Senin, 15 Maret 2010

The Happy Day!


hari ini umat hindu merayakan nyepi. saya tidak tahu persis mengenai detil prosesi yang dijalankan, selain matikan lampu, televisi dan apapun yang berpotensi menimbulkan suara gaduh. wah, pasti Bali sepi sangat yah?!!

pastinya, tidak hanya umat hindu yang merayakan hari ini. para non hindu pun pasti banyak yang menyambut si tanggal merah ini dengan sukaria. Si Batu malah sejak kemarin menyambangi kota kembang, bersama konco-konconya.

lalu, apa yang saya lakukan di tanggal merah ini?
tadi pagi, entah dapat energi darimana, saya bangun dengan semangat gegap gempita. berangkat ke kantor pun dengan hati penuh sorak-sorak bergembira. sama sekali tak ada rasa keberatan, harus ngantor di tanggal merah. meski sejujurnya, saya gak terlalu ngeh, jika hari ini terkategori libur. cukup lama kerja di media ternyata berhasil membuat saya kebal dengan warna merah pada tanggal.

hari ini Healthy Life cukup istimewa, mengundang kurang lebih 60 penonton dari Tim Nasional Baseball Anak. topik yang dibahas seputar dilematika yang harus dihadapi anak dengan beratnya masa latihan ditambah tuntutan sekolah yang sama besar. hasilnya, serrruuuu!!
mereka juga tidak sungkan menyerbu makanan saat program berakhir.
hmpf..padahal kan seharusnya makanan itu jatah saya, hehehe
gak ding, saya seneng banget kok melihat euforia mereka.
rasanya seperti melangkah pada memori belasan tahun silam, saat saya seusia mereka.

setelah itu, saya kembali duduk manis didepan PC, merangkai aksara, menyiapkan materi besok.

juga menyempatkan diri menyapa si Batu yang katanya belum terlalu menikmati si geulis Bandung. yah, semoga saja sisa harinya menyenangkan. akhirnya berhasil ke Bandung juga kan?!!!!

yang akan saya lakukan adalah mengisi sisa hari ini dengan penuh rasa syukur atas rona bahagia yang sudah terbentuk sejak matahari menyongsong hari.
Go Go Go!!!!

ada semburat merah
letaknya persis dibatas cakrawala
tentu saja hanya batas rekaan
karena sesungguhnya
cakrawala tak memiliki tepi bukan?
seperti semangatku hari ini
merah menyala
dan tak terbatas..

Minggu, 14 Maret 2010

sedang bodoh

hatiku membelukar

gak tau kenapa, tiba-tiba frase itu yang terlintas. maknanya juga sebenernya saya gak tau. terkadang otak ini emang suka mencipta padanan kata yang maknanya pun tak terdeteksi dengan jelas.

hari ini bisa dibilang hari yang tidak produktif. volume otak rasanya kok mengecil, diajak ngobrol aja lama apalagi dipake mikir coba?
duh gusti? kenapa pula ini?

semoga gak lama-lama deh, membodoh seperti ini. bisa gawat dunia persilatan dan perhelatan yang tentu saja hanya ada dalam reka imaji saya semata.

akhirnya kembali juga

aduh..aduh,lama gak berkunjung nih..
untunglah, rumah ini maya, jika rumah sungguhan tentu telah berselimut debu dengan sarang laba-laba yang menggelantung disana-sini.

tidak ada peristiwa yang menakjubkan, hanya sedang sering merasa resah saja. dengan problematika yang itu-itu saja. yah, gak jauh-jauh dari urusan hati, mimpi yang tak kunjung juga terealisasi.

soal mimpi, saya sih maklum sangat. jelas saja tak terealisasi, lah wongsaya juga ndak melakukan aksi nyata kok. satu-satunya aksi ya cuma sesumbar ingin melakukan ini dan itu.

berang..
merasa manja dan tak berguna
entah sampai kapan perjalanan ini selesai
ayo, akhiri saja
mungkin jika ada yang memulai aku akan tergugah
jika aku yang mulai
maaf-maaf saja
pengalaman sebelumnya memberi pembelajaran berguna sangat
dalam berkomitmen, aku payah

sajak ini bukan untuk seseorang
meski saat dibuat pikiran dan hasrat hanya tertuju padanya
sungguh,
ini tentang keinginan aku seorang
yang tak juga mampu menyelesaikan
satu episode cerita
yang pada akhirnya hancur berantakan
karena terlalu lama dibiarkan.

jadi,
monggo bantu saya merapikannya ya..

Senin, 08 Februari 2010

Cinta untuk Bilqis

Cinta bisa datang dan pergi. Kadang muncul tanpa aba-aba, sering menghilang tanpa basa-basi. Tidak jarang datang kemudian hinggap. Diusir dia, kembali mengendap-endap.
Andi Eriawan

Ya, selarik kalimat tadi dibuat oleh seseorang yang saya kagumi. Tak pernah bertemu, kenal juga tidak sama sekali, hanya saja, saya sering mengunjungi beranda maya miliknya.
Saya menyepakati, amat sangat mengamini.
Cinta, bisa saja kita merasa jatuh cinta dalam sekejap, tanpa babibu, tiba-tiba saja terasa.

Seperti yang terjadi pagi ini. Saya jatuh cinta pada sebuah gerakan sosial bernama ‘Koin Cinta Bilqis’ (KCB). Sebuah gerakan yang bertujuan menggalang dana untuk membantu proses pengobatan seorang bayi 17 bulan yang dideteksi mengalami kelainan bawaan bernama Atresia Bilier. Biaya pengobatan yang dibutuhkan tak tanggung-tanggung, yakni 1M. Sebuah nominal yang sangat fantastis tentu saja. Beruntung, kita berada di sebuah negara dimana msyarakatnya masih memiliki kepedulian terhadap sesama, dalam jangka waktu kurang dari 50 hari, KCB berhasil menggalang dana 1,5M.

Kini, segenap keluarga sedang menunggu keputusan tim dokter di RSUD Karyadi Semarang mengenai tindak lanjut langkah medis yang akan di berikan pada Bilqis Anindya Passa.

Semoga Bilqis mendapatkan yang terbaik, tanpa kecuali. Semangat hidupnya telah menginspirasi banyak orang di luarsana untuk terus berjuang, menerjang penghalang menuju pengharapan meski hanya setitik terang. Saya disini, merasa tersemangati lewat gelang dan pin yang tersemat hangat di dada.

Rabu, 03 Februari 2010

puisi untuk sepotong cerita di masa lalu


Ada yang hilang di sini, entah apa, aku tah tahu
Semua memisterikan diri
Seakan menjadi abu-abu
Memudar
Dan perlahan menghilang tanpa pamit
Ada yang berdenyut
Entah apa, yang pasti di dalam diriku
Dibarengi dengan memori masa lalu yang berkelebat
Aku rindu aroma daun bambu di sekitar lapangan basket itu
Aku rindu tawa dan makian tanda sayang sahabat di kampus tercinta
Aku ingin mencecap
Aroma semua yang dulu terasa manis
Kini
Ingatanku memburam
Perlahan dan pasti
23 juni 2009


tanpa sengaja kutemukan bait aksara diatas, meski sudah lama di buat, sampai saat ini saya masih merasakan hal yang sama.

Selasa, 02 Februari 2010

sandal jepit lepas landas


Sedang ingin berbicara tentang resiko. Setiap tindakan pasti mengandung resiko, baik itu resiko menyenangkan atau malah resiko menyebalkan.

Seperti yang sedang dijalani sandal jepit. Dia merelakan dirinya terjatuh dalam cinta, dalam dan menyanyat. Awalnya, dia hanya mencoba-coba belaka. Mencoba membuka hati pada batu yang selalu membuatnya tertawa. Mencoba menjalin cerita, setelah bertahun-tahun dia takut mencoba.

Beberapa waktu berselang, sandal jepit merasa senang. Bahagia. Dunianya seketika memiliki koleksi warna. Tidak hanya 24 macam, seperti koleksi spidol yang dimilikinya. Semburat diharinya pun langsung bermetamorfosa, tegas dan ceria.

Sampai satu masa datang membayangi. Ternyata, tak selamanya cinta menjanjikan suka ria semata. Cinta juga mengajak resiko. Sandal jepit sadar, sewaktu-waktu dirinya bisa saja terluka. Setidaknya ia tidak pernah menyesal, menjalani sepotong cerita dengan sapuan kuas cerita yang tak biasa.

Saat ini, sandal jepit akan terus melangkah. Menapaki setiap jalan yang akan mengajaknya ketempat-tempat tersempurna. Dalam setiap langkah, akan digoreskannya jejak-jejak perjalanan jiwa. Mungkin nanti akan ditemuinya jalan setapak yang lembut. Tak jarang juga membentang lautan luas, atau malah gemericik air di sungai jernih.

Saat ini, ada sebongkah batu yang mendampinginya. Mungkin besok malah sepatu kanvas. Bukan tak mungkin juga tas ransel. Semua begitu bebas menjelma, tanpa kategorisasi. Berpetualang, melanglanglang buana, sampai ditemukannya batas cakrawala.

Minggu, 17 Januari 2010

Melawan Rasa Malas

Ada banyak rencana yang harus diurai satu persatu dalam satu putaran tahun ini. Semoga saja kesemuanya tidak berhenti dalam tahap wacana. Yah, meski belum menjadi tekad yang membatu, kali ini saya cukup bersikeras untuk merencanakan ini itu. Bukan rencana yang cukup wah sebenarnya, sederhana malah.

Saya sedang ingin berkoar-koar tentang rencana, keinginan dan target.

Umm, setelah dipikir-pikir, tiba-tiba saya mengurungkan niat. Satu hal sederhana yang paling ingin saya lakukan adalah melawan rasa malas. Jika sudah bersentuhan dengan lima huruf ini, entah mengapa, rasanya semua energi langsung terserap. Mau punya ide brilian kek, mau semangat nulis kek, mau punya segudang rencana kek, entah mengapa semuanya langsung menguap. Ya, terkadang rasa malas saya memang mencapai tahap akut. Tak jarang saya tak melakukan apapun sepanjang hari, hanya leyeh-leyeh tak jelas juntrungannya.

Sialnya lagi, rasa malas ini suka kambuh tanpa pandang waktu. Dan saya akan kelimpungan sendiri jika malas ini menyergap di hari kerja. Bukannya apa-apa, saya toh tetap harus melaksanakan tugas bukan?
Maaf ya rekan sejawat, jika terkadang harus menyediakan stok sabar lebih banyak saat rasa malas mulai merasuki saya.

Tahun ini saya berjanji akan berusaha menghalau rasa malas yang kerap menghinggapi. Semoga tidak sekedar janji, namun ditepati.