Jumat, 06 November 2009

belajar bersama


aku membiru
digempur rindu menggebu

waktu seberapapun lamanya
tak pernah cukup bagi kita
berbincang seberapapun banyaknya
tak pernah memuaskan dahaga

yeah..
meski harus diakui
terkadang terlalu banyak
malah memicu pertengkaran
ada saja sebab
bahkan sangat sepele
kita akan saling diam
menatap tajam
lalu kau mulai membuka kata
bertanya ada apa
dan aku bingung menjawab
tak tahu harus berkata apa

waktu yang telah kita isi dengan tawa
tiba-tiba saja poranda
dan akhirnya kamu dan aku menyesali bersamaan
entah siapa yang memulai
salah satu dari kita
akhirnya menarik sudut bibir untuk tertawa
tanda ingin berbaikan
lalu kita kembali tertawa

kita bodoh
dan belajar untuk menjadi pintar bersama-sama
kita egois
dan sedang merangkak menjadi bijaksana
semoga
kita cepat naik kelas ya beib..

Minggu, 25 Oktober 2009

belajar komit pada komitmen ternyata susyah..


masih dalam euforia yang sama. tak ada banyak perubahan. hanya saja, mulai kini saya sedang memperbaiki bangunan bernama komitmen. jujur saja, baru memulai, dan sejujurnya (lagi) saya tak yakin bisa melampauinya.

entahlah, mengapa kata komit terasa sungguh sulit direalisasikan. bukan..bukannya saya tipikal orang tak setia, hanya saja..

yeah..entah mengapa, otak ini terkadang terjangkiti virus plin plan akut. inginnya melakukan ini tapi kok ya ndilalah jadi melakukan hal yang itu. semua terjadi spontan tanpa pikir panjang apalagi pertimbangan.

terkadang saya mati-matian menahan diri untuk tak melakukan sesuatu, tapi apa daya hasrat tak terbendung dan jadilah pelanggaran komitmen.

sampai sejauh ini sih pelanggaran komitmen terbatas pada menghianati diri sendiri. jadi bukan pada orang lain. tapi jika direnungi lebih dalam, bukankah lebih menyakitkan menghianati diri sendiri? yah, mengapa tanpa sadar saya justru sering melukai sisi lain diri sendiri. jika raga dan jiwa ini terbelah, maka keduanya akan berada dalam dua kubu yang berlawanan. seorang kawan pernah berkata saya memiliki kepribadian yang kontradiktif, bertentangan.

satu sisi saya adalah sosok yang mandiri, tegas tak terbendung, galak minta ampun, memiliki kosakata setajam silet. eh, sisi lainnya kok ya malah memanja, halus tutur kata bak madu dan tentu saja pribadi yang lembut mudah tersentuh. jujur, terkadang sulit juga mengakomodir kebutuhan yang terkadang saling bertentangan ini. entahlah, jadinya apa nanti.

pribadi ini terkadang membingungkan orang sekitar. saya jadi merasa orang yang memakai topeng. tapi sungguh tak ada kepura-puraan dalam sikap keseharian. meski terkadang suasana hati pun berubah dengan tingkat kedrastisan tinggi pula.

hoa..entahlah. mungkin yang harus saya lebih pelajari lagi adalah metode memanage diri. seperti hari ini. banyak rencana yang ingin dijalani. tapi endingnya malah ngobrol tanpa juntrungan dan menjelang senja beranjak ke sebbuah tempat yang menyediakan fasilitas wifi. jadilah post ini dilahirkan. tanpa maksud, tanpa makna. semoga saja bisa menjadi tempat berkaca bagi saya dikemudian hari, jika sulit menemukan jalan pulang.

Sabtu, 24 Oktober 2009

ayo bersemangat!!


sedang merasa mengalami kemunduran nih. jika melihat waktu yang telah terlewat, seharusnya, ada banyak hal-hal hebat yang bisa saya lakukan. bukan, bukannya mau bilang dulu ada banyak hal hebat yang saya lakukan. hanya saja, kok tiba-tiba saya merasa dulu saya lebih berkualitas dibanding sekarang gituh.
tolak ukur ini dilihat dari segi kerajinan saya menulis. tidak hanya diukur dari frekuensi, tapi juga dari kualitas. dulu tuh kalo nulis kayaknya lebih greget. bahkan pemilihan kata yang menurut saya terasa lebih intelek. entah mengapa kok sekarang rasanya cetek banget. padahal kan harusnya semakin haris emakin membaik. lah wong setiap hari pekerjan saya berhubungand engan dunia tulis menulis kok. belum lagi beberapa waktu lalu, saya juga dianugerahi keberuntungan mencecap pelajaran menulis panjang bersama ETF dan Pantau.
untuk sesi belajar menulis ini, sejujurnya yang peling terasa adalah bertambahnya kenalan. yeah..banyak teman-teman 'hebat' yang saya dapatkan disini. mereka membawa atmosfer kesenangan. sayangnya masa didik kami telah usai. emski kenangannya akan terus terasa.
duh, kok jadi mellow gini? mungkin karena tadi tanpa sengaja saya habis membolak-balik foto2 saya bersama mereka.
yah, bagaimanapun aku merindukan kalian kawan. jadi, yuk kita janjian. hehehe
kembali ke masalah produktivitas. enaknya ngapain ya biar saya bisa secerdas dulu?
ups, maaf, bukannya mau sok cerdas, tapi paling tidak saya memang sedang merasa lebih bodoh dibanding dulu.
mungkin dengan mengumpulkan segenap kesadaran, mengumpulkan setangkup kenangan, dan treeeng..!!!
voila...saya menjadi bersemangat menempuh hari! Amin.

Senin, 14 September 2009

rindu kelas ETF 3

baru juga hitungan hari, kelas narasi ETF 3 berakhir. sedih rasanya. kehilangan pastinya. pada akhir perbincangan di kelas, kami menyepakati kalimat yang diucapkan Lisa, kami belum bisa membuktikan apa-apa.
ya, belum ada yang bisa kami buktikan terhadap hasil pembelajaran selama 10 minggu, sampai suatu saat nanti, salah satu diantara kami memiliki karya. jika bisa sih ya jangan salah satu, tapi semua tanpa kecuali.
terimakasih teman, untuk setangkup kenangan yang tercipta. terimakasih kawan, untuk rasa berbagi yang kalian beri. aku akan merindukan masa-masa kebersamaan kita.

Selasa, 08 September 2009

grey area..

beranda ini kini berubah warna
menjadi biru
dan harapku
warnanya bisa berpendar sampai ke hatimu
agar tak perlu ada asa yang meragu
saat tatap mata kita berpagut
membeku dan kaku
di bawah temaram lampu

aku membuka diri
aku menyerah kalah
pada hasrat yang menggelora

saat nanti tiba saatnya
entah berakhir menyedihkan
atau malah bahagia sangat
sungguh tak mau ku ambil pusing

yang kumau saat ini sayangku
kau menjelma nyata
dari mimpi
dan kini kau berdiri tegak di hadapanku
jadi tunggu apa lagi?!

mari bersama kita belajar
berbenah dan memperbaiki
rumah yang belum sempurna ini

semoga,
perlahan dan pasti
semua akan semakin jelas di hadapan..

Senin, 07 September 2009

baik..baik..baikk

"Sangat mudah berbuat baik, yang sulit itu menjadi orang baik"
demikian kalimat yang meluncur lembut darimu. sebuah kalimat yang sungguh sederhana, sesederhana orang yang mengucapkannya.

jika ditelaah, kalimat sakti ini ada benarnya. menjadi orang baik berarti arus diikuti dengan konsekuensi selalu dan selalu berbuat baik. sedangkan untuk berbuat baik, setiap individu tidaklah harus menjadi orang baik.

orang yang dalam keseharian selalu identik dengan kelakukan slengean pun bisa dan sah-sah saja berbuat baik. tidak ada larangan untuk berbuat baik, apalagi di bulan yang sering di sebut-sebut sebagai bulan baik (ramadhan)ini. ya, di bulan ramadhan, entah mendapat inspirasi dari mana, saya dan mungkin anda akan cenderung lebih mudah menemukan kebaikan-kebaikan.

coba saja berdiri di salah satu perempatan ibukota, bukan tidak mungkin anda akan menjadi target dari rencana berbuat kebaikan, misalny mendapat ta'jil untuk berbuka puasa. jika ingin lebih nyata, coba saja iseng-iseng ke panti asuhan. saya berani bertaruh, panti-panti ini pasti akan mendapatkan sumbangan jauh lebih besar di banding bulan-bulan biasa.

tak ada yang salah dari mekanisme ini. tidak. tidak sama sekali.

hanya saja, pikiran usil saya kok malah menggelitik ya? bisa jadi rangsangan berbuat baik ini karena janji Allah yang akan melipatgandakan amal jika berbuat baik di bulan ramadhan. tapi, sayangnya..
orang-orang yang membutuhkan uluran kebaikan itu kan tidak hanya hidup di bulan ramadhan?!! mereka juga harus hidup, berjuang untuk mempertahankan hidup di 11 bulan lain non bulan ramadhan. lalu, bagaimana mereka hidup selama bantuan serasa kemarau?!! setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya lebih baik berbuat baik tidak hanya di bulan baik. alangkah lebih baik lagi jika berbuat baik di saat yang baik. saat dimana seseorang di luar sana benar-benar membutuhkan kebaikan. tulus dari hati. bukan karena ingin pelipatgandaan amal. semua dilakukan ya karena ingin berbuat baik. syukur-syukur ya karena dia memang orang baik.

maaf sangat, tulisan ini tak jelas dan tak fokus. maklum, saran membuat outline masih belum juga bisa terealisasi. padahal outline juga merupakan indikator menjadi penulis yang baik.

Jumat, 04 September 2009

ketika 'mengapa' terlalu banyak terlontar

ada gelora yang menjalar, semua seperti tak terkendali. saya, telah bermetamorfosa menjadi sosok Endang Prihatin yang berbeda. semua bermula dari suatu pagi, dimana saya dengan tingkat pede level tertinggi, meminta kamu untuk membantuku menginstal modem.
ya, saya meminta tolong pada seseorang yang namanya saja tak tahu, apalgi kenal.
kamu bersedia membantu, tanpa banyak tanya. kita membuat janji bertemu, pada malam hari. seperti yang sudah-sudah, saya memiliki penyakit plin plan akut.
yah, malam itu saya ingkar janji, tak jadi menghampirimu, meski itu untuk keperluanku. esok paginya baru saya menghampiri, seraya mengucap maaf telah ingkar, dan berkelit tak mengabari karena tak memiliki nomor ponsel.
kamu, tak keberatan sama sekali. wow, sungguh tak ada nada keberatan.
selesai urusan, berhasil. kamu berhasil menginstall modem. dengan rasa tak enak, baru kutanya namamu.
itulah sekelumit kisah awal perkenalan kita. saya yang selalu seenaknya dengan gaya sok akrab, keterbalikan kamu yang selalu malas beramah tamah dengan orang baru. malas jika ada orang sok akrab.
mengapa kau tak membenciku ya?!! mengapa rasa malasmu pada orang baru tak berlaku padaku?!
sejujurnya, ada banyak kata mengapa yang berkecamuk dikepalaku. sebagian sudah kuajukan, meski sebagian besar yang lain masih menunggu giliran.
kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta..
tentu kalimat ini sungguh tak asing terdengar bukan sayang?!!