Selasa, 09 Oktober 2012

Bukan Cinta?


gambar diambil dari sini

Apakah ini cinta namanya? Jika selalu menyesakkan, membuat bulir air mata selalu menetes. Meninggalkan sesak tak bertepi.

Apakah ini juga namanya masih cinta? Jika dalam diam kamu masih menyimpan gumpalan asa yang tak sanggup kau bagi?

Bisa jadi ini cinta. Bisa jadi ini sebenar-benarnya cinta. Menyayangi, tanpa obsesi ingin memiliki. Hanya ingin melihatnya bahagia, tak harus bersama. Hanya saja, sesak menyeruak, sesak benar-benar membuatku kesulitan bernafas, saat kenyataan terhampar. Bukan aku, bukan aku orang yang membuatmu bahagia. Aku tak ingin memilikimu, benar. Tapi masih bolehkah aku berharap? Menjadi orang di lingkaran terdekatmu. Menjadi orang yang membuatmu merasa bahagia??

Jakarta, 27 Februari 2012

Senin, 08 Oktober 2012

Selamat Ulang Tahun Mbak Wid..


Dulu sekali, aku berniat membuat jurnal. Mengenai teman-teman terbaik yang saya temui di perjalanan hidup. Tak perlu merunut dari yang paling dekat dan akrab. Sifatnya random saja. Dalam pelaksanaannya, banyak nama yang tersimpan. Saya tulis pandangan saya mengenai mereka. Namun, sayangnya banyak yang akhirnya berakhir membeku menjadi sebuah draft.

Saat saya menjalin aksara ini, bisa jadi pun akan berakhir menjadi draft semata.
Saya sedang memandangi bungkusan coklat kertas nasi. Berkode Bi. Isinya bihun. Pemberian seorang perempuan teman sekantor.

Namanya Widyaningtyas. Aku biasa menyapanya dengan sebutan Mbak Wid. Jika aku disuruh menggambarkan, bagaimana orang ini? Jutek. Cukup itu jawabanku. Tak peduli kami telah menjadi kawan baik, dia tetaplah jutek dimataku.

Dalam sesi awal perkenalan kami, dia jutek luar biasa. Terasa sekali, dia tak suka padaku. Ah, tapi apa peduliku. Sebodo teuing, toh hidupku tetap melaju. Aku terlalu sering dijuteki, oleh orang-orang yang tak mengenalku dengan baik.

Melengkapi jutekismenya, Mbak Wid adalah tipikal orang yang memperhatikan gaya berbusana. Dia berani memakai baju super cerah sampai motif bunga-bunga gonjreng. Kulitnya putih, jadi yang semua outfit yang dikenakan akan terasa pantas-pantas saja.

Mbak Wid juga orang yang suka belanja. Aku pernah berkelakar, jika ada yang mau berjualan di kantor, hal wajib yang dilakukan pedagang adalah menawari dagangan kepadanya. 95 persen kemungkinan, dia akan membeli daganganmu. Ini sudah terbukti sahih jendral. Saya tebak, uangnya tak memiliki nomor seri, buanyak tak terkira, hahahaha..

Jangan marah ya mbak, anggap saja ini doa *wink*

Dibalik kegalakannya, Mbak Wid sebenarnya orang yang nrimo. Karakter jawanya kental sekali. Sekitar Desember 2010, Mbak Wid kehilangan orang terpenting dalam hidupnya. Ibu. Hingga kini, aku sering ikut merasa haru, jika Mbak Wid mulai merindukan ibunya. Rasanya pingin tak ajak ke rumahku aja. Yuk mbak, kita berbagi ibu J

Mbak Wid orang yang cukup terbuka, untuk beberapa hal. Namun ada banyak hal lainnya yang tak akan dia bagi. Disimpannya rapat-rapat sampai dia jadi muring-muring sendiri. Dia juga penyimpan kenangan sejati.

Kami perlahan mulai ikrib, setelah Mbak Wid akan dipindahtugaskan. Kami sempat akan menjadi rekan kerja. Dia sudah cukup parno. Jika ingat masa itu, aku bisa senyum-senyum sendiri.

Allah memang selalu mendengar doa hambanya. Dengan magis, Mbak Wid batal menjadi teman satu tim. Dia malah melintas nun jauh di sana. Di bawah divisi yang kerjaannya terkait dengan advisor, berbicara perundang-undangan dan entah apalagi. Ruwetlah.

Keakraban ditandai dengan makin seringnya kami makan siang bersama.

Hingga saya merajut aksara, Mbak Wid menikmati tugas-tugas barunya. Termasuk hari ini, tepat di hari ulang tahunnya, ditandai dengan kepergiannya ke Mojokerto. Berulang tahun di udara deh.

9 Oktober Mbak Wid berulang tahun. Oktober adalah penanda bulan badai sebelum November. Sejalan dengan karakter orang-orang yang dilahirkan dalam pelukan bulan ini. Tangguh, menggebrak galak dan tegar.

Mbak Wid, selamat ulang tahun ya. Semoga setiap detik setelah hari ini, menjadikanmu manusia yang semakin bijak. Berselimut kebaikan.

Sebab, saat dirimu menjadi pribadi yang baik di mata para sahabat. Menurutku, itu bukan hanya keberhasilanmu dalam menempa diri. Namun juga keberhasilan sosok ibu yang berhasil menanamkan budi pekerti padamu.

Peluk erat buatmu hei Mbakkuuh..

Selasa, 02 Oktober 2012

Goodbye..

Aku ingat persis, pernah melayangkan pertanyaan ini, "Jadi kita akan tetap akrab seperti ini, kira-kira untuk durasi berapa lama ya?"

Awalnya kamu tak mau menjawab, namun akhirnya kamu mengatakan ingin selamanya. Aku kemudian menjelaskan, apapun di dunia ini akan ada masa kadaluarsa, tak ada yang selamanya. Lalu kita menebak angka yang merujuk pada bilangan waktu.

Katamu saat itu, "Hm..mungkin tiga tahun."

Saat masa itu datang, salah satu dari kita akan lebih bersedih dibanding satu yang lainnya.

Teman terbaik, tahukah kamu?

Masa keparat itu benar-benar datang. Dan kesedihan benar-benar meresap di setiap pori tubuhku. Ada sesak luar biasa, menghujam ulu hati, saat aku baru saja membuka kelopak mata usai tersadar dari mimpi.

mengambil foto di sini
Aku tidak tahu kamu bersedih atau tidak untuk perpisahan di depan mata ini, tapi aku iya.

Kamis, 26 Juli 2012

Si Bluwek, teman setia..


Saat saya bersama Si Bluwek di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin


Saya tak ingat persis sejak kapan suka ngebolang. Yang pasti saya selalu bersemangat jika akan mendatangi tempat baru. Yang pasti selalu saya butuhkan adalah ransel. Selama bepergian, saya menggunakan si ransel hitam yang saya beli sejak awal 2008 silam. Merek Export dengan kompartemen untuk laptop di dalamnya.

Ya, saya membelinya tak lama berselang setelah saya membeli laptop. Tas ini multifungsi, saya pakai bekerja, tak jarang juga diajak ngebolang. Meski sesekali saya juga meinjam ransel milik Mas Fahri, jika membutuhkan tas dengan ukuran lebih besar.

Cinta mati saya pada si Export harus berakhir. Bukan karena salah satu dari kami berhianat, namun perpisahan memang harus segera dilakukan.

Bermula dari musibah kecopetan Part I dengan TKP Jembatan Tosari. Saya kehilangan dompet serta beberapa kartu yang tak begitu penting. Nominal uang yang ada saya juga sudah tak ingat. Yang menyesakkan, musibah berikutnya. Kecopetan Part II dengan TKP sama.

Ini sungguh keterlaluan. Tak hentinya saya mengutuki diri sendiri. Bodoh kok berulang. Kecopetan kedua ini membuat saya sempat menjadi warga gelap, tanpa identitas dan uang barang sepeser pun. Setelah melakukan pengurusan kartu ini dan itu, akhirnya saya kembali memiliki KTP dan ATM.

Seharusnya dua musibah kriminal sudah cukup bukan?

Nyatanya tidak. Sabtu, 10 Desember 2011 kehilangan kembali terjadi. Tak tanggung-tanggung, kali ini uang Rp 4,4 juta raib. Bukan kecopetan, levelnya sedikit lebih tinggi. Pencurian. Saya sedang berada di Pulau Tidung. Kamar tempat kami menginap, jendelanya di congkel paksa dan uang dalam dompet digasak si pencuri. Anehnya, si maling ini kok ya sempat-sempatnya cuma mengambil uang, dompet ditinggalkan.

Tak mau kejadian buruk terulang, saya mulai menabung. Akhirnya dengan setengah memaksakan diri, saya membeli ransel baru. Lebih tepatnya carriel. Deuter Futura 24 SL. Berwarna biru cerah, biru donker dan abu-abu. Warna ransel ini cukup feminim, belakang saya tahu, memang istilah future disematkan Deuter bagi carriel yang akan dipakai oleh penjelajah perempuan.

Saya membelinya di toko Tandike kawasan Seskoal Ciledug. Konon, toko ini cukup terkenal di kalangan penjelajah. Harganya lumayan miring dan keaslian terjamin.

Si Deuter Futura 24 SL ini memulai debutnya pada 31 Desember 2011. Menemani saya berhiking ria di Gunung Guntur Garut. Cukup memuaskan dan penuh gaya. Meski daya tampungnya tak terlalu banyak, saya mencintainya amat sangat. Hm..kira-kira apa ya nama yang tepat untuk tas baru ini. Aha..tiba-tiba terpikir satu nama. BLUWEK. Baiklah, saya akan memanggilnya dengan Si Bluwek saja.

Bluwek, temani saya kemanapun ya. Jangan bosan dan tolong jaga barang-barang berharga saya. Juga jaga setiap kenangan bersama kita. J

Jumat, 20 Juli 2012

Menjadi satu, tak lagi terbelah dan terpisah..





Mengambil gambar di sini


Kami adalah sesosok manusia yang biasa, tak terlampau istimewa. Saling menemukan kunci jawaban dalam setiap pertanyaan yang datang dari kehidupan. 

Pertemuan, kami syukuri sepenuh hati. Saling jatuh cinta dan memuja satu sama lain. Cinta datang untuk melengkapi. Mengisi kekosongan satu sama lain. Membuat hati penuh dan buncah seketika.

Tumbuh bersama, belajar menjadi dewasa. Melewati riak ombak, sesekali memaksa untuk bersiap dan waspada, namun tak jarang mengajak bermain-main dan tertawa.

Kami mencoba untuk tetap kukuh dalam jalinan kebersamaan, ada aral namun dukungan lebih banyak kami temui di tengah perjalanan. Pada sebuah hari, di mana matahari tetap terbit untuk memenuhi janji, bersama semilir angin yang menderu di antara wajah, keinginan telah membatu, menjadi keyakinan. Kami tak lagi ingin terpisah.

Dua kepala ini, menginginkan kebersamaan. Menjalani hidup untuk saling mengisi. Saling memberi yang terbaik.

Kami yang setengah kemudian menjadi satu. Menjadi penuh, tidak lagi terbelah dan terpisah.


untuk Katri-Ikhsan

Kamis, 07 Juni 2012

Cinta yang Erat


Foto dari sini ya
Seberapa sering aku jatuh cinta?
Jawabnya tak banyak
Bisa dihitung dengan jari-jemari tangan ini
Lalu, seberapa dalam cinta yang kumiliki?
Ah, aku memang terlahir entah dengan berkah atau malah kutukan
Setiap jatuh cinta, aku terlalu bersungguh-sungguh
Membatu dan kaku
 Tidak sambil lalu dan mudah menghilang

Rabu, 06 Juni 2012

Akhirnya Nonton Snow White and The Hunstman


Ngambil gambar dari sini

Saya mengaku, kerap kali menjadi kompor. Namun lebih sering lagi jadi pihak yang terkompori. Ah, istilah macam mana pula ini. Baiklah, mari mulai fokus.

Pada sebuah ritual makan siang bersama geng Pantry Office. Stephanie, yang lebih seringnya saya panggil dengan Hantu Rambut menceritakan film Snow White and The Hunstman (SWATH). Dia menyanjung-nyanjung film itu setinggi langit. Menggali rasa penasaran saya sampai titik maksimal.

Terlebih, sebelum makan siang itu, saya sempat melihat thriller Si Dark Snow White ini di You Tube. Sempat salah info, konon baru masuk Indonesia awal Juli, eh lah kok ternyata sudah eksis aja di awal Juni.
Katakan saya korban keberhasilan tim marketing film SWATH.

Sejak film ini masih dalam proses pembuatan, sudah begitu lihai mematik keinginan saya untuk menonton. Saya ingat persis, bagaimana infotainment memberitakan perseteruan Charlize Theron dengan Kristen Stewart. Ya maaf saja, tontonan infotainment saya kelas Hollywood. Uhuk.

Beberapa artikel dari Koran yang saya baca nyaris setiap pagi juga kerap menyinggung bagaimana film ini masuk dalam list harus tonton. Menjanjikan kegelapan yang pekat. Jadilah, niat suci menonton film ini semakin menjadi.

Tapi, tentu saya tak akan iseng ngeblog kalau acara nonton ini biasa saja.

Saya mengajak Mas Mario. Ada semacam peraturan tak tertulis, mengajak mas Mario, sama juga halnya harus mengajak kembaran siamnya, Mbak Mardahlia Johan. Jadi, ajakan ini harus meyakinkan mereka, bahwa film SWATH layak tonton.

Ajakan mulai meningkat jadi rayuan. Tak berhasil juga, kadarnya ditinggikan lagi menjadi permohonan. Akhirnya proposal nonton bersama disetujui oleh mereka. Tapi, sialnya jam tayang film fenomenal ini tak ramah bagi saya yang harus pulang ke pelosok Bekasi. Sigh.

Jadwal tayang di tiga bioskop, Plaza Indonesia, EX dan Djakarta Theatre seragam. 17.05 dan 19.05. Dilematis. Mengambil pilihan pertama, sangat riskan tertinggal cerita awal, terbentur absensi kantor yang baru memperbolehkan pulang di jam 17.00.

Memilih jam kedua, saya yang riskan. Jadwal kereta menuju Bekasi sungguh tak ciamik. Jika nekat, alamat akan sampai rumah jam 11 malam. Dalam kondisi stamina sedang kurang fit, pilihan ini tentu tak bijak.

Akhirnya kami bertiga menyepakati untuk nonton di jam 17.05 pada Selasa, 5 Juni, tentu dengan mengerahkan strategi nomor wahid. Tiket dibeli saat jam makan siang. Gilanya, saya dan Mas Mario bahkan melakukan simulasi jalan cepat untuk mengukur kecepatan waktu, dari kantor menuju bioskop. Sakit.

Dari lobi BII Tower menuju XXI EX, kami membutuhkan waktu 5 menit, pas, tak kurang tak lebih. Tiket dibeli, ditraktir oleh si mas terganteng sedunia lah pokoknya, hehe..

Sore telah tiba. Masing-masing dari kami harus bisa membebaskan diri dari kubikel kantor. Bagaimanapun caranya, jam 5 teng kami harus sudah ada di mesin absen. Mbak Lia sempat disapa bos nya. Untung dia bisa selamat.

Takdir telah tertulis, kami direstui oleh dunia.

Kecepatan kami berjalan layak diberi applause. Kami sampai di XXI jam 17.08.

Sampai di bangku, menonton dengan manis, memenuhi hasrat penasaran. Sambil ngos-ngosan, dan special untuk saya, sambil menahan pipis.

Cerita film SWATH tak biasa, dia mematahkan beberapa mitos yang sudah terlanjur melekat. Seperti jumlah kurcaci dan si pencium tuan putri. Tapi ini justru menunjukkan bahwa kita tak perlu terikat dengan hal-hal yang sudah menjadi kepercayaan publik bukan?

Lalu, apakah film SWATH memenuhi ekspektasi saya? Saya jawab ya. Meskipun tak akan saya masukkan dalam kategori bagus yang layak dianugerahi gelar ‘ayo tonton lagi’, namun film ini cukup menarik, sekian. Oh ya, si Hunstman, matanya bikin khilaf :D

Keesokan harinya, saya diledek oleh duo Lia-Mario.

“Jangan deket-deket Endang, ntar diajak ngos-ngosan”. Sial.

Ah, tapi kalian berdua baik hati, sini-sini tak peluk satu-satu. Wink.