Rabu, 14 Agustus 2013

Stop Menanyakan ‘Kapan Kawin?’

gambar lucu ini, ngambil di sini
Ada fenomena unik menjelang Idul Fitri kali ini. Di twitter, saya mendapati gerakan
‘Stop menayakan “kapan kawin?” pada pertemuan keluarga’

Gerakan yang boleh juga, guman saya.

Jika tetap ada yang nekad bertanya, maka kita sah-sah saja untuk menjawab “kapan mati?”

Mengapa demikian? Karena rejeki, jodoh dan kematian, sepenuhnya menjadi misteri ilahi.

Jawaban yang harusnya cukup memberi efek jera, pada mulut-mulut usil. Agar tidak lagi membuat depresi para lajang.

Dipikir-pikir, kenapa sih, urusan perkawinan sebegitu menariknya untuk dibahas?

Mengapa orang sedemikian suka berbasa-basi dengan menanyakan kapan seseorang akan kawin?

Kelak, saat saya sudah melepas masa lajang, saya berjanji, untuk tak bermulut usil, menanyakan hal paling menyebalkan itu.

Ah..rasanya masih ingin bersikap sengit pada si mulut usil. Bukankah mereka pernah mengalami, tak enaknya ditanya dengan kalimat super menyebalkan itu? Aha..saya tahu. Kuat dugaan mereka sebenarnya sedang melakukan pembalasan dendam. Dengan menyebar terror, melalui pertanyaan ‘kapan kawin?’, berharap luka masa lalunya terobati.

Mulai sekarang, mari kita putus mata rantai dendam tersebut. Putus terror itu. Ternyata terror tidak hanya dengan bom, namun bisa dengan kata-kata ya. Sebab, kata-kati pun bisa menyakiti, hingga ulu hati. Setuju?

Note: kata kawin juga bisa diganti dengan kata nikah, tak usah dipermasalahkan. Saya percaya, logika berpikir Anda tidak kampungan kan? Sampai masalah pemilihan kata seremeh ini pun menarik perhatian untuk dibahas.


Selat Sunda, 9 Agustus 2013

Mendadak Mudik


gambar dari sini
Sedang berada di atas kapal, menyebrang di perairan selat sunda. Keluarga tiba-tiba memutuskan mudik. Seorang kawan berceloteh, ternyata sikap impulsif saya merupakan sifat keturunan.

Di keluarga saya, mudik dengan formasi lengkap ini bisa dikatakan sangat langka. Mungkin terakhir terjadi belasan tahun silam. Biasanya, pulang kampung hanya dilakukan oleh ibu dengan saya atau bapak sesekali menemani. Adik saya, bahkan terkahir kali pulang kampung, menurut daya ingatnya, saat ia kelas 6 SD. 

Sedang sekarang, dia sudah menginjak kelas 3 SMA.

Jadi, kapan keluarga saya melakukan perjalanan mudik dengan formasi bapak,ibu, saya dan adik? Entahlah. Mungkin saat saya masih SMP.

Mudik kali ini, begitu tiba-tiba terjadi. Semua berikhwal dari ceramah di masjid, saat kami melakukan sholat Ied. Isi ceramahnya begitu membekas di hati. Alhasil, sekitar 60 menit setelah sholat, kami sekeluarga bersepakat, yak..mari kita mudik.

Pulang ke Lampung, kampung halaman ibu juga saya. Mengunjungi nenek yang kini tinggal sendiri semenjak kepergian kakek tahun 1994 dan bibi (putri bungsunya) menikah tahun lalu. Di Lampung, juga ada banyak sanak saudara, ada bude dan pakde, nyaris seluruh keluarga besar dari pihak ibu, memang tinggal di Lampung.

Semoga mudik kali ini, kembali merekatkan cinta di keluarga. Berbagi tawa, kembali menguatkan sekrup-sekrup cinta yang mungkin sempat longgar karena jarangnya kebersamaan. Meski mudik ini kami jalani dengan mendadak, bukan berarti kerinduan yang kami miliki mendadak muncul. Saya meyakini, kerinduan akan kampung halaman sudah ada sejak lama, hanya saja, mungkin rindu itu ditekan sedemikian rupa. Atau tidak menjadi prioritas.

Kini, dia telah ada dipermukaan. Menjadi prioritas. Bagaimanapun, kami orang timur yang menjunjung tinggi rasa kekerabatan bukan?


Selat Sunda, 9 Agustus 2013

Kamis, 13 Juni 2013

Cinta yang Tak Layak, Kala itu

Mengambil gambar di sini

Pernahkah kamu jatuh cinta yang sungguh-sungguh pada orang yang tak layak? Seluruh orang terdekatmu memperingatkan, cintamu kali ini sungguh tak layak diperjuangkan. Namun hatimu bebal, kamu tetap cinta.
Aku pernah ada di posisi itu.

Sekarang, saat mengenang masa-masa itu, aku hanya tersenyum. Sesekali masih mengecek akun jejaring sosialnya. Berusaha mencari sebab, apa yang dulu membuatku begitu memujanya. Romantisme macam apakah yang ditawarkan duniaku kala itu?

Semua pada akhirnya tidak bermuara pada jawaban yang memuaskan hati. Tak apa. Toh dulu, saat mabuk kepayang sedang meraja, aku tetap merasakan buncah nya hati yang jatuh cinta. Meski pada akhirnya, ada kecewa yang menderas. Dunia seolah-olah memperolokku dengan kalimat yang paling kubenci,

“Ku bilang juga apa?”

Hatiku pernah patah. Patah sepatah-patahnya. Juga mematahkan kaki, hingga aku tak sanggup melangkah ke depan, melepas kenganan-kenangan bersama si cinta yang konon tak layak itu.

Kini, aku sudah baik-baik saja. Tidak ada penyesalan. Hanya heran saja.


Hai cinta masa lalu (yang konon tak layak itu). Apa kabarmu? Semoga kini kamu cukup layak menjadi cinta untuk orang yang lain. Hati bukan untuk bermain-main sayang.

Bali, 14 Juni 2013

Selasa, 07 Mei 2013

don't disturb, I am busy now..



Mengambil gambar di sini
Hidupku seperti roller coaster belakangan ini. Melepaskan pekerjaan yang sudah ada, bahkan dengan status karyawan tetap. Apa yang kucari? Nothing.

Ya, buat kebanyakan orang, yang kukerjakan saat ini bukanlah apa-apa. Tak sedikit yang mencibir, yang kulakukan hanyalah omong kosong.

Tapi, sebenarnya apa yang kulakukan sekarang?

Menulis untuk sebuah buku yang saat terbit pun namaku tak terpampang. Orang menyebutnya ghost writer, aku lebih suka dengan sebutan penulis pendamping. Terserah mana yang benar, yang pasti eksistensiku lebih terasa di sini.

Program yang baru saja berlalu adalah membidani filler sebuah produk perusahaan BUMN. Awalnya aku menjadi creative, namun seiring kerumitan kerja, peranku bergulir menjadi producer. Mengatur komunikasi antarpihak yang cukup ruwet.

Pekerjaan kedua datang dari sebuah partai politik yang akan melakukan pemilihan 50 anak muda untuk dikirim ke One Young World, Johhanesberg, Afrika Selatan pada 2-6 September 2013 mendatang. Rumitnya sudah mulai terasa dari sekarang.

Adalagi tawaran menjadi producer tayangan pagi di sebuah TV baru. Masih ujicoba untuk materi tayangannya.

Yang baru saja saya tolak, tawaran content creative sebuah pekerjaan sosialisasi hemat energi dari Kementerian ESDM. Awalnya saya meng-iya-kan namun belakangan saya sadar, sehebat apapun saya berusaha, pekerjaan ini tak akan selesai.

Sederet pekerjaan di atas, mau tak mau membuat saya nyaris jungkir balik. Tak memiliki kemerdekaan waktu. Jadi, saat ada orang super syirik, yang dengan sangat bodohnya mengatakan hidup saya luntang-luntung bak pengangguran, huh..kamu sungguh tak tahu rasanya menjadi akuhh *drama queen style*

Selasa, 23 April 2013

Tepat Waktu



take picture from here
Seberapa sering kamu datang tepat waktu?

Beberapa waktu terakhir, saya agak bermasalah dengan waktu. Beruntung, bukan di bagian yang ingkar, namun justru di bagian yang tepat.

Minggu lalu, saya sedang berurusan dengan sebuah brand consultant. Tak perlulah saya menyebut, apa nama perusahaannya. Namun klien nya cukup ternama, sebuah BUMN yang memonopoli bisnis BBM di Tanah Air.

Untuk project ini, saya bersama tim cukup sering melakukan meeting, untuk berkoordinasi agar tidak ada miss saat eksekusi di lapangan.

Yang sering terjadi, meeting molor jauh dari jam yang disepakati.

Janji briefing jam 16.00 molor jadi jam 18.00. Janji shooting dimulai pukul 06.00 namun satu persatu orang baru muncul pada jam 07.00.

Saya pikir, itu kebetulan, sampai saya sadar, itu sudah menjadi kebiasaan mereka.

Karena keesokan harinya, mulur-mulur jam meeting ini terus berlanjut. Selalu.

Sampai dengan cukup sarkas, saya berujar pada tim kerja, “Nanti kalau kita bisa sampe duluan ke lokasi, kita layak ngasih hadiah nih ke diri sendiri”

Dan apa yang terjadi? Yap, lagi-lagi kamu harus menunggu, barang satu sampai dua jam.

Entahlah, budaya jam karet sudah sebegitu terbiasanya ya untuk kita, sampai tak ada rasa sungkan kala harus terlambat.

Bodohnya lagi, jika sampai ada celetukan, “Ah, kayak gak tau orang Indonesia aja”

Sungguh cerdas ya, membalikkan, si tepat waktu seperti orang dungu.

Hari ini, saya kembali menghadapi tiga kasus jam karet. Kebetulan, saya sengaja mendedikasikan hari ini untuk memenuhi tenggat tiga janji.

Pertama, bertemu dengan mantan teman kerja di Metro TV, membicarakan sebuah project. Khawatir terlambat, dua jam sebelum janji bertemu, saya meminta pertemuan diundur 30 menit. Saya tiba, satu menit lebih cepat, saat saya mengkonfirmasi posisi, yang bersangkutan baru mau berangkat. Oke.

Janji bertemu kedua, adalah menjenguk teman kuliah yang baru dikaruniai buah hati kedua, di Lenteng Agung. Janji kali ini memang tak menunjukkan jam, hanya satu kata, siang. Bahkan sampai matahari bergulir, memasuki waktu sore, kawan yang berjanji akan sama-sama berkunjung ini, sama sekali belum terlihat. Entah masih ada di antah berantah mana.

Janji ketiga, adalah saat saya merajut aksara ini. Takut terlambat dari waktu yang dijanjikan, saya sengaja menyetop taksi. Alhamdulillah, saya kembali tiba tepat waktu. Dan seperti yang bisa ditebak, lagi-lagi, anggap saja saya yang dungu. Saya berjanji dengan empat orang, ajaibnya keempat orang ini terlambat.

Ah, sepertinya memang saya yang mulai harus membongkar konstruksi berpikir. Tadinya saya beranggapan, datang tepat waktu, adalah cara untuk menghargai orang lain, yang memiliki janji bertemu dengan saya.

Kali ini, saya harus memantapkan hati, datang tepat waktu adalah cara untuk menghargai diri sendiri.

Blok M Plaza, 13 April 2013

Selasa, 25 Desember 2012

Menikmati Papandayan bersama Tim Blengcek

(ki-ka): Yudhis, Ochi, Anty, Putri, Jeremi, Becca, Tyas, Hendra, saya, Nita, Delly


Pulanglah ke rumah ketika di luar tak aman, pergilah ke luar ketika di rumah tak nyaman’ by @pup0

Quote di atas saya baca di linimasa milik Putri.

Perjalanan selalu memberi rasa buncah, nyaris bagi sebagian besar orang. Kali ini, saya cukup beruntung, bersama orang-orang terbaik, memiliki kesempatan untuk mengunjungi Gunung Papandayan, Garut.

Hari #1, Jumat, 21 Desember 2012

Janji bertemu pukul 20.00 WIB. Kami datang dari setiap penjuru mata angin, mengarah pada satu titik, Terminal Kampung Rambutan.

Orang yang pertama sampai, justru peserta yang datang dari titik terjauh. Tyas Listyo datang dari Tangerang, cukup beruntung tak menemui kemacetan. Tyas orang yang ceria, saya menyukainya. Tyas menjadi semacam ibunya anak-anak semenjak trip pertama kami ke Gua Buniayu, September silam. Dia mendapat panggilan sayang dari kami semua. Budhe, begitu kami memanggilnya. Meski begitu, jangan salah sangka, dia sama sekali bukan peserta tertua, bukan pula yang paling dewasa. Paling gila mungkin saja iya.

Bisa dibilang, Tyas selalu menjadi orang paling bersemangat tiap mau ngetrip. Belum tau mau ke mana saja dia sudah packing. Paling kompor.

Kembali pada jumat malam, sebagai peserta yang sampai duluan, Tyas mulai berisik di chat conference. Mengabsen satu-persatu peserta sudah sampai di mana.

Pukul 20.30 peserta mulai berkumpul. Tema obrolan kami nyaris seragam, lapar dan macet di mana-mana. Jakarta malam itu sungguh menyebalkan. Tak rela rupanya, ditinggal beberapa warganya untuk berlibur barang sebentar.

Di trip kali ini, ada tiga peserta baru. Nama, wajah, asal muasal benar-benar tak terdeteksi. Mereka adalah Anty, Ochi, dan Becca. Maafkan jika saya salah menuliskan nama. Tiga perempuan ini adalah bawaan Hendra. Entah teman apa, sampai sekarang saya juga tidak paham. Yang pasti bukan teman kerja juga bukan teman main. Mungkin temannya teman. Ah, sudahlah. Yang pasti kehadiran mereka menyemarakkan perjalanan kali ini.

Pukul 22.10 bus kami bergerak menuju Garut. Saya ingat persis, formasi duduk kami. Saya duduk bersama Milani Yunitasari atau Nita. Di belakang kami ada Delly dan Yudhis, lanjut Tyas dan Hendra, Putri dan Jeremi, dan di seberang, di bangku tiga ada trio Anty, Ochi serta Becca.

Nita adalah patner sehati saya. Kami pertama bertemu pada Mei 2011 silam, saat trip ke Dieng. Kami sering ngebolang bersama. Mengenalnya makin menjerumuskan saya pada trip yang satu ke trip yang lain. Tak apalah, toh ini penjerumusan yang menyenangkan, tanpa paksaan. Nita orang yang kalem tapi dalem. Dialah mama bolang sejati. Pengalamannya berpetualang tak diragukan lagi. Nita juga orang yang sangat lihai mengatur keuangan. Mau travelling murah, percayakan saja keuangan padanya, dijamin, kamu akan mendapat harga terbaik.

Pernah satu waktu, dia tak bisa menyertai saya ke Semarang. Pesannya akan akan saya ingat sampai mati:
Ingatlah, lebih baik kamu lapar mata disbanding lapar perut

Ini merujuk pada sifat saya yang sering kalap jika melihat barang asli daerah tujuan. Prinsip saya, sebisa mungkin memiliki kenang-kenangan benda. Baru menjadi masalah saat saya kalap membeli ini-itu. Pergi bersama Nita membuat saya merasa aman dalam hal financial. Dia akan cerewet membatasi pengeluaran saya, tidak berhenti di situ, dia juga akan memberi pinjaman jika pengendalian diri saya kelewat buruk. Terima kasih ya Ta, untuk kebaikannya selama ini.

Kirim cium di udara, mmuah..

Hari #2, Sabtu, 22 Desember 2012
Kami sampai di Terminal Guntur Garut pukul 03.00 dinihari. Udara dingin mulai menunjukkan aksi. Kami kompak merapatkan jaket kecuali Yudhis, si Pakdhe. Yudhis adalah pemimpin dalam trip ini. Dia bertanggungjawab penuh nyaris untuk segala urusan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai urusan menu Yudhis lah yang mengatur. Kami tinggal terima enaknya saja, terima jadi. Yudhis pula yang ngotot, harus membeli bawang bombay. Cita-citanya adalah kami semua bisa menikmati spaghetti di puncak Papandayan. Kami lebih setuju, Yudhis ingin kami menggelar gala dinner di puncak sana. Ransum kami banyak bukan main, lebih dari cukup.

Terima kasih Pakdhe Yudhis, untuk kerealaannya memimpin kami, yang masih suka banyak protes, suka sedikit bandel tapi tetap diajak ngetrip. Sebagai ucapan terima kasih, kami persembahkan Budhe Tyas untukmu, hahahahaha..

Dari Terminal Guntur, perjalanan kami lanjutkan ke Cisurupan. Awalnya, pendegaran saya berhianat. Saya mendengarnya ‘kesurupan’. Jika benar, ngeri sekali nama daerah itu, untunglah, saya salah dengar.

Tak banyak yang bisa diceritakan. Jalanan masih gelap, pagi juga masih buta. Hanya dingin yang makin unjuk gigi. Kami sampai di Cisurupan pukul empat pagi. Cisurupan ini hanya perempatan jalan. Ada banyak mobil bak terbuka (bakter) yang parkir.

Kami menjadi rombongan pertama yang datang. Sempat mati gaya. Instruksi ini itu, istirahat berbagai posisi, juga berbelanja telur dilakukan di sini. Satu persatu rombongan lain mulai datang. Mereka tak membutuhkan waktu lama, hanya istirahat sejenak, melanjutkan perjalanan dengan bakter.

Kami baru mulai menuju pos terakhir sekitar pukul tujuh pagi. Saya dan Nita duduk disamping sopir. Tempat ternyaman. Sisanya, berkumpul macam ketan yang siap ditaburi kelapa di bakter bersama tumpukan ransel yang besarnya ampun-ampunan.

Sampai di pos, sekitar pukul delapan. Kami kembali beristirahat, sambil menunggu nasi selesai dimasak. Waktu mulai merayap ke pukul 10. Akhirnya kami benar-benar mulai mendaki. Sambil pasang senyum sumringah, kami mulai memasang tas di punggung.

Gunung Papandayan tergolong landai. Meski ketinggiannya mencapai 2.665 dpl, namun jalur pendakiannya relatif ringan. Baru sekitar 100 meter melangkah, gunung ini sudah mulai narsis pamer diri. Suguhan landscape nya luar biasa. Dibalik bukit kapur, terbentang banyangan puncak-puncak gunung berwarna biru muda. Seperti backdrop saja. Kami kompak melongo, terkagum-kagum dengan mahakarya Tuhan kali ini.
Sepanjang jalan, mata kami berwisata. Tidak hanya hijau rimbun pepohonan, namun juga putih gradasi bukit kapur sungguh menakjubkan.

Pendakian ini relatif santai. Sering berhenti untuk mengunyah ransum. Menu utama adalah agar-agar INACO, Choki-Choci, dan coklat Silverqueen yang jadi rebutan.

Kami tiba di Pondok Salada pukul 13.00. Di sini kami akan mendirikan tenda. Sudah ada banyak tenda berdiri. Pondok salada hari itu menjamu banyak tamu.

Kami membawa tiga tenda Lafuma kuning. Lokasi kami berkemah agak jauh dari peradaban, mengingat kami ini berisik bukan main, rasanya ini keputusan bijak.

Dari siang hingga malam, kami berkegiatan tak banyak macam. Masak, makan, masak lagi dan tentu saja makan lagi. Saat petang mulai merambat, suhu udara makin menggigil, ditambah hujan yang turun semakin memperparah suhu. Keberisikan kami mulai padam pukul 21.00. Kami mulai kalem di dalam tenda masing-masing. Entah apa yang terjadi di tenda lain, namun di tenda kami yang berisi saya, Tyas, Nita dan Putri masih cukup aktif. Putri menjadi orang yang terlelap lebih dulu, disusul Nita. Saya dan Tyas kemudian malah asik berbagi kegalauan.

Hari #3, Minggu, 23 Desember 2012
Sekitar pukul 05.00 Tyas mulai membangunkan saya. Kami ingin ke tegal Alun. Namun dengan alami, rencana itu bubar jalan. Kami malah heboh memasak spaghetti impian Yudhis. Pagi itu ceria sekali, kami malas berjamaah, sulit sekali mencari relawan pengambil air dan pencuci piring.

Masak-memasak dimulai, dengan api cukup kecil, serta banyaknya topping, akhirnya spaghetti impian matang sudah. Asli, selama saya mendaki, ini adalah makanan gunung termewah. Spaghetti dengan bumbu Bolognese daging cincang plus sosis goreng dan telor kornet. Beuh, sarapan pagi yang enak luar biasa jendral.

Eit, saya nyaris lupa. Ada seorang yang tak menikmati menu dahsyat pagi itu. Dia adalah Delly Andrian. Saya lebih senang menyebutnya si klimis. Sebutan ini tentu bukan tanpa alasan. Tampilannya selalu rapi, kinclong tak ternoda. Delly juga sosok paling misterius, tak tertebak. Pembawaannya kalem, tak banyak tingkah, tapi sekali berucap, nusuk sampe ke ulu hati. Delly tipikal pemilih, terbukti dari menu makannya yang tak seperti kami semua. Untungnya, meski ia mengaku tak menyukai spaghetti, dia sungguh tak merepotkan. Untuk menu sarapan paginya, Delly cukup puas dengan mie instant. Delly agak rewel saat mulai meminta tutu otat. Maksudnya susu coklat. Ah, biar sok cadel, keimutan sama sekali malas mendekatimu Delly Mince!!!

Akhirnya baru sekitar pukul 11 kami baru selesai berkemas. Mengingat jalur yang tak mudah menuju Tegal Alun, sebaiknya kami tidak membawa banyak barang. Dengan penuh besar hati, Delly dan Anty memutuskan tak ikut serta. Mereka berdua menjaga tas kami. Duh, kalian berdua baik sekali, kami berhutang budi..

Kami bersembilan menuju padang edelweiss Tegal Alun. Jalur yang dilewati tak bisa dibilang mudah. Setelah melewati hutan mati, jalanan menjadi licin ditambah pula dengan guyuran air hujan. Terpaksalah kami memakai jas hujan.

Namun tak ada perjuangan yang sia-sia. Kelelahan kami dibayar lunas oleh pesona padang edelweiss. Puas berfoto, kami memutuskan segera turun. Tak tega membiarkan duo Delly-Anty menjaga tas kami lebih lama lagi.

Sekitar pukul 14.00 tim telah kembali lengkap. Kami turun gunung. Bertekad secepatmungkin sampai pondokan, kami tak banyak beristirahat. Sempat ada sedikit insiden, saat rombongan ingin menjajal jalur yang berbeda. Setelah menyebrangi sungai cukup terjal, ternyata itu baru permulaan. Setelahnya, ada jalur nyaris vertical. Kengerian makin diperparah oleh teriakan rombongan lain. Mereka berteriak, menyuruh kami berputar arah, karena jalur di depan kami adalah jurang. Dilema mulai terjadi, untuk berputar membutuhkan energi yang tidak sedikit, namun jalur yang akan kami lalui juga tak memberi harapan pasti.
Di sini, Jeremi mulai unjuk gigi. Jeremi Lee yang sehari-hari bekerja sebagai guru sejarah ini memang memiliki sifat melindungi. Di jalur terjal, Jeremi mendampingi setiap orang yang turun. Mulai dari menahan, memberi instruksi batu pijakan, sampai menjadi pengaman dari runtuhan batu. Kang Jeremi teh heroik pisan lah.

Bercerita soal Jeremi, kamu bisa menanyakan apa saja padanya, dan dia akan selalu memiliki jawaban. Otaknya seperti gudang ilmu. Ensiklopedia. Setiap orang yang dekat dengannya, juga akan sangat mudah merasakan ketulusan hatinya. Pokoknya kalo cari pacar, carilah yang mirip Jeremi. Hahaha..

Tapi, diantara keceriaannya yang mendalam, saya menduga kuat, Jeremi adalah seorang introvert terselubung. Entah peristiwa apa yang dialaminya, sepertinya ada kenangan buruk yang cukup membuatnya belajar dan menjadi kuat dalam menjalani hidup. Maaf ya Jer, kalau sok tahu saya kambuh, piss ah..

Setelahnya, jalur yang harus kami lalui cukup aman. Lawan terberat kami adalah rasa lelah. Ajaibnya, saya masih bisa melihat wajah sumringah penuh semangat. Inilah wajah Putri Sari Suci. Dialah adik bagi kami semua. Si penebar kebahagiaan. Seseorang yang quote nya saya ambil tanpa izin untuk di pasang dia wal tulisan ini.

Putri seorang yang ceria. Semua sepertinya terasa enteng dimatanya. Dalam hal ketulusan, Putri sejajar dengan Jeremi. Karena dia sempat mengenyam pendidikan di Newcastle, England, Putri sering menjadi bahan olok-olok bagi kami.

Putri adalah anggota rombongan yang seharusnya paling berat hati untuk pergi. Karena sampai menjelang keberangkatan, ibunya tak juga kunjung memberi restu. Entah karena nekad atau bujukan kami terlalu manjur, Putri nekad berangkat meski tidak berbekal restu.

Delly sempat berucap, kesalahan terbesar Putri adalah bertemu kami, para jemaah bolang. Namun saya lebih meyakini sebaliknya.

Putri selalu ceria. Disuruh apa saja dia mau. Saat kami mati gaya dan nyaris mati bosan, maka Putri akan bernyanyi menghibur kami semua. Lagaknya bak komposer kelas dunia. Pilihan lagunya pun, beragam bukan main. Terima kasih ya Putri, untuk hiburannya, serta semangatnya selama perjalanan, energimu menular ke kami semua.

Sekitar pukul 17.00 akhirnya kami tiba di pos. menandakan perjalanan Papandayan akan segera berakhir. Langkah makin gontai, lelah mulai merambati kaki. Namun, saat perjalanan nyaris finish, Hendra justru tersandung. Jalannya menjadi pincang, saya duga kakinya terkilir. Sedih sekali melihat laki-laki tak banyak cakap ini harus jalan tertatih.

Hendra adalah sosok mulut terkunci, jarang bicara, pelit senyum, lengkap sudah dengan muka yang cukup banyak cemberut pula. Tapi kesemua sifatnya, merujuk pada satu karakter, cool. Saya dan Tyas setuju menyebutnya tengil. Hendra seperti leader bayangan. Ia menyuplai beberapa kebutuhan trio Anty-Ochi-Becca.

Bahkan, saat kepulangan pun, Hendra pulang lebih dulu bersama trio ini.

Berhubung waktu liburan masih jauh dari usai, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Rancabuaya. Namun empat orang dari kami tak ikut serta.

Ah, senang sekali mengenang perjalanan kali ini. Ingin rasanya, membekukan setiap kenangan yang ada, meletakkannya di lipatan otak, agar tak usang dimakan waktu. Terima kasih ya untuk kebersamaan dan aroma persahabatan yang akrab. Kalian semua blengcek!!! 

Minggu, 21 Oktober 2012

Happy Birthday Bungsu..



Sudah sejak lama mengendapkan pikiran, ingin menuliskan sesuatu tentangmu, seseorang yang biasa kupanggil Si Bungsu. Anggap saja ini kado ulangtahun untukmu.

Aku mengenalmu, sekitar Maret lebih dari tiga tahun silam. Berperawakan kurus dan rambut lurus. Sejalan dengan karaktermu yang simple, tak banyak motif.

Kamu, gadis manja yang sedang belajar menjadi dewasa. Belajar berani menaklukkan setiap rintangan dalam hidup. Dimulai dengan memberanikan diri naik angkutan umum menuju rumah orangtua mu di Bekasi. Jujur, aku masih senyum-senyum sendiri jika ingat kamu dengan begitu bangganya mengabarkan, sudah berani ke Bekasi seorang diri naik angkot.

Kini kita tidak lagi tinggal di satu atap. Aku telah beberapa kali mengganti alamat tinggal, sedang kamu tetap konsisten di rumah itu. Rumah kos-kosan yang pemiliknya lumayan manis. Dari statusnya masih single hingga kini sudah menikah.

Hobimu yang berkembang pesat adalah membaca novel. Kukatakan berkembang pesat, karena terakhir kutinggalkan, koleksi novelmu tak sebanyak sekarang. Kini, setiap aku singgah, koleksi novelmu semakin menumpuk tinggi.

Kini, kamu telah berhasil menamatkan kuliah. Sudah sarjana nih ye..

Bungsu, kamu telah semakin dewasa. Selamat menikmati dunia yang sebenar-benarnya. Dunia di mana terkadang teman terbaik justru menjadi musuh paling menyakitkan. Tapi yakinilah, apa yang kamu kerjakan dengan hati, akan diterima juga dengan hati.

Menurutku, untuk mengarungi dunia, kamu hanya memerlukan satu doa bernama tulus. Tulus berarti sebuah kejujuran. Apa adanya, tak berpura-pura.

Cintailah apa yang kamu miliki saat ini, tak usah melihat apa yang orang lain miliki dan kamu tidak.
Selamat mencari kerja, memilih profesi. Lakukan apa yang benar-benar bisa membuatmu bahagia. Uang bukan segalanya, meski tak bisa dipungkiri uang menjadi sumber ketenangan. Ketenangan, bukan kebahagiaan.

Terima kasihku, untukmu, yang sempat menjadi tongkat penyangga dengan kepercayaanmu untukku saat yang lain menghakimi. Hingga kini, masa itu menjadi sesuatu yang kelam, bahkan aku belum sanggup untuk menuliskannya. Aku takut dan tak mau dianggap hanya membela diri.