terbang mengangkasa
layaknya elang
yang terkadang cukup sial
bersanding dengan petir yang menggelegar
jangan sembarangan sesumbar
sok ingin menjadi berarti
begitu kesempatan datang
ragunya setengah mati
berani dan tidak
hanya kamu yang memutuskan
resiko tentu selalu ada
posisinya tepat berdampingan
dengan berkah yang mungkin saja kau dapat
Selasa, 06 April 2010
Minggu, 04 April 2010
sonata sendu
aku tertancap
dalam ladang persembahan
selang beberapa waktu
kakiku membelukar
menuju segala arah
meski banyak tujuan yang tercipta
hanya satu yang pasti aku tahu
kemana jalan pulang
harus kutuju..
tak perlu khawatir
aku akan baik-baik saja
malaikat penjaga yang kau pesan bekerja sangat baiknya
justru aku yang khawatir disini
kamu sendirian saja disana
terpuruk dalam rasa sepi
dan kerinduan bisu yang tak bisa kau bagi
dalam ladang persembahan
selang beberapa waktu
kakiku membelukar
menuju segala arah
meski banyak tujuan yang tercipta
hanya satu yang pasti aku tahu
kemana jalan pulang
harus kutuju..
tak perlu khawatir
aku akan baik-baik saja
malaikat penjaga yang kau pesan bekerja sangat baiknya
justru aku yang khawatir disini
kamu sendirian saja disana
terpuruk dalam rasa sepi
dan kerinduan bisu yang tak bisa kau bagi
Sabtu, 03 April 2010
Jelajah Tidung Bersama Tim 11 Untar
Baru saja miLLe Explorer mengadakan trip perdana menjelajahi pulau yang selalu dan selalu saya rindukan. Pulau Tidung. Sebuah pulau yang berada dalam jajaran Kepulauan Seribu dan merupakan pulau kedua yang berpenghni setelah Pulau Pramuka.
Pulau Tidung memang tidak memiliki kepopuleran seperti Pulau Pramuka yang konon memiliki lokasi penangkaran penyu, namun pulau ini memiliki daya tarik yang tidak kalah.
Salah satu keistimewaan terletak pada jembatan yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Panjang jembatannya tak kurang dari 2 kilometer. Setiap pengunjung bisa melaluinya dengan sepeda ataupun berjalan kaki. Meskipun untuk pilihan kedua, saya sangat tidak menyarankannya, terlebih jika panas sedang menyengat di siang yang terik.
Perjalanan yang berlangsung 19-21 Maret ini menyisakan kisah dalam beragam warna. Ada merah, hijau, kuning, biru, abu-abu, bahkan hitam pekat bagi beberapa orang. Namun secara keseluruhan, jika boleh, saya ingin memasukkannya dalam kotak kuning. Tak ada alasan spesifik, apalagi bermuatan filosofis. Hanya alasan sederhana, keceriaan yang tercipta begitu sempurna, meski sempat ada sebuah insiden, tak berhasil merusak kegembiraan yang kami lalui bersama. Yah, saya rasa, kuning warna yang cocok.
Perjalanan diawali dengan janji bertemu dengan rombongan pukul 5 dinihari di pelataran Universitas Tarumanagara (bener ya spell-nya?). Dibanding saya, Hans datang lebih dulu. Meski demikian, Hans rupanya didahului oleh Layar, peserta yang paling dewasa diantara rombongan. Kedewasaannya terlihat dari sikapnya memperlakukan 10 peserta lain yang notabene memang juniornya di kampus.
Saat saya sampai dilokasi yang dijanjikan, rupanya telah hadir dua peserta. Peserta kedua yang datang bernama Anto. Laki-laki berperawakan sedang dengan rambut yang berpotongan penuh gaya ini memberikan saya catatan khusus. Dia sangat senang difoto. Percayalah, berapapun banyaknya lensa kamera menjepret, gayanya tak akan pernah habis. Selalu tersedia. Seperti halnya model pakaian yang dikenakan. Di hari kedua, Anto malah menggunakan kaos dengan model tak lazim.
Selanjutnya saya tidak ingat persis, siapa saja urutan peserta yang hadir. Satu persatu datang berkumpul, dan saya berusaha sekuat tenaga mengingat tiap fragmen wajah mereka. Sayang, usaha saya gagal total di hari pertama. yang tidak saya lupa adalah peserta yang terakhir datang. Setelah diatas kapal, baru saya tahu, peserta pamungkas dalam perjalanan ini bernama Yeni. Sosoknya mungil. Paling mungil malah, jika dibandingkan dengan peserta lainnya. Namun, jangan coba-coba meragukan nyalinya. Semua temannya saya rasa akan menyepakati, keberanian Yeni saat melakukan terjun diatas jembatan dengan ketinggian 5 meter sungguh mengejutkan. Si pendiam yang cenderung enggan ambil bagian saat yang lain bersenda gurau ini memiliki mental malas bicara langsung saja bertindak. Voila…semua terkejut dan terkagum-kagum.
Dua peserta perempuan yang memiliki nyali tak kalah besar adalah Shanti dan Yantica atau biasa disapa dengan sebuatn Asuang. Keduanya sama-sama berambut panjang. Sama-sama suka difoto, dan yang pasti sama-sama berisik. Konon, tempat tinggal merekapun berdekatan, benar-benar sabahat siam saya rasa.
Perjalanan kami dimulai dengan menumpang Taxi Transcab menuju Muara Angke. Ternyata, jadwal pelayaran kapal tidak secepat yang saya kira, malah rombongan kami termasuk penumpang yang pertama hadir. Selama perjalanan, kami saling bercerita, bercanda, dan tentu saja mencela. Kebiasaan khas anak muda.
Anto mengusulkan untuk bermain kartu. Akhirnya, saya dan 3 peserta lainnya terlibat dalam permainan kartu yang seru. Semuanya sibuk dengan keriuhan masing-masing sampai kapal mendarat di dermaga Pulau Tidung.
Di Dermaga, kami dijemput oleh Ricky, si anak pulau yang kalem.
Saya berkenalan dengannya pada awal tahun ini saat kali pertama menyambangi Tidung. Ricky sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas Islam Syarif Hidatullah Jakarta. Saat ini dirinya bekerja di tiga istitusi berbeda dengan posisi yang berbeda pula. Bahasa kerennya, Ricky menjalani tiga profesi dengan job desk dan lokasi berbeda dalam waktu bersamaan. Wow…siapa yang tak kagum?! Pembawaannya yang santun menambah daftar kekaguman saya padanya. Dugaan saya, pasti banyak gadis-gadis yang menaruh hati. Terasa sekali saat beberapa kali saya berboncengan motor, ada beberapa makhluk hawa yang melemparkan senyum simpul. Senyum itu tidak mungkin untuk saya kan?!!
Mengikuti instruksi Ricky, kami menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal selama bermukim di Tidung. Jaraknya lumayan jauh, apalagi bagi yang tidak biasa berjalan, pasti cukup menyiksa.
Tibalah kami disebuah rumah yang memiliki ruang tengah cukup lapang. Pemiliknya bernama Pak Sueb. Keluarga ini meminjamkan dua kamar tidur dan satu ruang tengahnya untuk kami.
Begitu sampai, kami langsung menyantap makan siang yang disediakan oleh tuan rumah. Menunya adalah nasi, sayur asam, ikan asin, lalapan, sambal dan tempe goreng.
Sen Sen menjadi satu-satunya peserta yang tidak memakan daging alias vegetarian. Selama disana, menu specialnya adalah telor mata sapi dan sambal. Saya sempat lupa tidak memesankan si telor mata sapi, akhirnya dia hanya makan dengan tempe goreng. Kasians ekali saya melihatnya, tapi yam au apa lagi? Tak ada yang bisa dilakukan juga.
Usai makan siang, kami langsung bergegas memilih sepeda dan mulai menggenjotnya. Semilir angin yang sepoi-sepoi semakin mempertegas suasana pesisir. Saya dan Hans akhirnya membelah diri. Bersama para sahabat miLLex, Hans mengajak berkeliling pulau, sedang saya ditemani Ricky menyiapkan bibit bakau yang akan kami tanam di Tidung Kecil.
Satu persatu pohon Bakau kami tanam. Peserta penuh rasa antusias menanamkan tunas-tunas harapan yang semoga saja suatu hari kelak dapat menghadang arus ombak laut yang terkadang merusak.
Usai menanam bakau, rencana awalnya adalah menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Sayang seribu sayang, bapak-bapak si pemetik kelapa sedang pergi ke Tangerang. Kesempatan menikmati segarnya kelapa muda raib sudah.
Sambil menunggu sunset, kami semua membekukan momen lewat jepretan kamera yang di bawa Hans, Layar, Yenny, dan tentu saja Jimmi. Jimmi bisa dikatakan si kepala suku dalam kelompok perjalanan ini. Dialah yang mengkoordinir semua peserta agar turut serta. Ekspektasinya mengikuti trip ini adalah menambah koleksi foto-foto yang saya yakin sudah berjibun. Belakangan saya ketahui, Jimmi pengusaha muda yang mumpuni. Like this dua jempol untuk keuletannya menjalankan ini itu dalam usia yang masih belia.
Sunset yang ditunggu pun datang. Sekali lagi, dengan kemenangan mutlak, alam mempesonakan mata kami. Kami, sekelompok remaja yang terkadang begitu pongah terhadap realitas dunia, terangkum dalam satu suara, mengagumi keindahan suguhan sang pencipta.
Begitu gelap menjelang, kami menuju jalan pulang. Bersepeda ria, menyusuri setapak . Entah bagaimana ceritanya, kelompok tercerai berai menjadi tiga sub kecil. Untunglah, kami selamat sampai rumah, lengkap.
Setelah makan malam, jadwal berikutnya adalah mencari ikan di dermaga utara.
Air laut begitu jernih. Kami juga diberi bonus taburan bintang yang memenuhi angkasa raya. Meski hasil pancingan tak seperti yang diharapkan, namun kenyamanan suasana dermaga membuat kami malas beranjak. Beberapa anak harus dipaksa agar mau beranjak pulang dan beristirahat.
Hari kedua, waktunya snorkeling.
Tunggu dulu, ada yang harus dilakukan sebelum menaiki kapal. Ya, peserta diharuskan untuk memungut sampah yang ada di dermaga. Maaf kawan, untuk sesi ini saya tak begitu tahu apa yang terjadi. Hans bercerita, kalian menunjukkan sikap yang rupa-rupa. Ada yang bersemangat, ada juga yang malas. Tak apa, paling tidak, ini akan menjadi pengalaman yang patut diceritakan. Paling tidak, kali ini kalian telah member sesuatu pada alam. Bukankah kita juga terlalu banyak menikmati alam?
Pelayaran akhirnya dimulai. Tujuan pertama adalah pulau Karang Beras. Kami berencana untuk makan siang di pulau kecil tak berpenghuni ini. Meski tak sama persis, saya ingin peserta merasakan makan di pulau pribadi sambil ditemani kicau burung dan semilir angin laut yang melenakan.
Ternyata kata tak berpenghuni tidak sepenuhnya tepat saya tujukan bagi pulau karang Beras. Di pulau ini sedang di bangun resort, yang rencananya mulai beroprasi per oktober 2013. Ada dua orang patugas yang berjaga, untungnya kami diperbolehkan makan siang di pulau mungil ini, asalkan tidak mencipta sampah. Selain makan siang bersama, peserta memulai snorkeling. Nyaris semua peserta menceburkan diri, kecuali Meryska. Meryska mirip dengan saya, bernyali ciut jika dihadapkan dengan renang. Gadis berambut panjang ini juga baru mengaku di hari kedua, jika dirinya tak terlalu menyukai ikan. Glek. Padahal menu sehari-hari yang saya rencanakan adalah ikan dan ikan.
Perjalanan kami lanjutkan menuju lokasi snorkeling sesungguhnya.
Kapal mengantarkan kami ke parairan yang terlihat dangkal. Dari kapal saja terlihat karang dan ikan-ikan berwarna-warni yang seolah mengundang kami untuk menyambanginya. Satu persatu terjun. Tiap orang mulai asik dengan kekagumannya masing-masing.
Disini, Yenni dan Asuang tanpa sengaja menjatuhkan alat snorkeling di perairan yang dalamnya lebih dari 22 meter. Keceriaan langsung raib dari wajah mereka. Peserta lain berusaha menghibur.
“Tak apa kawan, soal ganti rugi, nantilah kita bicarakan, yang bisa kita lakukan saat ini adalah lanjutkan kesenangan agar tak menyesal kemudian hari,” guman saya.
selain bersnorkel ria, beberapa peserta juga memancing. Setiap ada ikan yang berhasil kami pancing, sorak-sorak bergembira langsung berkumandang. Bahkan Okem dengan senang hati menyiksa binatang-binatang malang yang berhasil kami tangkap. Entah dari mana, Okem mewarisi sifat sadis ini. Laki-laki ini memiliki perpaduan sifat yang agak janggal menurut saya. Sekali waktu dia begitu manis dengan hobinya yang suka jajan. Namun, di waktu berikutnya, dia sangat bersemangat melihat ikan menggelepar akibat ulahnya. Aneh.
Petualangan terus berlanjut menuju jembatan. Yang memiliki nyali besar tak melewatkan kesempatan untuk terjun diatas ketinggian 5 meter. Ada Yenni, Asuang, Shanti, Anto, Okem, Sensen, Layar, Anto, Cipto, dan Rendy yang menikmati sensasi lepas bebas melayang dan kemudian terhempas di air.
Untuk Cipto dan Rendy harus melalui sesi khusus. Awalnya mereka berdua takut, namun peserta lain begitu bersemangat menggoda.
Rendy malah sempat menemukan teman seperguruan dalam hal meragu. Ya, laki-laki kurus yang jago mengedit foto ini akhirnya berani menghempaskan diri dari ketinggian 5 meter.
Kami menikmati kegiatan berkecipak-kecipuk dalam air hinggam senja menjelang.Kemudian kami pulang.
Selanjutnya adalah Time To Barbeque. Meski lelah bukan kepalang, usai membersihkan diri dan makan malam, kami beranjak ke dermaga untuk membakar hasil pancingan siang tadi. Sambil mengelilingi api unggun dan diiringi gitar pinjaman, kami menyampaikan keluh kesah dan tentu saja kesan yang berhasil terekam dengan mendalam. Senang rasanya, setiap peserta ternyata merasa bahagia dengan petualangan yang nyaris berakhir ini. Beberapa memberikan saran untuk mille Explorer. Sambil menikmati gurihnya ikan, kami semua larut dalam suasana akrab.
Ups, tidak bisa dikatakan semua. Cipto asik sendiri menceburkan diri di dermaga. Dia sepertinya takjub dengan jernihnya air, sehingga ikan-ikan terlihat jelas. Tangannya menyorong-nyorong. Berusaha menangkap ikan dengan kedua tangannya.
Kebersamaan kami terus berlanjut hingga larut. Kelompok terakhir baru meninggalkan dermaga sekitar pukul 02.00 dinihari.
Keesokan harinya, kami bergegas dan bersiap-siap pulang. Tak ada satu pun dari kami yang mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi seadanya. Takut tak mendapatkan kuota tumpangan, saya datang lebih cepat dari pada si penjual tiket. Di dermaga, saya juga menyelesaikan masalah ganti rugi alat snorkeling yang hilang. Dari Jimmi, saya ketahui, seluruh peserta sepakat untuk patungan demi mengganti alat yang hilang. Salut untuk kekompakan dan rasa setia kawan kalian.
Sekitar pukul 08.00 kapal mulai berlayar menuju Muara Angke. Usai sudah perjalanan. Terimakasih kawan, untuk pengalaman mengesankan bersama kalian. Semoga, kebersamaan kita bukanlah yang terakhir, melainkan pintu yang membuka cakrawala untuk perjalanan-perjalanan berikutnya. Adios!!
Jakarta Barat, 1 April 2010
Minggu, 28 Maret 2010
Saya dan Rokok

Rokok. Siapapun setuju, benda ini tidak memberikan manfaat apapun, namun herannya dipuja setengah mati oleh para pecandunya. Mereka berdalih, rokok dapat melancarkan ide yang kadang tersumbat di lipatan otak. Tanpa rokok, para pecandu bak kehilangan sahabat karib.
Dari sisi medis, tentu sudah banyak jurnal yang memuat bahaya dan komposisi racun dalam rokok. Toh, keterangan ini tak menyurutkan jumlah penggemar rokok. Justru sebaliknya, jumlah perokok semakin bertambah saja. Jika dibuat dalam bentuk perbandingan, berkurangnya jumlah pecandu rokok tidak sebanding dengan jumlah perokok baru.
Masih melegakan jika jumlah perokok yang berkurang adalah mereka yang memutuskan untuk berhenti. Sayangnya, berkurangnya jumlah perokok juga disebabkan kontrak mereka didunia juga telah selesai.
Saya pribadi, bukanlah orang yang mengharamkan rokok. Meski bukan perokok, batas toleransi saya terhadap benda penuh racun ini cukup longgar.
Kali pertama saya berhubungan dengan rokok saat masih duduk di kelas 3 SD. Mengutil rokok Bentoel milik pakde. Tak ada niat menjadi perokok, hanya penasaran mengapa laki-laki dalam keluarga besar saya begitu memujanya. Di kebun belakang rumah nenek, saya akhirnya mecoba menikmatis ebatang Bentoel curian itu.
Hoek..rasanya sungguh tak enak!!!
Sebuah permulaan yang tidak mesra, mencipta kapok malahan.
Pegalaman menghisap rokok setelah itu adalah untuk alasan pengobatan. Saya juga tak habis pikir hingga kini. Jadi waktu itu ceritanya saya sedang sakit gigi. Entah dapat wangsit dari mana, ibu menyodorkan rokok kretek yang rasanya bikin eneg. Dua kali saya mencoba menghisap rokok dengan tujuan menyembuhkan sakit gigi. Mungkin tersugesti, cara itu berhasil menghalau sakit gigi saya.
Hingga menjelang usia 27 tahun ini, jadi saya telah berhasil menyelesaikan masa isap tiga batang rokok.
Persentuhan saya dengan rokok juga cukup intens terjadi di rumah. Kedua orang tua saya memiliki toko kelontong yang salah satu menu dagangannya adalah rokok. Sempat saya memprotes ibu untuk tidak menjual rokok. Apa daya, keuntungan menjual rokok cukup menjanjikan agar toko kelontong keluarga kami bisa tetap benrdenyut. Mau tak mau, saya positif menjadi perokok pasif.
Dilingkungan sekolah maupun kampus, teman-teman saya juga perokok. Dunia kerja pun tak berbeda jauh.
Laki-laki yang saya cinta setengah mati pun seorang perokok. Untungnya, si Batu kini sedang menerapkan aturan dua batang rokok perhari. Sebuah jumlah yang sangat logis. Pernah sih, minggu lalu, dia melanggar komitmen. Tak tanggung-tanggung, dia menghabiskan enam batang rokok dalam sehari, usai kami berselisih paham mengenai kata setia dan aturan boleh dan tidak sesuatu dilakukan oleh kami.
semalam, saya kembali berjibaku dengan rokok. Ada pekerjaan yang mengharuskan saya berada di puncak pada akhir pekan lalu bersama miLLe Explorer. Karena kewajiban live di senin pagi, tadi malam saya kembali ke Jakarta sendirian. Di angkot kecil, ada dua orang laki-laki yang menghisap rokok. Asapnya jangan ditanya. Melebihi batas kompromi saya. Untungnya, saat saya mengajukan keberatan, mereka sangat kooperatif. Lega rasanya.
Jujur, saya masih terheran-heran dengan orang-orang yang dengan santainya meyalakan rokok di dalam kendaraan umum. Kalo itu mobil pribadi sih silahkan saja. Tapi kalau kendaraan umum? Duh, rasanya ingin memaki. Jadi, maaf-maaf saja. Jika saya menemukan orang yang menyalakan rokok dalam kendaraan umum, maka saya akan langsung berasumsi negatif.pasti orang ini berpendidikan rendah, tidak terpelajar, dan kekurangan pendidikan etika. Huh..sekali lagi, saya bukan membenci perokok, tapi membenci orang yang mengesampingkan hak orang lain demi kenikmatan menghisap rokok!!
Senin, 15 Maret 2010
The Happy Day!

hari ini umat hindu merayakan nyepi. saya tidak tahu persis mengenai detil prosesi yang dijalankan, selain matikan lampu, televisi dan apapun yang berpotensi menimbulkan suara gaduh. wah, pasti Bali sepi sangat yah?!!
pastinya, tidak hanya umat hindu yang merayakan hari ini. para non hindu pun pasti banyak yang menyambut si tanggal merah ini dengan sukaria. Si Batu malah sejak kemarin menyambangi kota kembang, bersama konco-konconya.
lalu, apa yang saya lakukan di tanggal merah ini?
tadi pagi, entah dapat energi darimana, saya bangun dengan semangat gegap gempita. berangkat ke kantor pun dengan hati penuh sorak-sorak bergembira. sama sekali tak ada rasa keberatan, harus ngantor di tanggal merah. meski sejujurnya, saya gak terlalu ngeh, jika hari ini terkategori libur. cukup lama kerja di media ternyata berhasil membuat saya kebal dengan warna merah pada tanggal.
hari ini Healthy Life cukup istimewa, mengundang kurang lebih 60 penonton dari Tim Nasional Baseball Anak. topik yang dibahas seputar dilematika yang harus dihadapi anak dengan beratnya masa latihan ditambah tuntutan sekolah yang sama besar. hasilnya, serrruuuu!!
mereka juga tidak sungkan menyerbu makanan saat program berakhir.
hmpf..padahal kan seharusnya makanan itu jatah saya, hehehe
gak ding, saya seneng banget kok melihat euforia mereka.
rasanya seperti melangkah pada memori belasan tahun silam, saat saya seusia mereka.
setelah itu, saya kembali duduk manis didepan PC, merangkai aksara, menyiapkan materi besok.
juga menyempatkan diri menyapa si Batu yang katanya belum terlalu menikmati si geulis Bandung. yah, semoga saja sisa harinya menyenangkan. akhirnya berhasil ke Bandung juga kan?!!!!
yang akan saya lakukan adalah mengisi sisa hari ini dengan penuh rasa syukur atas rona bahagia yang sudah terbentuk sejak matahari menyongsong hari.
Go Go Go!!!!
ada semburat merah
letaknya persis dibatas cakrawala
tentu saja hanya batas rekaan
karena sesungguhnya
cakrawala tak memiliki tepi bukan?
seperti semangatku hari ini
merah menyala
dan tak terbatas..
Minggu, 14 Maret 2010
sedang bodoh
hatiku membelukar
gak tau kenapa, tiba-tiba frase itu yang terlintas. maknanya juga sebenernya saya gak tau. terkadang otak ini emang suka mencipta padanan kata yang maknanya pun tak terdeteksi dengan jelas.
hari ini bisa dibilang hari yang tidak produktif. volume otak rasanya kok mengecil, diajak ngobrol aja lama apalagi dipake mikir coba?
duh gusti? kenapa pula ini?
semoga gak lama-lama deh, membodoh seperti ini. bisa gawat dunia persilatan dan perhelatan yang tentu saja hanya ada dalam reka imaji saya semata.
gak tau kenapa, tiba-tiba frase itu yang terlintas. maknanya juga sebenernya saya gak tau. terkadang otak ini emang suka mencipta padanan kata yang maknanya pun tak terdeteksi dengan jelas.
hari ini bisa dibilang hari yang tidak produktif. volume otak rasanya kok mengecil, diajak ngobrol aja lama apalagi dipake mikir coba?
duh gusti? kenapa pula ini?
semoga gak lama-lama deh, membodoh seperti ini. bisa gawat dunia persilatan dan perhelatan yang tentu saja hanya ada dalam reka imaji saya semata.
akhirnya kembali juga
aduh..aduh,lama gak berkunjung nih..
untunglah, rumah ini maya, jika rumah sungguhan tentu telah berselimut debu dengan sarang laba-laba yang menggelantung disana-sini.
tidak ada peristiwa yang menakjubkan, hanya sedang sering merasa resah saja. dengan problematika yang itu-itu saja. yah, gak jauh-jauh dari urusan hati, mimpi yang tak kunjung juga terealisasi.
soal mimpi, saya sih maklum sangat. jelas saja tak terealisasi, lah wongsaya juga ndak melakukan aksi nyata kok. satu-satunya aksi ya cuma sesumbar ingin melakukan ini dan itu.
berang..
merasa manja dan tak berguna
entah sampai kapan perjalanan ini selesai
ayo, akhiri saja
mungkin jika ada yang memulai aku akan tergugah
jika aku yang mulai
maaf-maaf saja
pengalaman sebelumnya memberi pembelajaran berguna sangat
dalam berkomitmen, aku payah
sajak ini bukan untuk seseorang
meski saat dibuat pikiran dan hasrat hanya tertuju padanya
sungguh,
ini tentang keinginan aku seorang
yang tak juga mampu menyelesaikan
satu episode cerita
yang pada akhirnya hancur berantakan
karena terlalu lama dibiarkan.
jadi,
monggo bantu saya merapikannya ya..
untunglah, rumah ini maya, jika rumah sungguhan tentu telah berselimut debu dengan sarang laba-laba yang menggelantung disana-sini.
tidak ada peristiwa yang menakjubkan, hanya sedang sering merasa resah saja. dengan problematika yang itu-itu saja. yah, gak jauh-jauh dari urusan hati, mimpi yang tak kunjung juga terealisasi.
soal mimpi, saya sih maklum sangat. jelas saja tak terealisasi, lah wongsaya juga ndak melakukan aksi nyata kok. satu-satunya aksi ya cuma sesumbar ingin melakukan ini dan itu.
berang..
merasa manja dan tak berguna
entah sampai kapan perjalanan ini selesai
ayo, akhiri saja
mungkin jika ada yang memulai aku akan tergugah
jika aku yang mulai
maaf-maaf saja
pengalaman sebelumnya memberi pembelajaran berguna sangat
dalam berkomitmen, aku payah
sajak ini bukan untuk seseorang
meski saat dibuat pikiran dan hasrat hanya tertuju padanya
sungguh,
ini tentang keinginan aku seorang
yang tak juga mampu menyelesaikan
satu episode cerita
yang pada akhirnya hancur berantakan
karena terlalu lama dibiarkan.
jadi,
monggo bantu saya merapikannya ya..
Langganan:
Postingan (Atom)