Jumat, 16 September 2011

Jangan Pergi


ambil gambar di sini

Aku ingin menguncimu dalam mataku yang terpejam
Sengaja ku kunci, agar kau tak pergi kemana-mana
Tetap ada di situ
Muncul selalu
Hadir disetiap aku ingin
Tidak pergi-pergi lagi

Aku sudah pernah kehilanganmu
Saat kau lupa jalan pulang
Saat itu, sungguh menyesakkan
Membuatku limbung tak karuan
Perlahan dan pasti aku berusaha bangkit
Dan dengan terpaksa memakai satu-satunya nyawa cadangan
Jadi tolong jangan lagi-lagi pergi
Jika kau pergi lagi
Aku sudah tak punya nyawa cadangan
Jadi aku bisa mati

Kamis, 25 Agustus 2011

Bolehkah aku Menyebut ini Kisah Tahun ke-2?


gambarnya kuambil dari sini looh..

Hari pertama kita melalui dengan senyum. Bahagia menyeruak tak tentu rimba. Ada kegelisahan, tapi hanya sedikit. Dia malu-malu bersembunyi diantara punggungmu. Ada juga secarik kegelisahan yang kusimpan rapi dalam saku celanaku. Aku tak mau menghiraukannya. Bahagia yang membuncah mampu menyimpan rapat gelisah ternyata.

Kemudian putaran hari berjalan dengan pasti. Bahagia yang kita rasakan pun timbul tenggelam. Sekali waktu dia merajai hari. Meski tak jarang dia menghilang dan baru datang usai kita memanggilnya begitu keras. Seharusnya kita mulai sadar, saat bahagia tak lagi mudah diundang, seharusnya kita mulai belajar untuk melepaskannya. Tapi ternyata kita bukan orang yang pandai belajar.

365 hari kemudian datang. Aku rasa saat itu kita memaksakan kebahagiaan. Tak peduli yang terjadi di belakang, hari itu kita harus bahagia. Kamu mengorbankan satu hari kerja. Aku mengorbankan setengah harinya.

Ingatanku masih segar, bagaimana hari itu sejak pagi aku gelisah. Mencari laci kreativitas dari dasar jiwa terdalam. Entah dia hilang atau memang tak kutemukan sejak awal. Usai menyelesaikan tanggung jawab yang cuma secuil, aku menggunting, merangkai dan menyatukan. Sebuah potongan kenangan, harapan juga asa. Semua kukemas dengan apa adanya.

Kukayuh sepeda, menuju sebuah toko foto copy. Menjilid rangkaian buku orange sederhana. Mengapa orange? Karena warna itu sarat dengan semangat. Sarat dengan keceriaan. Meski tak jarang manipulatif.

Kenanganku mulai buram. Kabur. Tak ada lagi yang aku ingat tentang peristiwa 365 hari silam. Aku justru lebih fasih mengingat 365 hari yang pertama.

Hari ini, 365 hari berikutnya. Setelah momen buku orange. Apa yang terjadi?
Kita menjalani legenda pribadi masing-masing. Tidak di satu jalan, bersisian mungkin. Sesekali aku masih mengenang. Awalnya mengenang dengan sakit. Namun kini sudah tidak sakit lagi. Jika ditanya, bagaimana rasanya? Aku tidak tahu, apa nama rasa yang saat ini bersemayam. Datar.

Aku bisa tersenyum mengingat potongan-potongan kenangan tentang kita, tapi sakitnya sudah tidak terasa. Hm..mungkin aku telah berhasil membayar dengan lunas, hutang bahagia bersamamu dengan kesedihan selama lebih kurang sembilan bulan ini.

Pemujaanku padamu, kucukupkan sampai di sini. Tidak ada lagi mimpi buruk. Tidak ada lagi caci maki. Juga tidak ada lagi harapan. Semua lunas tak bersisa. Jika nanti, sengaja atau tidak kita bertatap muka. Aku akan menawarkan persahabatan yang hangat. Lenganku terbuka. Menawarkan pelukan hangat. Tenang saja, jangan khawatir. Pelukan ini sama dengan yang kuberikan pada teman-temanku tercinta. Teman-teman yang membantuku tegar berdiri usai kau mematahkan kakiku. Tidak ada sedikitpun dendam. Aku menyayangimu, hanya karena aku mengenalmu, tidak lebih.

Rabu, 17 Agustus 2011

Balada Nonton Harry Potter dan Setelahnya..


Mengambil gambar di sini
Wah, lama sekali tak mengunjungi rumah ini. Maaf ya, bukan karena saya sibuk luar biasa. Ya ya ya, baiklah memang ada yang luar biasa dengan saya beberapa waktu belakangan ini, yakni malas luar biasa.

Hari ini menginjak hari ke-18 untuk bulan Agustus dan puasa. Stamina pun sedang tak memberi dukungan yang bulat penuh. Tenggorokan saya sukses serak sejak kemarin malam. Kuat dugaan akibat bermotor ria jam 12 malam dari Plaza Senayan menuju rumah di Bekasi. Sebenarnya malam itu sudah ada gejala, hanya saja saya mengabaikan. Jadi, sekarang ya terima saja hasilnya. Silahkan dinikmati rasa sakitnya.
Apakah menderita? Aw..aw..jangan ditanya!

Dalam situasi normal, serak tenggorokan itu bikin susah. Bisa agak dihalau dengan minum air hangat dan mengoleskan semacam balsam atau minyak kayu putih di tenggorokan. Tapi ya tapi..ini kan bulan Ramadhan sodara-sodara. Yang artinya saya ndak boleh minum sepanjang siang, baru boleh nanti selepas magrib. Jadi pilihannya, ya dinikmati saja. Ibu bilang biar saya lebih mensyukuri nikmat sehat yang selama ini Tuhan beri.

Ya, Ebeth dulu pernah bilang. Katanya fisik saya itu tergolong kuat. Mungkin perkataan Ebeth yang diamini beberapa teman itu bikin saya jumawa. Jadi suka gak perhatian sama badan, gak toleran meski dia minta diistirahatkan.

Kembali ke topik sebelumnya soal malam gaul saya ke PS. Akhirnya saya dan beberapa kawan jadi juga nonton Harry Potter edisi pamungkas setelah berkali-kali gagal rencana. Tim terdiri dari lima personel. Saya, Mas Andreas, Mbak Arie, Daus dan Mas Fahri. Berasal dari tiga penjuru mata angin, Daus yang dari selatan, saya yang dari utara dan trio Mbak Ari Mas andreas dan Mas Fahri dari barat, kami bertemu di PS. Kesibukan dan segala keribetan akhirnya membuat kami baru bisa menonton untuk yang jam 21.00. Jujur, saya agak deg-degan mengingat harus pulang ke rumah Bekasi. Ibu sudah memberi peringatan, saya harus pulang, gak boleh nginep. Seperti biasa, resiko belakangan saja dipikirkan, yang penting nonton dulu.

Film selesai jam 23.30. Larut memang. Tapi duo Daus dan Mas Andreas masih saja berenergi untuk berdiskusi. Haduuh, padahal otak saya sudah tak konsen, memikirkan perjalanan pulang yang nun jauh dimato.

Ini persoalan baru sebetulnya. Saya baru pulang kerumah Bekasi lebih kurang 45 hari setelah sebelumnya 6 tahun kost. Terbiasa dengan main hingga larut malam, pulang tak perlu sungkan karena yang menunggu ya hanya pintu dan kasur. Kali ini berbeda kasus, ada ibu yang khawatir atau bapak yang terkantuk-kantuk menunggui pintu. Jadi, jika mau pulang malam ya harus mengesampingkan rasa peduli mereka. Biasanya saya memilih jalan praktis. Tak usah pulang sekalian, menginap di tempat teman.

Agak merengek bin merajuk, akhirnya kami beranjak menuju parkiran. Saya meminta daus mengantar sampai Cawang, setelahnya angkot yang berbicara.

Saya fasih mengetahui jalur angkot, tapi untuk jalur alternatif mati kutu. Entah petunjuk apa yang saya beri ke Daus kami kok malah sukses sampai ke kuburan. Tengah malam, bermotor ria menerabas kuburan. Perfecto. Setelah Tanya sini dan sana akhirnyamenemukan jalanan angkot yang saya tahu.

Ternyata oh ternyata lagi, daus dengan begitu baik hatinya malah mengantarkan saya sampai rumah. Sampai di depan rumah ada persoalan baru muncul. Daus buta jalan pulang. Hadeuh!!! Apalagi ditambah GPS tidak mendeteksi keberadaan rumah saya. Duh Gusti!!! Berbekal arahan seadanya, akhirnya Daus pulang.

Besoknya saya sms daus menanyakan dia sampai rumah jam berapa. Untung dia sampai dengan selamat dengan waktu tempuh satu jam. Tapi sungguh kasihan, secara tak sengaja Daus menghapur ribuan file foto di server.

Daus itu seorang web designer sekaligus pengelolanya. Jadi hidup mati web plus server ya ada di tangannya. Lewan pesan pendek Daus memberi laporan singkat, bahwa dia harus begadang hingga subuh untuk memperbaiki. Oh, so pitty you.

Kembali ke masa di mana saya mengetik bait aksara ini. Duduk manis di kantor lantai 33 sambil menyaring berita. Melayani chat beberapa teman yang sukanya bertanya soal lowongan kerja dan dengan seorang sahabat yang berkantor di lantai 22 di gedung yang sama dengan saya bekerja.

Juga sambil menikmati serak tenggorokan. Ah, membayangkan tenggorokan ini diguyur air hangat tentu akan nikmat sekali. Tapi saya sedang PUASA!!!

Kamis, 14 Juli 2011

jaga hatimu..


mengambil gambar di sini

Jangan bermain-main dengan hatimu, lebih jangan lagi bermain-main dengan hati orang lain.

Itu jahat namanya, membuat seseorang jatuh cinta namun kamu kemudian mengacuhkan. Tidak mau menangkap. Setidaknya, janganlah memberi harapan meski sepercik. Karena, bagi hati yang sedang jatuh cinta, percikan harapan itu akan terus membelah diri, menggandakan dan akhirnya memenuhi ruang dalam hati.

Apa untungnya bagimu? Kebanggaan?

Percayalah, hidup dengan magisnya akan memberi keseimbangan luar biasa. Satu hari nanti, kau yang akan merasakan hati terseok karena jatuh cinta, sedang orang yang seharusnya menangkap hatimu justru melangkah pergi.

Jika tiba waktumu, jangan lupa kabari aku ya..

Jumat, 08 Juli 2011

Saya Mendapatkan Jauh Lebih Besar..


Pagi ini saya kecopetan. Kali kedua. Di tempat yang sama. Katakan saya bodoh. Katakan saya teledor. Silahkan, saya tak bisa ingkar, memang begitu adanya.

Dompet yang hilang itu berisi semua yang namanya identitas saya sebagai warga negara. Teringat perkataan seorang sahabat, saat ini saya tidak ubahnya mayat di RSCM, tanpa identitas.

Dompet warna ungu yang saya beli di China Town seharga 2 dollar Sing.

Dalam dompet itu berisi ATM, KTP dan sejumlah uang.

Bukan kehilangan itu yang membuat saya merangkai tiap aksara ini. Kehilangan itu justru mengantarkan saya pada pencapaian yang jauh lebih besar. Ya, saya mendapat kebaikan yang tak ternilai harganya.

Hei bocah-bocah MDP, ingin rasanya memeluk kalian satu per satu! Kalian tahu? Amplop coklat yang kalian selipkan diantara lipatan laptop sukses membuat saya banjir air mata.
Akhirnya, saya menyadari satu hal.

Saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar, kesadaran bahwa selama ini saya berada di lingkungan dengan orang-orang yang sungguh baik. Ya, saya dikelilingi cinta begitu besar namun dengan pongahnya saya tidak menyadarinya.

Kalian dengan penuh perhatian memasang telinga, tak bosan mendengar saya mengeluh. Sebagian dengan ketulusan menawarkan diri, jika saya butuh bantuan. Haduuuuuh, kemana saja si saya selama ini?!

Ya, hari ini saya mendapatkan jauh lebih besar dari hanya sekedar dompet yang hilang itu. Terima kasih.

Kamis, 02 Juni 2011

Sisa Kenangan Laga Barcelona-MU


Dialah alasan utama saya mendukung Barcelona, sengaja mengambil gambarnya dari sini

Saya bukan pecinta sepak bola, hanya penikmat. Penikmat kelas amatir tepatnya.

Menonton saat terjebak dalam euforia. Seperti saat klasemen AFF di penghujung 2010 silam. Juga saat Piala Dunia di tahun yang sama. Selebihnya, saya tidak tahu apa-apa yang terjadi dalam jagad persepakbolaan, selain kisruh PSSI dan Nurdin Halid serta Arifin Panigoro hingga sanksi FIFA yang ternyata tak jadi dijatuhkan pada PSSI.

Euforia menonton pertandingan itu kembali terpatik minggu dini hari, 29 Mei 2011 kemarin. Final Liga Champion antara Bercelona dan Manchester United. Dua klub bola yang cukup familiar di telinga, bahkan bagi orang yang tidak teraik dengan dunia persepakbolaan macam saya.

Sejujurnya, saya tidak terlalu ingin menyaksikan laga ini. Hanya diawali niat luhur menemani Melva Sirait atau biasa saya panggil Macil. Macil itu penggila bola sejati. Wawasannya terkait dunia cabang olah raga paling popular sejagad ini tak diragukan. Pengetahuannya tentang dunia sepak bola mampu melampui batas gender, luar biasa.

Jadi, Macil mengajak saya untuk nonton bareng laga Barca Vs MU. Uhm..lebih tepatnya dia minta saya untuk memfasilitasi nonton bareng. Sekalian temu kangen dan bertukar cerita.

Saat ini saya tinggal di sebuah rumah yang meskipun cukup megah berdiri, namun miskin fasilitas. Saya tidak memiliki televisi. Sempat terpikir untuk mengajaknya nonton bareng di kafe-kafe Kemang atau sekalian di MU Restaurant yang terletak di kawasan Thamrin. Namun niat itu urung.

Keluarga Andreas Harsono dengan murah hatinya mengijinkan kami untuk menonton di kediamannya. Saya tidak tahu persis ketertarikannya pada sepak bola.

Akhirnya tim tonton terkumpul. Ada saya, Macil, Fahri Salam, Firdaus Mubarik, Dormalan Sinaga dan Andreas harsono.

Di awal laga, sempat ada kesibukan mengganti antena. Khawatir televisi berbayar tidak akan menyiarkan pertandingan, akhirnya antena diganti dengan antena konvensional. Layaknya televisi di pelosok kampung, antena di putar-putar guna mencari gambar terbaik tanpa semut dan gangguan siaran. Untuk menjaga stabilitas posisi antena, Fahri Salam dan Andreas Harsono bahkan sempat menyelotip.

Eng ing eng..jreeeeng!! Ternyata ya ternyata kekhawatiran kami kosong belaka. Siaran bola dapat disaksikan jernih tanpa semut dengan menggunakan antena berbayar. Tak perlu repot ganti ini itu. Cukup nyalakan, voila..wajah-wajah tampan pemain mejeng mondar mandir mengggiring bola.

Begitu laga dimulai, mulai muncul karakter asli tim tonton bareng. Dormalan Sinaga lelap tertidur. Jelas terlihat dia datang hanya untuk meramaikan. Firdaus malah asik berselancar di dunia maya. Andreas mengambil posisi uenak di sofa, tapi sikapnya kalem bersebrangan dengan Macil dan Fahri yang usek sana-sini. Ya, gelar penonton paling atraktif saya anugerahkan pada Macil di tampuk juara, dan Fahri sebagai runner up. Mereka berdua pendukung sejati tim asuhan Pep Guardiola, Barcelona.

Saya tidak akan memberi ulasan bagaimana laga ini berlangsung. Tentu banyak orang yang lebih fasih menjabarkannya.

Sebelum paruh pertama berakhir, saya sudah memilih. Ya, saya menjagokan Barcelona. Bukan karena permainan mereka (yang katanya) memiliki teknik luar biasa, ataupun pengusaan bola mencapai angka lebih dari 60%. Saya memilih Barca karena pelatihnya cakep. Cukup sekian.

Pada akhirnya, jagoan Fahri dan Macil (dan saya) yang memang.

Dini hari yang sempurna untuk kami semua. Jagoan menang, perut kenyang. Nikmat mana lagi yang berani kami dustakan?!

Kamis, 05 Mei 2011

Stranger..

[Kamu] : Hei..
[Aku] : Hei..
[Kamu] : Semalam kamu ke GI ya?
[Aku] : Iyaak, kok tau?
[Kamu] : Aku liat kamu
[Aku] : Trus? Kenapa gak negor?
[Kamu] : Kaki kamu kenapa?
[Aku] : Abis jatoh, kamu liat aku dimana? Kok gak negor?
[Kamu] : Iya, gak enak mau negor, takut kamu gak inget
[Aku] : Ih, jahat banget tuduhannya..
[kamu] : Besok, kalo ketemu lagi aku sapa deh
[Aku] : Gitu doong 
[Kamu] : Sakit banget ya kakinya?
[Aku] : Lumayan, kok tau kalo sakit?
[Kamu] : Muka kamu meringis, :p , jalan kamu pincang
[Aku] : Yaiy..
[Kamu] : Kamu baik-baik sajakah? Mukamu juga terlihat sedih semalam
[Aku] : Ha? Sedih? Aku baik-baik aja kok
[Kamu] : Mata kamu gak bisa bohong, aku tau kamu
[Aku] : Ahahaha
[Kamu] : Sudah makan?
[Aku] : Belum, tapi udah pesen
[Kamu] : Yaaaah, padahal mau ngajak kamu luch bareng..
[Aku] : Emang kamu lagi dimana? Hujan looh
[Kamu] : Yups, aku lanjuut aja..ini di depan kantor kamu
[Aku] : Hei, serius kamu depan kantor aku?
[Kamu] : Iya, masih suka KFC?
[Aku] : Masih doong!!
[Kamu] : Ya, udah nanti aku traktir kamu KFC..
[Kamu] : Udah dulu ya, serem nyetir sambil chatting, hujan pula
[Aku] : Bye, take care..
[Kamu] : Bye..