pagi yang penuh kejutan. ya, hari ini program reguler kecintaan saya, 'Healthy Life" tidak tayang. ada Breaking News mengenai jatuhnya pesawat Hercules di Madiun. Yuhu, rasa hati ini seperti rujak. manis, asem, asin, pedas. senang-senang gimana.
stasiun televisi tempat saya bernaung kali ini memiliki komitment kuat dalam hal penyampaian berita. asalkan peristiwa ini dianggap cukup penting, tak pandang program lain harus mengalah lah lah kalah.
ya, meskipun program yang ditimpa ini telah menjadi slot klien. yak pandang bulu bung, berita tetap yang utama.
canggih ya. kami menolak uang, demi sampainya berita di masyarakat. kasihan klien sih, sudah jauh-jauh datang, bahkan pasiennya datang dari Cianjur. apa mau dikata, komitmen harus terlaksana bukan?
Edwin sih tetap melanjutkan kegiatan santunan memberikan kru sarapan pagi. kami, sebagai pihak internal sih senang-senang saja. tak merasa rugi.
uhm, mungkin AE-nya yang panik plus bingung. dan host tentunya yang dibayar setiap episode yang airing.
yah, hidup terkadang harus berbenturan dengan komitmen. entah merugikan atau menguntungkan, sebaiknya komitmen tetaplah harus dijaga. lalu, bagaimana jika komitmen ini bersinggungan dengan hajat hidup pihak lain? semua tergantung, ya tergantung persepsi, benar atau salahnya.
Selasa, 19 Mei 2009
ow..pusing!!
pasti pernah ada dalam posisi membicarakan orang. yah..sebuah kegiatan yang aduhai menyenangkan. mudah memang mengorek aib seseorang. terlebih, jika kita kadung tidak suka terhadap seseorang, apapun yang dilakukan pasti ada saja cacatnya.
sekarang dibalik, bagaimana jika kita atau gantilah saya menjadi orang yang sedang dibicarakan. kita sudah sama-sama tahu, arti kata dibicarakan disini tentu dalam konotasi negatif.
percayalah, sunggu8h tak enak rasanya. tak nyaman sekali. terlebih, saya adalah tipe orang yang selalu memikirkan dan terkadang emosi pun ikut terlibat.
ya, saat ini saya sedang dalam posisi itu. seorang rekan kerja menggunjingkan, katanya saya akhir-akhir ini sering terlambat memenuhi tenggat waktu. lucu. yang membicarakan saya ini sama sekali tek berhubungan langsung dengan hasil kerja saya. lebih lucunya lagi, dia mengalamatkan keterlambatan tenggang ini tanpa melihat kapan waktu ideals eharusnya saya memenuhi deadline. lagi-lagi lucu, tuduhannya salah total.
hm..agak membingungkan ya?
begini, saya bertanggung jawab untuk memenuhi tenggat waktu pada host bukan pada narasumber. yeah, terkadang 'sebaiknya' saya juga mengirimkan script pada narasumber, namun batasannya adalah agar mereka tidak merasa kagok dan tahu sejauh mana materi yang akan dibahas dalam program. jadi ini hanya semacam tugas tambahan, bukan kewajiban.
tiba-tiba ada selentingan, akhir-akhir ini saya 'menjadi' sering terlambat memberikan script untuk narasumber. bahkan ada embel-embel, keterlambatan saya ini akibat terlalu bergaul akrab dengan si anu yang memiliki citra tak sempurna di kantor.
duh, kasihan sekali si anu ya..
kasihan juga saya, mungkin jika saya tidak bergaul akrab dengan si anu, tuduhan atau selentingan ini tak perlu muncul.
saya mencoba cuek, tak peduli. toh mereka salah alamat. tapi kok sulit ya?
ah, tiba-tiba teringat pepatah, "biarkanlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu"
tapi, rekan kerja saya kan bukan anjing, dan saya bukanlah kafilah..
ya sudah, namanya juga pepatah, mungkin tinggal jawab saja, "ya iyalah, kan kafilahnya budek"
sekarang dibalik, bagaimana jika kita atau gantilah saya menjadi orang yang sedang dibicarakan. kita sudah sama-sama tahu, arti kata dibicarakan disini tentu dalam konotasi negatif.
percayalah, sunggu8h tak enak rasanya. tak nyaman sekali. terlebih, saya adalah tipe orang yang selalu memikirkan dan terkadang emosi pun ikut terlibat.
ya, saat ini saya sedang dalam posisi itu. seorang rekan kerja menggunjingkan, katanya saya akhir-akhir ini sering terlambat memenuhi tenggat waktu. lucu. yang membicarakan saya ini sama sekali tek berhubungan langsung dengan hasil kerja saya. lebih lucunya lagi, dia mengalamatkan keterlambatan tenggang ini tanpa melihat kapan waktu ideals eharusnya saya memenuhi deadline. lagi-lagi lucu, tuduhannya salah total.
hm..agak membingungkan ya?
begini, saya bertanggung jawab untuk memenuhi tenggat waktu pada host bukan pada narasumber. yeah, terkadang 'sebaiknya' saya juga mengirimkan script pada narasumber, namun batasannya adalah agar mereka tidak merasa kagok dan tahu sejauh mana materi yang akan dibahas dalam program. jadi ini hanya semacam tugas tambahan, bukan kewajiban.
tiba-tiba ada selentingan, akhir-akhir ini saya 'menjadi' sering terlambat memberikan script untuk narasumber. bahkan ada embel-embel, keterlambatan saya ini akibat terlalu bergaul akrab dengan si anu yang memiliki citra tak sempurna di kantor.
duh, kasihan sekali si anu ya..
kasihan juga saya, mungkin jika saya tidak bergaul akrab dengan si anu, tuduhan atau selentingan ini tak perlu muncul.
saya mencoba cuek, tak peduli. toh mereka salah alamat. tapi kok sulit ya?
ah, tiba-tiba teringat pepatah, "biarkanlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu"
tapi, rekan kerja saya kan bukan anjing, dan saya bukanlah kafilah..
ya sudah, namanya juga pepatah, mungkin tinggal jawab saja, "ya iyalah, kan kafilahnya budek"
Senin, 18 Mei 2009
Boediono
saya yang biasanya masa bodoh dengan iklim politik kini menyatakan cinta mati pada Boediono. sebenarnya saya tidaklah terlalu mengenal sosok laki-laki jawa yang terkenal pelit bicara ini. sosoknya baru menempel di otak saat SBY menggantikan kedudukan ical sebagai menteri perekonomian. entah kenapa, senyumnya yg sepertinya tulus langsung memudarkan pandangan remeh dan kecewa saya pada beberapa pejabat.
setelah ditelusuri lebih jauh, Boediono ternyata memanglah seseorang yang terkenal dengan citra alim dan santun.
sedih juga, melihat idola saya ini mendapat sansungan dengan julukan neoliberalis. belum lagi statement Gus Dur yang menyebut-nyebut nya dengan julukan agen IMF. duh Gusti, masih saja toh suka mengeluarkan kalimat lugas tanpa tedeng aling-aling dan bukti. heran saya, kok ya masih ada yang mempercayainya. masih ada saja media yang memutar rekaman kalimat tak penting itu berulang-ulang.
huh, tak objektif mungkin melihat kondisi saya yg memang sedang mabuk kepayang dengan cawapres dari SBY ini.
paling tidak, mengutip dari Tempo, ironis sekali dengan tuduhan antek asing sedangkan Boediono-lah yg menjauhkan bangsa ini dari jeratan IMF. bisa saja ini strategi, jika Bapak murah senyum ini benar-benar seorang suruhan IMF. masa bodoh, saya kadung cinta. paling tidak, jaman Megawati, Boediono mampu menekan inflasi dari 13 persen menjadi 5 persen.
So, nikmat mana lagi yang kamu ragukan..
maju terus pak, saya akan membujuk kawan-kawan untuk memilihmu..
setelah ditelusuri lebih jauh, Boediono ternyata memanglah seseorang yang terkenal dengan citra alim dan santun.
sedih juga, melihat idola saya ini mendapat sansungan dengan julukan neoliberalis. belum lagi statement Gus Dur yang menyebut-nyebut nya dengan julukan agen IMF. duh Gusti, masih saja toh suka mengeluarkan kalimat lugas tanpa tedeng aling-aling dan bukti. heran saya, kok ya masih ada yang mempercayainya. masih ada saja media yang memutar rekaman kalimat tak penting itu berulang-ulang.
huh, tak objektif mungkin melihat kondisi saya yg memang sedang mabuk kepayang dengan cawapres dari SBY ini.
paling tidak, mengutip dari Tempo, ironis sekali dengan tuduhan antek asing sedangkan Boediono-lah yg menjauhkan bangsa ini dari jeratan IMF. bisa saja ini strategi, jika Bapak murah senyum ini benar-benar seorang suruhan IMF. masa bodoh, saya kadung cinta. paling tidak, jaman Megawati, Boediono mampu menekan inflasi dari 13 persen menjadi 5 persen.
So, nikmat mana lagi yang kamu ragukan..
maju terus pak, saya akan membujuk kawan-kawan untuk memilihmu..
Minggu, 03 Mei 2009
krisis eksistensi? ya saya!!!
menjadi pusat perhatian dengan selalu berusaha untuk diperhatikan. mungkin tidak banyak yang menyadari, kita, yang terdiri dari saya, kamu, dan kamu kamu yang lain, selalu menyukai adanya perhatian. semalu-malunya seorang pemalu, tentu akan merasa senang dengan perhatian yang menghampiri. agak berbeda mungkin dengan yang selalu dibanjiri perhatian akibat anugrah wajah rupawan. maaf, saya belum pernah merasa rupawan, jadi tidak tahu rasanya mendapat perhatian tanpa diminta, tanpa pandang waktu, tempat, apalagu bulu.
ya, perhatian kan bisa beragam bentuknya. tapi bisa saya pastikan, tentu semua berharap, akibat perhatian ini yang berkonotasi positif. diperhatikan karena bakat misalnya. atau juga mengundang perhatian karena kemampuan atau pencapaian terhadap sesuatu.
lalu, bagaimana jika perhatian yang datang justru agak-agak menyakitkan. selera berbusana yang aduhai katro misalnya, tentu akan menjadikan sebuah perhatian dalam bentuk cibiran.
pada dasarnya, sejak kecil saya suka jika diperhatikan. ada-ada saja ulah saya agar mendapat perhatian. mulai dari malas mandi, alhasil mulai dari ibu, kakek, nenek, bude sampai tetangga turun tangan membujuk saya untuk mau mandi. yang ini, sumpah jangan ditiru, ternyata saya telah mengalami kejorokan sejak dini!!!
saya juga sangat-sangat membenci terong waktu kecil. jika ibu memasak, entah mendapat ide dari mana, saya mendramatisir situasi. pergi sambil mengucek mata dan menangis ke rumah bude. berkeluh kesah akan bunda yang tak kunjung mengerti akan bencinya saja pada sayuran itu. bude pun menaruh iba pada anak kecil nan culas itu, memberinya makan dan berjanji akan menegur ibu, agar tidak lagi mengusahakan keberadaan si terong malang yang tak tau mengapa saya membencinya amat sangat. entah terkena karma atau apa, kini saat beranjak dewasa, saya malah amat menggemari terong, bahkan diolah dengan cara dan bumbu apapun saya pasti santap. terkadang ibu masih menyindir. ulah aneh yang agak ganjil memang. ibu masih kesal saja jika ingat kejadian belasan tahun silam itu. wajar saja, biasanya setelah insiden itu, ibu langsung di ultimatum, ditegur dengan keras dan entah apalagi. semua hanya gara-gara saya tidak menyukai terong ditambah cara saya menarik perhatian para orang dewasa itu dengan canggih dan yahuddd.
sewaktu kelas 5SD, saya juga pernah mencoba menarik perhatian ibu dengan berpura-pura sakit perut. bukan..bukan karena ibu kurang perhatian. namun agar ibu mau membuatkan surat izin agar tidaksekolah. mungkin saya sampai mempraktekkan gaya suakit alang kepalang dan berhasil. sebenarnya waktu itu, sengaja saya melakukan penipuan kecil itu agar bisa menyaksikan film 'Tomy and The Ghost' yang entah siapa pemainnya, namun jalan ceritanya masih samar-samar teringat di lipatan otak ini.
saat SMP, saya sempat mengumpulkan atribut berwarna merah. padahal, merah bukanlah warna kesukaan saya. hal ini saya lakukan, setelah membaca buku psikologi mengenai efek warna. yah, buku tersebut menuliskan warna merah paling berpotensi untuk menarik perhatian.
di bangku SMU, saya mulai senang membaca buku-buku politik, sesekali juga Kahlil Gibran. Yang paling teringat-ingat adalah saat saya begitu menginginkan buku 'Osama Versus Amerika' yang diterbitkan ditengah euforia black september. waktu itu, saya hanya memiliki uang 10 ribu perak, sedangkan harga bukunya Rp.21.000,- akhirnya saya mengedarkan topi di kelas untuk meminta tambahan dana, ternyata cara ini tak berhasil. akhirnya saya mendatangi beberapa teman potensial sebagai penyumbang dana, menyampaikan proposal permohonan lewat kata-kata. saya menawari mereka puisi bagi sang pacar jika mau membantu saya mendapatkan buku impian. cara ini berhasil telak. hutang itu masih saya bayar sampais ekarang. beberapa teman, masih menagih puisi, apalagi jika akan ulang tahun. saya berhasil lagi emnarik perhatian mereka.
di bangku kuliah, ada yang menyebut saya dengan eksistensialisme. kalau tidak salah, artinya menjadikan diri sebagai pusat dunia. entahlah, itu benar atau tidak. namun yang pasti, saya selalu menggunakan cara pandang 'saya' jika akan mengambil keputusan.
kini, saya tetaplah seperti endang kecil yang selalu ingin diperhatikan. jika bisa mendominasi diantara kawan-kawan. namun semoga saja, krisis eksistensi saya tidak kebablasan. semoga saja saya masih eling untuk tidak melanggar batas. yah, berkat seorang kawan, kini saya belajar untuk tidak berpikir satu sisi. saya juga mengusahakan berada di posisi si A, si B, atau si C. jika ini terlaksana dengan benar, mungkin 10 tahun lagi, saya bisa menjadi orang bijak. jika tidak berhasil, yah, saya tetaplah seorang perempuan yang menginginkan perhatian sebagai individu tentunya. senagaja saya tulis individu agar anda yang membaca tak salah kaprah. yah, saya paling malas dinilai berdasarkan sex dan gender.
uhm, terkadang saya juga rendah diri kok. manusiawi kan??? apalgi jika dikelilingi oleh orang-orang hebat. orang-orang yang saya tahu pasti lebih dari saya. jadi, saya tetap membumi kan?
ya, perhatian kan bisa beragam bentuknya. tapi bisa saya pastikan, tentu semua berharap, akibat perhatian ini yang berkonotasi positif. diperhatikan karena bakat misalnya. atau juga mengundang perhatian karena kemampuan atau pencapaian terhadap sesuatu.
lalu, bagaimana jika perhatian yang datang justru agak-agak menyakitkan. selera berbusana yang aduhai katro misalnya, tentu akan menjadikan sebuah perhatian dalam bentuk cibiran.
pada dasarnya, sejak kecil saya suka jika diperhatikan. ada-ada saja ulah saya agar mendapat perhatian. mulai dari malas mandi, alhasil mulai dari ibu, kakek, nenek, bude sampai tetangga turun tangan membujuk saya untuk mau mandi. yang ini, sumpah jangan ditiru, ternyata saya telah mengalami kejorokan sejak dini!!!
saya juga sangat-sangat membenci terong waktu kecil. jika ibu memasak, entah mendapat ide dari mana, saya mendramatisir situasi. pergi sambil mengucek mata dan menangis ke rumah bude. berkeluh kesah akan bunda yang tak kunjung mengerti akan bencinya saja pada sayuran itu. bude pun menaruh iba pada anak kecil nan culas itu, memberinya makan dan berjanji akan menegur ibu, agar tidak lagi mengusahakan keberadaan si terong malang yang tak tau mengapa saya membencinya amat sangat. entah terkena karma atau apa, kini saat beranjak dewasa, saya malah amat menggemari terong, bahkan diolah dengan cara dan bumbu apapun saya pasti santap. terkadang ibu masih menyindir. ulah aneh yang agak ganjil memang. ibu masih kesal saja jika ingat kejadian belasan tahun silam itu. wajar saja, biasanya setelah insiden itu, ibu langsung di ultimatum, ditegur dengan keras dan entah apalagi. semua hanya gara-gara saya tidak menyukai terong ditambah cara saya menarik perhatian para orang dewasa itu dengan canggih dan yahuddd.
sewaktu kelas 5SD, saya juga pernah mencoba menarik perhatian ibu dengan berpura-pura sakit perut. bukan..bukan karena ibu kurang perhatian. namun agar ibu mau membuatkan surat izin agar tidaksekolah. mungkin saya sampai mempraktekkan gaya suakit alang kepalang dan berhasil. sebenarnya waktu itu, sengaja saya melakukan penipuan kecil itu agar bisa menyaksikan film 'Tomy and The Ghost' yang entah siapa pemainnya, namun jalan ceritanya masih samar-samar teringat di lipatan otak ini.
saat SMP, saya sempat mengumpulkan atribut berwarna merah. padahal, merah bukanlah warna kesukaan saya. hal ini saya lakukan, setelah membaca buku psikologi mengenai efek warna. yah, buku tersebut menuliskan warna merah paling berpotensi untuk menarik perhatian.
di bangku SMU, saya mulai senang membaca buku-buku politik, sesekali juga Kahlil Gibran. Yang paling teringat-ingat adalah saat saya begitu menginginkan buku 'Osama Versus Amerika' yang diterbitkan ditengah euforia black september. waktu itu, saya hanya memiliki uang 10 ribu perak, sedangkan harga bukunya Rp.21.000,- akhirnya saya mengedarkan topi di kelas untuk meminta tambahan dana, ternyata cara ini tak berhasil. akhirnya saya mendatangi beberapa teman potensial sebagai penyumbang dana, menyampaikan proposal permohonan lewat kata-kata. saya menawari mereka puisi bagi sang pacar jika mau membantu saya mendapatkan buku impian. cara ini berhasil telak. hutang itu masih saya bayar sampais ekarang. beberapa teman, masih menagih puisi, apalagi jika akan ulang tahun. saya berhasil lagi emnarik perhatian mereka.
di bangku kuliah, ada yang menyebut saya dengan eksistensialisme. kalau tidak salah, artinya menjadikan diri sebagai pusat dunia. entahlah, itu benar atau tidak. namun yang pasti, saya selalu menggunakan cara pandang 'saya' jika akan mengambil keputusan.
kini, saya tetaplah seperti endang kecil yang selalu ingin diperhatikan. jika bisa mendominasi diantara kawan-kawan. namun semoga saja, krisis eksistensi saya tidak kebablasan. semoga saja saya masih eling untuk tidak melanggar batas. yah, berkat seorang kawan, kini saya belajar untuk tidak berpikir satu sisi. saya juga mengusahakan berada di posisi si A, si B, atau si C. jika ini terlaksana dengan benar, mungkin 10 tahun lagi, saya bisa menjadi orang bijak. jika tidak berhasil, yah, saya tetaplah seorang perempuan yang menginginkan perhatian sebagai individu tentunya. senagaja saya tulis individu agar anda yang membaca tak salah kaprah. yah, saya paling malas dinilai berdasarkan sex dan gender.
uhm, terkadang saya juga rendah diri kok. manusiawi kan??? apalgi jika dikelilingi oleh orang-orang hebat. orang-orang yang saya tahu pasti lebih dari saya. jadi, saya tetap membumi kan?
Senin, 27 April 2009
kebenaran hakiki tak pernah seragam!
kebenaran hakiki tak pernah terjadi, inilah yang saya yakini saat ini. segala sesuatu yang menurut kebanyakan orang benar, tidaklah bisa disimpulkan sebagai kebenaran yang sesungguhnya. kecuali pada ilmu pasti tentunya.
tak peduli seberapa besar dan banyaknya orang yang mengaggap sesuatu sebagai kebenaran. tetaplah saya seharusnya dapat lebih menghargai kaum minoritas yang berani menyuarakan mengenai pendapat tentang sesuatu. yah, banyak dan mayoritas bukanlah alat shahih untuk membenarkan namun terkadang kita salah menggunakannya. banyaknya jumlah terkadang menjadi senjata untuk mengumpulkan kebenaran pendapat dengan dukunan si A, Si B, si C, dan si...si... yang lain.
beberapa waktu lalu, ada kejadian menarik di kompleks rumah saya. terjadi tepat di hari minggu, hari dimana saya menjadikannya spesial karena di waktu inilah saya mencecap dengan rakus kasih bunda. tetangga saya yang menyambi menarik odong-odong (semacam delman yang dimodifikasi laiknya sepeda dan biasanya menjadi objek permainan anak-anak) di hari minggu tertangkap basah mencuri ponsel. ibu saya di kabari oleh abang becak karena istri si tersangka sedang tidak di rumah, jadi rumahnya sedang dalam keadaan kosong song.
ibu langsung panik bukan kepalang. memaksa-maksa saya untuk mengantarkannya ke lokasi kejadian dan menemui pamong wilayah di lokasi pencurian. jujur, saat itu saya langsung menghujat. hanya dalam hati memang, tapi tetap saja menghujat bukan?
batin saya tak habis pikir, untuk apa ibu saya segitunya membela orang yang sudah jelas-jelas mencuri itu. tak mau disebut tak berbakti saya mengantarkan ibu ke lokasi kejadian. dalam perjalanan ibu berkomat-kamit berdoa, harapnya si tetangga saya jangan sampai sudah di bawa ke polisi, takut terlanjur rumit urusannya.
sampai di lokasi, ternyata kekhawatiran ibu terjadi. tetangga saya sudah terlanjur di amankan di kantor polisi. kami akhirnya mengobrol dengan beberapa orang yang berada di lokasi kejadian. malah ada yang merekam wajah yang disangka mencuri itu. ibu langsung memastikan benar tidaknya dia tetangga kami, dan ternyata benar dia tetangga kami.
di sana, bersama orang-orang tak dikenal itu, ibu bercerita betapa tetangga kami itu sungguh patut diberi rasa iba dan kasihan. anaknya baru saja di rawat di rumah sakit dan hingga kini masih terlilit hutang akibat biaya perawatan yang tak murah tentu saja. untuk menambah penghasilan, makanya si tetangga ini menyambi dengan menarik odong-odong sedangkan senin sampai jum'at digunakannya untuk bekerja.
pandangan saya langsung berubah seketika. ternyata sosok yang sebelumnya saya hujat sebagai maling itu adalah seorang ayak dan kepala keluarga yang mencoba memenuhi tanggungjawabnya. mencoba bertindak adil pada si penghutang, mencoba menyelesaikan masalah lilitan hutang, meskipun yah..dengan 'caranya'.
cara yang menurut pandangan tatanan bermasyarakat salah, tapi benar menurut keluarganya, istri dan anaknya. juga ternyata benar menurut pandangan ibu. ibuku sekali lagi tampil menjadi pemenang dalam kompetisi manusia bijak versi rekaan saya.
saya malu pada ibu. yang meskipun bangku SMP pun tak tamat dapat berpikir lebih bijak. mungkin pengalaman hidup yang mengajarkannya. kita tidak bisa menilai baik atau tidaknya sesuatu atau seseorang hanya dari satu sisi, tidak hanya berdasarkan nilai moral dan budaya yang berlaku. kebali saya mengingat kalimat sakti, 'lihat lebih jauh baru nilai sendiri!'.
saya belajar banyak. tak mau gegabah. tak mau merasa paling benar, semoga yang ini benar-benar terealisasi tidak hanya sesumbar.
tak peduli seberapa besar dan banyaknya orang yang mengaggap sesuatu sebagai kebenaran. tetaplah saya seharusnya dapat lebih menghargai kaum minoritas yang berani menyuarakan mengenai pendapat tentang sesuatu. yah, banyak dan mayoritas bukanlah alat shahih untuk membenarkan namun terkadang kita salah menggunakannya. banyaknya jumlah terkadang menjadi senjata untuk mengumpulkan kebenaran pendapat dengan dukunan si A, Si B, si C, dan si...si... yang lain.
beberapa waktu lalu, ada kejadian menarik di kompleks rumah saya. terjadi tepat di hari minggu, hari dimana saya menjadikannya spesial karena di waktu inilah saya mencecap dengan rakus kasih bunda. tetangga saya yang menyambi menarik odong-odong (semacam delman yang dimodifikasi laiknya sepeda dan biasanya menjadi objek permainan anak-anak) di hari minggu tertangkap basah mencuri ponsel. ibu saya di kabari oleh abang becak karena istri si tersangka sedang tidak di rumah, jadi rumahnya sedang dalam keadaan kosong song.
ibu langsung panik bukan kepalang. memaksa-maksa saya untuk mengantarkannya ke lokasi kejadian dan menemui pamong wilayah di lokasi pencurian. jujur, saat itu saya langsung menghujat. hanya dalam hati memang, tapi tetap saja menghujat bukan?
batin saya tak habis pikir, untuk apa ibu saya segitunya membela orang yang sudah jelas-jelas mencuri itu. tak mau disebut tak berbakti saya mengantarkan ibu ke lokasi kejadian. dalam perjalanan ibu berkomat-kamit berdoa, harapnya si tetangga saya jangan sampai sudah di bawa ke polisi, takut terlanjur rumit urusannya.
sampai di lokasi, ternyata kekhawatiran ibu terjadi. tetangga saya sudah terlanjur di amankan di kantor polisi. kami akhirnya mengobrol dengan beberapa orang yang berada di lokasi kejadian. malah ada yang merekam wajah yang disangka mencuri itu. ibu langsung memastikan benar tidaknya dia tetangga kami, dan ternyata benar dia tetangga kami.
di sana, bersama orang-orang tak dikenal itu, ibu bercerita betapa tetangga kami itu sungguh patut diberi rasa iba dan kasihan. anaknya baru saja di rawat di rumah sakit dan hingga kini masih terlilit hutang akibat biaya perawatan yang tak murah tentu saja. untuk menambah penghasilan, makanya si tetangga ini menyambi dengan menarik odong-odong sedangkan senin sampai jum'at digunakannya untuk bekerja.
pandangan saya langsung berubah seketika. ternyata sosok yang sebelumnya saya hujat sebagai maling itu adalah seorang ayak dan kepala keluarga yang mencoba memenuhi tanggungjawabnya. mencoba bertindak adil pada si penghutang, mencoba menyelesaikan masalah lilitan hutang, meskipun yah..dengan 'caranya'.
cara yang menurut pandangan tatanan bermasyarakat salah, tapi benar menurut keluarganya, istri dan anaknya. juga ternyata benar menurut pandangan ibu. ibuku sekali lagi tampil menjadi pemenang dalam kompetisi manusia bijak versi rekaan saya.
saya malu pada ibu. yang meskipun bangku SMP pun tak tamat dapat berpikir lebih bijak. mungkin pengalaman hidup yang mengajarkannya. kita tidak bisa menilai baik atau tidaknya sesuatu atau seseorang hanya dari satu sisi, tidak hanya berdasarkan nilai moral dan budaya yang berlaku. kebali saya mengingat kalimat sakti, 'lihat lebih jauh baru nilai sendiri!'.
saya belajar banyak. tak mau gegabah. tak mau merasa paling benar, semoga yang ini benar-benar terealisasi tidak hanya sesumbar.
Selasa, 24 Maret 2009
harapan di awal pesta demokrasi
pelupuk mata ini tiba-tiba terasa menghangat, yah, ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak begitu saja tanpa permisi. bukannya saya baru mendapat kabar duka, bukan, sama sekali bukan.
tadi iseng-iseng saya membuka blog yang dapatnya pun entah dari mana, iseng membaca postingan demi postingan, sampai menemukan sebuah tulisan yang menghenyak. Yah, si empunya blog menuliskan tentang seorang bapak-bapak tua yang begitu semangat mengikuti kampanye. seorang diri, bukannya konvoi beramai-ramai dan memacetkan seluruh jalanan protokol. bapak tua ini, mendukung pesta demokrasi dengan sepenuh hati. mungkin di sanubarinya masih begitu tulus, berharap para calon pengurus pemerintahan dapat merealisasikan kebutuhan rakyat akan:
@pendidikan murah
@kesehatan murah
@harga bahan pangan yang terjangkau
@yang pada akhirnya berujung pada meningkatnya tingkat kesejahteraan rakyat
sungguh ironis, keberadaan bapak tua itu bagai oase di tengah keskeptisan masyarakat pada pemilu. bahkan, seorang teman yang kebetulan bertanggung jawab meng-handle program The Candidate pun tidak kalah skeptis. Kemarin saya mengajukan pertanyaan, "Jadi nanti milih partai apa nih? Lo kan lebih tahu dengan visi dan misi mereka."
"Udah, gak usah milih, mereka gak ada yang konsisten jawabannya," jawab si teman saya
"Kalo gitu, gue milih hati nurani deh," saya menanggapi asal
"maksud lo HANURA?" teman saya mempertegas
"bukan, milih sesuai hati nurani,"
sejujurnya sampai sekarang pun saya masih belum tahu akan menentukan pilihan pada partai yang mana. hati ini pun sudah mulai tertular virus skeptis tak bertepi. padahal, saya adalah orang yang selalu mengagung-agungkan rasa nasionalisme. bahkan, takjarang jika virus sombong sedang meninggi, tak bosan-bosannya mulut ini membanggakan skripsi yang menguak tentang psrameter rasa nasionalisme sebuah surat kabar terkemuka tanah air. kenyatannya, saya tidaklah sehebat itu. minggu lalu saya iseng mengetes adik yang masih duduk di kelas satu SMP untuk membacakan PANCASILA. hasilnya, adik saya lulus dengan nilai istimewa. iseng saya melafalkan dalam hati bunyi sila keramat ini.
Hua....nyatanya saya malah terbata, tersendat, dan ternyata saya tidak hafal PANCASILA!!!
inilah saya, yang selalu mengagungkan rasa cinta terhadap tanah air, ternyata PANCASILA saja tersendat-sendat. saya yang mengaku mencintai negara ini dengan sangat, bahkan tidak bisa menjawab ketika di tanya konsepsi INDONESIA itu apa?
saya, yang selalu berkoar, tidak ada alasan untuk tidak mencintai negeri ini, karena setiap saat kita menginjak tanahnya, menghirup udaranya, dan meminum airnya, ternyata hanya omong kosong tanpa bukti.
semoga, setelah ini saya tidak lagi seperti tong kosong nyaring bunyinya. saya akan lebih mencari tahu Indonesia. saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk sebuah nama bernama INDONESIA. tidak harus menjadi caleg dan tergabung dalam partai, cukup berusaha sebaik mungkin, mengisi kemerdekaan dengan hal positif, semoga pada akhirnya saya dapat memberikan manfaat untuk orang lain.
amien...
dan bagi bapak-bapak yang sedang dengan anggunnya duduk di kursi dewan yang terhormat, ingatlah peluh para simpatisan yang rela berpanas ria saat matahari pun menggandakan diri jadi sembilan. mereka begitu percaya dan penuh semangat mengobarkan semangat demokrasi demi negara yang lebih baik.
semoga, pesta demokrasi ini menjadi titik awal kemenangan kita akan negara yang lebih baik dari sebelumnya.
amin (lagi)
tadi iseng-iseng saya membuka blog yang dapatnya pun entah dari mana, iseng membaca postingan demi postingan, sampai menemukan sebuah tulisan yang menghenyak. Yah, si empunya blog menuliskan tentang seorang bapak-bapak tua yang begitu semangat mengikuti kampanye. seorang diri, bukannya konvoi beramai-ramai dan memacetkan seluruh jalanan protokol. bapak tua ini, mendukung pesta demokrasi dengan sepenuh hati. mungkin di sanubarinya masih begitu tulus, berharap para calon pengurus pemerintahan dapat merealisasikan kebutuhan rakyat akan:
@pendidikan murah
@kesehatan murah
@harga bahan pangan yang terjangkau
@yang pada akhirnya berujung pada meningkatnya tingkat kesejahteraan rakyat
sungguh ironis, keberadaan bapak tua itu bagai oase di tengah keskeptisan masyarakat pada pemilu. bahkan, seorang teman yang kebetulan bertanggung jawab meng-handle program The Candidate pun tidak kalah skeptis. Kemarin saya mengajukan pertanyaan, "Jadi nanti milih partai apa nih? Lo kan lebih tahu dengan visi dan misi mereka."
"Udah, gak usah milih, mereka gak ada yang konsisten jawabannya," jawab si teman saya
"Kalo gitu, gue milih hati nurani deh," saya menanggapi asal
"maksud lo HANURA?" teman saya mempertegas
"bukan, milih sesuai hati nurani,"
sejujurnya sampai sekarang pun saya masih belum tahu akan menentukan pilihan pada partai yang mana. hati ini pun sudah mulai tertular virus skeptis tak bertepi. padahal, saya adalah orang yang selalu mengagung-agungkan rasa nasionalisme. bahkan, takjarang jika virus sombong sedang meninggi, tak bosan-bosannya mulut ini membanggakan skripsi yang menguak tentang psrameter rasa nasionalisme sebuah surat kabar terkemuka tanah air. kenyatannya, saya tidaklah sehebat itu. minggu lalu saya iseng mengetes adik yang masih duduk di kelas satu SMP untuk membacakan PANCASILA. hasilnya, adik saya lulus dengan nilai istimewa. iseng saya melafalkan dalam hati bunyi sila keramat ini.
Hua....nyatanya saya malah terbata, tersendat, dan ternyata saya tidak hafal PANCASILA!!!
inilah saya, yang selalu mengagungkan rasa cinta terhadap tanah air, ternyata PANCASILA saja tersendat-sendat. saya yang mengaku mencintai negara ini dengan sangat, bahkan tidak bisa menjawab ketika di tanya konsepsi INDONESIA itu apa?
saya, yang selalu berkoar, tidak ada alasan untuk tidak mencintai negeri ini, karena setiap saat kita menginjak tanahnya, menghirup udaranya, dan meminum airnya, ternyata hanya omong kosong tanpa bukti.
semoga, setelah ini saya tidak lagi seperti tong kosong nyaring bunyinya. saya akan lebih mencari tahu Indonesia. saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk sebuah nama bernama INDONESIA. tidak harus menjadi caleg dan tergabung dalam partai, cukup berusaha sebaik mungkin, mengisi kemerdekaan dengan hal positif, semoga pada akhirnya saya dapat memberikan manfaat untuk orang lain.
amien...
dan bagi bapak-bapak yang sedang dengan anggunnya duduk di kursi dewan yang terhormat, ingatlah peluh para simpatisan yang rela berpanas ria saat matahari pun menggandakan diri jadi sembilan. mereka begitu percaya dan penuh semangat mengobarkan semangat demokrasi demi negara yang lebih baik.
semoga, pesta demokrasi ini menjadi titik awal kemenangan kita akan negara yang lebih baik dari sebelumnya.
amin (lagi)
Senin, 02 Maret 2009
sepucuk euphoria kamar baru
baru dua malam saya menempati sepetak kamar baru. lebih kecil, lebih sederhana, namun siapa nyana, ternyata lebih menyenangkan dan memberikan ketenangan tanpa batas. kamar baruku, kunamakan saja greenbox. memakai pupur warna hijau lembut dengan langit-langit tinggi menjulang.
bentuknya kotak tak tak, saking kotaknya. warna pintu dan lis jendela lebih tua, namun tetap dalam gradasi hijau.
saya menempatkan sehelai kasur dipojokan, sejajar dengan bagian kepala ada kotak rakitan setinggi satu meter. disebelahnya ada kotak printer yang beralih fungsi menjadi meja rendah. barulah disebelahnya ada si induk kotak, lemari coklat dengan dua pintu. lemari ini bisa jadi menjadi ketua suku diantara kotak-kotak perabot yang mendominasi si greenbox. meskipun untuk ukuran lemari pada umumnya, lemari ini bisa jadi diperuntukkan untuk anak-anak.
tak mengapa tentunya, karena toh koleksi baju saya sama sekali tidak bisa dikatakan melimpah.
satu lagi kesadaran mencuat, ternyata saya telah memasukkan unsur minat dalam perabotan kamar. ya, saya yang lebih menyukai bentuk kotak, ketimbang oval apalagi buat. mungkin sebagai representasi sikap saya yang terkadang kaku, getas, tak bisa bengkok dan fleksibel.
saya, si manusia yang terkadang memiliki ambisi memuncak, namun tak disertai realisasi mengagumkan. alih-alih berjuang sekuat tenaga, implementasinya malah hanya berkoar, alhasil, sampai sekarang saya hanyalah menjadi budak, atas apa yang terjadi.
kembali lagi ke soal kamar baru, inginnya saya akan lebih produktif. mencipta maupun berkarya. lebih memiliki kebebasan merenung. tak lagi terbelenggu pada rasa kesal yang sukanya bersemayam dalam dada. tak lagi beralasan capek. ya, saya harus lebih produktif, karena kini saya sama sekali tak memiliki alasan untuk berleha-leha. diakan saya!!!!
bentuknya kotak tak tak, saking kotaknya. warna pintu dan lis jendela lebih tua, namun tetap dalam gradasi hijau.
saya menempatkan sehelai kasur dipojokan, sejajar dengan bagian kepala ada kotak rakitan setinggi satu meter. disebelahnya ada kotak printer yang beralih fungsi menjadi meja rendah. barulah disebelahnya ada si induk kotak, lemari coklat dengan dua pintu. lemari ini bisa jadi menjadi ketua suku diantara kotak-kotak perabot yang mendominasi si greenbox. meskipun untuk ukuran lemari pada umumnya, lemari ini bisa jadi diperuntukkan untuk anak-anak.
tak mengapa tentunya, karena toh koleksi baju saya sama sekali tidak bisa dikatakan melimpah.
satu lagi kesadaran mencuat, ternyata saya telah memasukkan unsur minat dalam perabotan kamar. ya, saya yang lebih menyukai bentuk kotak, ketimbang oval apalagi buat. mungkin sebagai representasi sikap saya yang terkadang kaku, getas, tak bisa bengkok dan fleksibel.
saya, si manusia yang terkadang memiliki ambisi memuncak, namun tak disertai realisasi mengagumkan. alih-alih berjuang sekuat tenaga, implementasinya malah hanya berkoar, alhasil, sampai sekarang saya hanyalah menjadi budak, atas apa yang terjadi.
kembali lagi ke soal kamar baru, inginnya saya akan lebih produktif. mencipta maupun berkarya. lebih memiliki kebebasan merenung. tak lagi terbelenggu pada rasa kesal yang sukanya bersemayam dalam dada. tak lagi beralasan capek. ya, saya harus lebih produktif, karena kini saya sama sekali tak memiliki alasan untuk berleha-leha. diakan saya!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)