Kamis, 02 Juni 2011

Sisa Kenangan Laga Barcelona-MU


Dialah alasan utama saya mendukung Barcelona, sengaja mengambil gambarnya dari sini

Saya bukan pecinta sepak bola, hanya penikmat. Penikmat kelas amatir tepatnya.

Menonton saat terjebak dalam euforia. Seperti saat klasemen AFF di penghujung 2010 silam. Juga saat Piala Dunia di tahun yang sama. Selebihnya, saya tidak tahu apa-apa yang terjadi dalam jagad persepakbolaan, selain kisruh PSSI dan Nurdin Halid serta Arifin Panigoro hingga sanksi FIFA yang ternyata tak jadi dijatuhkan pada PSSI.

Euforia menonton pertandingan itu kembali terpatik minggu dini hari, 29 Mei 2011 kemarin. Final Liga Champion antara Bercelona dan Manchester United. Dua klub bola yang cukup familiar di telinga, bahkan bagi orang yang tidak teraik dengan dunia persepakbolaan macam saya.

Sejujurnya, saya tidak terlalu ingin menyaksikan laga ini. Hanya diawali niat luhur menemani Melva Sirait atau biasa saya panggil Macil. Macil itu penggila bola sejati. Wawasannya terkait dunia cabang olah raga paling popular sejagad ini tak diragukan. Pengetahuannya tentang dunia sepak bola mampu melampui batas gender, luar biasa.

Jadi, Macil mengajak saya untuk nonton bareng laga Barca Vs MU. Uhm..lebih tepatnya dia minta saya untuk memfasilitasi nonton bareng. Sekalian temu kangen dan bertukar cerita.

Saat ini saya tinggal di sebuah rumah yang meskipun cukup megah berdiri, namun miskin fasilitas. Saya tidak memiliki televisi. Sempat terpikir untuk mengajaknya nonton bareng di kafe-kafe Kemang atau sekalian di MU Restaurant yang terletak di kawasan Thamrin. Namun niat itu urung.

Keluarga Andreas Harsono dengan murah hatinya mengijinkan kami untuk menonton di kediamannya. Saya tidak tahu persis ketertarikannya pada sepak bola.

Akhirnya tim tonton terkumpul. Ada saya, Macil, Fahri Salam, Firdaus Mubarik, Dormalan Sinaga dan Andreas harsono.

Di awal laga, sempat ada kesibukan mengganti antena. Khawatir televisi berbayar tidak akan menyiarkan pertandingan, akhirnya antena diganti dengan antena konvensional. Layaknya televisi di pelosok kampung, antena di putar-putar guna mencari gambar terbaik tanpa semut dan gangguan siaran. Untuk menjaga stabilitas posisi antena, Fahri Salam dan Andreas Harsono bahkan sempat menyelotip.

Eng ing eng..jreeeeng!! Ternyata ya ternyata kekhawatiran kami kosong belaka. Siaran bola dapat disaksikan jernih tanpa semut dengan menggunakan antena berbayar. Tak perlu repot ganti ini itu. Cukup nyalakan, voila..wajah-wajah tampan pemain mejeng mondar mandir mengggiring bola.

Begitu laga dimulai, mulai muncul karakter asli tim tonton bareng. Dormalan Sinaga lelap tertidur. Jelas terlihat dia datang hanya untuk meramaikan. Firdaus malah asik berselancar di dunia maya. Andreas mengambil posisi uenak di sofa, tapi sikapnya kalem bersebrangan dengan Macil dan Fahri yang usek sana-sini. Ya, gelar penonton paling atraktif saya anugerahkan pada Macil di tampuk juara, dan Fahri sebagai runner up. Mereka berdua pendukung sejati tim asuhan Pep Guardiola, Barcelona.

Saya tidak akan memberi ulasan bagaimana laga ini berlangsung. Tentu banyak orang yang lebih fasih menjabarkannya.

Sebelum paruh pertama berakhir, saya sudah memilih. Ya, saya menjagokan Barcelona. Bukan karena permainan mereka (yang katanya) memiliki teknik luar biasa, ataupun pengusaan bola mencapai angka lebih dari 60%. Saya memilih Barca karena pelatihnya cakep. Cukup sekian.

Pada akhirnya, jagoan Fahri dan Macil (dan saya) yang memang.

Dini hari yang sempurna untuk kami semua. Jagoan menang, perut kenyang. Nikmat mana lagi yang berani kami dustakan?!

Kamis, 05 Mei 2011

Stranger..

[Kamu] : Hei..
[Aku] : Hei..
[Kamu] : Semalam kamu ke GI ya?
[Aku] : Iyaak, kok tau?
[Kamu] : Aku liat kamu
[Aku] : Trus? Kenapa gak negor?
[Kamu] : Kaki kamu kenapa?
[Aku] : Abis jatoh, kamu liat aku dimana? Kok gak negor?
[Kamu] : Iya, gak enak mau negor, takut kamu gak inget
[Aku] : Ih, jahat banget tuduhannya..
[kamu] : Besok, kalo ketemu lagi aku sapa deh
[Aku] : Gitu doong 
[Kamu] : Sakit banget ya kakinya?
[Aku] : Lumayan, kok tau kalo sakit?
[Kamu] : Muka kamu meringis, :p , jalan kamu pincang
[Aku] : Yaiy..
[Kamu] : Kamu baik-baik sajakah? Mukamu juga terlihat sedih semalam
[Aku] : Ha? Sedih? Aku baik-baik aja kok
[Kamu] : Mata kamu gak bisa bohong, aku tau kamu
[Aku] : Ahahaha
[Kamu] : Sudah makan?
[Aku] : Belum, tapi udah pesen
[Kamu] : Yaaaah, padahal mau ngajak kamu luch bareng..
[Aku] : Emang kamu lagi dimana? Hujan looh
[Kamu] : Yups, aku lanjuut aja..ini di depan kantor kamu
[Aku] : Hei, serius kamu depan kantor aku?
[Kamu] : Iya, masih suka KFC?
[Aku] : Masih doong!!
[Kamu] : Ya, udah nanti aku traktir kamu KFC..
[Kamu] : Udah dulu ya, serem nyetir sambil chatting, hujan pula
[Aku] : Bye, take care..
[Kamu] : Bye..

Kamis, 28 April 2011

Perjalanan yang Membekukan


mengambil gambar di sini

Menyebalkan. Itu satu kata yang mewakili kamu. Tidak ada lagi kata lain. Cukup.

Padahal saya sempat memberi kamu poin plus. Saya sempat berharap kamu akan menjadi teman menyenangkan di perjalanan pulang. Tapi semua langsung sirna.

Ya, kita hanya berdua tentu bersama penumpang asing, melintasi kota Banjarnegara, Purwokerto, Cilacap, Garut dan kota-kota lain sebelum bus malam kita menginjak Jakarta.

Saya tidak ingat persis, materi obrolan kita. Seputaran dunia militer, Tan Malaka dan Madilog-nya, sampai salah tempat menuntut ilmu. Ya, Pemikir yang justru berkuliah di sekolah tempat kaum borju. Tidak ada yang salah dengan kampus kamu, namun citra kapitalis yang melekat dalam institusi itu tentu menggelitik rasa penasaran saya. Bagaimana kamu melewati waktu di kawasan borjuis itu, sedang pemikiran-pemikiran kamu tentu melakukan penolakan.

Benar saja. Dalam satu putaran waktu, kamu nyaris di drop out gara-gara menentang sistem penjualan buku. Hal yang sepele sebenarnya, namun kamu yang keras kepala tentu tak mau mengalah begitu saja. Kamu tahu? Itu cerita seru, saya masih mengingat sangat tiap detail yang kamu ceritakan, kecuali pada bagian nama-nama yang kamu sebutkan tentu saja. Saya pengingat nama yang payah.

Perbincangan bergeser soal agama. Kita sama-sama tidak begitu fasih dan memahami. Akhirnya bahasan malah meluas, menyentuh Ayatullah Khomeini sampai Mahmoud Ahmadinejad. Untuk nama yang terakhir, tentu sedikit banyak saya tahu, dulu pernah membaptis diri jadi penggemar.

Menceritakan dunia-dunia kita yang ternyata bersinggung di masa lalu. Ya, kita pernah menginjak tempat yang sama. Mungkin berbeda putaran harinya, namun orang-orang yang kita jumpai kurang lebih sama. Saat itu saya merasa senang sekali.

Memiliki teman seperjalanan yang asik, seru, nikmat mana lagi yang berani saya dustakan?!
Namun, semua langsung poranda. Saat kamu mengatakan agar saya lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Sebenarnya bukan masalah besar. Namun kemudian menjadi masalah besar karena kamu tidak mau menjelaskan maksud kalimat itu. Kamu hanya memberi saya sebaris senyum tengil menyebalkan.

Kamu tahu? Ada tipikal orang yang akan sangat terganggu hidupnya karena didera rasa penasaran hebat. Itu yang saya alami. Sejak saat itu, hingga saat ini, saat saya merangkai aksara. Lebih menyebalkan lagi saat tahu kamu hanya tersenyum-senyum tidak mau menjelaskan. Saya terus memburu jawaban, tapi tidak dapat juga jawabannya sampai saat ini. Akhirnya saya mengambil kesimpulan sepihak.

Kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Padahal malam itu, belum separuh perjalanan yang harus dilalui. Kamu memutuskan untuk pindah bangku. Mau tidur, begitu pamitmu. Sebodo teuing!

Pukul 2 pagi kamu kembali. Kedinginan dan berusaha menghangatkan badan dengan memakai kaos berlapis-lapis. AC bus memang keparat bukan main saat itu. Saya juga merasa kedinginan, namun tidak bisa berbuat banyak. Salah kostum pula. Celana kargo panjang yang saya bawa, melesak jauh di bawah ransel, sangat repot jika saya mau memakai. Rasa malas tak mengenal waktu dan tempat rupanya.

Yang saya takutkan terjadi. Bus terlalu dini sampai di Jakarta. Akhirnya saya turun lebih dulu. Tidak ada salam perpisahan yang hangat. Semua membeku, semenjak kamu tidak memenuhi tuntutan saya akan penjelasan. Saya sempat melihat kamu memandang keluar jendela bus. Selamat tinggal teman. Semoga kita bisa berjumpa dalam suhu persahabatan yang lebih hangat. Akan sangat menyenangkan tentu saja, jika kamu bermurah hati. Tidak hanya menyodorkan seuntai senyum tengil itu. Deal kakak pramuka?!

Perjalanan Pulang yang Membekukan



mengambil gambar di sini

Menyebalkan. Itu satu kata yang mewakili kamu. Tidak ada lagi kata lain. Cukup.

Padahal saya sempat memberi kamu poin plus. Saya sempat berharap kamu akan menjadi teman menyenangkan di perjalanan pulang. Tapi semua langsung sirna.

Ya, kita hanya berdua tentu bersama penumpang asing, melintasi kota Banjarnegara, Purwokerto, Cilacap, Garut dan kota-kota lain sebelum bus malam kita menginjak Jakarta.

Saya tidak ingat persis, materi obrolan kita. Seputaran dunia militer, Tan Malaka dan Madilog-nya, sampai salah tempat menuntut ilmu. Ya, Pemikir yang justru berkuliah di sekolah tempat kaum borju. Tidak ada yang salah dengan kampus kamu, namun citra kapitalis yang melekat dalam institusi itu tentu menggelitik rasa penasaran saya. Bagaimana kamu melewati waktu di kawasan borjuis itu, sedang pemikiran-pemikiran kamu tentu melakukan penolakan.

Benar saja. Dalam satu putaran waktu, kamu nyaris di drop out gara-gara menentang sistem penjualan buku. Hal yang sepele sebenarnya, namun kamu yang keras kepala tentu tak mau mengalah begitu saja. Kamu tahu? Itu cerita seru, saya masih mengingat sangat tiap detail yang kamu ceritakan, kecuali pada bagian nama-nama yang kamu sebutkan tentu saja. Saya pengingat nama yang payah.

Perbincangan bergeser soal agama. Kita sama-sama tidak begitu fasih dan memahami. Akhirnya bahasan malah meluas, menyentuh Ayatullah Khomeini sampai Mahmoud Ahmadinejad. Untuk nama yang terakhir, tentu sedikit banyak saya tahu, dulu pernah membaptis diri jadi penggemar.

Menceritakan dunia-dunia kita yang ternyata bersinggung di masa lalu. Ya, kita pernah menginjak tempat yang sama. Mungkin berbeda putaran harinya, namun orang-orang yang kita jumpai kurang lebih sama. Saat itu saya merasa senang sekali.

Memiliki teman seperjalanan yang asik, seru, nikmat mana lagi yang berani saya dustakan?!
Namun, semua langsung poranda. Saat kamu mengatakan agar saya lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Sebenarnya bukan masalah besar. Namun kemudian menjadi masalah besar karena kamu tidak mau menjelaskan maksud kalimat itu. Kamu hanya memberi saya sebaris senyum tengil menyebalkan.

Kamu tahu? Ada tipikal orang yang akan sangat terganggu hidupnya karena didera rasa penasaran hebat. Itu yang saya alami. Sejak saat itu, hingga saat ini, saat saya merangkai aksara. Lebih menyebalkan lagi saat tahu kamu hanya tersenyum-senyum tidak mau menjelaskan. Saya terus memburu jawaban, tapi tidak dapat juga jawabannya sampai saat ini. Akhirnya saya mengambil kesimpulan sepihak.

Kamu tidak tahu harus menjawab apa.

Padahal malam itu, belum separuh perjalanan yang harus dilalui. Kamu memutuskan untuk pindah bangku. Mau tidur, begitu pamitmu. Sebodo teuing!

Pukul 2 pagi kamu kembali. Kedinginan dan berusaha menghangatkan badan dengan memakai kaos berlapis-lapis. AC bus memang keparat bukan main saat itu. Saya juga merasa kedinginan, namun tidak bisa berbuat banyak. Salah kostum pula. Celana kargo panjang yang saya bawa, melesak jauh di bawah ransel, sangat repot jika saya mau memakai. Rasa malas tak mengenal waktu dan tempat rupanya.

Yang saya takutkan terjadi. Bus terlalu dini sampai di Jakarta. Akhirnya saya turun lebih dulu. Tidak ada salam perpisahan yang hangat. Semua membeku, semenjak kamu tidak memenuhi tuntutan saya akan penjelasan. Saya sempat melihat kamu memandang keluar jendela bus. Selamat tinggal teman. Semoga kita bisa berjumpa dalam suhu persahabatan yang lebih hangat. Akan sangat menyenangkan tentu saja, jika kamu bermurah hati. Tidak hanya menyodorkan seuntai senyum tengil itu. Deal kakak pramuka?!


Rabu, 27 April 2011

Bersama Kalian, Dieng Lebih Mengesankan


Kau nyanyikan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini telah kau bawa aku menuju kesana..


Petikan lagu negeri di awan yang dilantunkan Katon Bagaskara, saya rasa cocok menjadi soundtrack perjalanan saya menelusuri Dieng.

Dataran tinggi diatas 2000 kaki. Tak heran jika Dieng juga mendapat julukan negeri di atas awan. Dalam situasi tertentu, saat mata memandang kebawah, hanya hamparan kabut putih yang terlihat.

Bersama 8 orang yang semuanya berlabel baru kenal. Tidak ada kesepakatan sahih, tapi saya senang menamakan rombongan ini dengan geng KYU. Mengacu pada permainan kartu yang merujuk pada angka 9.

Berangkat dari terminal lebak bulus, bersama dengan Meldawati (si kepala suku) dan Milani Yunitasari aka Nita.

Melda memiliki karakter super ceria. Dialah peramai suasana, dengan celoteh ini itu, kadang penting kadang tak penting. Hihihi. Bisa dikatakan, Berkat Melda-lah geng KYU terbentuk. Dia yang mengajak dan membuat woro-woro rencana trip ini. Semua informasi kepesertaan berpusat padanya. Bahkan, namanya lah yang menjadi jaminan booking ini itu, mulai dari booking penginapan, elf, sampai tiket pulang. Sembah nuwun ya Melda, untuk kerelaannya bersibuk ria mengurusi kepentingan operasional ini. Seminggu sebelum keberangkatan, saya bertemu dengan Melda, membicarakan itinerary.

Untuk Nita. Sebelumnya saya belum pernah bertemu dengannya. Perawakannya kurus. Kesan pertama yang mampir di otak saya, dia kalem. Senyum saja cuma segaris. Terlihat menjadi antithesis Melda jika mereka berdiri berdampingan. Nita bekerja di GE, General Electric. Semoga saya tidak salah menuliskannnya. Saya tidak tahu persis job desk Nita, pokoknya berurusan dengan kartu kredit. Kesan pertama, saya langsung menyukainya. Nampaknya, dia akan menjadi teman seperjalanan yang asik.

Saat petang mulai beranjak, bus yang kami tumpangi berangkat. Ternyata, kami menjemput penumpang di Rawamangun.

Sekitar pukul 21.00 WIB bus baru bisa dikatakan sah meninggalkan Jakarta.

Eng ing eng, belum apa-apa jadwal kami sudah berantakan. Perkiraan awal, kami sampai di terminal wonosobo sekitar jam 5 pagi, paling telat jam 7. Tapi ya tapi, bus Malino Putra baru dengan manisnya memasuki terminal lebih dari jam 12 siang.

Tim yang datang dari Surabaya dan Jogja sudah tiba sejak pagi. Mereka memutuskan untuk menunggu kami di Dieng saja.

Saya, Melda, dan Nita langsung menuju loket untuk membeli bus pulang. Antisipasi.

Diterminal, rombongan bertambah satu orang, Muhammad Ali Firman, biar singkat panggil saja Firman. Sebelumnya Firman satu kantor dengan Nita, namun kini dia telah berpaling dan mengapdi pada CIMB Niaga. Urusannya masih sama, seputaran kartu kredit. Firman berperawakan tinggi semampai. Rambutnya pendek dan keriting. Orangnya easy going. Usut punya usut, dia baru memiliki kamera DSLR Sony. Seri-nya saya tidak tahu.

Kami bersemangat mencari Mie Ongklok yang tersohor itu. Tanya sana-sini, Mie Ongklok tak ditemukan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan seadanya. Saya dan Nita memilih soto daging, sedangkan Melda soto ayam. Firman? Hm..untuk menu kedua, dia makan bakso. Sebelum bertemu dengan kami, Firman mengaku telah makan nasi rames.

Sedang menikmati santap siang, kami kedatangan seorang laki-laki yang mengaku bernama Dwi. Dialah guide yang akan mendampingi petualangan kami menggerayangi Dieng Plateau. Nama panjangnya Dwi Yono. Cukup panggil Mas Dwi. Saya tak menyangka, guide kami ternyata masih muda. Belakangan, saya mendapat informasi, Mas Dwi itu kelahiran 1984. Pantas aja masih muda. Mas Dwi cocok sekali menjadi pemandu wisata, pribadinya menyenangkan. Usahanya untuk melucu cukup baik, meski hasilnya suka garing. Tapi karena kegaringannya itulah, kami jadi punya bahan celaan. Kami ber-4 belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Dieng karena masih menunggu satu peserta yang juga datang dari Jakarta, Andika Ferdiansyah.

Sekitar pukul 4 sore, Dika tiba. Kami langsung meluncur menuju Dieng Plateau. Kami tidak langsung berkenalan dengan Dika. Sama-sama capek, kami malah asik mendengarkan lagu dangdut pantura yang diputar di Elf. Dika sosok yang cool. Bekerja di perusahaan advertising. Cita-citanya menjadi marketing handal. Cita-cita aneh, terlebih setelah Dika positif terdeteksi sebagai manusia elang versi saya. Ya, di perjalanan ini, saya menemukan si manusia elang. Ah, senang sekali. Saya sedang tidak ingin menceritakan apa itu manusia elang, lain kali saja.

Tak berlebihan rasanya, jika Dieng dijuluki negeri di awan. Awan putih yang biasa hanya bisa kita pandangi di angkasa, di Dieng dia tak malu-malu menghampiri. Ya, kami bersentuhan dengan kabut putih yang biasa disebut awan itu.

Sampai di Dieng, ada 4 orang perempuan yang menghampiri. Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri. Vera, Ovie, Fatma dan Ami. Kostum mereka sudah sangat siap tempur melawan suhu kejam Dieng. Topi kupluk, sarung tangan dan syal.

Tim akhirnya sudah lengkap, 9 orang plus Mas Dwi. Kami menuju Dieng Plateau Theater. Disana kami bertemu dengan bocah berambut gimbal. Nita namanya. Kami menyaksikan film berdurasi 12 menitan tentang Dieng. Film ini cukup informatif. Saya jadi tahu, tahun 1976, gunung meletus. Setidaknya ada 149 orang tewas keracunan gas CO2 yang muncul dari dalam perut bumi.

Film ini juga menunjukkan objek-objek menarik yang bisa dikunjungi. Telaga Warna, Candi, Kawah Sikidang, dan kawah Candradimuka.
Sebelum berangkat, seorang teman mewanti-wanti saya untuk tidak melewatkan kawah Candradimuka. Dia tidak menjelaskan alasan spesifik. Tapi sayang, karena keterbatasan waktu dan jarak tempuh yang lumayan, geng KYU tak sempat menyambanginya.

Malam semakin merapat, kami makan malam berjamaah. Makan mala mini menjadi semacam momen sambung rasa. Kami berbincang untuk mengenal lebih jauh. Saya sendiri, berusaha menghafal nama. Ini kelemahan akut saya. Sulit menghafal nama.

Paling saya ingat Vera. Dia menjadi satu-satunya perempuan yang membawa kamera DSLR. Peralatan pembeku momennya lumayan lengkap. Lensa ini itu sampai tas kedap air. Vera kerja di Surabaya, di Phapros. Jika tak salah, sebenarnya, rumah Vera di Jakarta. Surabaya hanyalah tempat untuk mendulang rupiah. Malam itu dia memakai topi kupluk merah. Khusus untuk Vera, saya menggarisbawahi penampilannya. dia memang memakai kupluk, sarung tangan dan syal. Tapi blus yang dikenakannya justru tipis. Celananya juga pendek. Jadi, saya tak habis pikir, bagaimana dia bisa menahan hawa dingin yang malam itu begitu kejam menyergap. Saya ingat Nita pernah nyeletuk mengomentari penampilan Vera. “Leher ke atas untuk digunung, tapi leher ke bawah gaya pantai”. Vera malah kegirangan jika dikomentari perihal penampilan ini. Saya memanggilnya Mami Vera.

Keesokan harinya, kami telah siap siaga di jam 4 pagi. Tekad kami bulat, menyaksikan golden sunrise yang tersohor itu. Cuaca membekukan tidak menghalangi semangat membaja kami. Ternyata, trek yang harus ditempuh lumayan juga. Bagi yang tak terbiasa dengan aktivitas fisik, tentu lumayan menyita energi, saya termasuk di dalamnya. Namun, beratnya perjalanan langsung terbayar lunas.

Semburat kuning nampak mempesona di ufuk timur. Perlahan dan pasti, Gunung Sindoro makin jelas terlihat. Keindahan alam, sahih tak terbantahkan. Saat cakrawala menyajikan nyanyian alam berupa gradasi warna, dan gerakan anggun matahari yang merangkak naik perlahan dan pasti.

Ovie sangat terlihat menikmati suguhan alam kali ini. Ovie belakangan saya tahu, dia seorang dokter yang tinggal di Jogja. Dalam geng KYU, Ovie satu-satunya anggota yang sudah menikah. Kami sempat mendengar cerita, bagaimana Ovie merayu Vera agar memintakan ijin pada suami untuk diperbolehkan turut serta. Saya tebak, Ovie bukanlah orang yang senang mendominasi. Beberapa kali saya lihat, dia hanya tersenyum melihat celoteh masing-masing dari kami. Tipikal pengamat.

Sampai menjelang pulang, saya sering tertukar antara Ovie dan Fatma. Fatma juga seorang dokter yang sedang mengambil spesialis syaraf di Jogja. Bisa dikatakan, Fatma adalah anggota yang paling memperhatikan gaya berbusana. Semua outfit yang dikenakan nampak serasi. Fatma pandai memadupadankan warna dalam pakaian. Ya, Fatma jadi terlihat cantik. Tak heran, selama trip, Fatma berhasil mendapat penggemar, minimal satu. Hahahaha

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Telaga Warna. Untuk menghindari tagihan tiket masuk, kami diajak Mas Dwi untuk mendaki. Lumayan juga jalur yang harus kami lewati. Lagi-lagi Mas Dwi tidak mengecewakan. Kami mendapat sudut pandang terbaik untuk melihat Telaga Warna. Gratis pula. Di sini, kali pertama kami melakukan photo keluarga. Lengkap.

Yang paling kasihan adalah Mbak Ami. Dia terlihat kelelahan. Saat turun, Mbak Ami dibantu Dika. Mbak Ami itu kalem-kalem punya sisi premanisme. Saya ingat, dialah yang memastikan pembayaran makan malam sudah seperti seharusnya. Dengan gayanya yang khas, dia mengecek satu-satu nominal uang yang harus di bayar oleh masing-masing dari kami. Kekhawatirannya terbukti, uang malah lebih ternyata. Jumlahnya Rp 5.500,- menjadi tanggung jawab Dika untuk mengembalikan. Mbak Ami juga orang paling misterius dalam rombongan. Alamat FB-nya menjadi yang paling terakhir saya ketahui. Meski begitu, dia penyayang. Saya terharu, saat di perjalanan pulang menerima pesan pendek darinya.

Setelah mengunjungi Telaga Warna, kini giliran Kawah Sikidang dam Candi Arjuna. Kami diwanti-wanti oleh Mas Dwi, agar tidak terlalu lama berada di sekitar kawah. Gas CO2 yang tidak berwarna dan tidak berbau bisa membahayakan nyawa. Selanjutnya kami menuju candi Arjuna. Seperti turis pada umumnya, kami banyak membekukan momen disini. Konon, keberadaan candi di Dieng ini merupakan bukti bahwa pemeluk agama Hindu pertama di Indonesia berasal dari Dieng. Bukan Bali.

Setelah makan siang dan mengepak barang, kami menuju Sumur Jalatunda. Mitos yang berlaku, barangsiapa berhasil melempar batu hingga ke seberang, maka keinginannya akan terkabul. Melihat besarnya diameter sumur, saya tidak heran jika banyak yang tidak berhasil melakukannya.

Dika nyeletuk, “Saya kalo mau keinginannya terkabul, ya usaha!” Statemen yang masuk akal Dik.

Destinasi berikutnya adalah pemandian air panas. Setelah berunding, akhirnya kami menuju pemandian kalianget di kota Wonosobo. Tiket masuknya murah sekali. Tapi begitu melihat air dalam kolam, yaiy..saya sempat bergidik. Warna airnya coklat. Jujur, bukan karena saya merasa jijik. Namun karena saya takut warna kaus saya akan mengalawi pemudaran warna permanen. Melihat Dika dan Nita cuek, saya akhirnya tertarik juga. Ada yang menarik di kolam ini. Ada sejoli di pojok nun jauh di sana. Yang tak lazim, si perempuan memakai kacamata hitam. Baru ini, kali pertama saya melihat orang berenang memakai kacamata hitam. Hitam loh ya, bukan kacamata renang. Sejoli ini memiliki percaya diri luar biasa. Mereka cuek sekali, tak peduli dengan sekeliling. Ini kolam renang paling ajaib yang pernah saya datangi. Menjelang beranjak, saya dan Dika sempat menggunjing sejoli lain yang asik berfoto dengan ponsel, dengan bahasa tubuh birahi tinggi. Hadoooh, saya langsung merasa ada di kawasan penuh lumpur dosa. Lebaaaaay.

Least but not last. Kami berburu Mie Ongklok. Diantara telepon agen bus yang memastikan kami agar tidak terlambat sampai di terminal. Dika sampai menamainya “Mie Ongklok Rush Hour” di twitternya. Akhirnya saya mencicipi mie khas Wonosobo ini. Mie Ongklok menjadi penutup yang sempurna dalam perjalanan ini.

Bahkan, saat saya menyusun bait aksara ini, sudah empat hari lalu berselang. Namun kebahagiaannya masih menyusup dalam tiap pori. Terimakasih ya, untuk sepotong perjalanan yang membahagiakan ini. Kebahagiaan semakin sempurna, karena perjalanan ini mempertemukan saya dengan orang-orang menyenangkan seperti kalian teman. sinih..sinih, tak peluk satu-satu.

Senin, 25 April 2011

Hey, Kakak terbaik di Dunia!!


Memenuhi tautan janji yang terbersit dalam hati. Menulis tentang kamu, Partini.

Saya biasa memanggilnya Mbak Tin. Tapi kali ini, saya mau sedikit durhaka, meamanggilnya dengan sebutan Apta. Sengaja mengilangkan sebutan Mbak, bukan berarti saya tak hormat loooooh.

Partini, di akun FB dia menyematkan nama ayah dan nama gabungan bulan plus zodiac, jadilah Partini Apta Sadiin. Nama Apta muncul dari gabungan April-Taurus.

Berhubung kami adalah saudara sepupu, jadi dia tentu melihat busuk-busuknya saya sejak kecil. Busuk dalam kemalasan, busuk dalam kemanjaan, dan busuk dalam ketakmampuan menggambar. Saya ingat persis, dulu saya memintanya membuatkan tugas menggambar penari bali. Tangannya begitu lihai memindahkan guratan penari bali dalam buku gambar saya. Tapi tidak gratis, ujung-ujungnya dia memalak. Saya harus membayarnya 50 perak. Jaman itu, nominal itu bisa untuk membeli es mambo dua.

Kami juga pernah nyaris tewas gara-gara obat nyamuk bakar. Untung mati konyol tak sampai terjadi. Betapa tidak, saat tidur nyenyak, api bahkan telah melahap bantal yang kami pakai. Gusti pangeran masih sayang sama kita.

Apta. Dalam pandangan saya, dia paling militan diantara saudaranya.

Lulus SMK dia mengadu nasib di Jakarta. Ini kali pertama terjadi. Anak keluarga Sadiin mengadu nasib ke kota, Jakarta lagi. Bahkan, dia pernah juga tinggal di Manado. Saya tak ingat persis hitungan waktunya. Yang saya ingat dia pernah berlebaran sebatang kara di Manado sana.

Banyak pelajaran hidup yang saya petik darinya. Soal keuletan, kesabaran, dan sifat bijak yang dengan malas harus saya akui. Ya, dia laksana telaga. Jika sedang di puncak emosi, saya sering menelponnya. Ajaib, hati ini serasa disiram air, adem.

Bagaimana soal skill? Hm..Apta memiliki jiwa seni mumpuni. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Apta pandai sekali menggambar. Entah terbuat dari apa urat-urat di jemari tangannya, setiap coretan kok ya bisa-bisanya selalu jd gambar indah. Apta paling tak bisa melihat sesuatu polos tanpa sentuhan. Tak heran, kita akan menemukan kaos ataupun taspolos tiba-tiba bermotif. Tentu hasil ulahnya.

Dia juga senang memetik gitar. Beberapa lagu gubahannya sempat saya dengarkan. Tak bisa dikatakan mengesankan, namun cukup okelah. Lagu ciptaannya bernada sendu nan pilu. Sejalan dengan karakternya yang kalem. Saya tak bisa membayangkan, jika dia terbakar amarah. Saya rasa, teriakannya hanya akan menyentuh level satu oktaf.

Meski kalem begitu, jangan coba-coba membuatnya kecewa. Dia akan menyimpan kekecewaan di hati terdalam. Menyimpannya dalam memori. Mengingat dengan keakuratan sahih. Apta bukan pendendam, karena tak akan ada aksi yang dilakukan untuk membalas kekecewaan. Namun dia akan mencatat baik-baik. Jadi, jika masih ingin memiliki hubungan jangka panjang, jangan membuatnya kecewa. Karena, sekali kecewa, percayalah, hubunganmu dengan Apta tidak akan pernah sama lagi. Sebenarnya, Apta adalah orang yang pemaaf. Namun memaafkan tidak berarti melupakan bukan?
*Maaf ya jika sok tau saya menyembul

Tulisan ini saya buat, untuk mengenang hari lahirnya. Tepat jatuh di hari ini, 26 April.

Semoga, berkah selalu mengikuti tiap jejak langkahnya. Selamat ulang tahun, hei kakak terbaik di dunia!!!

Rabu, 20 April 2011

Hey, Tolong Jangan Palsu!


gambar diambil dari sini

Saya memiliki kebiasaan buruk. Memindai orang saat kali pertama bertemu. Entahlah untuk tujuan apa, itu terjadi dengan sendirinya. Mata ini dengan kurang ajarnya akan memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Mulai dari rambut. Apakah potongan rambutnya oke. Apakah rambutnya indah atau malah kusam yassallam. Apakah memakai aksesoris di kepala atau tidak. Apakah pemilihan aksesoris cukup indah hingga memperindah atau malah menjadikannya norak.

Pemindaian kejam ini akan terus turun. Leher. Badan. Kaki. Hingga alas kaki yang digunakan. Semua terkait dengan outfit yang dikenakan. Pemindaian ragawi.

Sungguh tak ada niatan apa-apa. Toh jika hasilnya minus pun tidak mempengaruhi sikap saya selanjutnya. Faktor utama yang akan mempengaruhi sikap saya pada seseorang adalah manner. Yup, sikap.

Saya paling tidak suka orang yang berbicara terlalu besar. Besar sekali sampai kadang tak masuk di otak saya yang hanya secuil ini. Percayalah, semakin kamu berusaha terlihat hebat dengan ‘tinggi’ nya pembicaraan, justru akan semakin menurunkan skor penilaian.

Jadi, mbok ya tolong jangan sok-sok an bilang belanjanya di Grand Indonesia kalau saat itu yang saya lihat situ hanya memakai outfit Ramayana. Jangan sok-sok an bilang pernah keliling Eropa kalau situ ngomong English aja masih sama gagapnya dengan saya.

Kebiasaan ini kemudian memukul balik diri sendiri. Ya, saya sebisa mungkin berusaha tidak melakukan yang aneh-aneh a.k.a omong besar. Karena yak arena saya tidak suka menjumpai orang bermulut besar, maka saya berusaha sebisa mungkin tak menjadi si mulut besar.

Apakah sudah berhasil? Saya hanya bisa nyengir kuda jika ditanya ini.

Untung omong besar tidak menjadi kebiasaan saya. Tapi ya ndak tahu ya kalau itu saya lakukan saat tak sadar.

Jadi teringat seorang kawan jaman kuliah dulu. Anggap saja namanya Tina. Nyaris semua teman kuliah, mengingat si Tina dengan predikat si omong besar. Ada-ada saja yang dipamerkannya. Awalnya terasa masuk akal, sampai lama-lama keluar nalar.

Tina pernah mengaku sedang mengikuti kuliah di Kampus A dengan jurusan Sastra Jepang, bersamaan dengan program studi Jurnalistik (jurusan saya saat kuliah). Saat itu saya terkagum-kagum. Hebat. Bagaimana tak sakti? Anak jurnalistik itu pasti sibuk luar biasa dengan tugas liputan ini itu plus bikin makalah-makalah. Tina kok sempat-sempatnya dobel kuliah. Sampai lama-lama kami sadar dia berbohong. Karena Tina selalu ngendon di kampus. Yah, dia berperilaku sebagaimana mahasiswa yang kuliah hanya di satu kampus.

Satu waktu kelompok saya ditugaskan membuat feature tentang nelayan. Saya beruntung mendapat tim yang luar biasa kompak. Kelompok itu kami namakan Pasar Monyet. Kami sepakat mengambil angle kehidupan nelayan Pelabuhan Ratu. Sekalian jalan-jalan. Disana saya gembira bukan main. Di Tempat Pelelangan Ikan, dijual cumi besar dan segar dengan harga Rp. 20.000,-/kg. meski tidak tahu harga pasaran cumi pada umumnya, saat itu terasa murah. Dasar bocah sotoy.

Di kampus, saya pamer-pamer pengalaman membeli cumi dengan harga Rp. 20.000,-/kg itu. Ada Tina di sana. Entah merasa harus menang atau bagaimana, tiba-tiba dia nyeletuk,

“Belum apa-apa itu Ndang, gue beli di Muara Angke dua puluh ribu dapet sepuluh kilo”

What?! Tentu kami lebih percaya, dia pembual paling bodoh sejagad.

Entahlah, pendidikan keluarga macam apa yang membentuk pribadi anehnya itu. Bualan-bualan lain masih tak terhitung jumlahnya. Kuping saya sampai kebal jika dia bercerita pengalaman liburan sama papi mami ke pelosok nusantara sampai luar negeri. Bagaimana saya mau percaya, jika tidak ada satupun bukti kebenaran yang mendukung ceritanya?!

Kali lain, dia mempromosikan black forest buatan tantenya. Katanya enak bukan main. Untuk memberi kejutan pada teman yang berulang tahun, maka kami sepakat untuk minta dibuatkan black forest oleh tantenya Tina. Katanya, kami hanya cukup menyetor uang 50 ribu saja sebagai pengganti bahan. Dasar lugu, kami percaya saja. Sampai sore yang dinanti, Tina tak muncul. Ditelepon, tak diangkat. Kami gelisah bukan main. Sampai sore menjelang magrib dia muncul dengan wajah kuyu. Katanya si tante sedang ada masalah dengan suami, jadi tidak bisa membuatkan black forest. Dan uang 50 ribu itu sudah terlanjur diberikan.

Dooh, sumpah saat itu saya ingin sekali meninjunya. Maksud hati ingin memberi kejutan pada teman yang berulang tahun, malah kami beramai-ramai yang diberi kejutan asam oleh Tina. Sejak saat itu, saya tidak mau berteman lagi dengannya.

Jadi, bagi yang suka besar omong. Intropeksilah. Kita tidak akan mendapatkan tulusnya persahabatan, jika dimulai dengan kebohongan. Bagaimana kita akan mendapat sebuah ketulusan, jika kita sendiri masih palsu?!

tiba-tiba ingin menyenandungkan lagu Radiohead bertajuk Fake Plastic Trees