terbayar lunas.

Semburat kuning nampak mempesona di ufuk timur. Perlahan dan pasti, Gunung Sindoro makin jelas terlihat. Keindahan alam, sahih tak terbantahkan. Saat cakrawala menyajikan nyanyian alam berupa gradasi warna, dan gerakan anggun matahari yang merangkak naik perlahan dan pasti.

Ovie sangat terlihat menikmati suguhan alam kali ini. Ovie belakangan saya tahu, dia seorang dokter yang tinggal di Jogja. Dalam geng KYU, Ovie satu-satunya anggota yang sudah menikah. Kami sempat mendengar cerita, bagaimana Ovie merayu Vera agar memintakan ijin pada suami untuk diperbolehkan turut serta. Saya tebak, Ovie bukanlah orang yang senang mendominasi. Beberapa kali saya lihat, dia hanya tersenyum melihat celoteh masing-masing dari kami. Tipikal pengamat.

Sampai menjelang pulang, saya sering tertukar antara Ovie dan Fatma. Fatma juga seorang dokter yang sedang mengambil spesialis syaraf di Jogja. Bisa dikatakan, Fatma adalah anggota yang paling memperhatikan gaya berbusana. Semua outfit yang dikenakan nampak serasi. Fatma pandai memadupadankan warna dalam pakaian. Ya, Fatma jadi terlihat cantik. Tak heran, selama trip, Fatma berhasil mendapat penggemar, minimal satu. Hahahaha

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Telaga Warna. Untuk menghindari tagihan tiket masuk, kami diajak Mas Dwi untuk mendaki. Lumayan juga jalur yang harus kami lewati. Lagi-lagi Mas Dwi tidak mengecewakan. Kami mendapat sudut pandang terbaik untuk melihat Telaga Warna. Gratis pula. Di sini, kali pertama kami melakukan photo keluarga. Lengkap.

Yang paling kasihan adalah Mbak Ami. Dia terlihat kelelahan. Saat turun, Mbak Ami dibantu Dika. Mbak Ami itu kalem-kalem punya sisi premanisme. Saya ingat, dialah yang memastikan pembayaran makan malam sudah seperti seharusnya. Dengan gayanya yang khas, dia mengecek satu-satu nominal uang yang harus di bayar oleh masing-masing dari kami. Kekhawatirannya terbukti, uang malah lebih ternyata. Jumlahnya Rp 5.500,- menjadi tanggung jawab Dika untuk mengembalikan. Mbak Ami juga orang paling misterius dalam rombongan. Alamat FB-nya menjadi yang paling terakhir saya ketahui. Meski begitu, dia penyayang. Saya terharu, saat di perjalanan pulang menerima pesan pendek darinya.

Setelah mengunjungi Telaga Warna, kini giliran Kawah Sikidang dam Candi Arjuna. Kami diwanti-wanti oleh Mas Dwi, agar tidak terlalu lama berada di sekitar kawah. Gas CO2 yang tidak berwarna dan tidak berbau bisa membahayakan nyawa. Selanjutnya kami menuju candi Arjuna. Seperti turis pada umumnya, kami banyak membekukan momen disini. Konon, keberadaan candi di Dieng ini merupakan bukti bahwa pemeluk agama Hindu pertama di Indonesia berasal dari Dieng. Bukan Bali.

Setelah makan siang dan mengepak barang, kami menuju Sumur Jalatunda. Mitos yang berlaku, barangsiapa berhasil melempar batu hingga ke seberang, maka keinginannya akan terkabul. Melihat besarnya diameter sumur, saya tidak heran jika banyak yang tidak berhasil melakukannya.

Dika nyeletuk, “Saya kalo mau keinginannya terkabul, ya usaha!” Statemen yang masuk akal Dik.

Destinasi berikutnya adalah pemandian air panas. Setelah berunding, akhirnya kami menuju pemandian kalianget di kota Wonosobo. Tiket masuknya murah sekali. Tapi begitu melihat air dalam kolam, yaiy..saya sempat bergidik. Warna airnya coklat. Jujur, bukan karena saya merasa jijik. Namun karena saya takut warna kaus saya akan mengalawi pemudaran warna permanen. Melihat Dika dan Nita cuek, saya akhirnya tertarik juga. Ada yang menarik di kolam ini. Ada sejoli di pojok nun jauh di sana. Yang tak lazim, si perempuan memakai kacamata hitam. Baru ini, kali pertama saya melihat orang berenang memakai kacamata hitam. Hitam loh ya, bukan kacamata renang. Sejoli ini memiliki percaya diri luar biasa. Mereka cuek sekali, tak peduli dengan sekeliling. Ini kolam renang paling ajaib yang pernah saya datangi. Menjelang beranjak, saya dan Dika sempat menggunjing sejoli lain yang asik berfoto dengan ponsel, dengan bahasa tubuh birahi tinggi. Hadoooh, saya langsung merasa ada di kawasan penuh lumpur dosa. Lebaaaaay.

Least but not last. Kami berburu Mie Ongklok. Diantara telepon agen bus yang memastikan kami agar tidak terlambat sampai di terminal. Dika sampai menamainya “Mie Ongklok Rush Hour” di twitternya. Akhirnya saya mencicipi mie khas Wonosobo ini. Mie Ongklok menjadi penutup yang sempurna dalam perjalanan ini.

Bahkan, saat saya menyusun bait aksara ini, sudah empat hari lalu berselang. Namun kebahagiaannya masih menyusup dalam tiap pori. Terimakasih ya, untuk sepotong perjalanan yang membahagiakan ini. Kebahagiaan semakin sempurna, karena perjalanan ini mempertemukan saya dengan orang-orang menyenangkan seperti kalian teman. sinih..sinih, tak peluk satu-satu.

Selasa, 21 September 2010

Maaf, Saya Ingkar Janji


Katri Prameswari, sahabat saya dikantor mengajak saya untuk jalan besok, mengingat sudah cukup lama kami tidak bertemu. Sayang, saya tidak bisa menerima ajakan tersebut karena saya harus pulang ke rumah Bekasi malam nanti. Kemudian saya menawarkan untuk bertemu hari senin saja, dan berharap Mila Hidayatullah, teman saya yang lain juga bisa bergabung.

Sekitar jam 7 malam, saya bersiap menempuh perjalanan dari Kedoya ke Bekasi. Saya berencana berada di rumah mulai jumat malam hingga senin pagi.

Semua berjalan lancar, saat tiba di terminal Kampung Melayu, ada pesan masuk ke ponsel saya dari Deppy Marlinda, teman kampus saya. Isi pesannya mengajak saya nonton bareng film Sang Pencerah. Lagi-lagi saya menolak ajakan dengan alasan akan pulang ke rumah orang tua. Deppy masih menawarkan untuk berjumpa di hari minggu, saya balas akan berada di rumah setidaknya hingga senin pagi. Pertanyaan kembali diajukan Deppy, mengenai kesanggupan saya untuk nonton bareng. Takut tak bisa memenuhi janji, mengingat hari senin saya telah memiliki janji dengan Katri dan Mila, saya sampaikan terus terang mengenai ketidakberanian saya untuk membuat janji dengan Deppy.

Sekedar informasi, citra saya sebagai seseorang yang memenuhi janji cukup buruk. Tak jarang saya membatalkan janji dengan tiba-tiba. Tak mau memperburuk citra tersebut, kini saya cenderung hati-hati jika akan membuat janji bersama teman.

Untuk kasus Deppy, akhirnya disepakati, kami tidak jadi bertemu dalam waktu dekat.

Jam 9 lewat saya sampai di rumah. Kebetulan tadi di jalan saya mampir untuk membeli martabak telor. Di rumah saya, ibu, ayah dan adik menikmati martabak telor yang masih panas sambil berbincang. Malam semakin merayap, akhirnya kami mulai memisahkan diri. Saya dan adik akhirnya nonton tivi di lantai dua.

Merasa besok akan memiliki waktu cukup longgar, saya memutuskan untuk menelpon teman SMA yang jarak rumahnya tak terlalu jauh dengan rumah saya, Sri Maryati dan biasa disapa dengan Iyan. Setelah Idul Fitri ini kami belum bertemu, hitung-hitung sekalian silaturahmi. Ternyata Iyan besok masuk kerja seharian, akhirnya kami sepakat untuk bertemu hari minggu saja sekitar jam 2 siang, setelah Iyan pulang kerja.

Merasa bosa dengan program televisi yang ada, saya melihat-lihat koleksi buku. Aha..saya menemukan buku tentang Ahmad Wahib yang di cari Rosmiyati Dewi Kandi beberapa waktu lalu. Katanya sebagai bahan referensi karena Kandi berencana menulis sebuah buku. Dengan bersemangat saya mengirimkan pesan, jika mau dia boleh meminjam buku tentang Ahmad Wahib ini. Meski tidak sama persis dengan buku yang dicari sebelumnya, namun lumayanlah masih ada hubungannya dengan si Ahmad Wahib, pikir saya.

Benar dugaan saya, Kandi tak kalah antusias menyambut tawaran peminjaman buku ini. Kami akhirnya malah berbalas sms seru, sampai akhirnya Kandi mengajak saya untuk hiking. Sebagai penggemar jalan-jalan, saya tanggapi ajakan Kandi. Saya katakana padanya, status saya adalah siap menunggu invitation darinya. Tak dinyana, ternyata dia malah menyebut besok.

Bimbang. Tawaran menggiurkan, namun mengapa harus mendadak? Saya menyesalkan ajakan mendadak tersebut.

Namun ternyata jiwa spontanitas lebih mendominasi. Saya terima tantangan hiking besok bersama orang-orang yang tidak saya kenal, kecuali Kandi. Sekedar pemberitahuan, saat ini adalah jam 11 lewat.

Akhirnya terpikir strategi esok hari, agar saya bisa meminimalisir jam keterlambatan yang besar kemungkinan akan terjadi. Mengingat rute yang harus saya tempuh adalah Bekasi-Kedoya-Cawang. Saya harus tiba setidaknya jam 08.30 di Cawang. Cadas.

*****

Saya harus kembali dulu ke Kedoya untuk mengambil baju dan ‘alat perang’ semacam handuk bepergian, celana non jeans, serta printilan lainnya.

Syukur Alhamdulillah, saya bisa tiba di Cawang, lokasi pertemuan saya dan Kandi jam 8. Lebih cepat dari perkiraan. Sebelum sampai di Cawang, saya sempat mengupdate status facebook,

Tiba-tiba hiking, cihuy!!

Sepertinya Katri membaca status tersebut, karena ada sms masuk yang isinya keinginannya untuk ikut dalam hiking ini. Mengingat saya sudah dalam perjalanan, jadi cukup sulit untuk mengikutsertakan Katri. Ada sedikit protes darinya, mengingat sebelumnya saya menolak ajakannya dengan alasan akan pulang ke Bekasi. Saya minta maaf, dan mengatakan ajakan hiking ini juga datangnya tiba-tiba tanpa perencanaan. Sejujurnya semalam saya sempat terpikir untuk untuk mengajak Katri, namun saya ingat sempat membaca status di twitter, sepertinya Katri dan Ihsan akan rafting. Ya sudah.

Akhirnya saya hiking bersama Kandi dan 13 orang lainnya. Bisa dikatakan saya nyaris tidak mengenal ke-13 orang yang semuanya laki-laki ini. Beberapa orang mememang alumni IISIP, tapi jangan Tanya yang mana saja orangnya. Saya tak tahu persis.

Petualangan kali ini sungguh seru dan melelahkan, apalagi bagi saya sangat amatir. Tak heran jika saya adalah orang yang paling menghambat dengan keluhan capek dan lambatnya berjalan. Untung mereka semua baik serta toleran terhadap si amatir bernama Endang Prihatin ini.
****
Hari minggu saya baru mendapatkan signal ponsel. Mati-matian saya berusaha menelpon Iyan, mengingat saya memiliki janji untuk bertemu dengannya. Saya harus kembali menjadi orang yang ingkar janji, dan kali ini Iyan korbannya. Sekitar jam 11 siang saya baru berhasil menghubungi Iyan dan mengabarkan posisi saya yang tidak memungkinkan untuk menemuinya jam 2 siang nanti. Meski kaget karena tiba-tiba saya ada di Bogor, Iyan memahami. Thanks God, saya selamat dari amukan.

Perjalanan pulang kembali dilanjutkan. Saya langsung menuju Kedoya.

Sampai di Citraland, saya kembali membuka facebook dengan ponsel. Ada Deppy yang mengomentari status. Isinya kekecewaannya terhadap saya. Diajak meononton saya menolak dengan dalih akan ke Bekasi, tapi diajak hiking langsung mau. Alamak, saya khilaf lagi. Kali ini ada seorang lagi yang saya kecewakan. Maaf ya, sungguh ini diluar perencanaan. Jiwa spontanitas terkadang muncul tanpa di duga.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk di dedikasikan pada Katri Prameswari yang telah saya tolak ajakannya. Juga untuk Sri Maryati karena saya telah membatalkan janji bahkan hanya 3 jam sebelum waktu yang disepakati. Terpenting untuk Deppy Marlinda yang telah saya kecewakan sangat karena menolak ajakannya untuk menonton film Sang Pencerah yang durasinya pun tak sampai dua jam namun malah menerima tawaran hiking dua hari satu malam.

Saya juga mengucapkan terimakasih pada Rosmiyati Dewi Kandi yang telah nekad mengajak saya untuk hiking. Semoga dia tidak menyesal telah menyertakan saya dalam perjalanan ini. Juga terimakasih tak hingga pada ke-13 kawan baru yang begitu baik memahami dan mengerti saya. Adios!!!

Minggu, 27 Juni 2010

Juni Berakhir..


gambar diunduh dari www.juni.ca/
Juni sebentar lagi berlalu, melintasi putaran waktu. tak banyak yang terjadi di bulan ini, kecuali perjalanan gila ke Ujungkulon tanggal 23 Juni lalu. saya katakan 'gila' karena sungguh tak sebanding dengan usaha menuju lokasi.

ya, saya hanya berada 6 jam di tempat 'sulur-sulur surga' itu, sedang total perjalanan yang harus ditempuh adalah 16 jam, edan. yah, namanya juga perjalanan gratis dan nebeng, gak boleh banyak protes apalagi tuntutan. paling tidak, saya pernah menjejakkan kaki di tempat maha indah itu.

saya sempat tumbang di pertengahan bulan. sakit yang tak parah, namun menggagalkan semua rencana indah. gara-gara sakit, saya melewatkan kesempatan ke Carita bersama para ibu-ibu seru CHS dan tentu saja tim Healthy Life. sempat tak terima dan kecewa berat, melewatkan kesempatan menyambangi pantai. tapi hidup selalu begitu bukan? tak semua asa bisa terealisasi, dan saya sebagai manusia harus nerimo.

sakit yang berdurasi satu minggu, praktis menjadikan saya tahanan kota (kali ini saya mengaku lebay). selama seminggu, trayek yang ditempuh sepatu kanvas merah saya hanya kontrakan-kantor. tak ada tuh, menyelinap barang sebentar ke Mall Puri untuk nonton atau sekedar makan sambil mendengarkan alunan musik di Foodcourt yang cozy itu.

namun akhirnya, tak gaul selama seminggu dibalas dengan kesumat tingkat tinggi. tak tanggung-tanggung, selama tiga hari berturut-turut saya menyambangi XXI. urutan film yang ditonton, hapal di luar kepala. Karate Kid, Letters to Juliet, The A Team.

Karate Kid
remake film legendaris yang sempat booming tahun 1987 (bener gak ya tahunnya?). film ini habis-habisan menampilkan Jayden Smith yang berperan sebagai Dre Parker. kalimat yang perlu di stabilo adalah saat Mr Han (Jackie Chan) menyemangati Dre dengan kalimat sakti,
"Hidup boleh saja mengalahkanmu, namun kamu boleh memilih untuk bangkit kembali atau tidak"

jalan cerita film ini lumayan touchy, namun kok ada yang menggelitik. film ini lebih pantas diberi judul Kungfu Kid, karena jenis ilmu silat yang diumbar ya kungfu bukannya karate. bukan..saya bukanlah orang yang expert dalam dunia silat. hanya berdasarkan pembicaraan mereka yang mengupas kungfu bukannya karate.

yah, saya juga menyukai wardrobe si Dre. bagus dan enak dilihat, meski saya adalah tipikal orang yang tak tahu mode. entah mengapa, semua yang dikenakan Jayden Smith dalam film ini terasa pas.

Letters to Juliet

film ini asli romantis. bersetting kota Verona, mengajak saya untuk terbuai dalam atmosfer roman mellow. dimainkan oleh Amanda Seyfried (yang kondang lewat Mammamia) berperan sebagai Sophie.

Sophie adalah warga NY yang berprofesi sebagai checker atau pemeriksa fakta di New York Times. berani sumpah, baru kali ini saya menonton film yang menyajikan profesi tokohnya adalah checker, sebuah profesi yang saya baru tahu keberadannya juga karena berkenalan dengan Andreas Harsono dkk.

bersama kekasih, Sophie terbang ke Verona untuk mencari bahan makanan terlezat yang kemudian akan dijadikan suplier untuk restoran yang dimiliki sang kekasih.

merasa tak nyambung dengan dunia sang pacar, akhirnya Sophie mencari kesibukan sendiri. kisah terus mengalir sampai Sophie harus berpetualang bersama seorang nenek dan cucunya mencari Lorenzo.

ending dapat ditebak. akhir bahagia layaknya dongeng. film ini mengajarkan kita untuk berani melakukan aksi demi cinta.

pf..ff..apa iya, semua perjuangan untuk cinta selalu bahagia?

The A Team
film yang seru dan berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. bercerita mengenai kekompakan tim gila nan asal tapi selalu beruntung. banyak hal yang tak masuk akal dalam film ini.

misalnya saja tentang rencana gila menerbangkan pesawat yang diawaki oleh orang sakit jiwa. banyak manuver-manuver seru menghibur.

namanya juga film komedi. bagi saya, ketakmasukakalan cerita selalu dimaafkan dalam ranah komedi. apalagi, jalan cerita film ini masih sangat-sangat terkonsep dengan cerdas dan bertanggungjawab.

yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan adalah kunjungan ke kediaman Daoed Joesoef, sang menteri pendidikan era Soeharto. bapak tua ini mirip dengan pak uwo saya. memandangnya, mengingatkan saya pada kakek tegas namun penyayang yang telah wafat sejak saya duduk di kelas 3 SD.

dirumahnya, saya mendengarkan kuliah singkat mengenai kepemimpinan. caranya mengajar membosankan, saya sampai mencoba beberapa gaya duduk untuk menghalau kantuk. setelah satu jam berlalu, sesi tanya jawab dibuka.

Thanks God, untuk adanya sesi ini.

sesi tanya jawab berlangsung seru. terungkaplah alasan-alasan Daoed dulu sering mengambil keputusan ekstrim saat masih menjabat sebagai menteri. dialah sosok yang melarang adanya libur sekolah di bulan ramadhan. dia pulalah tokoh yang membredel media kampus dan memperkenalkan Normalisasi Kegiatan Kampus atau NKK. wah, pasti pak tua ini dibenci sangat oleh aktivis pada jamannya.

disela-sela tanya jawab, bahkan Daoed Joesoef berani membuka aib Buya Hamka yang terkenal shalih. entahlah, benar atau tidak, yang pasti saya sudah tidak bisa melakukan konfirmasi kebenaran pada Buya bukan?

hm..ternyata banyak hal menarik yang saya lalui. semoga Juni menjadi semakin manis untuk dikenang dalam hati.

Ups, hampir lupa, 21 Juni si batu akhirnya juga mendapat pekerjaan. pekerjaan yang masih terasa tak masuk akal, saking menyenangkannya. selamat ya, semoga kamu menikmati, meski waktu kerjanya menggila.

sampai jumpa Juni, semoga kita masih bisa bersua tahun depan. Adios!!!

Selasa, 02 Februari 2010

sandal jepit lepas landas


Sedang ingin berbicara tentang resiko. Setiap tindakan pasti mengandung resiko, baik itu resiko menyenangkan atau malah resiko menyebalkan.

Seperti yang sedang dijalani sandal jepit. Dia merelakan dirinya terjatuh dalam cinta, dalam dan menyanyat. Awalnya, dia hanya mencoba-coba belaka. Mencoba membuka hati pada batu yang selalu membuatnya tertawa. Mencoba menjalin cerita, setelah bertahun-tahun dia takut mencoba.

Beberapa waktu berselang, sandal jepit merasa senang. Bahagia. Dunianya seketika memiliki koleksi warna. Tidak hanya 24 macam, seperti koleksi spidol yang dimilikinya. Semburat diharinya pun langsung bermetamorfosa, tegas dan ceria.

Sampai satu masa datang membayangi. Ternyata, tak selamanya cinta menjanjikan suka ria semata. Cinta juga mengajak resiko. Sandal jepit sadar, sewaktu-waktu dirinya bisa saja terluka. Setidaknya ia tidak pernah menyesal, menjalani sepotong cerita dengan sapuan kuas cerita yang tak biasa.

Saat ini, sandal jepit akan terus melangkah. Menapaki setiap jalan yang akan mengajaknya ketempat-tempat tersempurna. Dalam setiap langkah, akan digoreskannya jejak-jejak perjalanan jiwa. Mungkin nanti akan ditemuinya jalan setapak yang lembut. Tak jarang juga membentang lautan luas, atau malah gemericik air di sungai jernih.

Saat ini, ada sebongkah batu yang mendampinginya. Mungkin besok malah sepatu kanvas. Bukan tak mungkin juga tas ransel. Semua begitu bebas menjelma, tanpa kategorisasi. Berpetualang, melanglanglang buana, sampai ditemukannya batas cakrawala.