Rabu, 20 April 2011

Hey, Tolong Jangan Palsu!


gambar diambil dari sini

Saya memiliki kebiasaan buruk. Memindai orang saat kali pertama bertemu. Entahlah untuk tujuan apa, itu terjadi dengan sendirinya. Mata ini dengan kurang ajarnya akan memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Mulai dari rambut. Apakah potongan rambutnya oke. Apakah rambutnya indah atau malah kusam yassallam. Apakah memakai aksesoris di kepala atau tidak. Apakah pemilihan aksesoris cukup indah hingga memperindah atau malah menjadikannya norak.

Pemindaian kejam ini akan terus turun. Leher. Badan. Kaki. Hingga alas kaki yang digunakan. Semua terkait dengan outfit yang dikenakan. Pemindaian ragawi.

Sungguh tak ada niatan apa-apa. Toh jika hasilnya minus pun tidak mempengaruhi sikap saya selanjutnya. Faktor utama yang akan mempengaruhi sikap saya pada seseorang adalah manner. Yup, sikap.

Saya paling tidak suka orang yang berbicara terlalu besar. Besar sekali sampai kadang tak masuk di otak saya yang hanya secuil ini. Percayalah, semakin kamu berusaha terlihat hebat dengan ‘tinggi’ nya pembicaraan, justru akan semakin menurunkan skor penilaian.

Jadi, mbok ya tolong jangan sok-sok an bilang belanjanya di Grand Indonesia kalau saat itu yang saya lihat situ hanya memakai outfit Ramayana. Jangan sok-sok an bilang pernah keliling Eropa kalau situ ngomong English aja masih sama gagapnya dengan saya.

Kebiasaan ini kemudian memukul balik diri sendiri. Ya, saya sebisa mungkin berusaha tidak melakukan yang aneh-aneh a.k.a omong besar. Karena yak arena saya tidak suka menjumpai orang bermulut besar, maka saya berusaha sebisa mungkin tak menjadi si mulut besar.

Apakah sudah berhasil? Saya hanya bisa nyengir kuda jika ditanya ini.

Untung omong besar tidak menjadi kebiasaan saya. Tapi ya ndak tahu ya kalau itu saya lakukan saat tak sadar.

Jadi teringat seorang kawan jaman kuliah dulu. Anggap saja namanya Tina. Nyaris semua teman kuliah, mengingat si Tina dengan predikat si omong besar. Ada-ada saja yang dipamerkannya. Awalnya terasa masuk akal, sampai lama-lama keluar nalar.

Tina pernah mengaku sedang mengikuti kuliah di Kampus A dengan jurusan Sastra Jepang, bersamaan dengan program studi Jurnalistik (jurusan saya saat kuliah). Saat itu saya terkagum-kagum. Hebat. Bagaimana tak sakti? Anak jurnalistik itu pasti sibuk luar biasa dengan tugas liputan ini itu plus bikin makalah-makalah. Tina kok sempat-sempatnya dobel kuliah. Sampai lama-lama kami sadar dia berbohong. Karena Tina selalu ngendon di kampus. Yah, dia berperilaku sebagaimana mahasiswa yang kuliah hanya di satu kampus.

Satu waktu kelompok saya ditugaskan membuat feature tentang nelayan. Saya beruntung mendapat tim yang luar biasa kompak. Kelompok itu kami namakan Pasar Monyet. Kami sepakat mengambil angle kehidupan nelayan Pelabuhan Ratu. Sekalian jalan-jalan. Disana saya gembira bukan main. Di Tempat Pelelangan Ikan, dijual cumi besar dan segar dengan harga Rp. 20.000,-/kg. meski tidak tahu harga pasaran cumi pada umumnya, saat itu terasa murah. Dasar bocah sotoy.

Di kampus, saya pamer-pamer pengalaman membeli cumi dengan harga Rp. 20.000,-/kg itu. Ada Tina di sana. Entah merasa harus menang atau bagaimana, tiba-tiba dia nyeletuk,

“Belum apa-apa itu Ndang, gue beli di Muara Angke dua puluh ribu dapet sepuluh kilo”

What?! Tentu kami lebih percaya, dia pembual paling bodoh sejagad.

Entahlah, pendidikan keluarga macam apa yang membentuk pribadi anehnya itu. Bualan-bualan lain masih tak terhitung jumlahnya. Kuping saya sampai kebal jika dia bercerita pengalaman liburan sama papi mami ke pelosok nusantara sampai luar negeri. Bagaimana saya mau percaya, jika tidak ada satupun bukti kebenaran yang mendukung ceritanya?!

Kali lain, dia mempromosikan black forest buatan tantenya. Katanya enak bukan main. Untuk memberi kejutan pada teman yang berulang tahun, maka kami sepakat untuk minta dibuatkan black forest oleh tantenya Tina. Katanya, kami hanya cukup menyetor uang 50 ribu saja sebagai pengganti bahan. Dasar lugu, kami percaya saja. Sampai sore yang dinanti, Tina tak muncul. Ditelepon, tak diangkat. Kami gelisah bukan main. Sampai sore menjelang magrib dia muncul dengan wajah kuyu. Katanya si tante sedang ada masalah dengan suami, jadi tidak bisa membuatkan black forest. Dan uang 50 ribu itu sudah terlanjur diberikan.

Dooh, sumpah saat itu saya ingin sekali meninjunya. Maksud hati ingin memberi kejutan pada teman yang berulang tahun, malah kami beramai-ramai yang diberi kejutan asam oleh Tina. Sejak saat itu, saya tidak mau berteman lagi dengannya.

Jadi, bagi yang suka besar omong. Intropeksilah. Kita tidak akan mendapatkan tulusnya persahabatan, jika dimulai dengan kebohongan. Bagaimana kita akan mendapat sebuah ketulusan, jika kita sendiri masih palsu?!

tiba-tiba ingin menyenandungkan lagu Radiohead bertajuk Fake Plastic Trees

Kamis, 07 April 2011

Kenangan Kelabu


mengambil gambar di sini

I just wanna hold you
I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side


Itu petikan lagu by my side yang dinyanyikan David Choi. Saya tak tahu persis seberapa tenar dia dalam dunia musik. Saya juga tak tahu dia berasal dari mana. Yang saya tahu, suara-nya dalam lagu itu berhasil membolak-balikan hati. Mengingatkan saya pada tragedi patah hati.
Kejadiannya akhir November tahun 2010 lalu. Saya tak ingat tanggal persisnya. Baiklah, sebentar saya cek di facebook.

Mari kita mulai mendongeng pilu.

27 November 2010 kami, saya dan batu, memutuskan untuk mengakhiri semua.
Saya merasa baik-baik saja. Sedih pasti, namun jujur reaksi saya sangat jauh lebih baik dari yang saya duga. Tadinya saya berpikir, saat putus saya akan menangis meraung-raung, tak bisa tersenyum, meski sekedar senyum palsu, dan menjadi pendiam sangat hingga tak mau bertemu orang.
Ternyata yang terjadi justru lebih baik. Sangat jauh lebih baik malah. Saya merasa datar-datar saja. Merasa tidak terjadi apa-apa. Getas. Hambar.

Sampai dua hari setelah itu, kesadaran yang menyesakkan mulai menyeruak. Ternyata kesedihan yang begitu dalam justru akan terasa pelan-pelan namun menyakitkan. Di bawah sadar, kesedihan itu merasuk sukma. Menggerogoti tiap detik waktu yang ada. Datang bersama kesakitan luar biasa. Tak bisa dilihat, hanya bisa dirasa. Sesak.

Hari-hari di waktu itu sama sekali tak memiliki aspek bahagia. Semua rata menjadi kelabu. Semuanya bermanifesto dalam tindakan. Saya jadi banyak melakukan kesalahan yang seharusnya tak perlu. Berangkat pagi-pagi menuju kantor, malah nyasar ke Roxy, padahal kantor saya ada di Thamrin. Besoknya, saya pulang dari kantor menuju kost, malah nyasar sampai ke Serpong, padahal saya kost di kawasan Meruya. Tidak cukup rupanya. Besoknya, dengan bodoh saya meninggalkan sepatu di apartemen teman.

Awalnya, saya berpikir semua baik-baik saja. Sampai kesadaran menyeruak dengan keji. Saya terluka. Sebenar-benarnya terluka. Hingga kesedihan merasuk di alam bawah sadar.

Bahkan, saat merangkai bait-bait aksara ini, rasa sesak itu kembali menjelma. Padahal, peristiwa itu pun telah berlalu. Melintasi 131 putaran dalam hitungan hari. 4 bulan lebih.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi putaran waktu yang saya butuhkan. Untuk menjadikan saya kembali utuh. Tidak terbelah.
Yang saya tahu, saat ini dia baik-baik saja. Harapan saya juga demikian tentu.

Senin, 04 April 2011

Tenang Saja, Ada Tangis Untukmu


mengambil gambar di sini
Menulis ini untuk memenuhi tautan janji yang sore tadi saya ucapkan atas permintaan seorang kakak bernisial SFS. Tak perlulah saya mengungkap jati diri si kakak ini. Orang-orang yang mengenal saya dengan kedekatan massif tentu mengetahui siapa si SFS ini.

Saya mengajaknya untuk bertemu di Taman Suropati. Tak ada niatan apa-apa. Saya hanya merasa bosan karena sejak kemarin tak melakukan apapun selain ngoler-ngoler di kamar tanpa juntrungan. Sungguh tak bermanfaat lah pokoknya. Tak perlu diperjelas kan, aspek-aspek seperti apa yang dinamakan tak bermanfaat ini. Jadi, saat ini saya sedang dalam posisi nyaris depresi, tak memiliki harapan, asa ataupun keinginan luhur. Hampa tak berujung.

Jika sedang galau gulana begini, ada dua orang yang bisa diandalkan. Salah satunya ya si kakak SFS ini. Satunya lagi Firdaus Mubarik, berhubung dalam beberapa bulan belakangan ini, Ki Daus (panggilan sayang saya untuk Firdaus Mubarik) sedang menjadi milik umat yang akhirnya akan berafiliasi pada kesibukan yang luar biasa. Pokoknya umat Ki Daus tidak hanya saya seorang, masih banyak orang-orang di luar sana yang membutuhkan perhatiannya. Saya tak mau mengganggunya.

Sore sekitar pukul 15.00 saya mengirim pesan pendek pada si kakak. Isinya menanyakan dia sedang di mana dan sedang apa. Saya tak ingin tahu dia sedang bersama siapa. Karena dengan mengetahui lokasi dan apa yang sedang dilakukan, saya sudah bisa mengira-ira orang-orang yang ada di sekeliling. Biasa, sok tahu saya kan kadang mencuat tanpa komando. ^_^

Rupanya si kakak sedang makan. Dia menawari saya untuk menyambanginya. Merasa enggan, saya malah mengajaknya untuk pergi ke Taman Suropati. Iseng saja. Saya ingin merasakan atmosfer yang berbeda. Tidak hanya nguyel di kamar kost-nya kemudian lanjut makan nasi kucing. Itu sudah menjadi semacam SOP jika saya berkunjung ke kost-nya di malam hari.

Meskipun Taman Suropati letaknya dekat sekali dengan kost saya, ternyata SFS lebih dulu sampai. Saya taksir, dia menunggu lebih dari 30 menit. Berhubung dia seorang penyabar, jadi tidak perlu ada insiden ngambek atau mengomel kecil. Duh, baik deh kamu.

Begitu bertemu, dia langsung mengatakan ingin pipis. Dasar. Seharusnya kan laki-laki lebih bisa menahan hasrat ingin pipis ya? Kan dia punya semacam ‘pipa’ penyalur yang jaraknya lebih panjang di banding wanita. Karena, ya wanita kan tidak memiliki ‘pipa’. hihihi

Seperti biasa, kami membicarakan banyak hal. Sambil menikmati suasana taman yang elok di pandang. Ada gerombolan orang yang memegang alat musik seperti biola dan flute. Ada beberapa lagi yang asik berfoto, dengan kamera SLR tentu saja. Entah mengapa, akhir-akhir ini saya mulai jarang melihat orang membekukan momen dengan digital camera biasa. Lanjut membahas tentang apa-apa yang saya lihat di taman ya. Ada pedagang yang matanya awas. Sigap menangkap pertanda berupa lambaikan tangan calon konsumen. Dan, tentu saja ada pasangan yang saling menggelayut manja dengan mata syahdu yang dengan sok tahunya saya terjemahkan ilopyu.
*Udah deh Ndang bilang aja pacaran, repaot amat? (kepala digetok panci)

Kami banyak bertukar cerita. Mengingat dua minggu ini kami jarang berbincang. Dia masih dengan urusan hati yang tak kunjung padam. Masih merasa sesak akibat cinta. Merasa sulit tidur dan membuang energi dengan menonton banyak film. Malang tak dapat ditolak, ternyata beberapa film yang ditontonnya justru mengambil setting cerita pilu. Ya makin mellow-lah suasana hatinya.
Dia juga bercerita tentang rencana. Rencananya untuk pergi ke Papua. Melakukan liputan mendalam. Ah..semoga tak membahayakan nyawa.

Cerita tentang mantan kekasih yang umur pacarannya sama dengan jumlah tahun untuk menyelesaikan Sekolah Dasar. Yups, 6 tahun saja. Hubungannya kandas akhir November 2010 lalu. Pas sekali, sehari setelah saya pun putus dengan si batu. SFS masih bertelepon ria dengan mantan yang ada nun jauh di Jogja sana.

Berbagi kisah tentang usaha untuk kembali merasa jatuh cinta. Bukan keberhasilan yang didapat, namun justru sakit. Begitu katanya. Jujur, saya tak mengerti. Tak mengerti, bagaimana kegagalan merasa jatuh cinta justru menuai rasa sakit.

Padahal, posisinya saat ini lebih strategis. Jika dia mau, saya rasa dia bisa dengan mudah menjerat hati. Tapi mungkin ya dia memang tak mau. Cintanya telah ditujukan pada seseorang yang namanya tentu tak boleh saya sebutkan di sini.

mm..apa lagi ya topik yang kami bahas?

Uhm, soal pekerjaan saya. Pekerjaan yang ternyata tidak memenuhi ekspektasi dan dengan sukses membentuk lubang menganga dalam bernama kekecewaan.

Juga membahas tentang teman-teman kami yang belakangan ini sibuk luar biasa. Sibuk karena insiden Cikeusik yang menewaskan tiga orang itu.

Saya kemudian makan somay dengan lahap. Dia tidak tertarik setelah mencoba sesuap.

Melanjutkan obrolan. Saya tak ingat persis rentetan materi perbincangan kami.

Kami kemudian memutuskan mencari makanan. Tujuan awal adalah soto ceker di dekat 711 Tosari. Kami adalah sepasang manusia impulsif akut. Di tengah jalan, kami malah berbelok menuju Taman Menteng.
Saya memesan roti bakar, si kakak memesan sate ayam. Untuk minum, kami kompak, pilihan jatuh pada es teler.

Makan di Taman Menteng memberi pelajaran tersendiri. Kami sukses kena getok harga. Satu porsi sate ayam, sukses dihargai Rp 26.000,- saja dong.

Ternyata, kami malah lanjut mengobrol. Banyak yang kami perbincangkan. Sesekali, saya melihatnya tertegun. Melihat perempuan dengan tampilan modis. Saya saja yang perempuan suka, apalagi dia yang notabene laki-laki normal. Ya, Taman Menteng di malam hari memang menyenangkan. Kita bisa wisata mata.

Entah bagaimana awalnya. Tak ingat rentetan cerita. Ternyata kami memiliki kesamaan. Suka menghayal menjelang tidur.

Baiklah, setiap menjelang tidur, saya terbiasa membentuk fragmen. Saya menjadi apa, bertemu siapa, atau mengatakan apa. Itu ada di dunia khayal semata. Terkadang saya menjelma jadi orang pintar luar biasa. Saya ingat Persis, saat masih SMU khayalan saya adalah tinggal di Jepang. Berkawan dengan laki-laki yang tampannya menyerupai Hideaki Takizawa. Kadang tokoh laki-lakinya saya ganti dengan yang menyerupai Takuya Kimura. Bagaiamana saya bisa sampai di Jepang juga dipikirkan. Saya pelajar Indonesia yang mengikuti pertukaran pelajar. Namanya juga berkhayal, sah sah saja bukan?

Tak jarang pula saya mencipta fragmen pilu. Malah terkadang, saya benar-benar menangis. Biasanya fragmen semacam ini tercipta saat suasana hati sedang benar-benar merasa sedih.

Saya tak tahu, ada sedikit atau malah banyak orang yang melakukan hal serupa. Mengkhayal sebelum tidur. Tak ingin juga mencari tahu. Namun ternyata si kakak juga serupa. Dirinya juga sering mencipta fragmen sebelum pergi ke taman mimpi.

Dia menceritakan kisah yang pernah dia bentuk saat menjelang lelap. Lebih banyak tentang kesedihan. Saya dan teman-teman lain masuk dalam ruang imajinya. Kebanyakan dia membentuk kami (teman-temannya) akhirnya berbahagia. Sedang dia? Tetap tenggelam dalam kesedihan. Duh..kasihan sekali. Kami takjub, ternyata ada lagi kesamaan kami. Jangan-jangan di kehidupan sebelumnya kita ini terlahir kembar ya?
*nyengir kuda

Si kakak pernah bilang, katanya beberapa orang mengatakan hubungan saya dan si kakak itu unik.
Satu dua orang pernah bertanya, mengapa saya dan kakak tidak pacaran saja?
Saya langsung mesem. Bukan kegirangan dengan pertanyaan itu.

Sebutan kakak disini benar-benar murni, tulus. Saya menganggapnya kakak. Meski kami tidak dilahirkan dari rahim yang sama, namun saat ini bisa saya pastikan, hubungan kami benar-benar murni platonik. Tak ada rasa yang terlibat. Saya pernah menangis dalam pelukannya. Bayangkan, jika ada rasa diantara kami, sesudah adegan tangis peluk tentu aka nada rasa canggung. Namun bukan itu yang terjadi. Yang ada saya malah merasa bersalah telah memenuhi syal rajut miliknya dengan lendir ingus. Yiacks. Masih sambil sesegukan, saya berjanji akan mencuci syal penuh ingus dan campur air mata itu. Hahahaha

Bagaimana mungkin kami akan saling jatuh cinta? Lah wong tiap ketemu, kami selalu berebut cerita, tentang cinta setengah hati. Dia dengan dongeng saturnus dan saya dengan pemujaan akut pada seseorang tak penting yang seharusnya juga tak layak dipuja.

Jadi, jika yang membaca ini adalah perempuan yang diam-diam menyimpan rasa pada si kakak, tak usah khawatir. Tenang saja. Saya dan kakak tidak ada hubungan apa-apa kok. Sini, tinggal bilang saja pada saya, nanti saya bantu. Dengan senang hati.

Diperjalanan pulang menuju kost saya, kami berdebat soal siapa yang akan lebih sedih jika ditinggal mati oleh salah satu dari kami. Dia yang mulai.
“Kamu nanti akan menangis tidak jika aku mati?” tanyanya.
“Sedih iya,tapi gak tahu deh nangis apa nggak”, jawab saya. Itu jawaban bohong.

Ya iyalah, pasti aku nangis. Itu jawaban aku yang asli wahai kakak. Jangan tanya kenapa. Aku kan cengeng. Mengkhayal aja bisa bikin aku nangis, masa kamu mati aku gak nangis?
Jadi, tenang saja kakak. Jika kamu mati, sudah pasti akan ada orang yang menangisi kamu. Tak perlu khawatir.

Selasa, 15 Maret 2011

UNICEF Bergaya Jalanan


United Nation Children’s Fund atau lebih akrab di telinga dengan sebutan UNICEf. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kurikulum pendidikan di Indonesia telah memperkenalkan adanya Perserikatan Bangsa-Bangsa lengkap dengan badan atau semacam divisi khusus yang akan membantu peningkatan kesejahteraan. Untuk buruh berada di bawah naungan ILO, untuk budaya kita bisa mempercayakannya pada UNESCO. Masalah kesehatan dibawah naungan WHO. Pun demikian untuk mengangani masalah anak-anak, kita bisa menggantungkan diri pada UNICEF.

UNICEF memberikan pelayanan teknis, pembangunan kapasitas, advokasi, perumusan kebijakan serta mempromosikan isu-isu mengenai anak.

UNICEF identik dengan warna biru muda, dan siluet warna putih bergambar ibu dan anak.
Citra organisasi ini tentu luar biasa bagus. Kehadirannya di tanah air sejah tahun 1948, saat Lombok dilanda kekeringan hebat. Kerjasama dengan pemerintah Indonesia pun telah terjalin pada 1950 dengan memprioritaskan diri pada perbaikan kesehatan anak Indonesia.

Saya sempat terkagum-kagum dengan jajaran pemuda berseragam biru muda bergambar logo UNICEF. Mereka terlihat pintar dan penuh percaya diri. Mereka adalah jajaran volunteer yang membaktikan sebagian waktunya untuk turut serta dalam aksi perbaikan kualitas anak, terlebih Indonesia. Mereka memberikan penyuluhan tentang kondisi anak-anak Indonesia. Mereka juga membagikan leaflet dengan senyum ramah. Mereka bak pahlawan. Demikian hati ini menilai keberadaan para relawan muda ini. Mengagumkan.

Namun, kekaguman itu sekarang runtuh.

Semua karena aksi UNICEF yang menggalang dana di jalan-jalan. Belum lagi si mbak-mbak dan mas-mas (saya tak tahu apakah mereka layak disebut relawan) ini kerjanya mencegat setiap orang yang lalu lalang.

“Bisa permisi sebentar…”
“Ini bukan jualan..”
“Anda tahu Unicef?”

Begitulah kira-kira sapaan segerombol orang berpakaian UNICEF ini. Jujur, saya memang tidak pernah sekalipun menyempatkan waktu mendengar penjelasan dari mereka. Saya malas, karena ujung-ujungnya dibalik presentasi mini itu akan mengerucut pada permintaan donasi.

Selama ini, saya dengan senang hati akan turut memberikan donasi untuk UNICEF lewat pembelian pin yang ditawarkan di gerai-gerai. Saya pernah membeli pin UNICEF di gerai Sony Ericsson.

Sungguh disayangkan, organisasi bergengsi macam UNICEF rela mempertaruhkan citra dengan menyebar segerombol orang di jalanan untuk menggalang dana. Bagi saya pribadi, konsep penarikan dana seperti itu kok jadi terkesan kumuh. Member kesan urakan.

Maaf ya, mbak-mbak dan mas-mas berseragam UNICEF itu seakan tak lebih dari sales yang sedang menjajakan dagangan dengan mencegat orang di jalanan.

Penggalangan dana serupa juga dilakukan oleh oragnisasi kelas dunia macam Greenpeace. Namun, caranya sangat jauh lebih elegan. Mereka membuka booth di mall serta mengerahkan relawan untuk menjaring pengunjung yang mau mendonasikan sejumlah uang. Cara ini tentu lebih elegan. Orang yang dijaring adalah pengunjung mall yang notabene memiliki waktu senggang.

Berbeda jauh dengan UNICEF yang menggalang dana dengan gaya jalanan. Tak peduli seberapa cepat langkah orang yang lewat, mereka main cegat, dengan gaya pendekatan yang aduhai mengesalkan. Ah..semoga pihak yang berkepentingan di UNICEF segera memperbaiki metode penggalangan dana model begini.

Minggu, 13 Maret 2011

Kangen Dydit, Ebeth dan Butet



Ini hari senin. Hari dimana pekerjaan saya menumpuk berkalilipat tekanannya. Hari dimana seharusnya saya memiliki double energy untuk menyelesaikan satu persatu pekerjaan saya, mencari berita kemudian membuat ikhtisarnya.
*tentu saya menulis ini seusai menjalankan tanggung jawab primer

Namun, hati ini diliputi kerinduan mendalam pada tiga orang sahabat yang pernah mengisi hari-hari saya dalam rumah ceria. Ya, aku sedang merindukan kalian teman. Dinia Saridewi a.k.a Dydit, Elyzabeth Tamba a.k.a Ebeth, dan Melva Herawati Sirait a.k.a Butet.

Tak kupedulikan seberapa banyak perselisihan yang pernah ada. Tak kuingat seberapa mangkel aku pernah merasa kesal pada kalian. Saat ini aku ingin bersama kalian. Titik.

Yang kurasa saat ini, aku ingin berada dalam ruangan itu. Ruang tengah yang lampunya sering mati. Kita sering bespekulasi bahwa ruang tengah itu berhantu, makanya ‘si pengunggu’ tak suka jika ruangan itu terang benderang. Ruang dimana kalian bertiga akan merajut mimpi usai menonton televisi.

Ruang tengah serbaguna. Tempat kita makan bersama. Tempat kita leyeh-leyeh. Tempat kita nonton televisi maupun DVD yang seringnya bajakan.

Ah, aku mau melakukan apa saja untuk mereka ulang satu scene saja adegan di rumah ceria bersama kalian teman.

Tak kusangka, aku akan merindukan semua itu. Saat dimana rasanya tak akan menjadi berarti, tapi ternyata mengesankan hati hingga mencipta nyeri di ulu hati.

Hayuk, kapan kita bisa makan bubur ayam di dekat tukang buah itu?
Kapan kita makan Ayam Taliwang?
Atau..
Makan nasi-kangkung-sambal-dan tempe goreng pun jadi. Asalkan itu bersama kalian teman. Lengkap. Tak boleh kurang satu pun!!! Saya menggungat!!!

Minggu, 06 Maret 2011

meninggalkan jejak

tidak sedang ingin bercerita
hanya mau meninggalkan sedikit jejak
semacam petilasan
saat aku
sedang berada jauh dari pusat dunia
jauh dari ari-ari yang tertanam

semua yang kutemukan
mengerucut pada satu simpulan
kecintaan pada akar budaya
bagaimanapun
sesuatu yang membiasakan memang mencipta nyaman

itu mutlak

Kamis, 03 Maret 2011

Happy Birthday Pisces!!


Maret
Ini adalah bulan yang menarik perhatian saya. Bulan ketiga dalam urutan kalender masehi. Bulan dimana beberapa orang yang saya kasihi merayakan hari lahir. Terpengaruh seorang teman, saya jadi memberi perhatian lebih pada setiap orang yang berulang tahun di bulan Maret.

Mengacu pada cocok-cocokan zodiac yang mengatakan cancer itu berjodoh dengan pisces. Saya cancer.

Jodoh tentu tak selamanya berafiliasi pada pasangan hidup. Jodoh bisa diterjemahkan teman karib.

Mengingat cancer, lipatan otak ini akan mengangkasa membayangkan beberapa kawan yang berada di bawah naungan zodiac yang berlambang ikan ini.

Baiklah, karena iseng saya akan mereview satu-satu dari mereka.

Shelvy
Saya pernah membuat postingan khusus tentangnya. Jadi agak malas jika akan membuat tulisan panjang tentangnya. Yang pasti, dialah yang membuat saya percaya, pisces itu cocok dengan cancer. Siyal, paham itu merasuk dalam otak, diamini sepenuh hati. Hasilnya, langsung ada bunyi ‘klik’ tiap ada cowok lucu yang ternyata berbintang pisces.

Saya tahu itu cuma sugesti. Tapi bunyi ‘klik’ itu kan juga tidak bisa dikendalikan.

Shelvy berulang tahun di tanggal 6.

Iyan
Dia teman saya sejak SMP. Namanya aslinya Sri Maryati tapi orang akan lebih familiar dengan memanggilnya Iyan. Meski kami sudah satu sekolah sejak SMP, namun saya baru akrab dengannya di bangku SMU. Kelas 2 dan 3 kami sebangku. Dia yang tidak alergi pada fisika, kimia, dan matematika terapan sontak menjadi pahlawan bagi saya.

Iyan itu memiliki karakter ceplas-ceplos. Bicara suka seenaknya, tapi itu yang saya suka. Rasa canggungnya tipis, apalagi terhadap saya.

Iyan sering menjadi donator bayangan. Saat SMU, dia sering sekali menjadi penombok uang saat beramai-ramai sedang jalan berpetualang.

Main ke rumahnya pun tak jauh beda. Saya dan teman-teman sering kali ditraktir bakso. Bakso tentu makanan mewah jaman itu.

Saya rasa teman-teman SMU akan mengamini tentang sifat baik-suka menolong yang dimiliki Iyan. Dia tak akan sungkan menjadi seksi repot ini dan itu. Jadi teringat reuni SMU yang berlangsung 8 Agustus tahun lalu. Dia pontang-panting sibuk sana-sini mengkoordinir ini dan itu demi suksesnya acara. Two tumbs for you Iyan!!!

Yah, Iyan memang selalu begitu. Orangnya tipikal nerimo, pengalah dan ya sudahlah. Dia akan pasrah, yang penting semua senang. Jika sedih, jangan harap orang akan sadar. Dia tipikal orang yang pandai menyimpan duka. Dasar introvert terselubung. Jangan heran, dia akan selalu terlihat senang gembira, meski mungkin hatinya sedang berdarah-darah.

Saya yang telah mengenalnya lebih dari 10 tahun saja masih sering salah menerka suasana hatinya.

Tanggal 10 nanti Iyan berulang tahun.

Rere
Ulang tahunnya sama dengan Iyan. Saya mengenalnya pertengahan 2009.

Rere orang yang sangat tertata. Jadi jika dia mau melakukan sesuatu, pasti otaknya telah mengatur step by step apa-apa yang mau dikerjakan. Dia tidak akan mau melakukan Sesutu mengikuti nafsu spontanitas. Baginya, semua akan berjalan baik jika direncanakan dengan matang.

Keahliannya mengutak-atik. Apa saja diutak-atik.

Pernah saat saya pindahan, dia menemukan borgol berkarat. Borgol betulan yang ada lambang kepolisian. Borgol itu dalam kondisi terkunci. Mental mekaniknya menyembul keluar. Diutak-atiknya borgol itu, sampai kemudian si borgol berfungsi kembali.

Tak heran, selalu ada pisau victorinox di dalam tas-nya. Menunjanglah dengan hobi utak atiknya itu.

Bunda Dewi
Yang ini juga berulang tahun di tanggal 10 Maret. Orang paling sepuh dalam jajaran fragmen ini. Saya mengenalnya saat menjadi narasumber di Healthy Life. Narasumber paling mengesankan.

Bunda Dewi seorang hypnotherapist. Hobinya melakukan aksi sosial, bagi-bagi ini itu. Bergaul dengannya mengajarkan saya bagaimana mengambil tindakan dengan hati. Berbagi. Sikap rendah hatinya juga patut diberi stabilo. Meski berasal dari kaum sosialita, Bunda Dewi benar-benar mengaplikasikan pengertian sosialita. Borjuis yang suka melakukan tindakan sosial. Bukan sosialisasi bersama rekan sejawat semata.

Tahun lalu, saya ikut-ikutan di kemeriahan birthday party-nya. Saya ingat persis bentuk kue tart-nya yang tak biasa. Berbentuk boops lengkap dengan singkapan bikini ditambah ulat. Bunda Dewi dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Dia seakan menjadi poros dilingkungan pertemanannya.

Baginya, semua masalah bisa diperingan dengan mengatur pola pikir. Berpikiran positif, maka hidupmu akan ringan.

Darisman
Yang ini teman saya di kelas menulis. Sebenarnya sudah cukup lama saya tak berhubungan dengannya. Sampai pertengahan November lalu saya mencari-cari tulisannya.

Darisman seorang pembela buruh. Tak heran, hidupnya didedikasikan untuk meningkatkan kesejahteraan para buruh yang katanya berupah rendah dan jam kerja menggila.

Darinya saya banyak mendapat wejangan. Dia jadi menyerupai nenek-nenek yang memiliki laci nasehat tinggi sekali. Entah jalan hidup apa yang pernah ditempuhnya, namun dia selalu memiliki kata-kata menyejukkan. Jiah..lama-lama dia bisa menjelma jadi I Gede Prama.

Jadi, jika ada yang punya masalah berat dan ingin curhat, percayalah. Telinganya selebar dunia untuk mendengar keluh kesah.

Bapak ini berulang tahun 12 maret.

Selamat ulang tahun teman-temanku sayang. Semoga ada berkah menyerupai atom yang menggandakan diri melingkupi hari-hari kalian!!!!