Sabtu, 11 Oktober 2008

masih soal manusia rawa..

entahlah apa yang terjadi pada diri ini. rasanya kokmakin susah memahami apa yang saya mau. kalau sudah begini,saya akhirnya merasa bingung sendiri. jika saya sendiri saja tidak tahu, apalagi orang lain?
hari ini tidak punya cerita..
hanya membuang waktu dengan kemalasan tak berujung..
pikiran saya masih saja dipenuhi oleh manusia rawa, semoga besok sudah tidak lagi..
tapi sebenarnya ada rasa takut akan kehilangan..

Jumat, 10 Oktober 2008

manusiarawa itu..

beberapa hari belakangan ini banyak yang berjejal di kepala..
tiba-tiba harus banyak belajar mengenai sesuatu yang yang sbeleumnya sama sekali tidak saya pedulikan. ada juga klien yang blocking di Healthy Life, klien ini merupakan salah satu departemen pemerintah yang pimpinannya amat haus akan publikasi.
semoga saya bisa mengemban amanat departemen yang tentu tidak sedikit merogoh kocek demi sesuatu yang dinamakan publikasi.

pikiran saya sebenarnya juga dipenuhi oleh manusia pemilik halamanrawa, tak usahlah saya sebutkan namanya, namun manusia ini amat filosofis memandang hidup. sepertinya hari-hari yang dilalui-nya pun tidak selalu baik, dan dia menyembul sendiri diantara deretan tekanan yang terus menghunjam.

saya tidak tahu banyak tentangnya, yang saya tahu, sepertinya hidup saya lebih mudah dibanding dirinya. saya akan mencarinya, untuk berkenalan lebih jauh, semoga suatu hari nanti ada banyak sifat bijaknya yang menular pada saya..
berkatnya, saya terpuruk akan suatu kesadaran, saya masih harus banyak belajar.
saya juga menyadari akan ke-alpa-an, ada mimpi yang terkubur dari hati ini.
sempat saya melupakannya, dan sekali lagi terimakasih untuk mengingatkannya..

duh, apalagi ya..
mungkin, besok-besok saya bisa mengunjungi rumah ini dalam kondisi yang lebih baik..
dan dengan bekal pikiran yang berisi..

Senin, 15 September 2008

Cinta pertama saya pada Al Jarreau

Saya menjadi salah satu orang yang beruntung menyaksikan perhelatan akbar Al Jerreau dan George Benson di Plenary Hall Jakarta Convention Center semalam, 14 September 2008.

Meski sejujurnya nih, sebelumnya saya sama sekali tidak tahu siapa dua musisi ini, bahkan beberapa hari sebelum pertunjukkan saya bertanya-tanya pada beberapa teman,
"Siapa sih mereka?"
"Emang terkenal ya?"
Jangan kaget ya, karena selera musik saya memang sungguh-sungguh memalukan, jadilah begini bentuknya.
Jadi motivasi menonton pun hanya sekedar tidak ingin melewatkan kesempatan (yg sepertinya) bagus.
Tidak enak hati pada yg bermurah hati memberikan tiket masuk, saya cuma sekedar ingin menonton meski tidak mengenal dua musisi ini, sedang yg berbaik hati memberikan kesempatan sedang pontang panting bekerja, akhirnya saya menawarkan diri untuk membantunya.
Akhirnya, malam itu saya ditugaskan untuk mewawancarai sejumlah penonton mengenai kesan mereka terhadap George Benson dan Al Jarreau. Wow, antusiasme mereka heboh sekali. Dan menyedihkannya, saya sama sekali tidak tahu si musisi yg sedang jadi pembicaraan, hiks..

Bahkan saat pertunjukkan sudah di mulai, saya masih menyempatkan diri untuk menemani salah seorang teman untuk merokok di teras JCC. Di depan banyak sekali calo yg lalu lalang, iseng saya cari tahu berapa harga tiket untuk menonton konser ini, dan hasilnya cukup mengejutkan saya.

Wow, tiketnya dijual dengan range harga 2,5 juta sampai 500ribu rupiah. Barulah saya sadar, anugrah besar yg saya dapatkan, tanpa perlu merogoh uang sepeserpun saya memiliki kesempatan untuk menyaksikan pertunjukkan musik musisi kelas dunia, meskipun saya tidak mengenalnya.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikan konser ini, dan sekali lagi meskipun selera musik saya amat memalukan, ternyata saya amat menikmati pertunjukkan kali ini.
Al Jarreau amat memukau apalagi saat pria kelahiran 1940 ini mulai ber-skat ria.
Hm..tahulah saya, mengapa harga tiket konser ini mahal harganya.
George Benson pun tampil tidak kalah memukaunya...

Saya lupa mencatat, pertunjukkan berjalan berapa lama, maklum saya kan tidak sedang bertugas, hanya menonton, he.he..he..

Malam itu juga, saya membaptis diri, saya pengidola Al Jarreau, meski terlambat.

Sebagai fans, tentu ingin sekali minta tanda tangan, jadi bersama beberapa orang teman saya menunggu mereka di pintu keluar, sayangnya ternyata saya kurang beruntung karena mereka keluar lewat pintu yg berbeda.

Namun, selama semangat masih dikandung badan, kesempatan akan bermunculan. Salah seorang dari promotor memberikan bocoran jika dua musisi ini akan pergi ke salah satu bar di hotel Sultan. Meluncurlah kami ke tempat yg dimaksud, setelah berputar-putar akhirnya kami menemukan tempat yg di maksud. Saya masih sempat melihat George Benson, namun Al Jarreau sudah masuk ke kamar hotel, mungkin lelah ya..

Di satu sisi saya sedih karena tidak bisa bertemu dgn opa Al Jarreau, namun di sisi lain saya amat mensyukuri kesempatan yg saya peroleh hingga akhirnya saya merasakan yg namanya love at the first sight pd opa Al Jarreau.

Minggu, 07 September 2008

Afgan oh Afgan


Rasanya tidaka da satu orang pun yang tidak mengenal Afgan, tentunya untuk kawasan Indonesia saja ya, dan jika boleh di persempit untuk kawasan kota besar yg ada di Indonesia.
Sama sekali tidak bermaksud untuk menganaktirikan saudara kita yg tinggal di pelosok negeri, namun kita tidak dapat menutup mata bukan dengan fakta bahwa masih ada beberapa wilayah yg belum tersentuh kemewahan bernama radio dan televisi kan?
Afgan, si solois yg melejit lewat single "Terimakasih Cinta" ini langsung mendapatkan popularitas yg mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Seperti berpola, lagu-lagu berikutnya pun asal dinyanyikan oleh Si Kasep ini akan menjadi top 40 di chart musik.

Pada 6 September lalu, tanpa sengaja saya menonton live performance Afgan bersama dua band yg juga tidak kalah populer, tidak perlulah saya sebutkan apa nama band ini, meskipun setengah mati saya memuja salah satunya..

Yang ingin saya ceritakan adalah, pengalaman yg tanpa sengaja tercipta justru setelah konser berlangsung. Masih dalam semnagat go green nih, semacam komitmen yg sengaja saya patri dalam hati sebagai wujud cinta saya pada bumi tercinta. Belum banyak yg bisa saya lakukan, hanya komitmen untuk membuang sampah pada tempatnya. Sepele bukan? Tapi percayalah, untuk saya hal ini menjadi hal yg cukup sulit untuk di realisasikan.

Tanpa sengaja, saya melihat ada tisu melayang dengan pasrah di jalanan, dan terlihat dengan amat sangat jelas yg membuang adalah seseorang yg mengendarai sedan, meski bukan Mercy atau BMW, sedan tentu menempati kasta tersendiri dalam jagad permobilan bukan?

Saat itu, yg terlintas dalam otak yg terkadang suka lemot ini hanyalah 'Orang kaya belum tentu memiliki pribadi yg juga kaya'.

dan, eng..ing..eng.. pasa kepala ini menoleh untuk tahu rupa si pembuang sampah sembarangan ini, ternyata..

benar sodara-sodara, yg membuang selembar (yaks, memang cuma selembar) tisu ini adalah si Kasep yg banyak di idolakan oleh para kaum hawa itu, siapa lagi klo bukan Afgan.
Mungkin, ada yg berpikir klo saya terlalu membesar-besarkan, tapi buat saya ini sama sekali bukan hal yg kecil.

Bagaimana bisa, seorang public figure yg tengah berada di puncak popularitas ini seenaknya saja membuang sampah (sekali lagi saya tekankan, memang hanya selembar tisu), sembarangan?!!!

Ayolah afgan, lebih cintai bumi kita yg cuma sebiji ini, syukur-syukur kamu labih milih untuk pke sapu tangan..
hi..hi..hi..

Kamis, 04 September 2008

Hari Berat Euy..

minggu ini rasanya berat banget, saya dipaksa untuk mempelajari sesuatu yg sebelumnya sama sekali tidak saya sukai, teknologi.
Bukannya saya orang yg anti teknologi, hanya saja selama ini saya sudah terlanjur tidak peduli dengan tetek bengek gadget,
lah wong BlackBerry itu ternyata merk saja saya baru tahu, selama ini saya pikir BlackBerry itu semacam layanan supercanggih yg terdapat dalam ponsel.
Jadi, saat orang lain cuma perlu berjalan untuk mencari tahu teknologi terbaru kemudian memindahkannya dalam bentuk tulisan, saya mati-matian harus berlari untuk membekali otak ini dengan pengetahuan yg mungkin menurut orang lain sangatlah sepele. Beban ini semakin diperberat dengan kehadiran seorang mentor yg entah mengapa, kok pandangan saya terhadap beliau selalu negatif.
Kok rasanya, mentor saya selalu menjatuhkan saya yah?
Untungnya, selain sang mentor, orang yg terlibat langsung dengan produksi saya sisanya baik semua, malah saya yg jadi tidak enak hati sendiri, dan saya tidak pernah bosan untuk membungkuk sambil berujar, "Tolong yg sabar ya, menunggu saya belajar," dan ajaibnya mereka tersenyum bijak sambil mengangguk penuh pengertian.
Terimakasih ya Tuhan untuk kesulitan yg berselimut dengan seribu kemudahan ini..
Hm..sejenak menarik nafas, mungkin jika saya mampu melewati semua ini, di masa depan, justru kerikil kali inilah yg akan menghantarkan saya ke sebuah kenyamanan yg jauh lebih baik dari sekarang, semoga saja..
Rasanya sangat ingin marah dan berteriak, tapi pada siapa, saya bingung sendiri.
Jadi yg bisa dilakukan hanya bersabar, semoga kesulitan ini cepat berubah menjadi hikmah ygpada akhirnya akan saya sukuri, seperti bencana yg menimpa saya dan dua orang sahabat saat sedang bertandang ke kota gudeg, Jogjakarta..

Selasa, 26 Agustus 2008

The Pursuit of Happines



film ini menurut saya masuk dalam kategori sangat layak di tonton. Berisi kisah seorang sales mesin deteksi tulang bernama Chris Gardner. Setiap hari sebelum menawarkan dagangannya, Chris mengantarkan anaknya ke tempat penitipan.

Keadaan ekonomi sulit menyebabkan semuanya tidak mudah. Belum lagi kewajiban membayar sewa flat yg sudah jatuh tempo sejak lama sampai kebutuhan lainnya yg tidak akan terpenuhi selama si mesin deteksi tulang tidak jga laku terjual.

Keadaan makin genting, sang istri memutuskan untuk meninggalkannya. Sampai harus menginap di motel samapi berebut tempat tidur di panti sosial demi menghindari tidur beratap langit.

Sampai satu ketika, Crish berkesempatan mengikuti pendidikan menjadi seorang pialang. Saya bukan orang yg pandai menceritakan detif film, namun ada satu kalimat yg terus terngiang di kepala saya. Kalimat ini muncul saat Chrish sedang menasehati sang putra tercinta, "Jangan biarkan orang lain berkata kau tidak akan bisa, termasuk diriku." Sebuah kalimat yg amat sangatlah sederhana, namun mengandung kekuatan yang amat sangat.

dan, jika direalisasikan, maka akan menciptakan manusia pantang menyerah untuk mengejar keinginan, bukan karena agar impian terwujud namun untuk membuktikan pada orang disekeliling bahwa kita bisa melakukan apapun tanpa kecuali.

sebuah film yg sangat inspiratif, terlebih lagi film ini memang based on true story, bukan fiksi rekaan semata.

So, bukan hal yg tidak mungkin bukan menggapai mimpi tanpa kecuali?

Senin, 25 Agustus 2008

be my self



beberapa bulan lalu saya mengkhatamkan buku 'the naked traveler' yg di bikin seorang backpakers bernama Trinity. Bukunya asik banget, bercerita dengan sangat rileks mengenai pengalamannya keliling dunia tentunya dengan budget yg tidak bisa dikatakan berlimpah.

Saya juga jadi mempercayai cita-cita saya untuk keliling dunia sama sekali bukan hal yg mustahil untuk diwujudkan meskipun termasuk dalam kelompok orang-orang dengan ekonomi sulit.

Trus, sebenarnya apa yah hubungannya sama trench coat yg saya pajang disamping? Sebenarnya sama sekali tidak berhubungan, hanya saja saya amat menggilai baju panjang ini, rasanya sangat tepat dan memang tempatnya jika nanti saya berkesempatan mendatangi negara empat musim, ya si trench coat inilah baju kebesaran saya.

sebenarnya, di sini pun saya sering memakainya. Bodo amat orang mau bilang gak pantes atau aneh. kan yg penting be my self.. he..he..he.. Meski sebenarnya kata be my self cuma buat mangkir dari tuduhan tak bisa memilih kostum yg tepat sesuai dengan tempat aja sih..

Hm..sebenarnya sebarapa besar sih tiap orang mau mengikuti suara hati tanpa mempertimbangkan suara-suara dari luar sana yg cenderung jadi polusi otak kita? Orang-orang di luar sana terlalu banyak mencemari pemikiran kita, sampai entah kita sadari atau tidak, pada satu ketika kita malah tidak tahu apa yg menjadi keinginan kita sesungguhnya.

so, agaknya kata ajaib be my self sebaiknya selalu nempel di otak, gak boleh bergeser sedikitpun, meskipun tidak harus diaplikasikan secara penuh kan?

begitu juga dengan mimpi untuk keliling dunia. Saya bukan orang yg memiliki harta berlimpah. Status pun masih freelance yg kontrak kerja harus diperbaharui tiap tiga bulan sekali. Namun ini tidak membuat saya menjadi pesimis. Saya bisa menabung, yah paling tidak saya akan berusaha nego dengan hati, dalam waktu dekat kalau belum bisa keliling dunia, yah minimal keliling Indonesia saja dulu. Toh kita dikarunia negeri yg elok tak terhingga, jadi rasanya akan hampir sama menyenangkannya.

so, siapa yg mau bergabung bersama saya untuk berpetualang? Tentu saja BS-BS yah?!!!!ha...ha..ha...