Jumat, 04 September 2015

Saya Cinta Jakarta, Masalah?

mengambil gambar di sini
Banyak orang mengumpat Jakarta. Kota yang konon penuh kemacetan. Penuh keegoisan. Sumpek. Herannya, meski penuh caci maki untuknya, tetap saja banyak yang berduyun-duyun mendatangi Jakarta.

Tiap hari kerja, ribuan orang merelakan waktu rata-rata dua jam dari rumah yang letaknya di penyangga kota macam Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, melakukan migrasi menuju tempat kerja masing-masing di Jakarta. Melintasi macet. Berdesakan di kereta atau bus. Rutinitas yang sama diuulangi kembali saat petang hari.

Dimaki, namun tetap didatangi. Entah, kontradiksi macam apa ini namanya.

Pernah suatu kali saya pergi ke Hanau, Kalimantan Tengah selama delapan hari. Hidup di tengah hutan sawit. Jarak antar rumah jauh. Hiburan hanya dari televisi yang untungnya menangkap signal. Satu dua hari pertama, terasa nyaman. Udara sejuk. Hiruk pikuk kota tiada. Karena padatnya jadwal bekerja, konsentrasi saya tercurah penuh untuk urusan pekerjaan. Bekerja sebaik mungkin. Sampai tiba hari kepulangan.

Yang saya ingat persis, adalah perjalanan dari Bandara menuju rumah setelah tiba di Jakarta. Macet, sudah pasti. Terlebih saya tiba di Jakarta menjelang petang. Pandangan saya lurus ke luar jendela. Tiba-tiba saja, yang terlintas di kepala adalah rasa rindu pada gedung-gedung tinggi yang tak selalu berjajar rapi di Jakarta. Petang itu, saya menyadari, saya mencintai Jakarta.

Jakarta dengan keruwetannya. Dengan pekak klakson dan sedikit trotoarnya. Meski selama menjauh saya tak merindu, namun ternyata saat kembali, saya bersuka cita.

Dipikir kembali, Jakarta tak melulu buruk ternyata. Ingin menonton film terbaru, Jakarta memiliki aneka ragam pilihan bioskop yang tersebar merata di seluruh penjuru kota. Bahkan film paling baru yang saat yang sama sedang menempati rangking teratas di box office, bisa dinikmati di Jakarta.

Ingin makan enak, jangan khawatir. Ada banyak pusat makanan enak. Malah beberapa tersedia selama 24 jam. Jakarta, kota yang tak pernah tidur. Selalu terjaga, memanjakan orang-orang dengan siklus hidup beragam.

Saya si pengguna kendaraan umum pun dimanjakan oleh Jakarta. Beberappa jalur transjakarta tersedia 24 jam penuh. Malah beberapa waktu belakangan ini, ada gojek yang siap mengantarkan kemanapun saya ingin pergi, asalkan dalam radius tak lebih dari 25km.

Saya cinta Jakarta, meskipun KTP saya Jawa Barat Bekasi.

Bukan berarti saya tak pernah memiliki keinginan untuk menjauh dari Jakarta. Beberapa kali saya ingin pindah ke luar kota, semacam Jogja, Surabaya, atau malah Padang. Saya sempat ingin mencari pekerjaan yang jauh dari Jakarta, agar tak perlu bermacet ria dan membangun karir yang lebih bersinar. Nyatanya, itu cuma keinginan semata yang tak pernah berwujud dalam usaha untuk merealisasikan. Bisa jadi, karena kecintaan saya yang cukup besar pada Jakarta, ahak.

Jadi, saya sungguh heran. Pada mereka yang memaki Jakarta, namun tetap memilih tinggal di dalamnya. Mengatakan sama sekali tak memiliki impian untuk pindah ke Jakarta, nyatanya bekerja dan menjadi robot kota di ibukota negeri ini. Munafik? Ah, tentu sajja tidak. Mungkin mereka hanya tidak tahu apa yang dimau. Atau..sudah tahu apa yang dimau namun tak sanggup melawan gemerlap yang ditawarkan Jakarta.

Pokoknya saya cinta Jakarta, masalah?


Bandung, 4 September 2015.

Jumat, 24 April 2015

After Meet Syndrome

Dengan berat hati, saya mengakui, ternyata saya memang terlahir dengan jiwa romantis akut. Ini kutukan atau malah berkah, entahlah. Mungkin pasangan saya kelak yang bisa memutuskan.

Dimulai saat semalam iseng membuka email. Mendapati folder yang isinya surat cinta, untuk seseorang yang pernah menjadi kekasih di masa lalu. Amboi, banyak sekali kalimat beraroma bunga-bunga penuh cinta dan pemujaan. Tenang saja, saya tidak sedang terkena demam kenangan. Toh, tergila-gila, jatuh cinta hingga batas maksimal dan entah apalagi istilahnya itu, tentu dialami oleh semua orang. Buat yang memungkiri, duh, kasihan sekali kamu.

Meski tak selalu berakhir bahagia, jatuh cinta tentu menjadi hal terindah yang harus disyukuri.

Diantara beragam email cinta itu, saya mendapati istilah ciptaan bernama after meet syndrome. Istilah ini bisa adi melintas di kepala karena saya sempat menjadi script writer untuk program talkshow kesehatan selama bertahun-tahun.

Jadi, after meet syndrome adalah istilah yang sering saya ucapakan, untuk menggambarkan betapa saya sedang merasa rindu sangat pada kekasih, justru setelah bertemu. Rindunya malah jadi berkalilipat hebatnya, dan baru akan menurun kadar intensitasnya setelah berhari tak bertemu, begitu.

Dipikir-pikir, after meet syndrome ternyata tak hanya berlaku pada sebuah hubungan, namun juga pada sebuah pengalaman. Saya yang gemar bepergian, biasanya masih akan terbayang-bayang tempat cantik yang baru saya singgahi, hingga berhari-hari kemudian. Masih tersenyum membayangkan kesenangan berada di sebuah tempat, bersama teman tersayang.


                        coba, bagaimana tempat seperti ini tak membuat terbayang-bayang?

Jadi, untuk setiap kejadian menyenangkan yang terjadi dihidupmu, dan hingga berhari setelahnya kamu masih mengenangnya komplit dengan paket senyum dikulum, itulah yang namanya after meet syndrome.

Kamis, 09 April 2015

Menonton Filosofi Kopi


Jangan bayangkan ini sebuah resensi film, hanya kesan yang mendalam usai menonton.

Menonton Filosofi Kopi di hari pertama pemutaran serentak. Ini film Indonesia pertama yang saya tonton tahun ini. Seperti sebelumnya, Angga Dwimas Sasongko tak pernah gagal.

Film ini bercerita tentang persahabatan Ben dan Jody serta perjuangan untuk mempertahankan kedai kopi mereka, Filosofi Kopi. 

Ayah Jody meninggalkan hutang senilai Rp 800 juta dan sebagai anak, Ia berkewajiban membayar, bagaimanapun caranya. Jody pun harus menguji kesabaran untuk bernegosiasi dengan idealisme karibnya, Ben. 

Saya menyukai dialog dalam film ini, cerdas dan menghibur. Sampai saya bingung saat dua kali Jody memaki Ben dengan kalimat, "Cibai lo". Gegar budaya jadi terasa, saat bioskop dipenuhi gelak tawa dan saya kebingungan. Sampai akhirnya saya menemukan arti kata cibai, hahahahaha..

Juga jangan abaikan kampanye tim promosi film ini, yang ingin mengkopikan Indonesia. Setelah nonton, rasanya ingin nongkrong dan menyeruput kopi, tapi sayang, waktu mendekati tengah malam dan teman menonton memiliki kewajiban bekerja besok pagi buta.

Pokoknya besok saya kudu ngopi, titik.

Oia, sekedar intermezzo, film ini lahir dari impian besar Anggia Kharisma, sang producer. Kembali saya harus meyakini, apa yang dibuat dengan hati tentu akan diterima dengan hati. Sembah hormat untuk orang-orang hebat yang mendedikasikan diri bagi film ini. Terima kasih banyak Angga, Anggi dan Jenny. Juga untuk setiap cast yang membuat film ini sungguh layak diberi tepuk tangan yang meriah.

Daaaan..bagi yang menonton, jangan beranjak pergi sampai film ini benar-benar selesai. Pokoknya jangan.

Jumat, 09 Januari 2015

Surat untuk Pria Kesayangan

Mengambil gambar di sini

Malam merepih. Tetiba saja, aku membayangkan tentangmu hei pria kesayangan. Kamu yang selalu mampu membawa potogan ketenangan dalam teduhnya tatapan. Kamu yang sempat menjadi telinga atas setiap keluh kesah. Namun kamu pula yang menjadi kekecewaan terbesar.

Hidup harus melaju bersama waktu. Tak usah kau ajari, aku sudah tahu.

Belakangan, ada gelombang besar memasuki pusara waktuku. Kabar baiknya, sampai detik ini aku masih bisa berdiri. Baik-baik saja, tak rapuh seperti dulu.


Maafkan aku, pernah menyakitimu tanpa sengaja. Kau pun membalas kesakitan itu dengan impas. Jadi, bagaimana jika mulai sekarang kita berbaikan saja?

Kamis, 30 Oktober 2014

Kenali Bahasa Tubuhmu




Foto diambil dari sini


Bahasa tubuh tak bisa berdusta, saya kali ini benar-benar meyakini setelah tak sengaja mendapati sorot mata penuh kebencian. Saya tergugu, tak pernah menyaksikannya sebelumnya. Tatapan mata penuh benci, amarah yang entah disebabkan oleh apa. Saya pikir, tatapan seperti itu hanya akan didapati di sinetron yang dimiliki oleh tokoh antagonis. Nyatanya ia menjelma nyata, berjarak tak sampai dari lima meter di depanku.

Hati-hati menjaga perasaanmu nona, sebab bahasa tubuhmu menerjemahkan suasana hati dengan sangat nyata. Lebih baik banyak-banyak lah bergembira, banyak bersenang-senang. Masa muda kan seharusnya banyak di isi dengan penuh suka cita, bukan sebaliknya.

Jumat, 29 Agustus 2014

Menikmati Kenangan





 Mengambil gambar dari sini

Aku pernah jatuh cinta, pada lekatnya tatapan matamu. Aku pernah begitu memuja, setiap tawaran tanganmu untuk selalu menggenggam tanganku. Itu dulu. Saat kamu pernah memasrahkan diri untuk dimiliki. Kumiliki.

Aku menghargai setiap kenangan asam manis tentang kita. Menyimpannya dengan baik di salah satu lipatan otak. Entah bagaimana denganmu, namun aku begini adanya.

Kuduga, kamu pun sempat menyimpan beberapa kenangan kita. Beberapa saja, tak banyak. Dan memang tak usah banyak-banyak. 

Katamu, sempat melintasi beberapa tempat petilasan kita, dengan sengaja, tak untuk tujuan yang genting, hanya untuk mengenang. Ini mengejutkan bagiku, tapi tetap tak perlu ditanggapi dengan pesta raya. 

Kenangan, memang sebaiknya letakkan saja di belakang. Sekali-kali dikenang tak mengapa. 

Mari kita, aku, kamu, juga mungkin kalian..saling mengenang dengan tenang, untuk setiap masa lalu penuh cinta dan rasa bungah.  

Rabu, 06 Agustus 2014

Fase Manusia dalam Filosofi Pandawa Lima, yang Manakah Kamu?


mengambil gambar di sini

Inspirasi bisa datang dari manapun. Bisa dari siapa saja, tak terbatas. Saya baru bertemu seorang laki-laki yang dalam pengamatan sejauh ini, terlihat keren mutlak. Dia seorang illustrator. Tapi kali ini saya sedang tak ingin membahas mengenai pekerjaannya, dan siapa dia. Hanya ingin menulis tentang sepotong materi perbincangan kami, yang terjadi baru saja. Sangat mengesankan dan menohok, sampai merasa ini harus segera diabdikan dalam barisan kata sebelum lupa.

Rasanya, nyaris setiap orang mengetahui kisah pandawa lima. Menurutnya, pandawa lima adalah penggambaran manusia. Penggambaran bagaimana kematangan seseorang dalam bersikap.
  1. Yudhistira
  2. Bima
  3. Arjuna
  4. Nakula
  5. Sadewa
Itu urutan dari yang tertua. Namun sebenarnya manusia, melewati fase lima tingkat ini, dimulai dari yang terkecil.

Sadewa. Orang yang berada di fase ini, adalah mereka-mereka yang merasa bak dewa. Hebat, terpaling. Tak ada yang salah dengan orang yang merasa hebat. Merasa hebat mungkin juga bukan sebuah dosa. Hanya saja..biasanya orang yang sungguh-sungguh hebat, tidaklah merasa. Jadi silahkan simpulkan sendiri ya..

Saya merasa malu, selama ini masih terkurung dalam persepsi diri bahwa saya seorang yang hebat, ah..malluuuwww..

Nakula. Ini adalah tahapan saat seseorang mulai banyak berpikir. Kritis. Banyak mempertanyakan tentang peristiwa dan apapun. Isi kepalanya selalu penuh tanda tanya. Bukan karena ia tidak mengerti akan banyak hal, namun karena ada kegelisahan dalam hati, menuntut jawaban atas setiap remah cerita penuh misteri yang ditawarkan semesta.

Arjuna. Kaum hawa tentu fasih mengenal nama ini. Namun kali ini, saya tak tertarik membahas mengenai sosoknya yang rupawan. Arjuna digambarkan sebagai orang yang ala kadarnya. Hanya memakai jubah, tak memakai perhiasan untuk menarik perhatian. Sosoknya menarik, bukan karena ketampanan lahiriah. Fase ini menggambarkan manusia seperti cawan yang kososng dan siap menerima ilmu kehidupan. Ia akan membiarkan diri kosong agar bisa menerima banyak hal. Ia akan menarik dengan sifatnya yang rendah hati. Keren namun tak merasa keren. Mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkannya.

Bima. Dalam kisah pewayangan, fase ini memiliki cerita paling panjang. Fase ini adalah masa mencari jati diri secara mendalam. Manusia menerjemahkan visi dan berusaha mencapainya. Bisa lari ke puncak tertinggi, atau menyelam ke dasar laut terdalam. Ini adalah masa mencari tujuan hidup dan meresapi saripati hidup. Bima digambarkan memakai kalung ular, menggambarkan seorang yang bijak sekalipun mungkin pernah menjadi jahat. Masa lalu yang buruk tidak untuk dihilangkan dan dilupakan, di kubur di tempat terdalam. Masa lalu yang buruk, sebaiknya menjadi pengingat, seseorang pernah melakukan kesalahan, cukup diingat tidak untuk diulang. Berdamailah dengan masa lalu, tak perlu menutupinya.

Yudhistira. Ini adalah fase kematangan kepribadian. Tahap ini adalah masa dimana seseorang benar-benar telah mampu menyerap ilmu kehidupan. Kesombongan bisa jadi sudah tak ada dalam diri. Ia belajar memahami tidak lagi menghakimi. Konon Yudhistira juga seorang yang tak pernah berbohong.

Jadi, sudah ada di tahap manakah kamu?

Terima kasih banyak untuk Sweta Kartika yang membagi cerita tentang filosofi pewayangan ini.