Minggu, 03 Mei 2009

krisis eksistensi? ya saya!!!

menjadi pusat perhatian dengan selalu berusaha untuk diperhatikan. mungkin tidak banyak yang menyadari, kita, yang terdiri dari saya, kamu, dan kamu kamu yang lain, selalu menyukai adanya perhatian. semalu-malunya seorang pemalu, tentu akan merasa senang dengan perhatian yang menghampiri. agak berbeda mungkin dengan yang selalu dibanjiri perhatian akibat anugrah wajah rupawan. maaf, saya belum pernah merasa rupawan, jadi tidak tahu rasanya mendapat perhatian tanpa diminta, tanpa pandang waktu, tempat, apalagu bulu.

ya, perhatian kan bisa beragam bentuknya. tapi bisa saya pastikan, tentu semua berharap, akibat perhatian ini yang berkonotasi positif. diperhatikan karena bakat misalnya. atau juga mengundang perhatian karena kemampuan atau pencapaian terhadap sesuatu.

lalu, bagaimana jika perhatian yang datang justru agak-agak menyakitkan. selera berbusana yang aduhai katro misalnya, tentu akan menjadikan sebuah perhatian dalam bentuk cibiran.

pada dasarnya, sejak kecil saya suka jika diperhatikan. ada-ada saja ulah saya agar mendapat perhatian. mulai dari malas mandi, alhasil mulai dari ibu, kakek, nenek, bude sampai tetangga turun tangan membujuk saya untuk mau mandi. yang ini, sumpah jangan ditiru, ternyata saya telah mengalami kejorokan sejak dini!!!

saya juga sangat-sangat membenci terong waktu kecil. jika ibu memasak, entah mendapat ide dari mana, saya mendramatisir situasi. pergi sambil mengucek mata dan menangis ke rumah bude. berkeluh kesah akan bunda yang tak kunjung mengerti akan bencinya saja pada sayuran itu. bude pun menaruh iba pada anak kecil nan culas itu, memberinya makan dan berjanji akan menegur ibu, agar tidak lagi mengusahakan keberadaan si terong malang yang tak tau mengapa saya membencinya amat sangat. entah terkena karma atau apa, kini saat beranjak dewasa, saya malah amat menggemari terong, bahkan diolah dengan cara dan bumbu apapun saya pasti santap. terkadang ibu masih menyindir. ulah aneh yang agak ganjil memang. ibu masih kesal saja jika ingat kejadian belasan tahun silam itu. wajar saja, biasanya setelah insiden itu, ibu langsung di ultimatum, ditegur dengan keras dan entah apalagi. semua hanya gara-gara saya tidak menyukai terong ditambah cara saya menarik perhatian para orang dewasa itu dengan canggih dan yahuddd.

sewaktu kelas 5SD, saya juga pernah mencoba menarik perhatian ibu dengan berpura-pura sakit perut. bukan..bukan karena ibu kurang perhatian. namun agar ibu mau membuatkan surat izin agar tidaksekolah. mungkin saya sampai mempraktekkan gaya suakit alang kepalang dan berhasil. sebenarnya waktu itu, sengaja saya melakukan penipuan kecil itu agar bisa menyaksikan film 'Tomy and The Ghost' yang entah siapa pemainnya, namun jalan ceritanya masih samar-samar teringat di lipatan otak ini.

saat SMP, saya sempat mengumpulkan atribut berwarna merah. padahal, merah bukanlah warna kesukaan saya. hal ini saya lakukan, setelah membaca buku psikologi mengenai efek warna. yah, buku tersebut menuliskan warna merah paling berpotensi untuk menarik perhatian.

di bangku SMU, saya mulai senang membaca buku-buku politik, sesekali juga Kahlil Gibran. Yang paling teringat-ingat adalah saat saya begitu menginginkan buku 'Osama Versus Amerika' yang diterbitkan ditengah euforia black september. waktu itu, saya hanya memiliki uang 10 ribu perak, sedangkan harga bukunya Rp.21.000,- akhirnya saya mengedarkan topi di kelas untuk meminta tambahan dana, ternyata cara ini tak berhasil. akhirnya saya mendatangi beberapa teman potensial sebagai penyumbang dana, menyampaikan proposal permohonan lewat kata-kata. saya menawari mereka puisi bagi sang pacar jika mau membantu saya mendapatkan buku impian. cara ini berhasil telak. hutang itu masih saya bayar sampais ekarang. beberapa teman, masih menagih puisi, apalagi jika akan ulang tahun. saya berhasil lagi emnarik perhatian mereka.

di bangku kuliah, ada yang menyebut saya dengan eksistensialisme. kalau tidak salah, artinya menjadikan diri sebagai pusat dunia. entahlah, itu benar atau tidak. namun yang pasti, saya selalu menggunakan cara pandang 'saya' jika akan mengambil keputusan.

kini, saya tetaplah seperti endang kecil yang selalu ingin diperhatikan. jika bisa mendominasi diantara kawan-kawan. namun semoga saja, krisis eksistensi saya tidak kebablasan. semoga saja saya masih eling untuk tidak melanggar batas. yah, berkat seorang kawan, kini saya belajar untuk tidak berpikir satu sisi. saya juga mengusahakan berada di posisi si A, si B, atau si C. jika ini terlaksana dengan benar, mungkin 10 tahun lagi, saya bisa menjadi orang bijak. jika tidak berhasil, yah, saya tetaplah seorang perempuan yang menginginkan perhatian sebagai individu tentunya. senagaja saya tulis individu agar anda yang membaca tak salah kaprah. yah, saya paling malas dinilai berdasarkan sex dan gender.

uhm, terkadang saya juga rendah diri kok. manusiawi kan??? apalgi jika dikelilingi oleh orang-orang hebat. orang-orang yang saya tahu pasti lebih dari saya. jadi, saya tetap membumi kan?

Senin, 27 April 2009

kebenaran hakiki tak pernah seragam!

kebenaran hakiki tak pernah terjadi, inilah yang saya yakini saat ini. segala sesuatu yang menurut kebanyakan orang benar, tidaklah bisa disimpulkan sebagai kebenaran yang sesungguhnya. kecuali pada ilmu pasti tentunya.

tak peduli seberapa besar dan banyaknya orang yang mengaggap sesuatu sebagai kebenaran. tetaplah saya seharusnya dapat lebih menghargai kaum minoritas yang berani menyuarakan mengenai pendapat tentang sesuatu. yah, banyak dan mayoritas bukanlah alat shahih untuk membenarkan namun terkadang kita salah menggunakannya. banyaknya jumlah terkadang menjadi senjata untuk mengumpulkan kebenaran pendapat dengan dukunan si A, Si B, si C, dan si...si... yang lain.

beberapa waktu lalu, ada kejadian menarik di kompleks rumah saya. terjadi tepat di hari minggu, hari dimana saya menjadikannya spesial karena di waktu inilah saya mencecap dengan rakus kasih bunda. tetangga saya yang menyambi menarik odong-odong (semacam delman yang dimodifikasi laiknya sepeda dan biasanya menjadi objek permainan anak-anak) di hari minggu tertangkap basah mencuri ponsel. ibu saya di kabari oleh abang becak karena istri si tersangka sedang tidak di rumah, jadi rumahnya sedang dalam keadaan kosong song.

ibu langsung panik bukan kepalang. memaksa-maksa saya untuk mengantarkannya ke lokasi kejadian dan menemui pamong wilayah di lokasi pencurian. jujur, saat itu saya langsung menghujat. hanya dalam hati memang, tapi tetap saja menghujat bukan?
batin saya tak habis pikir, untuk apa ibu saya segitunya membela orang yang sudah jelas-jelas mencuri itu. tak mau disebut tak berbakti saya mengantarkan ibu ke lokasi kejadian. dalam perjalanan ibu berkomat-kamit berdoa, harapnya si tetangga saya jangan sampai sudah di bawa ke polisi, takut terlanjur rumit urusannya.

sampai di lokasi, ternyata kekhawatiran ibu terjadi. tetangga saya sudah terlanjur di amankan di kantor polisi. kami akhirnya mengobrol dengan beberapa orang yang berada di lokasi kejadian. malah ada yang merekam wajah yang disangka mencuri itu. ibu langsung memastikan benar tidaknya dia tetangga kami, dan ternyata benar dia tetangga kami.

di sana, bersama orang-orang tak dikenal itu, ibu bercerita betapa tetangga kami itu sungguh patut diberi rasa iba dan kasihan. anaknya baru saja di rawat di rumah sakit dan hingga kini masih terlilit hutang akibat biaya perawatan yang tak murah tentu saja. untuk menambah penghasilan, makanya si tetangga ini menyambi dengan menarik odong-odong sedangkan senin sampai jum'at digunakannya untuk bekerja.

pandangan saya langsung berubah seketika. ternyata sosok yang sebelumnya saya hujat sebagai maling itu adalah seorang ayak dan kepala keluarga yang mencoba memenuhi tanggungjawabnya. mencoba bertindak adil pada si penghutang, mencoba menyelesaikan masalah lilitan hutang, meskipun yah..dengan 'caranya'.

cara yang menurut pandangan tatanan bermasyarakat salah, tapi benar menurut keluarganya, istri dan anaknya. juga ternyata benar menurut pandangan ibu. ibuku sekali lagi tampil menjadi pemenang dalam kompetisi manusia bijak versi rekaan saya.

saya malu pada ibu. yang meskipun bangku SMP pun tak tamat dapat berpikir lebih bijak. mungkin pengalaman hidup yang mengajarkannya. kita tidak bisa menilai baik atau tidaknya sesuatu atau seseorang hanya dari satu sisi, tidak hanya berdasarkan nilai moral dan budaya yang berlaku. kebali saya mengingat kalimat sakti, 'lihat lebih jauh baru nilai sendiri!'.

saya belajar banyak. tak mau gegabah. tak mau merasa paling benar, semoga yang ini benar-benar terealisasi tidak hanya sesumbar.

Selasa, 24 Maret 2009

harapan di awal pesta demokrasi

pelupuk mata ini tiba-tiba terasa menghangat, yah, ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak begitu saja tanpa permisi. bukannya saya baru mendapat kabar duka, bukan, sama sekali bukan.

tadi iseng-iseng saya membuka blog yang dapatnya pun entah dari mana, iseng membaca postingan demi postingan, sampai menemukan sebuah tulisan yang menghenyak. Yah, si empunya blog menuliskan tentang seorang bapak-bapak tua yang begitu semangat mengikuti kampanye. seorang diri, bukannya konvoi beramai-ramai dan memacetkan seluruh jalanan protokol. bapak tua ini, mendukung pesta demokrasi dengan sepenuh hati. mungkin di sanubarinya masih begitu tulus, berharap para calon pengurus pemerintahan dapat merealisasikan kebutuhan rakyat akan:
@pendidikan murah
@kesehatan murah
@harga bahan pangan yang terjangkau
@yang pada akhirnya berujung pada meningkatnya tingkat kesejahteraan rakyat

sungguh ironis, keberadaan bapak tua itu bagai oase di tengah keskeptisan masyarakat pada pemilu. bahkan, seorang teman yang kebetulan bertanggung jawab meng-handle program The Candidate pun tidak kalah skeptis. Kemarin saya mengajukan pertanyaan, "Jadi nanti milih partai apa nih? Lo kan lebih tahu dengan visi dan misi mereka."

"Udah, gak usah milih, mereka gak ada yang konsisten jawabannya," jawab si teman saya
"Kalo gitu, gue milih hati nurani deh," saya menanggapi asal
"maksud lo HANURA?" teman saya mempertegas
"bukan, milih sesuai hati nurani,"

sejujurnya sampai sekarang pun saya masih belum tahu akan menentukan pilihan pada partai yang mana. hati ini pun sudah mulai tertular virus skeptis tak bertepi. padahal, saya adalah orang yang selalu mengagung-agungkan rasa nasionalisme. bahkan, takjarang jika virus sombong sedang meninggi, tak bosan-bosannya mulut ini membanggakan skripsi yang menguak tentang psrameter rasa nasionalisme sebuah surat kabar terkemuka tanah air. kenyatannya, saya tidaklah sehebat itu. minggu lalu saya iseng mengetes adik yang masih duduk di kelas satu SMP untuk membacakan PANCASILA. hasilnya, adik saya lulus dengan nilai istimewa. iseng saya melafalkan dalam hati bunyi sila keramat ini.

Hua....nyatanya saya malah terbata, tersendat, dan ternyata saya tidak hafal PANCASILA!!!
inilah saya, yang selalu mengagungkan rasa cinta terhadap tanah air, ternyata PANCASILA saja tersendat-sendat. saya yang mengaku mencintai negara ini dengan sangat, bahkan tidak bisa menjawab ketika di tanya konsepsi INDONESIA itu apa?

saya, yang selalu berkoar, tidak ada alasan untuk tidak mencintai negeri ini, karena setiap saat kita menginjak tanahnya, menghirup udaranya, dan meminum airnya, ternyata hanya omong kosong tanpa bukti.
semoga, setelah ini saya tidak lagi seperti tong kosong nyaring bunyinya. saya akan lebih mencari tahu Indonesia. saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk sebuah nama bernama INDONESIA. tidak harus menjadi caleg dan tergabung dalam partai, cukup berusaha sebaik mungkin, mengisi kemerdekaan dengan hal positif, semoga pada akhirnya saya dapat memberikan manfaat untuk orang lain.
amien...

dan bagi bapak-bapak yang sedang dengan anggunnya duduk di kursi dewan yang terhormat, ingatlah peluh para simpatisan yang rela berpanas ria saat matahari pun menggandakan diri jadi sembilan. mereka begitu percaya dan penuh semangat mengobarkan semangat demokrasi demi negara yang lebih baik.
semoga, pesta demokrasi ini menjadi titik awal kemenangan kita akan negara yang lebih baik dari sebelumnya.
amin (lagi)

Senin, 02 Maret 2009

sepucuk euphoria kamar baru

baru dua malam saya menempati sepetak kamar baru. lebih kecil, lebih sederhana, namun siapa nyana, ternyata lebih menyenangkan dan memberikan ketenangan tanpa batas. kamar baruku, kunamakan saja greenbox. memakai pupur warna hijau lembut dengan langit-langit tinggi menjulang.
bentuknya kotak tak tak, saking kotaknya. warna pintu dan lis jendela lebih tua, namun tetap dalam gradasi hijau.

saya menempatkan sehelai kasur dipojokan, sejajar dengan bagian kepala ada kotak rakitan setinggi satu meter. disebelahnya ada kotak printer yang beralih fungsi menjadi meja rendah. barulah disebelahnya ada si induk kotak, lemari coklat dengan dua pintu. lemari ini bisa jadi menjadi ketua suku diantara kotak-kotak perabot yang mendominasi si greenbox. meskipun untuk ukuran lemari pada umumnya, lemari ini bisa jadi diperuntukkan untuk anak-anak.
tak mengapa tentunya, karena toh koleksi baju saya sama sekali tidak bisa dikatakan melimpah.

satu lagi kesadaran mencuat, ternyata saya telah memasukkan unsur minat dalam perabotan kamar. ya, saya yang lebih menyukai bentuk kotak, ketimbang oval apalagi buat. mungkin sebagai representasi sikap saya yang terkadang kaku, getas, tak bisa bengkok dan fleksibel.

saya, si manusia yang terkadang memiliki ambisi memuncak, namun tak disertai realisasi mengagumkan. alih-alih berjuang sekuat tenaga, implementasinya malah hanya berkoar, alhasil, sampai sekarang saya hanyalah menjadi budak, atas apa yang terjadi.

kembali lagi ke soal kamar baru, inginnya saya akan lebih produktif. mencipta maupun berkarya. lebih memiliki kebebasan merenung. tak lagi terbelenggu pada rasa kesal yang sukanya bersemayam dalam dada. tak lagi beralasan capek. ya, saya harus lebih produktif, karena kini saya sama sekali tak memiliki alasan untuk berleha-leha. diakan saya!!!!

Senin, 23 Februari 2009

antara hidup dan mimpi..

mm..apa jadinya ya jika hidup itu datar-datar saja?
tanpa lekukan, belokan, apalagi tanjakan. pasti rasanya akan hambar, seperti sayur tanpa garam. Dan saya pasti akan mati bosan. ternyata hidup jadi lebih berwarna dengan masalah yang selalu datang dan pergi. meski hanya masalah sepele, soal cita yang tak segera tercapai atau bahkan soal cinta yang tidak juga menepi di hati sang pujaan. namun karena semua inilah hidup jadi lebih up and down.
beberapa hari belakangan ini saya sering sekali mengalami semacam clash, ada-ada saja api penyulutnya. namun pada dasarnya lebih ke masalah persepsi saja. bagi saya yang cenderung slonong boy ini hal-hal remeh benar-benar menjadi hal remeh, namun tidak demikian rupanya dengan orang lain.
ya, saya harus berkaca, tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan ketidakmapanan saya. eh, bukan deng, saya yangs eharusnya menyesuaikan diri bertindak lebih teratur. ingat kata-kata Mario Teguh yang saya tonton semalam di 'Golden Ways~Mari Teguh', katanya "Kita tidak mungkin menjelek-jelekkan orang jelek, yang kita jelek-jelekkan ya pastilah orang bagus", kalimat yang luar biasa bijak, menyentil ego saya, yu...uk tetep.
kalimat ini berhasil mengingatkan saya, jika lidah rasanya sudah tidak tahan ingin bergunjing, gak rela rasanya jika orang yang saya benci menjadi orang baik hanya karena jika saya menjelek-jelakkan berarti saya sedang menjelekkan orang baik. Hua...ha...ha..
entah berapa lama lagi saya akan merindukan masa-masa seperti sekarang. mungkin satu tahun lagi, namun bisa jadi lima tahun lagi, atau jangan-jangan tidak akan pernah sama sekali..
ho..ho..ho..
soal pencapaian, kok rasanya saya masih jalan ditempat. untuk orang seusia seperempat abad ini, mengapa saya tak kunjung juga menciptakan setitik bangga ya?
mbok ya, tiba-tiba saya mendapat beasiswa untuk aplikasi yang tidak pernah dibuat (yg ini 100% ngarep!!!)

ada begitu banyak CITA-CITA yang menunggu, dan ingatlah kesabaran mereka ada batasnya, dan jika waktu itu sampai menghampiri, SEMUA TELAH TERLAMBAT!!! dan saat itu tiba, kesadaran akan mengenyakkan, yaitu perasaan bahwa mimpi yang kau punya merupakan harta berharga, dan kau telah menyia-nyiakan dengan percuma..

akh..semoga, saat itu tidak pernah tiba, mulai sekarang saya berjanji, tidaka kan lagi mengcuhkans etiap buah cita yang muncul, sesederhana apapun itu,
wahai mimpi, bersabarlah barang sejenak karena saya akan mengahmpirimu, meski tertatih..
jadi, tunggu aku ya...

Senin, 16 Februari 2009

sejuta alasan saya mencintai pekerjaan ini


hari ini tepat setahun saya bekerja di institusi ini. salah satu stasiun televisi yang sepertinya masih memiliki pamor cukup baik di mata masyarakat. namun, dalam tulisan ini, saya sama sekali tidak berniat mengungkit ataupun menelanjangi kinerja ataupun kualitas lembaga ini.

saya benar-benar hanya berniat menulis tentang apa yang saya rasakan. ternyata saya begitu mencintai pekerjaan ini. terlepas dari besarnya nama institusi yang menaunginya (seandainya ada pengaruh pun sedikit sekali).

saat ini saya menyambung hidup dengan menulis, yeah..menulis apa saja yang dibutuhkan demi kelangsungan dan lancarnya sebuah program yang menjadi tanggung jawab saya.

selama ini, saya berpikir betapa beratnya pekerjaan ini, bukannya saya tidak cinta dengan dunia tulis menulis, hanya saja, sebelumnya saya menjalani dengan suka rela tanpa ada tekanan atau keharusan.

kini, tiba-tiba muncul kesadaran yang menyeruak akan kenyataan betapa beruntungnya saya. ya, saya sangat beruntung. Saya tidak sempat merasakan pedihnya luntang-luntung tanpa kegiatan yang jelas sambil menunggu paggilan kerja. bukan..bukannya saya pintar tiada kepalang, namun semua semata karena saya beruntung, memiliki kesempatan dan waktu yang tepat untuk menyambut kesempatan yang datang. saya diterima bekerja meskipun hanya sebagai freelacer, gajinya jangan ditanya..

bukannya terlalu kecil ataupun terlalu besar, cukuplah untuk menopang kedua kaki ini agar dapat berdiri tegak sambil mendongak.

soal tanggungjawab, tanggung jawab saya sama persis dengan karyawan baik kontak maupun tetap. tak mengapa, justru saya seharusnya merasa bangga. saya yang masih bau kencur ini dianggap mampu memikul tanggung jawab sebesar para senior, hm..lumayan untuk modal pengalaman kerja bukan? berarti kemampuan saya patut dipertimbangkan (yang ini murni ge er)

lalu bergulir pada jam kerja, saya tipe orang yang membenci keteraturan dan membenci rutinitas bangun pagi. tempat ini mengakomodir kebutuhan spesial saya. dalam satu minggu, saya diharuskan bangun pagi selama tiga hari berturut-turut (untuk saat ini, semua tergantung program yang sedang saya tangani), pada awalnya saya menggerutu. namun, jika kepala ini sedang berpikir waras dan sok bijaksana, maka saya mengamini kesimpulan, beruntungnya saya yang tidak perlu bangun pagi di sepanjang hari, hanya tiga hari, dan saya masih membutuhkan kewajiban bangun pagi agar nantinya saya tidak tergagap alias kaget setengah mati jika pada suatu hari nanti saya memang diharuskan bangun pagi setiap hari. itung-itung berlatih sejak dini, karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa apalagi tahun depan. saya hanya bisa mengira atau menerka, soal realisasi, sepenuhnya ditangan gusti allah.

lalu kemana empat hari yang tersisa? saya menggunakan untuk bangun sesuka hati, malah terkadang baru masuk kantor setelah adzan zuhur berkumandang. oh baiknya kantor yang mau menolerir pekerjanya yang masih bingung dengan konsep aktualisasi diri ini.

sol kewajiban kuota jam kerja lain lagi, karena saya hanya freelancer, maka saya tidak terikat pada kewajiban minimal berada di kantor. meskipun kebanyakan rata-rata jam kerja saya diatas 10 jam, namun sungguh tidak jarang saya hanya berada di kantor kurang dari 7 jam.

ternyata ada begitu banyak alasan mengapa saya harus mencintai pekerjaan ini. uhm..setelah dipikir-pikir ternyata berkaiatan erat deng dengan institusi ini.

bukan berarti saya tidak memiliki keluh kesah. hanya saja, bukankah memangs elalu ada kekurangan dalam sebuah hal, dan sangat mudah sekali mencari cela. saya mengusahakan yang sebaliknya. meski jujur, ada banyak pertanyaan mengganjal yang berujung pada rasa kecewa. namun, dalam rumah ini, biarlah saya pampangkan rasa kekaguman saja. semoga ini bisa menjadi wujud syukur, meski hanya sebatas ujung jari, semoga besok bisa meresap sampai kehati.

ya, mulai saat ini saya akan berusaha menjadi orang yang lebih baik. masih terdengar absurb, tapi saya akan memperjelasnya. saya akan meminimalisir sikap plin plan, mengurangi sikap spontanitas (untuk yang ini, tadinya saya pikir cukup seru tapi kemudian mendapatkan akibat yang kurang menyenagkan, kesimpulannya tidak semua orang bisa fleksibel, ya iyalah, masa undang-undang mau melar kesana-kemari?), yang terakhir sepertinya cukup berat, saya akan lebih berusaha keras untuk belajar berkata tidak. bukan 'katakan TIDAK pada narkoba' tapi belajar berkata tidak saat seseorang meminta sesuatu dari saya dan sebenarnya saya enggan memenuhinya, tapi yang terjadi mulut ini malah berkata YA.

terlalu panjang keluh kesah ini, semoga tidak membuat eneg orang yang membacanya, ya kamu..

Rabu, 21 Januari 2009

Perjalanan ke Pasar Traditional China

setiap manusia menjalani legenda pribadi masing-masing. Itu yang selalu saya percaya. Mengingatkan saya, pada beberapa waktu lalu saat sedang diramal di sebuah Klenteng di kawasan Glodok. Bersama mas Sherwin, saya diajak memasuki lorong unik yg sebelumnya sama sekali tidak terlintas dalam benak.
Ternyata negeri ini juga memberikan sedikit celah bagi kaum Tionghoa. kedatangan saya yang menjelang imlek, menjadikan kawasan pecinan itu lebih berwarna semarak. sebenarnya kedatangan saya adalah untuk survei lokasi program healthy Life spesial imlek.
Kembali ke persoalan ramal meramal. Konon, klenteng tersebut dipercaya sebagai peramal dengan tingkat kebenaran dapat ponten jitu. Nama dewa yang bersemayam adalah Siddharta gautama.
"Oh, klo dewa yang itu sih saya sudah akrab sejak jaman sekolah", begitu guman saya. Tentu saja tidak ada orang yang tidak mengenal ssosok lelaki yang lebih memilih menjalani kehidupan laksana ksatria ketimbang menyentuh kenikmatan duniawi seperti sang Budha bukan?
Saya mencoba peruntungan dengan melakukan permohonan, dan jawaban dari permohonan itu adalah:
Utara, Selatan, Timur dan barat tidak dapat diduga. Masalah masa depan boleh merasa gembira. Menasehati anda jangan merasa risau. Keluarga akan bahagia dan selamat.

Meski tidak jelas benar akan maksudnya, sepertinya hasil ramalan saya cukup bagus.
pada dasarnya saya bukanlah orang yang maniak pada tetek bengek soal ramal, hanya sebagai sebuah kegiatan kesenangan saja. Jika hasilnya bagus, maka akan menjadi sebuah sugesti sedang jika sebaliknya maka akan segera dilupakan.
Kembali ke kawasan glodok. Disana berjejer para shinse yang sepertinya telah memiliki aroma harum tersendiri bagi yang percaya. hal ini terlihat dari antrian pasien yang tidak bisa dikatakan sedikit. bahkan saat kami mengkonfirmasi mengenai kesediaan diwawancara, mereka sama sekali tidak menggubris. Sebuah perilaku yang jarang kami dapatkan, sebagai orang yang bekerja di media. Yah, bukannya saya berbangga hati dengan titel media tempat saya bernaung. Hanya saja, negeri ini masihlah menganggap orang yang bekerja di emdia (terutama yg ternama) masihlah menjadi sebuah prestise tersendiri.
Namun siang itu begitu berbeda. kesibukan luar biasa akibat pasien yang mengular membuat kami juga diterlantarkan. Kami ditolak mentah-mentah. idak ada rasa sakit hati sedikitpun, justru kekaguman yang memancar dari muara hati. Mereka benar-benar tidak tertarik nilai gelimang duniawi bernama publikasi.
Akhirnya kami mencari toko lainnya. sampai ada sebuah toko yang terlihat lebih lengang. ada bapak tua yang sibuk menimbang ramuan. warnanya sungguh tidak bisa dikatakan indah. bagaimana tidak? ramuan itu hanya terdiri dari daun, batang pohon iris atau malah akar yang telah dikeringkan hingga kisut.
ternyata tumbuhan itu tidak ada yg tumbuh di tanah air ini. Semuanya di datangkan dari China. Sebuah tempat yang sempat di kuasai oleh Jenghis Khan pada masa 1200-an.

sampai detik ini, pengalaman itu masih begitu kuat melkat dalam benak. sepotong pemandangan pasar China traditional yang ternyata ada di Indonesia. Hanya di Glodok saja.
Oh, negeri ini begitu terbuka pada segala macam budaya. ibu pertiwi ini begitu murah hatinya pada pendatang yang mau bekerja keras untuk menemukan nasibnya.

Bagaimana dengan nasib saya? Tentu sama sekali tidak tergantung pada ramalan. semuanya, sepenuhnya tergantung pada usaha saya, untuk menggapa mimpi, mencipta takdir, dan emnaklukkan dunia.