Senin, 27 Desember 2010

menjelang perbatasan


batas akhir semakin mendekat
belum kutemukan berkas-berkas yang harus dipertanggungjawabkan
evaluasi dan berbenah diri
semoga..
hasilnya bukan nihil pencapaian

tanpa malu
aku masih akan kembali menorehkan
poin-poin resolusi
dan kembali mengulang evaluasi
pada desember mendatang
itu juga
jika aku masih memiliki jatah usia..

Minggu, 26 Desember 2010

kekalahan pahit


Semalam menyaksikan laga Malaysia VS Indonesia leg pertama. Indonesia kalah dengan rasa menyakitkan, 3-0. Ironisnya, goal pertama lambang kekalahan tercipta kurang dari 10 menit setelah Markus dkk melakukan walkout karena laser yang berasal dari supporter dirasa mengganggu.

Permainan kembali dilanjutkan, namun konsentrasi tak pernah sama lagi.

Saya bukanlah penikmat bola tulen, menyaksikan pertandingan pun hanya terseret euforia semata. Tahu ragam istilah offside, blunder, dan playmaker pun berkat penjelasan teman yang masih mau-maunya saya ganggu dengan pertanyaan gaya penonton amatir di tengah-tengah pertandingan.

Namun yang patut dicermati, bagaimana bola bundar ini mampu mengaduk emosi.

Nyaris setiap rumah dari pusat kota hingga pelosok desa di Indonesia, semalam menyaksikan laga panas tersebut. Di rumah ceria, tempat saya tinggal selama kurang lebih setahun terakhir ini, juga bukan main panasnya.

Si pecinta bola sejati sesumbar, “Aku mau Indonesia kalah, biar orang-orang yang lebay itu tahu rasa!”

Ya, dia merasa antrian yang begitu padat di Gelora Bung Karno merupakan wujud berlebihan dari semangat pendukung. Belum lagi ulasan media yang terlalu pede jaya, membuatnya muak bukan kepalang. Uhm, soal pemberitaan media yang berlebihan, saya juga setuju.

Teringat tayangan di Trans 7 yang saya lupa nama programnya, pada jum’at lalu, tanpa segan menggunakan judul ‘Dikandangmu Kugayang Kau’. Hadoooooh, saya yang menyaksikan sampai malu, terlebih malah kita yang diganyang sampai kenyang begini. Yukcs..

Sebelum pukul 21.00 semalam, media di tanah air melupakan sesaat prinsip tak boleh memihak. Semangat nasionalisme mengalahkan kode etik yang seharusnya di junjung tinggi.

Kembali ke teman saya. Saya percaya sumpah serapahnya tak datang sepenuhnya datang dari hati. Dia hanya kesal melihat reaksi berlebihan media, supporter sampai PSSI yang semena-mena melambungkan harga tiket.

Ada yang unik menanggapi kekalahan laga ini. Dilakukan oleh Jak FM di frekuensi 101.0 FM.

Sebelumnya Ronald, penyiar dalam program ROTI yang mengudara setiap senin-jumat pukul 06.00-10.00 menjanjikan akan mengganti playlist yang seharusnya memutar lagu Indonesia menjadi lagu produk Negeri Jiran jika sampai Indonesia kalah. Janji harus ditepati jendral, bagaimanapun pahitnya.

Alhasil, buat pendengar Jak FM pagi ini, syair mendayu-dayu dengan bahasa yang terdengar lucu akan akrab menyambangi daun telinga. Saya sendiri kebagian lagu Slam, Siti Nurhaliza, Too Phat, Exist, sampai Search. Hmmppf..

Ronald-Tike sebagai penyiar pun terdengar tak ikhlas melaksanakan janji. Dengan gayanya yang kocak, mereka tetap menghina-hina Malaysia. Seperti kita tahu, bahasa Malaysia terkadang terdengar lucu. Seronok, berpusing-pusing, bubar jalan, comel, dan masih banyak yang lainnya.

Lalu, apa yang saya lakukan? Saya mengirimkan pesan singkat pada adik dan dua kakak sepupu. Isi sms saya sama, ‘hua..kumaha ieu,bagaimanalah kita taro muka depan pakcik?’

Kekalahan memang pahit. Terlebih kita harus kalah dengan Malaysia, si negara tukang klaim itu. Tak apa, doakan saja Alfred Riedl mampu membangkitkan semangat tim merah putih. Semoga, angka 29 menjadi angka sakti bagi tim garuda. Semangka!!!

Senin, 20 Desember 2010

TKI di Final AFF


Mungkin terlambat jika saya baru merasakan euforia sepak bola dalam laga leg kedua antara Indonesia melawan Filipina pada petang, 19 Desember lalu. Entah mengapa, petang itu saya sama sekali tidak tertarik untuk turut serta dalam ambience nasionalisme.

Teman serumah saya, Melva Sirait bahkan hadir langsung di stadion Gelora Bung Karno. Sekitar pukul 16.00 pun saya menjumpai rombongan bersepeda motor dan kaos merah dengan logo garuda tersemat manis di dada. Senang melihat sorot-sorot mata tajam dan senyum merekah penuh kebanggan itu. Saya senang, akhirnya nasionalisme muncul dengan kekuatan penuh berkat sepak bola.

Saat pertandingan dimulai, saya masih berada di jalan, menuju Meruya. Sampai di lokasi tujuan pun, saya tak berminat mencari televisi. Alih-alih memencet remote televisi, saya malah mencari ponsel esia dan menelpon seseorang. Saat sedang berbincang di telepon itulah, teman di seberang berteriak-teriak.

“Goal mbaaaak!!!”

Saya hanya tersenyum, tak juga tertarik untuk larut dalam semangat sepak bola. Takut telepon saya menganggu, saya bertanya apakah dia berniat menonton bola? Jika jawabannya iya, maka saya akan mengakhiri percakapan telepon itu segera. Percakapan akhirnya kami lanjutkan.
***
Hari ini, praktis telah lewat dua hari dari pertandingan itu. Saya tertarik melihat goal indah yang disebut-sebut dengan goal pisang. Istilah yang lucu, mungkin karena gerakan bola kreasi Christian Gonzales yang melengkung saat membobol gawang Filipina.

Saat ini, harapan segenap pemuja sepak bola tanah air tentu semakin memuncak. Terlebih, lawannya adalah Malaysia. Tetangga yang memiliki banyak sejarah perseteruan dalam berbagai aspek dengan Indonesia.

Malah kemarin, saya sudah mendapat undangan agar bergabung dalam gerakan ‘Ganyang Malaysia di Piala AFF’ pada jejaring sosial facebook. Ada-ada saja.

Semoga tak salah informasi, jadi final diadakan dalam dua leg. Pertama akan berlangsung di Bukit Jalil Malaysia pada 26 Desember dan leg kedua di Indonesia dan tentu saja di Gelora Bung Karno pada 29 Desember.

Agaknya tim Indonesia tak perlu khawatir dengan minimnya supporter. TKI di Malaysia bukan main banyaknya. Sejumlah departemen kabarnya malah ada yang mengkonsolidasikan agar para TKI ini memberikan dukungan penuh bagi tim garuda yang akan berlaga. Demi menjunjung semangat nasionalisme, bahkan dari situs www.liputan6.com mengabarkan ada sejumlah kelompok TKI asal Jawa yang akan menyewa bus untuk menyaksikan laga ini.

Senangnya mengetahui semangat nasionalisme kita sedang panas membara.

Laga final AFF kali ini tidak hanya sekedar kompetisi olahraga, namun sudah menjelma jadi pertarungan menyelamatkan harga diri bangsa. Indonesia-Malaysia seakan menjadi thesis dan antithesis yang bertentangan sepanjang hayat.

Ayo TKI, meski kalian sering tak terakui dan minim penghargaan, Indonesia saat ini benar-benar membutuhkan kehadiranmu di Bukit Jalil. Jika sebelumnya kalian adalah pahlawan devisa, sesaat lagi kalian memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan supporter, hahay!!!

Kalah ataupun menang nantinya, semoga semangat nasionalisme tetap menggelora. Tidak hanya muncul sesaat kemudian hilang entah kemana. Semangatlah TIM GARUDA!!
*melirik malas pada David L. Tobing

Jumat, 17 Desember 2010

Py, sahabatku..



Dalam sekali memandang, saya menilai dia sebagai gadis manja, kekanakan dan egois. Namun siapa nyana, semakin lama mengenal, ada begitu banyak pesona persahabatan yang ditawarkan. Ya, gadis yang kini telah menjadi sahabatku itu, Shelvy Juwita Wulansari namanya. Beberapa orang memanggilnya Slepong, Chippy, dan aku senagaja memanggilnya Sleepy, sebenarnya agak kurang berkorelasi sih, karena dia seorang penderita insomnia yang baru bisa terkantuk kantuk paling setelah jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari.

Sleepy, yang dalam pandangannku seperti barang berjalan. Bagaimana tidak, dia selalu tergila-gila dengan barang branded. Celana Esprit, kaor Rusty, jaket Samuel & Kevin, tas Billabong disempurnakan dengan alas kaki Converse. Py yang banyak memberikan pengetahuan padaku mengenai barang-barang bernilai status sosial tinggi itu. Tadinya ku pikir anak orang kaya pastilah sombong dan malas bergaul denganku yang sama sekali buta merk dan dunia fashion.

Ternyata pola pikirnya begitu mengagumkan. Py yang ku pikr hanya kritis saat membahas seseorang menggunakan kaos Polo asli atau bajakan ternyata juga memiliki pandangan terbuka terhadap banyak hal. Mulai dari issue kesetaraan gender sampai hidup berkeadilan dalam pandangan budaya dan agama.


Pesona persahabatan yang ditawarkan sungguh mencengangkan. Jujur, saya masih jauh dari bisa melakukan hal-hal yang dilakukan Py pada kami. Pernah satu kali dia membawakan kami bertiga kacamata hitam untuk bergaya di kota yang panas membara, Yogyakarta. Tadinya dia sudah memilih sebuah kacamata yang paling disukainya, sampai ternyata Dini, temanku yang lainnya, memerlukan pilihan special agar kacamata besar indah dipakai. Dengan sangat murah hatinya, Sleepy mengembalikan kacamata yang telah dipilihnya, untuk kemudian di pilih oleh Dini. Alasannya, Dini lebih memerlukan adanya banyak pilihan.

Belum selesai, saat sedang memilih-milih kalung untuk di pakai pun, lagi-lagi Sleepy mempersilahkan Dini untuk memilih, padahal kalung-kalung itu Sleepy. Dan yang membuat saya kembali tercekat, kalung yang dipilih Dini adalah kalung yang paling disukai Sleepy. Dengan tanpa rasa egois dia memilih kalung yang lain, alasannya, “Dini udah bagus pakai kalung itu, jadi jangan diganggu gugat lagi, gue cari kalung yang lain aja”.

Wow, hati saya langsung mencelos saking malunya. Sahabat saya ini tidak memiliki kata egois dalam hidupnya. Barang yang dimilikinya tidaklah harus selalu digunakannya, meskipun dirinya amat ingin memakainya. Terimakasih untuk keadaan yang mempertemukan kami dan kesempatan bagi saya untuk mengenalnya. Darinya saya belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri. Meski belum sepenuhnya, saya berjanji untuk berusaha. Hebatnya lagii, Sleepy sama sekali tidak menyadari akan kebaikan hati yang telah dia berikan pada orang-orang disekitarnya.

Sungguh, banyak pelajaran yang saya petik, berteman tidaklah harus sama, kita berbeda justru indah, kita bersitegang justru seru, kita bersaing justru kuat. Tidak lupa, bersahabat bukan untuk menyatukan pandangan, saya lebih setuju untuk mengisi kekosongan yang tidak akan kita bisa penuhi jika sendiri.

Rabu, 15 Desember 2010

rak ingatan


Sedang tidak memiliki pretense apa-apa. Tanpa sengaja mengingatmu saat menyaksikan tayangan di you tube. Keyword yang saya masukkan adalah Utada Hikaru First Love. Teringat perkataan teman tentang kedalaman makna yang tersirat dalam tiap bait lagunya. Sejujurnya, saya tidak tahu menahu mengenai gambaran video klip-nya.

Setelah memilih, ternyata yang saya pilih adalah kompilasi adegan dari serial korea Princess Hour dengan latar suara ya lagu First Love milik si Utada Hikaru itu.

Mungkin sangat match dengan suasana hati yang sendu. Kompilasi scene di film itu begitu indah. Sekedar catatan, saya bukanlah orang yang bisa dikategorikan sebagai penggemar serial korea, namun untuk Princess Hour, saya memiliki catatan tersendiri. Entah mengapa, saya suka sekali dengan jalan cerita yang dimiliki. Konflik yang ada begitu dinamis dan menggugah rasa ingin tahu. Tsaah..
Alhasil, serial ini menjadi satu-satunya hingga saat ini menjadi tayangan yang saya tonton hingga akhir episodenya.

Selama ini, setiap ada serial baru yang tayang (biasanya di Indosiar) saya ikut-ikutan heboh kena demam koreanisme. Namun euphoria ini biasanya tidak bertahan lama. Sampai di pertengahan kisah rasa penasaran sudah tidak terpatik dengan kencang.

Kembali ke awal, jadi dalam tayangan itu ada scene dimana si putra mahkota, Sin, memakaikan sepatu Chekiong yang terlepas. Deg.

Entahlah, adegan sederhana itu mematik kembali ingatan saya pada batu (silahkan senyum-senyum jika kamu membaca ini). Entah batu mengingat dengan baik atau tidak, namun dulu dia beberapa kali melakukan adegan serupa. Yup, memakaikan sepatu di kaki saya. Bukan sepatu balerina yang manis tentu saja, karena sepatu model itu tentu saya tidak memilikinya.

Saat kami akan pergi bersama, dia akan memakaikan sepatu converse merah motif batik di kaki saya. Mungkin sekilas seperti adegan menye-menye gombal cap kadal. Toh, saya tetap perempuan yang senang dikadali, ha..ha..ha..(tertawa miris)

Pernah juga satu kali, sandal yang saya kenakan putus, dan kami harus mencari sandal jepit. Beberapa warung disambangi, sampai di warung kelima baru menemukan sandal jepit dengan warna dan ukuran yang pas. Si batu tanpa sungkan mengganti sandal saya yang putus dengan sandal jepit baru itu. Setiap adegan penggantian sandal itu disaksikan oleh ibu-ibu penjaga warung. Saya sampai risih sendiri melihatnya.

Memori yang saya pikir tidak akan terlalu membekas dan lupa begitu saja ternyata masih bersemanyam dengan nyaman di lipatan ingatan ini. Sial.

Bukannya saya menyesali kisah yang terjalin lalu kandas ini. Bagaimanapun saya mensyukuri. Seperti yang dikatakan seorang teman, yang mengaku senang kisah saya berakhir. Dasar.

Pasti ada pembelajaran yang bisa saya petik. Setidaknya saya pernah merasa bahagia menjalaninya.

Adios. Hanya kata itu yang bisa saya sematkan di pintu keluar.

lagi-lagi krisis eksistensi


berhubung ini tentang eksistensialisme, maka saya dengan PD tingkat tinggi juga memasang foto sendiri..


Pernahkah kamu berada dalam situasi terpuruk tak tahu harus berbuat apa? Terpuruk disini dalam artian saat sedang berada di tengah ruang sidang, dan sialnya saya adalah mangsa dari para pemburu popularitas yang ingin terlihat pintar dengan mengajukan pertanyaan sok berbelit bin melintir serta harapan setinggi gunung, bahwa si mangsa terlalu bodoh untuk menjawab poin demi poin pertanyaan.

Percayalah, pintar tidak sama artinya dengan keinginan membantai saat lawan sudah tak berdaya. Saya pernah berada dalam situasi mangsa empuk nan mengharukan itu. Meski pernah juga menjadi singa yang haus akan popularitas.

Tapi kali ini, saya ingin bercerita tentang posisi menjadi mangsa empuk itu. Ya, kali pertama terjadi dulu di jaman kuliah. Masa dimana banyak orang berpendapat keintelektualan seseorang akan berkembang pesat. Saya memberanikan diri menjadi pemateris ebuah diskusi. Tahu persis yang akan saya hadapi adalah macan-macan kritis nomor wahid. Sedang bercanda bahasanya intelek bukan main, apalagi dalam ruang diskusi. Sudah kepalang basah, saya nekad meneruskan rencana.

Saya menitipkan nasib saya pada kawan baik yang tak kalah hebat. Harapan saya, dia akan membela jika saya terpojok tak mampu lagi berargumentasi. Ternyata, harapan adalahs esuatu yang tidak boleh dilakukan. Justru kawan baik inilah yang memulai bibit-bibit pembantaian. Baru pertanyaan pertama, keringat dingin mengucur deras. Peserta lain tanpa ampun meneruskan serangan.

Hari itu saya kalah telak. Logika mulai bermain, tak seharusnya saya sakit hati. Saya berusaha memanipulasi pikiran, mereka semua berusaha membuat saya makin pintar. Soal berhasil atau tidak usaha memaniulasi pikiran ini, saya tak ingat persis. Yang pasti, momen itu membuat saya harus berpikir ulang tiap akan mengajukan pertanyaan. Saya akan bertanya jika benar-benar ingin tahu, bukan hanya sekedar menguji dan keinginan pamer kefasihan bersilat lidah.

Belum lama ini, saya kembali terjerumus. Modal nekad dan miskin referensi sukses mengantarkan saya pada kenistaan terdakwa tidak tahu apa-apa. Sialnya, kembali saya bertemu dengan orang yang di duga kuat mengalami krisis eksistensi. Saya sedan dalam kondisi terpojok oleh pertanyaan membabi buta untuk menguji pemahaman. Dalam tahap ini saya masih mengaku salah.

Tiba-tiba, jreeeeng!! Seseorang menunjuk tangan dan mengajukan pertanyaan yang notabene merupakan pengulangan pertanyaan sebelumnya dimana saya tak bisa menjawab. DAMN!! Orang yang dari awal hanya diam saja ini mengambil kesempatan emas untuk menunjukkan eksistensi. Saat ini, saya membecinya. Tak suka. Biar dia ganteng luar biasa, tak peduli, saya tak suka!!!!!

Tulisan ini bukan untuk siapa-siapa. Di dedikasikan untuk saya seorang. Sambil mengenang masa jahiliyah di masa lalu, saat nafsu ingin terlihat pintar begitu menggelora. Maafkan saya untuk orang-orang yang saya sakiti dimasa lalu. Sedangkan orang yang pernah membuat saya mati kutu, sungguh saya sedang berusaha keras menghilangkan rasa kesal ini.

Selasa, 05 Oktober 2010

i'm crying

Kamu terbaring sakit disana, dan aku disini setengah mati menahan rasa khawatir. Tolong lekaslah sembuh. Mungkin aku terlalu egois, ingan kamu lekas sembuh hanya biar rasa kekhawatiranku hilang. Tahukah kamu, dalam situasi ini, aku ingin berdiri kaku disampingmu. Sigap membantu apapun yang kau butuhkan.

Namun, karena situasi rumit nan keparat ini, menahan keinginanku sepanjang hari untuk menjelma disampingmu. Tahukah kamu, aku ingin menjadi orang yang paling kamu butuhkan, setelah kedua orang tuamu.

Aku ingin ada disampingmu, dalam situasi tak menyenangkanmu. Tapi tiba-tiba kesadaran menghempaskanku, keinginan itu nyaris mustahil terealisasi. Jika itu terjadi, mungkin kita berdua akan hancur. Ketaknyamanan akan mendera, sedikit bagiku, namun sangat besar untukmu.

Aku yang terlalu cengeng, akhirnya hanya bisa menangis. Tersedu, mumpung sedang dalam kesendirian meratapi semua. Sampai tiba-tiba kamu menelpon. Tak jelas juga maksudnya, dan seketika aku mati-matian menahan tangis. Tak mau kamu menjadi khawatir, sedang badanmu pun sedang lemas bukan kepalang.

Mungkinkah kamu merasakan sesak luar biasa, seperti yang aku alami saat ini?
Aku ingin menjadi bagian dari setiap masamu. Saat tertawa maupun saat duka. Aku masih bisa tahan tidak berada diantara derai tawamu. Namun, percayakah kamu? Sungguh sulit berdiam diri saat tahu kamu sedang tak berdaya disana?

Satu-satunya hal yang menahanku untuk tetap bertahan disini adalah bayangan buruk yang akan terjadi jika aku lebih mementingkan ego. Baru kupercaya kini, sungguh sulit melawan diri sendiri. Pun seperti kamu tahu, aku selalu mengikuti apapun yang ingin kulakukan, tapi tidak kali ini. Semua hanya bermuara pada kehancuran jika aku mementingkan ego untuk berada disampingmu.

Jadi, lekaslah sembuh. Segeralah membatu.

Minggu, 26 September 2010

lebih?

tak bisa berkata-kata lagi
cuma mau bilang
SAYA SAYANG KAMU!

bisa jadi lebih dari yang kamu tahu
terimakasih..

Selasa, 21 September 2010

Maaf, Saya Ingkar Janji


Katri Prameswari, sahabat saya dikantor mengajak saya untuk jalan besok, mengingat sudah cukup lama kami tidak bertemu. Sayang, saya tidak bisa menerima ajakan tersebut karena saya harus pulang ke rumah Bekasi malam nanti. Kemudian saya menawarkan untuk bertemu hari senin saja, dan berharap Mila Hidayatullah, teman saya yang lain juga bisa bergabung.

Sekitar jam 7 malam, saya bersiap menempuh perjalanan dari Kedoya ke Bekasi. Saya berencana berada di rumah mulai jumat malam hingga senin pagi.

Semua berjalan lancar, saat tiba di terminal Kampung Melayu, ada pesan masuk ke ponsel saya dari Deppy Marlinda, teman kampus saya. Isi pesannya mengajak saya nonton bareng film Sang Pencerah. Lagi-lagi saya menolak ajakan dengan alasan akan pulang ke rumah orang tua. Deppy masih menawarkan untuk berjumpa di hari minggu, saya balas akan berada di rumah setidaknya hingga senin pagi. Pertanyaan kembali diajukan Deppy, mengenai kesanggupan saya untuk nonton bareng. Takut tak bisa memenuhi janji, mengingat hari senin saya telah memiliki janji dengan Katri dan Mila, saya sampaikan terus terang mengenai ketidakberanian saya untuk membuat janji dengan Deppy.

Sekedar informasi, citra saya sebagai seseorang yang memenuhi janji cukup buruk. Tak jarang saya membatalkan janji dengan tiba-tiba. Tak mau memperburuk citra tersebut, kini saya cenderung hati-hati jika akan membuat janji bersama teman.

Untuk kasus Deppy, akhirnya disepakati, kami tidak jadi bertemu dalam waktu dekat.

Jam 9 lewat saya sampai di rumah. Kebetulan tadi di jalan saya mampir untuk membeli martabak telor. Di rumah saya, ibu, ayah dan adik menikmati martabak telor yang masih panas sambil berbincang. Malam semakin merayap, akhirnya kami mulai memisahkan diri. Saya dan adik akhirnya nonton tivi di lantai dua.

Merasa besok akan memiliki waktu cukup longgar, saya memutuskan untuk menelpon teman SMA yang jarak rumahnya tak terlalu jauh dengan rumah saya, Sri Maryati dan biasa disapa dengan Iyan. Setelah Idul Fitri ini kami belum bertemu, hitung-hitung sekalian silaturahmi. Ternyata Iyan besok masuk kerja seharian, akhirnya kami sepakat untuk bertemu hari minggu saja sekitar jam 2 siang, setelah Iyan pulang kerja.

Merasa bosa dengan program televisi yang ada, saya melihat-lihat koleksi buku. Aha..saya menemukan buku tentang Ahmad Wahib yang di cari Rosmiyati Dewi Kandi beberapa waktu lalu. Katanya sebagai bahan referensi karena Kandi berencana menulis sebuah buku. Dengan bersemangat saya mengirimkan pesan, jika mau dia boleh meminjam buku tentang Ahmad Wahib ini. Meski tidak sama persis dengan buku yang dicari sebelumnya, namun lumayanlah masih ada hubungannya dengan si Ahmad Wahib, pikir saya.

Benar dugaan saya, Kandi tak kalah antusias menyambut tawaran peminjaman buku ini. Kami akhirnya malah berbalas sms seru, sampai akhirnya Kandi mengajak saya untuk hiking. Sebagai penggemar jalan-jalan, saya tanggapi ajakan Kandi. Saya katakana padanya, status saya adalah siap menunggu invitation darinya. Tak dinyana, ternyata dia malah menyebut besok.

Bimbang. Tawaran menggiurkan, namun mengapa harus mendadak? Saya menyesalkan ajakan mendadak tersebut.

Namun ternyata jiwa spontanitas lebih mendominasi. Saya terima tantangan hiking besok bersama orang-orang yang tidak saya kenal, kecuali Kandi. Sekedar pemberitahuan, saat ini adalah jam 11 lewat.

Akhirnya terpikir strategi esok hari, agar saya bisa meminimalisir jam keterlambatan yang besar kemungkinan akan terjadi. Mengingat rute yang harus saya tempuh adalah Bekasi-Kedoya-Cawang. Saya harus tiba setidaknya jam 08.30 di Cawang. Cadas.

*****

Saya harus kembali dulu ke Kedoya untuk mengambil baju dan ‘alat perang’ semacam handuk bepergian, celana non jeans, serta printilan lainnya.

Syukur Alhamdulillah, saya bisa tiba di Cawang, lokasi pertemuan saya dan Kandi jam 8. Lebih cepat dari perkiraan. Sebelum sampai di Cawang, saya sempat mengupdate status facebook,

Tiba-tiba hiking, cihuy!!

Sepertinya Katri membaca status tersebut, karena ada sms masuk yang isinya keinginannya untuk ikut dalam hiking ini. Mengingat saya sudah dalam perjalanan, jadi cukup sulit untuk mengikutsertakan Katri. Ada sedikit protes darinya, mengingat sebelumnya saya menolak ajakannya dengan alasan akan pulang ke Bekasi. Saya minta maaf, dan mengatakan ajakan hiking ini juga datangnya tiba-tiba tanpa perencanaan. Sejujurnya semalam saya sempat terpikir untuk untuk mengajak Katri, namun saya ingat sempat membaca status di twitter, sepertinya Katri dan Ihsan akan rafting. Ya sudah.

Akhirnya saya hiking bersama Kandi dan 13 orang lainnya. Bisa dikatakan saya nyaris tidak mengenal ke-13 orang yang semuanya laki-laki ini. Beberapa orang mememang alumni IISIP, tapi jangan Tanya yang mana saja orangnya. Saya tak tahu persis.

Petualangan kali ini sungguh seru dan melelahkan, apalagi bagi saya sangat amatir. Tak heran jika saya adalah orang yang paling menghambat dengan keluhan capek dan lambatnya berjalan. Untung mereka semua baik serta toleran terhadap si amatir bernama Endang Prihatin ini.
****
Hari minggu saya baru mendapatkan signal ponsel. Mati-matian saya berusaha menelpon Iyan, mengingat saya memiliki janji untuk bertemu dengannya. Saya harus kembali menjadi orang yang ingkar janji, dan kali ini Iyan korbannya. Sekitar jam 11 siang saya baru berhasil menghubungi Iyan dan mengabarkan posisi saya yang tidak memungkinkan untuk menemuinya jam 2 siang nanti. Meski kaget karena tiba-tiba saya ada di Bogor, Iyan memahami. Thanks God, saya selamat dari amukan.

Perjalanan pulang kembali dilanjutkan. Saya langsung menuju Kedoya.

Sampai di Citraland, saya kembali membuka facebook dengan ponsel. Ada Deppy yang mengomentari status. Isinya kekecewaannya terhadap saya. Diajak meononton saya menolak dengan dalih akan ke Bekasi, tapi diajak hiking langsung mau. Alamak, saya khilaf lagi. Kali ini ada seorang lagi yang saya kecewakan. Maaf ya, sungguh ini diluar perencanaan. Jiwa spontanitas terkadang muncul tanpa di duga.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk di dedikasikan pada Katri Prameswari yang telah saya tolak ajakannya. Juga untuk Sri Maryati karena saya telah membatalkan janji bahkan hanya 3 jam sebelum waktu yang disepakati. Terpenting untuk Deppy Marlinda yang telah saya kecewakan sangat karena menolak ajakannya untuk menonton film Sang Pencerah yang durasinya pun tak sampai dua jam namun malah menerima tawaran hiking dua hari satu malam.

Saya juga mengucapkan terimakasih pada Rosmiyati Dewi Kandi yang telah nekad mengajak saya untuk hiking. Semoga dia tidak menyesal telah menyertakan saya dalam perjalanan ini. Juga terimakasih tak hingga pada ke-13 kawan baru yang begitu baik memahami dan mengerti saya. Adios!!!

Kamis, 16 September 2010

tipe manusia


Seorang teman pernah bercerita. Dirinya baru saja mendengar semacam wejangan dari radio. Saya tidak ingat nama radio maupun si narasumber. Katanya, manusia itu memeiliki kecenderungan untuk digolongkan dalam dua tipe.

Tipe pertama adalah manusia yang memiliki energi positif. Tidak. jangan buru-buru anda mengaitkan maksud saya dengan yin yang. Ini tak ada hubungannya dengan lambing keseimbangan milik kaum tionghoa itu. Maksud dari manusia tipe satu ini, adalah untuk mengkategorisasi mereka yang selalu menebarkan kesenangan. Jadi, berdekatan dengan manusia jenis ini niscaya membuat kita selalu senang, bahkan mampu memotivasi.

Bisa jadi, hidup orang tipe satu ini selalu bahagia. Bahagia tak selalu sejalan dengan ketiadaan masalah bukan? Namanya juga hidup, pasti ada saja masalah yang menghampiri. Hanya saja, tergantung bagaimana kita menempatkannya dalam perspektif.
Sedangkan manusia tipe dua adalah sebaliknya. Bersama dengan manusia tipe dua menguras akan energi. Ada saja yang dilakukan untuk mengambil kebahagiaan dari orang-orang yang berada di dekatnya.

Orang tipe ini adalah tipikal yang selalu memandang skeptis terhadap hidup. Selalu memandang dirinya adalah yang tersial dan melihat orang lain selalu lebih baik. Sungguh kasihan orang tipe ini, karena sepanjang waktunya tentu hanya akan dihabiskan untuk merutuk dan menyesali hidup. Jika hidup hanya di isi dengan penyesalan, mengapa masih mau hidup?!

Saya pernah bersinggungan dengan dua tipe manusia ini. Saat menulis ini, terbesit tanya dalam hati,

Lalu, saya tergolong yang mana?

Tentu besar harapan, saya termasuk dalam tipe pertama. Jika itu terlalu muluk, semoga saya bukanlah manusia si tipe dua. Karena manusia tipe dua menyerupai dementor, sang makhluk rekaan JK Rowling dalam seri Harry Potter yang sangat lihai mengambil kebahagiaan. Bersama dengan manusia tipe dua tentu akan selalu dan selalu membuat kita dongkol setengah mati. Mendengar namanya saja bisa membuat kita membentuk senyum setengah lambang kesinisan.

Oh, semoga saya bukan makhluk menyebalkan macam itu

Jadi, janji saya dalam hati. Instropeksi agar tak mengambil energi positif dari orang-orang di sekitar, terlebih orang-orang yang saya sayangi itu.

Minggu, 12 September 2010

sepotong luka

meski telah bersiap
ternyata,
aku tidak akan pernah benar-benar siap
untuk merasakan sakit
sampai rasa nyeri itu benar-benar terasa

terimakasih untukmu yang telah memberi luka sebegini dalam dan menghujam..

tidak kali ini..


Tak apa aku menjadi prioritas kesekian. Sikap acuhmu pun masih bisa aku tolerir. Bahkan, bersama kita telah mencurangi seseorang. Semua terjadi karena aku melakukan dengan sadar. Beberapakali aku terluka, namun cinta berhasil membebat luka itu.

Namun kini. Aku sakit. Sakit sungguhan. Semua karena kebohongan.

Jujur, beberapakali aku mencium aroma dusta. Semua kuanggap lalu, karena tak yakin dan takut aku salah menerka. Beberapakali aku terhenyak dengan celoteh asal yang tak sinkron, namun cinta kembali memutihkan praduga.

Tidak kali ini.

Kebohongan ini begitu jelas terpampang. Bahkan, asal kau tahu, tak sengaja aku menjadi pemain utama dalam pembongkaran dusta.

Sudahlah, akui saja. Biar kita sama-sama tenang. Kita sama-sama sudah dewasa bukan? Toh kita bukan lagi anak kecil yang mati-matian mempertahankan ego hanya demi kebohonagn semata. Kamu tak lagi punya ruang untuk mengelak. Semua telah terpampang jelas. Kuberi kau kesempatan untuk membuktikan, namun ternyata kau benar-benar tak bisa bukan?

Jika memang ingin menyudahi perjalanan ini, katakan saja. Jangan menjadi pecundang.

Aku tahu, kau tak lagi merasa nyaman. Namun, kali ini bukan wewenangku untuk memulai. Harus kau dan memang sebaiknya kau. Tak ada lagi siapa-siapa. Jangan berharap aku akan mencipta kesalahan fatal yang akhirnya mencipta sebuah alasan. Aku terlalu memujamu. Tak ada lagi ruang tersisa, semua telah terisi penuh denganmu. Jadi, jangan pernah berpikir aku akan menjadi penghianat.

Jika kamu mau menjadi penghianat, silahkan, jangan ajak aku. Aku bukanlah pemain mahir, hanya pemain amatir yang mencoba memerankan tokoh sebaik dan semeyakinkan mungkin.

Baiklah, sesekali memang aku ingkar. Namun keingkaranku lebih karena aku bosan dengan keteraturan. Keingkaranku, semata menyerupai istirahat sejenak setelah aku berlari. Wajar saja kan?!!

Kini, kuikuti saja maumu. Jika memang mau melanjutkan, kuingin kamu, ya kamu untuk berusaha lebih keras menunjukkan kesungguhan. Dari aku tak ada lagi yang perlu dibuktikan. Jika memang cukup disini, ya sudahlah. Tak lagi kumiliki energi untuk terus berlari mengejar mimpi yang ternyata masih saja buram setelah melewati satu rotasi matahari.

Semoga, semua menjadikan kita pribadi yang semakin bijak. Semoga, kita mendapat yang terbaik, dan ada senyum menjerang meski berdampingan dengan urai airmata.

Senin, 19 Juli 2010

elegi sunyi bulan juli


Mengingatmu dalam satu putaran hidupku di masa lalu. Kita tdak pernah menjalin hubungan spesial lebih dari sahabat. Ya, kita hanya berteman, meski banyak dari teman-temanku yang menganggap kamu itu pacarku. Aku tak peduli, kurasa kamu pun demikian.

Sesekali aku bercerita mengenai pangeran super kul yang kupuja. Tak jarang kamu pun berceloteh tentang perempuan manis yang katanya kau sayang. Kita terus menjalin emosi platonik. Sering berdiskusi, bertukar buku, bertukar ilmu. Semuanya lebih mengarah pada aura intelektualitas.

Harus kuakui, pernah sekali waktu aku pun merenungkan hubungan kita. Bertapa untuk mengintrogasi diri sendiri mengenai rasa yang kumiliki padamu. Ternyata tidak. Aku menyayangimu sebagai teman, tak lebih.

Sesekali kita pergi nonton. Lain kesempatan kita makan di warang pinggir jalan sambil bersenda gurau tak tentu arah. Terkadang berbicara tentang masa depan yang masih terasa buram. Kita begitu terlena dengan euforia mimpi. Merasa bisa menaklukkan dunia dengan bermodal asa yang menguat. Karena waktu, akhirnya kita berpisah dalam jarak.

Sesekali janjian bertemu. Berbincang tentang masa lalu dan rencana mengukir cita. Pertemuan yang sangat kasual, tanpa cinta eros yang merebak. Kami saling meyayangi sebagai teman tak lebih. Sampai satu waktu kamu membuat pengakuan mengenai sepotong rasa. Tentang sebaris mimpi yang katanya sempat ingin di jalinnya bersamaku. Mimpi yang urung diwujudkan karena kamu lebih memilih warna persahabatan yang menjanjikan durasi yang lebih panjang.

Aku termanggu. Tak menyangka selama ini telah melukainya tanpa sadar. Dan kami kemudian saling tersenyum. Mencoba berdamai dengan apapun yang memang sudah seharusnya terjadi. Setelah pertemuan terakhir itu, kamu menghilang lagi. Aku mulai terbiasa dengan kemunculan tiba-tiba setelah hilang cukup lama.
Toh nanti kau juga datang lagi..
Begitu pikirku.

Sampai tanpa sengaja kumembuka account jejaring sosialmu. Terdorong rasa rindu, kulihat foto-fotomu.
Deg!
Kamu telah menikah. Entah dengan siapa yang ku tak tahu.
Sahabatku, ternyata ada nyeri yang menusuk ulu hati. Aku tak tahu apa namanya ini. Semoga nyeri ini karena aku merasa tak kau hargai. Semoga nyeri ini manifesto rasa sedih karena aku tak kau kabari.
Aku takut, nyeri ini nyata terasa karena tanpa sadar selama ini aku justru memiliki rasa cinta mendalam. Aku takut. Kesadaran ini menghenyak saat semua telah terlambat.

Senin, 05 Juli 2010

hari bersahaja

hari ini saya ingin menamainya 'hari bersahaja'
pagi diawali dengan semangat gegap gempita menyambut bunyi alarm dengan melodi etnik milik Kua Etnika dan lagu 'Untukmu Indonesiaku' yang begitu sempurna dibawakan Christoper Abimanyu. Ya, tiap pagi saya selalu dibangunkan dengan lagu beraroma nasionalisme ini.

biasanya saya akan membiarkan lagu bergema barang dua sampai tiga kali, tidak kali ini. kesadaran ada tulisan yang harus dikerjakan sebelum live jam 8, membuatsaya tak bisa berleha-leha dan menunda mandi barang 9 atau 18 menit. mengapa selalu kelipatan 9? karena alarm di ponsel tercinta memang sudah tersetting demikian.

biasanya, saya berada di urutan akhir jatah mandi pagi hari. namun kali ini saya minta ijin pada Ebeth, teman sekosan, untuk mandi lebih dulu. ijin diperoleh, cibang-cibung dimulai.

selesai berbenah, langkah gontai menuju kantor.

seperti rencana semula, sampai di meja langsung menulis script voice over (VO). konsentrasi penuh, tak menghiraukan gangguan.

jam 8 kurang limabelasmenit, menuju ruang make up untuk briefing sebelum live.

Tralala, dapat kado ulangtahun yang cukup manis dari Melanie. sekilas, terlihat seperti tas serius. tas serius adalah istilah saya untuk tas-tas yang cocok digunakan dalam suasana formal.

suting live berlangsung lancar dan seru. topik bahasan yang ringan ternyata cukup memancing banyak penelpon untuk berinteraksi langsung. hari ini Healthy Life membahas "Perlukah si Kecil Sekolah di Usia Dini?"
ringan bukan? tapi pertanyaan ini bisa mencipta jawaban dari berbagai aspek.

selesai live, saya membuka kado. isinya ternyata beragam. ada satu set gelang berjumlah 5 item, cincin, dan ya, tas serius. saya suka semuanya. gelang dan cincin langsung dipakai.

Ehm..ternyata hari ini saya silap tak memakai gelang dan jam tangan seperti biasa.
Hidup memang serba pas, pas lupa pake gelang dan jam tangan, eh ada yang ngasih.

sedang asik menimang hadiah, Rahma datang menghampiri untuk take VO. proses take VO lebih cepat dari yang saya duga.

selanjutnya, sempat bersenda gurau dengan Mila, membicarakan teman. kami menjalani kodrat wanita, tak afdol jika tak menggunjing.

Mila pamit, katanya ingin menemani ibunda yang sedang berada di Jakarta. mungkin mereka akan berbelanja, mengingat saat ini ibukota sedang punya gawe Jakarta Great Sale.

Saya dan Gagah turun utnuk sarapan. tapi ternyata warung belum siap sedia dengan kehadiran kami. pilihannya hanya makan tempe goreng, tak apa.

gambar dari www.dhiela.com
tak lama ada seorang mamang-mamang penjaja jajanan SD. hati tergelitik untuk membeli rambut nenek. mamang penjual sungguh bersahaja. terlihat sekali raut wajah penuh syukur saat saya memanggilnya. senang katanya, jam 10 pagi sudah ada yang membeli dagangannya dalam jumlah banyak.
deg!

banyak dalam takarannya ternyata membuat hati terenyuh. ya, saya hanya membelajankan uang Rp.6500,- tak lebih. rinciannya, 5000 untuk rambut nenek, 1500 untuk balon air sabun.

dia mengucap syukur seraya berucap alhamdulillah.

kata bersahaja yang saya sebut diatas berafiliasi pada mamang penjual jajajan SD ini. dia begitu menikmati setiap transaksi meski nominalnya sangat kecil. dia mensyukuri setiap tetes rejeki.

malu rasanya, selama ini saya selalu menggerutu dan merasa kurang. sesak rasanya saat tahu, uang tak seberapa bisa mencipta senyum di bibir coklat berkerut itu. sedang saya sering membelanjakan uang untuk urusan tak jelas dengan nominal yang lebih tak jelas lagi.

mamang yang bahkan wajahnya pun tak saya perhatikan, telah memberikan kesadaran empiris. semua kebahagiaan bisa tercipta, tergantung bagaimana kita menggali dan mencipta sumber kebahagiaan itu.

hari ini bahkan belum bergulir setengahnya, semoga sepotong kebersahajaan yang saya temukan pagi ini bisa terbawa hingga nanti malam. sukur-sukur bisa memberikan biasnya sampai besok, lusa bahkan waktu-waktu mendatang yang tak terukur.

Minggu, 27 Juni 2010

Juni Berakhir..


gambar diunduh dari www.juni.ca/
Juni sebentar lagi berlalu, melintasi putaran waktu. tak banyak yang terjadi di bulan ini, kecuali perjalanan gila ke Ujungkulon tanggal 23 Juni lalu. saya katakan 'gila' karena sungguh tak sebanding dengan usaha menuju lokasi.

ya, saya hanya berada 6 jam di tempat 'sulur-sulur surga' itu, sedang total perjalanan yang harus ditempuh adalah 16 jam, edan. yah, namanya juga perjalanan gratis dan nebeng, gak boleh banyak protes apalagi tuntutan. paling tidak, saya pernah menjejakkan kaki di tempat maha indah itu.

saya sempat tumbang di pertengahan bulan. sakit yang tak parah, namun menggagalkan semua rencana indah. gara-gara sakit, saya melewatkan kesempatan ke Carita bersama para ibu-ibu seru CHS dan tentu saja tim Healthy Life. sempat tak terima dan kecewa berat, melewatkan kesempatan menyambangi pantai. tapi hidup selalu begitu bukan? tak semua asa bisa terealisasi, dan saya sebagai manusia harus nerimo.

sakit yang berdurasi satu minggu, praktis menjadikan saya tahanan kota (kali ini saya mengaku lebay). selama seminggu, trayek yang ditempuh sepatu kanvas merah saya hanya kontrakan-kantor. tak ada tuh, menyelinap barang sebentar ke Mall Puri untuk nonton atau sekedar makan sambil mendengarkan alunan musik di Foodcourt yang cozy itu.

namun akhirnya, tak gaul selama seminggu dibalas dengan kesumat tingkat tinggi. tak tanggung-tanggung, selama tiga hari berturut-turut saya menyambangi XXI. urutan film yang ditonton, hapal di luar kepala. Karate Kid, Letters to Juliet, The A Team.

Karate Kid
remake film legendaris yang sempat booming tahun 1987 (bener gak ya tahunnya?). film ini habis-habisan menampilkan Jayden Smith yang berperan sebagai Dre Parker. kalimat yang perlu di stabilo adalah saat Mr Han (Jackie Chan) menyemangati Dre dengan kalimat sakti,
"Hidup boleh saja mengalahkanmu, namun kamu boleh memilih untuk bangkit kembali atau tidak"

jalan cerita film ini lumayan touchy, namun kok ada yang menggelitik. film ini lebih pantas diberi judul Kungfu Kid, karena jenis ilmu silat yang diumbar ya kungfu bukannya karate. bukan..saya bukanlah orang yang expert dalam dunia silat. hanya berdasarkan pembicaraan mereka yang mengupas kungfu bukannya karate.

yah, saya juga menyukai wardrobe si Dre. bagus dan enak dilihat, meski saya adalah tipikal orang yang tak tahu mode. entah mengapa, semua yang dikenakan Jayden Smith dalam film ini terasa pas.

Letters to Juliet

film ini asli romantis. bersetting kota Verona, mengajak saya untuk terbuai dalam atmosfer roman mellow. dimainkan oleh Amanda Seyfried (yang kondang lewat Mammamia) berperan sebagai Sophie.

Sophie adalah warga NY yang berprofesi sebagai checker atau pemeriksa fakta di New York Times. berani sumpah, baru kali ini saya menonton film yang menyajikan profesi tokohnya adalah checker, sebuah profesi yang saya baru tahu keberadannya juga karena berkenalan dengan Andreas Harsono dkk.

bersama kekasih, Sophie terbang ke Verona untuk mencari bahan makanan terlezat yang kemudian akan dijadikan suplier untuk restoran yang dimiliki sang kekasih.

merasa tak nyambung dengan dunia sang pacar, akhirnya Sophie mencari kesibukan sendiri. kisah terus mengalir sampai Sophie harus berpetualang bersama seorang nenek dan cucunya mencari Lorenzo.

ending dapat ditebak. akhir bahagia layaknya dongeng. film ini mengajarkan kita untuk berani melakukan aksi demi cinta.

pf..ff..apa iya, semua perjuangan untuk cinta selalu bahagia?

The A Team
film yang seru dan berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. bercerita mengenai kekompakan tim gila nan asal tapi selalu beruntung. banyak hal yang tak masuk akal dalam film ini.

misalnya saja tentang rencana gila menerbangkan pesawat yang diawaki oleh orang sakit jiwa. banyak manuver-manuver seru menghibur.

namanya juga film komedi. bagi saya, ketakmasukakalan cerita selalu dimaafkan dalam ranah komedi. apalagi, jalan cerita film ini masih sangat-sangat terkonsep dengan cerdas dan bertanggungjawab.

yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan adalah kunjungan ke kediaman Daoed Joesoef, sang menteri pendidikan era Soeharto. bapak tua ini mirip dengan pak uwo saya. memandangnya, mengingatkan saya pada kakek tegas namun penyayang yang telah wafat sejak saya duduk di kelas 3 SD.

dirumahnya, saya mendengarkan kuliah singkat mengenai kepemimpinan. caranya mengajar membosankan, saya sampai mencoba beberapa gaya duduk untuk menghalau kantuk. setelah satu jam berlalu, sesi tanya jawab dibuka.

Thanks God, untuk adanya sesi ini.

sesi tanya jawab berlangsung seru. terungkaplah alasan-alasan Daoed dulu sering mengambil keputusan ekstrim saat masih menjabat sebagai menteri. dialah sosok yang melarang adanya libur sekolah di bulan ramadhan. dia pulalah tokoh yang membredel media kampus dan memperkenalkan Normalisasi Kegiatan Kampus atau NKK. wah, pasti pak tua ini dibenci sangat oleh aktivis pada jamannya.

disela-sela tanya jawab, bahkan Daoed Joesoef berani membuka aib Buya Hamka yang terkenal shalih. entahlah, benar atau tidak, yang pasti saya sudah tidak bisa melakukan konfirmasi kebenaran pada Buya bukan?

hm..ternyata banyak hal menarik yang saya lalui. semoga Juni menjadi semakin manis untuk dikenang dalam hati.

Ups, hampir lupa, 21 Juni si batu akhirnya juga mendapat pekerjaan. pekerjaan yang masih terasa tak masuk akal, saking menyenangkannya. selamat ya, semoga kamu menikmati, meski waktu kerjanya menggila.

sampai jumpa Juni, semoga kita masih bisa bersua tahun depan. Adios!!!

Jumat, 25 Juni 2010

sana, cari teman lain!

hm..saat ini pikiran saya sedang terfokus pada seseorang. seseorang yang bagi sebagian orang sungguh mempesona. mudah menarik perhatian. entah mengapa, pesonanya tidak menyentuh saya sedikitpun. saya malah kerap merasa mangkel dan jengkel.

jadi, sampai detik ini saya masih terheran-heran jika ada seseorang yang tergila-gila padanya. baiklah, dia memang supel, mudah menempatkan diri dan cepat mengakrabkan diri pada lingkungan baru sekalipun. namun setelah mengenal lebih jauh, ampun dije!! banyak sikapnya yang tak bisa saya tolerir. manajemen waktu yang amburadul, sikap yang sok dramatis, sampai sikap (ini pamungkas) pokoknya saya selalu benar kamu yang salah.

saya benci saat ada orang berteriak ngotot. tak perlu ngotot bukan untuk membela diri. bersuara kencang samasekali tak menunjukkan kebenaran. semua justru mengarah pada ketakmampuan mengontrol emosi dan kebodohan. saya jadi malas berdebat pada orang yang mengutamakan tekanan gaya bodoh macam itu. silahkan, terus saja berteriak. semakin sering kamu melakukannya, maka respek saya perlahan dan pasti akan berkurang dan mungkin nanti menghilang.

mungkin saya masih terlalu pengecut menyebut nama kamu disini. ya, masih terselip rasa tak enak menyematkan nama di beranda maya ini. yang pasti, saya benci, tak suka. seberapapun baiknya kamu, semua tak kan merubah apa-apa. silahkan cari teman lain yang lebih peduli, saya bukan teman yang baik untukmu. maaf.

gambar diambil dari hasanjunaidi.wordpress.com

Selasa, 22 Juni 2010

maaf..


perjalanan..
ya, hidup hanyalah sebuah perjalanan. terkadang menyinggahi tempat ramai nan berisik. tak jarang pula menyambangi tempat sunyi, sepi senyap.

tiba-tiba saja terpekur akan tujuan hidup. jika ditanya, apa yang menjadi tujuan hidup, saya akan gelagapan. tak tau harus menjawab apa, akhirnya lidah terasa kelu dan kaku. jika kebanyakan kawan berharap ingin membahagiakan orang tua, kok rasanya saya masih jauh dari itu. bukan..bukannya tak ada keinginan, hanya saja kesanggupannya masih jauh. masalahnya terletak pada tolak ukur saya pada kata membahagiakan itu. jangan pula berpikir orang tua saya adalah tipikal orang tua yang sulit dibahagiakan. tidak. mereka adalah sepasang orang bersahaja yang sangat mudah merasa bahagia. cukup hari ini berjalan lancar tanpa hambatan dan tak ada bencana, maka mereka dengan ikhlas akan merasa bahagia.

hanya saja, saya ingin melakukan lebih. ingin mewujudkan banyak mimpi mereka yang belum tercapai. sebagian berafiliasi dengan materi, sebagian lagi menyentuh aspek religi, dan sedikit silaturahmi.

maaf, sebagai anak, masih banyak yang belum bisa saya persembahkan untuk membalas nyaris 27 tahun kehidupan ini.

Senin, 21 Juni 2010

penghianatan kecil

entah mendapat angin dari mana, tiba-tiba teringat satu kata, penghianatan.
kata yang berafiliasi pada rasa tega ini tiba-tiba menusuk ulu hati. tidak..saya sedang ditak berhianat ataupun dihianati.setidaknya sampai saat ini, saya sedang tidak merasa berhianat. saya juga tidak sedang merasa was-was akan dihianati.

jadi, tak ada peristiwa apapun yang merujuk pada kata penghianatan yang terjadi. semoga saja memang tidak ada.

tapi tunggu sebentar. saya ingin mendefinisikan dulu kata hianat. hianat adalah saat dimana kita mengingkari janji dan tak mengakui. hianat adalah menikam dan menyembunyikan tangan. intinya, hianat adalah tersembunyi. tak mengakui.

lalu, bagaimana dengan tak terakui? apakah ini sesuatu yang berbeda?

saat ini saya sedang ingin menulis mengenai tak mengakui. jadi, saya sebagai subjek, bukannya objek.

ya, beberapa waktu belakangan ini, saya melanggar janji. janji untuk tak membalas sms atau pun menjawab telepon dari seseorang. tapi toh saya sedang tidak merasa berhianat. mungkin karena akal sehat saya tak bisa menerima alasan pelarangan, dan ketika dulu (ya, dulu sekali) saya berjanji, janji tidaklah datang dari hati. saya berjanji karena enggan untuk memulai keributan. permintaannya kala itu, masih tak sejalan dengan nalar saya.

jadi, beberapa waktu belakangan ini saya sering berbalas sms dengan si seseorang terlarang (sebut saja begitu). tak ada maksud ataupun tujuan tertentu, hanya mengikuti ego dan menyenangkan diri saja. ya, saya pernah mengakui, menyakiti seseorang membuat saya senang. semua lebih merujuk pada rasa tersisih, tak diperhatikan,dan ego bahwa saya berani melanggar larangan. cari perhatian mungkin lebih tepat.

akhirnya kesadaran menghenyak. terang saja tak ada rasa penghianatan. karena saya tak menghianati hati nurani. saya memang menjalani yang dimaui.

hm..saya merasa lelah.lelah bergumul dengan nurani. nyaris 10 bulan terakhir, nurani dikesampingkan. semua serba mendahulukan ego, dan keinginan untuk bersenang-senang.

yang kau inginkan
tak selalu yang kau butuhkan
cobalah untuk membuka mata hati telinga
Maliq D'essential


saya menginginkannya. tapi benarkah saya membutuhkanya? entahlah. saya tak berani menjawab. takut dengan kenyataan bahwa ternyata saya memang benar-benar membutuhkannya.

Selasa, 25 Mei 2010

tak ada yang abadi..

"tak ada kawan abadi, juga tak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi"
mungkin barisan aksara diatas teramat akrab dalam ranah politik. namun bagi saya, ternyata rangkaian abjad itu begitu dekat. hidup ternyata juga membutuhkan strategi politik. terkadang kita harus mau dan mampu menyukai seseorang meski dia telah berkali-kali berhianat. bisa disebabkan sistem yang membutuhkan daya fleksibilitas, bisa juga karena perubahan kebutuhan.


saya tidak selalu diperbolehkan untuk kaku. hanya mau melakukan yang dimau. saya harus beradaptasi untuk mempertahankan hidup. lalu, bagaimana dengan nurani?
nurani itu masih ada, hanya saja harus mulai terbiasa dengan kata kompromi. tak ada istilah,
"saya memang begini, inilah apa adanya"
saya harus belajar memahami, realitas tak selalu ideal tercipta. kata ideal yang sesungguhnya sama sekali tak ada.

selalu ada noda yang lihai merasuk untuk menggagalkan sebuah kesempurnaan. sejatinya, bagaimanapun sesuatu direncanakan, tak kan ada pelaksanaan yang sepenuhnya sama. ada saja halangan, ada saja penghambat.

disinilah kesadaran menyeruak perlahan dan pasti. seberapapun kerasnya usaha, jangan pernah berharap akan mencipta rencana yang berjalan sempurna.

Jumat, 21 Mei 2010

sedang kecewa


sedang dirundung kecewa!!
semua berawal dari keluguan saya mempercayai mulut manis yang mengucap janji. dengan sendirinya, saya jadi berpikir ulang mengenai anggapan sebagian kawan bahwa saya ini tipikal orang yang terlalu berprasangka baik. semua serba dipercaya dengan alasan "saya kan manusia, jadi ya harus percaya terhadap manusia".
atau agak dipelintir sedikit,
"jika sedikit-sedikit saya tidak percaya terhadap orang, bisa jadi justru sayalah yang tidak bisa dipercaya".
saat ini, prasangka baik dalam lipatan otak dan sanubari sedang menipis! dalam waktu nyaris berdekatan, saya dibodohi oleh dua orang sekaligus. mereka berjanji dan kemudian begitu kompak mengingkari. dua masalah yang berbeda jauh, kesamaannya adalah sama-sama ingkar janji pada saya yang lugu ini.
ya sudah, semoga Tuhan punya cara membalas yang elegan namun tetap menyakitkan. tunggu saja!
jangan salahkan saya, jika setelah ini saya kehilangan rasa hormat. kamu sama sekali tidak layak mendapatkan rasa hormat, meskipun takaran usia jauh diatas ibu saya!
bahkan ibu saya yang notabene tidak berpendidikan saja lebih memiliki martabat tinggi. oh, mungkin karena kamu berpendidikan tinggi, makanya jadi terpolusi pikiran licik untuk membodohi.
"Mbok kalau jadi wong pinter jangan minteri"
itu nasehat nenek.

ahahahaha
Tuhan mendengar doa saya.
baru saja. saat tulisan ini sedang diketik. sepertinya dia merasa menyesal. segera melakukan perbaikan. tapi sayang, saya terlanjur sakit hati. maaf..

paling tidak, perlahan dan pasti saya mulai mengamini anggapan sekitar mengenai kamu yang culas dan curang!!!

Sabtu, 08 Mei 2010

Saat Semua Nyaris Usai


tak sengaja menemukan tulisan ini. dibuat sekitar satu bulan lalu. sengaja saya pasang, sebagai pengingat bahwa bagaimanapun kehancuran terjadi, maka waktu untuk bangkit juga telah menanti. go girl!!!

Apakah ini harus diakhiri?
Ya sudah kita menyerah pada waktu. Aku masih mau mencoba, entahlah dirimu. Jika bisa, inginnya kita mencoba, sekali saja. Kita lihat, apakah masih ada getaran yang terasa saat mata kita berpagut. Aku masih terlalu mencintaimu lelakiku. Aku masih ingin mendengar ungkapan penuh kasih darimu. Ya, aku sangat merindukan masa-masa itu semua sayangku.

Tak bisa kusalahkan jika memang itu sudah menjadi maumu. Entahlah, andai ada yang bisa kulakukan. Aku ingin membeli mesin waktu, untuk membawaku pada semua yang lalu. Ingin kuperbaiki, jika tidak bisa juga, yang aku lakukan adalah menikmati sepenuh hati setiap kebersamaan kita. Akan kuabadikan setiap potongan kenangan kita.

Jika itu tak bisa juga, mungkin aku akan lebih mundur ke belakang. Akan kutepis setiap tawaran bersamamu. Akan kutahan setiap kepingan hasrat untuk memilikimu.

Tapi tidak. Seharusnya aku tetap melaju. Seharusnya aku tetap meniti waktu. Aku harus berjalan ke depan. Disanalah serangkaian misteri kisah masih akan kujerang. Bisa jadi, dunia telah menyimpan berjuta cerita bahagia untuk kuhampiri dengan segera.

Kini, aku hanya bisa mengatakan, aku masih sangat mencintaimu. Masih ingin merenda setiap sulur kisah untuk dirangkai dalam tabula rasa yang indah. Namun jika memang tak bisa, ya sudah. Tak ingin pula kupaksakan, jika kau memang tak ingin menjalani. Toh, seharusnya aku belajar menerima. Seharusnya, aku rela melepasmu, jika bahagia memang tak bisa lagi kau temukan bersamaku.

Dalam setiap hubungan, kata bahagia seharusnya dinikmati oleh dua orang, bukan cuma aku atau cuma kamu melainkan kita. Jika masalah datang, seharusnya kita selesaikan bersama, tidak hanya olehku atau olehmu.

Maaf. Hanya kata ini yang bisa kusematkan di pintu keluar. Maaf jika selama kita menjalani kisah sempat menyakitimu. Maaf jika tanpa sengaja tindak tandukku melukaimu. Sungguh, semua kulakukan tanpa sengaja. Maaf, jika dalam beberapa kali perjalanan, tanpa sengaja aku mengambil alih wewenangmu. Sungguh tak ada maksudku sedikitpun untuk menggerus ego kelelakianmu. Sama sekali tak ada niatan itu, kuharap kamu mengerti. Maksudku justru sebaliknya, aku tak mau kamu terlalu terbebani dengan rasa tak enak yang menurutku sungguh tak berarti. Kita saling mencinta bukan?

Kuharap, setelah ini kita bisa berjalan bersisian. Meski setapak kita telah terpisah, kuharap kita masih bisa saling menyapa dengan ramah. Kuharap kita bisa membuka lembaran baru dalam bab berbeda. Semoga kebahagiaan bisa menghampiri masing-masing dari kita. Semoga saja, persahabatan tulus itu akan tercipta perlahan dan pasti. Sulit mungkin untuk awalnya, namun kupercaya, waktu akan menyembuhkannya. Aku perlu usaha sedikit lebih keras. Doakan aku, semoga semua bisa terlalui dengan baik.

Sabtu, 10 April 2010

Selasa, 27 April 2010

getir..


hati yang meranggas tak tentu arah. saat sebuah perjalanan harus usai, maka sudahilah dengan sebaik mungkin. bagaimanapun, semua akan menuju pemberhentian. inilah korelasi hidup, antara ramai dan sepi, suka dan duka, hitam dan putih, pun aku dan kamu.

tak ada yang mau aku lakukan untuk menghentikannya, kecuali aku yakin ada kata kita disana, bukan sekedar aku ataupun kamu.

hidup tetap harus berjalan, meski getir terus merintih minta berhenti. tapi waktu tak pernah menunggu barang sejenak bukan? jadi, mari bersama kita berjalan menuju halte-halte kisah lain yang minta di datangi barang hanya sesekali.

Kamis, 15 April 2010

sedang bersemangat


Terancam menggila

Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dalam satu waktu. Saya senang-senang saja melakukannya. Capek sih sudah pasti, tapi yang terpenting dari itu semua, saya memang mau melakukannya. Ada semacam passion tersendiri yang membuat saya tetap memiliki energi untuk menyelesaikannya satu persatu.

Baru menjadi masalah adalah jika situasi tidak dapat berkompromi dalam pengaturan waktu. Saya yang makhluk tunggal, tentu akan sulit mengerjakan dua hal yang berbeda di waktu bersamaan. Lebih tidak mungkin lagi jika harus berada di dua tempat di waktu yang bersamaan. Untunglah sampai sejauh ini, semua terkendali dengan baik.

Saya sedang bersemangat. Semoga semangat ini akan menarik saya perlahan dan pasti ke perubahan yang lebih baik. Perubahan yang akan membawa saya pada masa cemerlang penuh tantangan. Saya masih sangat muda, membutuhkan banyak tantangan untuk menaklukkan hidup yang terkadang semakin beringas.

Beberapa hari terakhir ini, saya juga berkesempatan untuk bersua dengan orang-orang hebat. Usianya jauh diatas saya, namun prestasi yang berhasil dikumpulkan pun melebihi batas wajar. Saat saya seusia orang-orang hebat ini, saya mau menjadi hebat. Meski jika ditanya menjadi hebat yang seperti apa pun saya tak tahu pasti.

Coba nikmati saja kemeriahan hari demi hari, meski sejujurnya kepala pusing setengah mati. Menggila, bagi saya tak selalu berkonotasi negatif.menggila bisa jadi penggambaran kondisi bersemangat sangat. Ya, meski sedang sibuk berat, namun saya bahagia.

So?
Nikmat mana lagi yang saya dustakan???

Selasa, 13 April 2010

metamorfosa centil


Beberapa hari belakangan ini, kalimat ”Metamorfosa menjadi kupu-kupu” akrab terngiang di telinga. Entah mendapat wangsit darimana, yang pasti saya ingin berubah. Berubah dalam artian menjadi lebih peduli dan rapi dalam urusan penampilan. Beberapa teman hanya tersenyum simpul, tahu karakter asli saya yang serba anget-anget tai ayam, bersemangat hanya di muka. Itu masih jauh lebih baik, terkadang malah nol realisasi meski rencana berkumandang di pelosok negeri. Hehehehe, inilah saya, harap maklum ya.

Namun keinginan menjadi cantik rupanya lebih kuat daripada rencana yang sudah-sudah. Langkah pertama adalah merayu Mila dan Katri untuk menemani berbelanja alat perang di Puri. Alat perang yang dimaksud berupa mascara dan eye liner. Hari itu, saya baru tahu kalau ada eye liner bentuk mirip crayon.kan selama ini tahunya cuma yang pencil dan cair. Begitu diberi informasi mengenai keberadaan eye liner crayon, saya langsung tertarik. Menjanjikan kepraktisan tanpa raut.

Mascara dan eye liner terbeli sudah. Sejak kemarin sudah teraplikasi dengan manis dimata. Hasilnya, beberapa teman berkomentar positif. Ada yang menuduh saya telah insaf (emangnya selama ini saya murtad apa?). beberapa yang lain memberi komentar singkat, bagus.

Semalam, urusan kantor mengharuskan saya menyambangi pusat perbelanjaan elit. Disana bertemu dengan Ari, si cowok CHS yang selalu tampil eksentrik.

Komentarnya, ”Abis dari pergi-pergi ya?”

Hahaha, berhasil! Berarti cita-cita saya untuk tampil beda berhasil. Tolak ukurnya adalah, orang-orang bisa langsung mengenali adanya perubahan di mata saya. Nah, keberhasilan merubah penampilan disempurnakan dengan pertanyaan Ari. Kita kan jarang ketemu, kalau dia ampai tahu ada yang berubah, berarti perubahan ini pastilah dasyat. Teori asal yang saya yakini kebenarannya.

Sebenarnya, saya juga gak tau mengapa melakukan semua ini. Tiba-tiba saja muncul. Mungkin tergelitik iri melihat para perempuan yang anggun melenggok di mall. Atau bisa jadi manifestasi kecewa. Untuk alasan kecewa, saya tak berani memastikan. Saya yang kecewa atau malah dia yang kecewa? Tak jelas. Mungkin kami sama-sama kecewa. Ya sudahlah.

Yang pasti, saya ingin semuanya cepat-cepat selesai. Biar tenang, tanpa beban.

Kembali ke urusan metamorfosa. Tak ada niatan apa-apa. Hanya ingin tampil beda. Hak saya sepenuhnya kan? Jadi tolong, buat yang punya komentar negatif berintonasi nyelekit, simpan saja dalam hati. Sensitifitas saya sedang menebal.

Selasa, 06 April 2010

sedang bingung

terbang mengangkasa
layaknya elang
yang terkadang cukup sial
bersanding dengan petir yang menggelegar

jangan sembarangan sesumbar
sok ingin menjadi berarti
begitu kesempatan datang
ragunya setengah mati

berani dan tidak
hanya kamu yang memutuskan
resiko tentu selalu ada
posisinya tepat berdampingan
dengan berkah yang mungkin saja kau dapat

Minggu, 04 April 2010

sonata sendu

aku tertancap
dalam ladang persembahan
selang beberapa waktu
kakiku membelukar
menuju segala arah
meski banyak tujuan yang tercipta
hanya satu yang pasti aku tahu
kemana jalan pulang
harus kutuju..

tak perlu khawatir
aku akan baik-baik saja
malaikat penjaga yang kau pesan bekerja sangat baiknya
justru aku yang khawatir disini
kamu sendirian saja disana
terpuruk dalam rasa sepi
dan kerinduan bisu yang tak bisa kau bagi

Sabtu, 03 April 2010

Jelajah Tidung Bersama Tim 11 Untar



Baru saja miLLe Explorer mengadakan trip perdana menjelajahi pulau yang selalu dan selalu saya rindukan. Pulau Tidung. Sebuah pulau yang berada dalam jajaran Kepulauan Seribu dan merupakan pulau kedua yang berpenghni setelah Pulau Pramuka.

Pulau Tidung memang tidak memiliki kepopuleran seperti Pulau Pramuka yang konon memiliki lokasi penangkaran penyu, namun pulau ini memiliki daya tarik yang tidak kalah.

Salah satu keistimewaan terletak pada jembatan yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Panjang jembatannya tak kurang dari 2 kilometer. Setiap pengunjung bisa melaluinya dengan sepeda ataupun berjalan kaki. Meskipun untuk pilihan kedua, saya sangat tidak menyarankannya, terlebih jika panas sedang menyengat di siang yang terik.

Perjalanan yang berlangsung 19-21 Maret ini menyisakan kisah dalam beragam warna. Ada merah, hijau, kuning, biru, abu-abu, bahkan hitam pekat bagi beberapa orang. Namun secara keseluruhan, jika boleh, saya ingin memasukkannya dalam kotak kuning. Tak ada alasan spesifik, apalagi bermuatan filosofis. Hanya alasan sederhana, keceriaan yang tercipta begitu sempurna, meski sempat ada sebuah insiden, tak berhasil merusak kegembiraan yang kami lalui bersama. Yah, saya rasa, kuning warna yang cocok.

Perjalanan diawali dengan janji bertemu dengan rombongan pukul 5 dinihari di pelataran Universitas Tarumanagara (bener ya spell-nya?). Dibanding saya, Hans datang lebih dulu. Meski demikian, Hans rupanya didahului oleh Layar, peserta yang paling dewasa diantara rombongan. Kedewasaannya terlihat dari sikapnya memperlakukan 10 peserta lain yang notabene memang juniornya di kampus.

Saat saya sampai dilokasi yang dijanjikan, rupanya telah hadir dua peserta. Peserta kedua yang datang bernama Anto. Laki-laki berperawakan sedang dengan rambut yang berpotongan penuh gaya ini memberikan saya catatan khusus. Dia sangat senang difoto. Percayalah, berapapun banyaknya lensa kamera menjepret, gayanya tak akan pernah habis. Selalu tersedia. Seperti halnya model pakaian yang dikenakan. Di hari kedua, Anto malah menggunakan kaos dengan model tak lazim.

Selanjutnya saya tidak ingat persis, siapa saja urutan peserta yang hadir. Satu persatu datang berkumpul, dan saya berusaha sekuat tenaga mengingat tiap fragmen wajah mereka. Sayang, usaha saya gagal total di hari pertama. yang tidak saya lupa adalah peserta yang terakhir datang. Setelah diatas kapal, baru saya tahu, peserta pamungkas dalam perjalanan ini bernama Yeni. Sosoknya mungil. Paling mungil malah, jika dibandingkan dengan peserta lainnya. Namun, jangan coba-coba meragukan nyalinya. Semua temannya saya rasa akan menyepakati, keberanian Yeni saat melakukan terjun diatas jembatan dengan ketinggian 5 meter sungguh mengejutkan. Si pendiam yang cenderung enggan ambil bagian saat yang lain bersenda gurau ini memiliki mental malas bicara langsung saja bertindak. Voila…semua terkejut dan terkagum-kagum.

Dua peserta perempuan yang memiliki nyali tak kalah besar adalah Shanti dan Yantica atau biasa disapa dengan sebuatn Asuang. Keduanya sama-sama berambut panjang. Sama-sama suka difoto, dan yang pasti sama-sama berisik. Konon, tempat tinggal merekapun berdekatan, benar-benar sabahat siam saya rasa.

Perjalanan kami dimulai dengan menumpang Taxi Transcab menuju Muara Angke. Ternyata, jadwal pelayaran kapal tidak secepat yang saya kira, malah rombongan kami termasuk penumpang yang pertama hadir. Selama perjalanan, kami saling bercerita, bercanda, dan tentu saja mencela. Kebiasaan khas anak muda.

Anto mengusulkan untuk bermain kartu. Akhirnya, saya dan 3 peserta lainnya terlibat dalam permainan kartu yang seru. Semuanya sibuk dengan keriuhan masing-masing sampai kapal mendarat di dermaga Pulau Tidung.

Di Dermaga, kami dijemput oleh Ricky, si anak pulau yang kalem.

Saya berkenalan dengannya pada awal tahun ini saat kali pertama menyambangi Tidung. Ricky sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas Islam Syarif Hidatullah Jakarta. Saat ini dirinya bekerja di tiga istitusi berbeda dengan posisi yang berbeda pula. Bahasa kerennya, Ricky menjalani tiga profesi dengan job desk dan lokasi berbeda dalam waktu bersamaan. Wow…siapa yang tak kagum?! Pembawaannya yang santun menambah daftar kekaguman saya padanya. Dugaan saya, pasti banyak gadis-gadis yang menaruh hati. Terasa sekali saat beberapa kali saya berboncengan motor, ada beberapa makhluk hawa yang melemparkan senyum simpul. Senyum itu tidak mungkin untuk saya kan?!!

Mengikuti instruksi Ricky, kami menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal selama bermukim di Tidung. Jaraknya lumayan jauh, apalagi bagi yang tidak biasa berjalan, pasti cukup menyiksa.

Tibalah kami disebuah rumah yang memiliki ruang tengah cukup lapang. Pemiliknya bernama Pak Sueb. Keluarga ini meminjamkan dua kamar tidur dan satu ruang tengahnya untuk kami.

Begitu sampai, kami langsung menyantap makan siang yang disediakan oleh tuan rumah. Menunya adalah nasi, sayur asam, ikan asin, lalapan, sambal dan tempe goreng.

Sen Sen menjadi satu-satunya peserta yang tidak memakan daging alias vegetarian. Selama disana, menu specialnya adalah telor mata sapi dan sambal. Saya sempat lupa tidak memesankan si telor mata sapi, akhirnya dia hanya makan dengan tempe goreng. Kasians ekali saya melihatnya, tapi yam au apa lagi? Tak ada yang bisa dilakukan juga.

Usai makan siang, kami langsung bergegas memilih sepeda dan mulai menggenjotnya. Semilir angin yang sepoi-sepoi semakin mempertegas suasana pesisir. Saya dan Hans akhirnya membelah diri. Bersama para sahabat miLLex, Hans mengajak berkeliling pulau, sedang saya ditemani Ricky menyiapkan bibit bakau yang akan kami tanam di Tidung Kecil.

Satu persatu pohon Bakau kami tanam. Peserta penuh rasa antusias menanamkan tunas-tunas harapan yang semoga saja suatu hari kelak dapat menghadang arus ombak laut yang terkadang merusak.

Usai menanam bakau, rencana awalnya adalah menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Sayang seribu sayang, bapak-bapak si pemetik kelapa sedang pergi ke Tangerang. Kesempatan menikmati segarnya kelapa muda raib sudah.

Sambil menunggu sunset, kami semua membekukan momen lewat jepretan kamera yang di bawa Hans, Layar, Yenny, dan tentu saja Jimmi. Jimmi bisa dikatakan si kepala suku dalam kelompok perjalanan ini. Dialah yang mengkoordinir semua peserta agar turut serta. Ekspektasinya mengikuti trip ini adalah menambah koleksi foto-foto yang saya yakin sudah berjibun. Belakangan saya ketahui, Jimmi pengusaha muda yang mumpuni. Like this dua jempol untuk keuletannya menjalankan ini itu dalam usia yang masih belia.

Sunset yang ditunggu pun datang. Sekali lagi, dengan kemenangan mutlak, alam mempesonakan mata kami. Kami, sekelompok remaja yang terkadang begitu pongah terhadap realitas dunia, terangkum dalam satu suara, mengagumi keindahan suguhan sang pencipta.

Begitu gelap menjelang, kami menuju jalan pulang. Bersepeda ria, menyusuri setapak . Entah bagaimana ceritanya, kelompok tercerai berai menjadi tiga sub kecil. Untunglah, kami selamat sampai rumah, lengkap.

Setelah makan malam, jadwal berikutnya adalah mencari ikan di dermaga utara.

Air laut begitu jernih. Kami juga diberi bonus taburan bintang yang memenuhi angkasa raya. Meski hasil pancingan tak seperti yang diharapkan, namun kenyamanan suasana dermaga membuat kami malas beranjak. Beberapa anak harus dipaksa agar mau beranjak pulang dan beristirahat.

Hari kedua, waktunya snorkeling.

Tunggu dulu, ada yang harus dilakukan sebelum menaiki kapal. Ya, peserta diharuskan untuk memungut sampah yang ada di dermaga. Maaf kawan, untuk sesi ini saya tak begitu tahu apa yang terjadi. Hans bercerita, kalian menunjukkan sikap yang rupa-rupa. Ada yang bersemangat, ada juga yang malas. Tak apa, paling tidak, ini akan menjadi pengalaman yang patut diceritakan. Paling tidak, kali ini kalian telah member sesuatu pada alam. Bukankah kita juga terlalu banyak menikmati alam?

Pelayaran akhirnya dimulai. Tujuan pertama adalah pulau Karang Beras. Kami berencana untuk makan siang di pulau kecil tak berpenghuni ini. Meski tak sama persis, saya ingin peserta merasakan makan di pulau pribadi sambil ditemani kicau burung dan semilir angin laut yang melenakan.

Ternyata kata tak berpenghuni tidak sepenuhnya tepat saya tujukan bagi pulau karang Beras. Di pulau ini sedang di bangun resort, yang rencananya mulai beroprasi per oktober 2013. Ada dua orang patugas yang berjaga, untungnya kami diperbolehkan makan siang di pulau mungil ini, asalkan tidak mencipta sampah. Selain makan siang bersama, peserta memulai snorkeling. Nyaris semua peserta menceburkan diri, kecuali Meryska. Meryska mirip dengan saya, bernyali ciut jika dihadapkan dengan renang. Gadis berambut panjang ini juga baru mengaku di hari kedua, jika dirinya tak terlalu menyukai ikan. Glek. Padahal menu sehari-hari yang saya rencanakan adalah ikan dan ikan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju lokasi snorkeling sesungguhnya.

Kapal mengantarkan kami ke parairan yang terlihat dangkal. Dari kapal saja terlihat karang dan ikan-ikan berwarna-warni yang seolah mengundang kami untuk menyambanginya. Satu persatu terjun. Tiap orang mulai asik dengan kekagumannya masing-masing.

Disini, Yenni dan Asuang tanpa sengaja menjatuhkan alat snorkeling di perairan yang dalamnya lebih dari 22 meter. Keceriaan langsung raib dari wajah mereka. Peserta lain berusaha menghibur.

“Tak apa kawan, soal ganti rugi, nantilah kita bicarakan, yang bisa kita lakukan saat ini adalah lanjutkan kesenangan agar tak menyesal kemudian hari,” guman saya.

selain bersnorkel ria, beberapa peserta juga memancing. Setiap ada ikan yang berhasil kami pancing, sorak-sorak bergembira langsung berkumandang. Bahkan Okem dengan senang hati menyiksa binatang-binatang malang yang berhasil kami tangkap. Entah dari mana, Okem mewarisi sifat sadis ini. Laki-laki ini memiliki perpaduan sifat yang agak janggal menurut saya. Sekali waktu dia begitu manis dengan hobinya yang suka jajan. Namun, di waktu berikutnya, dia sangat bersemangat melihat ikan menggelepar akibat ulahnya. Aneh.

Petualangan terus berlanjut menuju jembatan. Yang memiliki nyali besar tak melewatkan kesempatan untuk terjun diatas ketinggian 5 meter. Ada Yenni, Asuang, Shanti, Anto, Okem, Sensen, Layar, Anto, Cipto, dan Rendy yang menikmati sensasi lepas bebas melayang dan kemudian terhempas di air.

Untuk Cipto dan Rendy harus melalui sesi khusus. Awalnya mereka berdua takut, namun peserta lain begitu bersemangat menggoda.

Rendy malah sempat menemukan teman seperguruan dalam hal meragu. Ya, laki-laki kurus yang jago mengedit foto ini akhirnya berani menghempaskan diri dari ketinggian 5 meter.

Kami menikmati kegiatan berkecipak-kecipuk dalam air hinggam senja menjelang.Kemudian kami pulang.

Selanjutnya adalah Time To Barbeque. Meski lelah bukan kepalang, usai membersihkan diri dan makan malam, kami beranjak ke dermaga untuk membakar hasil pancingan siang tadi. Sambil mengelilingi api unggun dan diiringi gitar pinjaman, kami menyampaikan keluh kesah dan tentu saja kesan yang berhasil terekam dengan mendalam. Senang rasanya, setiap peserta ternyata merasa bahagia dengan petualangan yang nyaris berakhir ini. Beberapa memberikan saran untuk mille Explorer. Sambil menikmati gurihnya ikan, kami semua larut dalam suasana akrab.

Ups, tidak bisa dikatakan semua. Cipto asik sendiri menceburkan diri di dermaga. Dia sepertinya takjub dengan jernihnya air, sehingga ikan-ikan terlihat jelas. Tangannya menyorong-nyorong. Berusaha menangkap ikan dengan kedua tangannya.

Kebersamaan kami terus berlanjut hingga larut. Kelompok terakhir baru meninggalkan dermaga sekitar pukul 02.00 dinihari.

Keesokan harinya, kami bergegas dan bersiap-siap pulang. Tak ada satu pun dari kami yang mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi seadanya. Takut tak mendapatkan kuota tumpangan, saya datang lebih cepat dari pada si penjual tiket. Di dermaga, saya juga menyelesaikan masalah ganti rugi alat snorkeling yang hilang. Dari Jimmi, saya ketahui, seluruh peserta sepakat untuk patungan demi mengganti alat yang hilang. Salut untuk kekompakan dan rasa setia kawan kalian.

Sekitar pukul 08.00 kapal mulai berlayar menuju Muara Angke. Usai sudah perjalanan. Terimakasih kawan, untuk pengalaman mengesankan bersama kalian. Semoga, kebersamaan kita bukanlah yang terakhir, melainkan pintu yang membuka cakrawala untuk perjalanan-perjalanan berikutnya. Adios!!

Jakarta Barat, 1 April 2010

Minggu, 28 Maret 2010

Saya dan Rokok


Rokok. Siapapun setuju, benda ini tidak memberikan manfaat apapun, namun herannya dipuja setengah mati oleh para pecandunya. Mereka berdalih, rokok dapat melancarkan ide yang kadang tersumbat di lipatan otak. Tanpa rokok, para pecandu bak kehilangan sahabat karib.

Dari sisi medis, tentu sudah banyak jurnal yang memuat bahaya dan komposisi racun dalam rokok. Toh, keterangan ini tak menyurutkan jumlah penggemar rokok. Justru sebaliknya, jumlah perokok semakin bertambah saja. Jika dibuat dalam bentuk perbandingan, berkurangnya jumlah pecandu rokok tidak sebanding dengan jumlah perokok baru.

Masih melegakan jika jumlah perokok yang berkurang adalah mereka yang memutuskan untuk berhenti. Sayangnya, berkurangnya jumlah perokok juga disebabkan kontrak mereka didunia juga telah selesai.

Saya pribadi, bukanlah orang yang mengharamkan rokok. Meski bukan perokok, batas toleransi saya terhadap benda penuh racun ini cukup longgar.

Kali pertama saya berhubungan dengan rokok saat masih duduk di kelas 3 SD. Mengutil rokok Bentoel milik pakde. Tak ada niat menjadi perokok, hanya penasaran mengapa laki-laki dalam keluarga besar saya begitu memujanya. Di kebun belakang rumah nenek, saya akhirnya mecoba menikmatis ebatang Bentoel curian itu.

Hoek..rasanya sungguh tak enak!!!
Sebuah permulaan yang tidak mesra, mencipta kapok malahan.

Pegalaman menghisap rokok setelah itu adalah untuk alasan pengobatan. Saya juga tak habis pikir hingga kini. Jadi waktu itu ceritanya saya sedang sakit gigi. Entah dapat wangsit dari mana, ibu menyodorkan rokok kretek yang rasanya bikin eneg. Dua kali saya mencoba menghisap rokok dengan tujuan menyembuhkan sakit gigi. Mungkin tersugesti, cara itu berhasil menghalau sakit gigi saya.

Hingga menjelang usia 27 tahun ini, jadi saya telah berhasil menyelesaikan masa isap tiga batang rokok.

Persentuhan saya dengan rokok juga cukup intens terjadi di rumah. Kedua orang tua saya memiliki toko kelontong yang salah satu menu dagangannya adalah rokok. Sempat saya memprotes ibu untuk tidak menjual rokok. Apa daya, keuntungan menjual rokok cukup menjanjikan agar toko kelontong keluarga kami bisa tetap benrdenyut. Mau tak mau, saya positif menjadi perokok pasif.

Dilingkungan sekolah maupun kampus, teman-teman saya juga perokok. Dunia kerja pun tak berbeda jauh.

Laki-laki yang saya cinta setengah mati pun seorang perokok. Untungnya, si Batu kini sedang menerapkan aturan dua batang rokok perhari. Sebuah jumlah yang sangat logis. Pernah sih, minggu lalu, dia melanggar komitmen. Tak tanggung-tanggung, dia menghabiskan enam batang rokok dalam sehari, usai kami berselisih paham mengenai kata setia dan aturan boleh dan tidak sesuatu dilakukan oleh kami.

semalam, saya kembali berjibaku dengan rokok. Ada pekerjaan yang mengharuskan saya berada di puncak pada akhir pekan lalu bersama miLLe Explorer. Karena kewajiban live di senin pagi, tadi malam saya kembali ke Jakarta sendirian. Di angkot kecil, ada dua orang laki-laki yang menghisap rokok. Asapnya jangan ditanya. Melebihi batas kompromi saya. Untungnya, saat saya mengajukan keberatan, mereka sangat kooperatif. Lega rasanya.

Jujur, saya masih terheran-heran dengan orang-orang yang dengan santainya meyalakan rokok di dalam kendaraan umum. Kalo itu mobil pribadi sih silahkan saja. Tapi kalau kendaraan umum? Duh, rasanya ingin memaki. Jadi, maaf-maaf saja. Jika saya menemukan orang yang menyalakan rokok dalam kendaraan umum, maka saya akan langsung berasumsi negatif.pasti orang ini berpendidikan rendah, tidak terpelajar, dan kekurangan pendidikan etika. Huh..sekali lagi, saya bukan membenci perokok, tapi membenci orang yang mengesampingkan hak orang lain demi kenikmatan menghisap rokok!!

Senin, 15 Maret 2010

The Happy Day!


hari ini umat hindu merayakan nyepi. saya tidak tahu persis mengenai detil prosesi yang dijalankan, selain matikan lampu, televisi dan apapun yang berpotensi menimbulkan suara gaduh. wah, pasti Bali sepi sangat yah?!!

pastinya, tidak hanya umat hindu yang merayakan hari ini. para non hindu pun pasti banyak yang menyambut si tanggal merah ini dengan sukaria. Si Batu malah sejak kemarin menyambangi kota kembang, bersama konco-konconya.

lalu, apa yang saya lakukan di tanggal merah ini?
tadi pagi, entah dapat energi darimana, saya bangun dengan semangat gegap gempita. berangkat ke kantor pun dengan hati penuh sorak-sorak bergembira. sama sekali tak ada rasa keberatan, harus ngantor di tanggal merah. meski sejujurnya, saya gak terlalu ngeh, jika hari ini terkategori libur. cukup lama kerja di media ternyata berhasil membuat saya kebal dengan warna merah pada tanggal.

hari ini Healthy Life cukup istimewa, mengundang kurang lebih 60 penonton dari Tim Nasional Baseball Anak. topik yang dibahas seputar dilematika yang harus dihadapi anak dengan beratnya masa latihan ditambah tuntutan sekolah yang sama besar. hasilnya, serrruuuu!!
mereka juga tidak sungkan menyerbu makanan saat program berakhir.
hmpf..padahal kan seharusnya makanan itu jatah saya, hehehe
gak ding, saya seneng banget kok melihat euforia mereka.
rasanya seperti melangkah pada memori belasan tahun silam, saat saya seusia mereka.

setelah itu, saya kembali duduk manis didepan PC, merangkai aksara, menyiapkan materi besok.

juga menyempatkan diri menyapa si Batu yang katanya belum terlalu menikmati si geulis Bandung. yah, semoga saja sisa harinya menyenangkan. akhirnya berhasil ke Bandung juga kan?!!!!

yang akan saya lakukan adalah mengisi sisa hari ini dengan penuh rasa syukur atas rona bahagia yang sudah terbentuk sejak matahari menyongsong hari.
Go Go Go!!!!

ada semburat merah
letaknya persis dibatas cakrawala
tentu saja hanya batas rekaan
karena sesungguhnya
cakrawala tak memiliki tepi bukan?
seperti semangatku hari ini
merah menyala
dan tak terbatas..

Minggu, 14 Maret 2010

sedang bodoh

hatiku membelukar

gak tau kenapa, tiba-tiba frase itu yang terlintas. maknanya juga sebenernya saya gak tau. terkadang otak ini emang suka mencipta padanan kata yang maknanya pun tak terdeteksi dengan jelas.

hari ini bisa dibilang hari yang tidak produktif. volume otak rasanya kok mengecil, diajak ngobrol aja lama apalagi dipake mikir coba?
duh gusti? kenapa pula ini?

semoga gak lama-lama deh, membodoh seperti ini. bisa gawat dunia persilatan dan perhelatan yang tentu saja hanya ada dalam reka imaji saya semata.

akhirnya kembali juga

aduh..aduh,lama gak berkunjung nih..
untunglah, rumah ini maya, jika rumah sungguhan tentu telah berselimut debu dengan sarang laba-laba yang menggelantung disana-sini.

tidak ada peristiwa yang menakjubkan, hanya sedang sering merasa resah saja. dengan problematika yang itu-itu saja. yah, gak jauh-jauh dari urusan hati, mimpi yang tak kunjung juga terealisasi.

soal mimpi, saya sih maklum sangat. jelas saja tak terealisasi, lah wongsaya juga ndak melakukan aksi nyata kok. satu-satunya aksi ya cuma sesumbar ingin melakukan ini dan itu.

berang..
merasa manja dan tak berguna
entah sampai kapan perjalanan ini selesai
ayo, akhiri saja
mungkin jika ada yang memulai aku akan tergugah
jika aku yang mulai
maaf-maaf saja
pengalaman sebelumnya memberi pembelajaran berguna sangat
dalam berkomitmen, aku payah

sajak ini bukan untuk seseorang
meski saat dibuat pikiran dan hasrat hanya tertuju padanya
sungguh,
ini tentang keinginan aku seorang
yang tak juga mampu menyelesaikan
satu episode cerita
yang pada akhirnya hancur berantakan
karena terlalu lama dibiarkan.

jadi,
monggo bantu saya merapikannya ya..

Senin, 08 Februari 2010

Cinta untuk Bilqis

Cinta bisa datang dan pergi. Kadang muncul tanpa aba-aba, sering menghilang tanpa basa-basi. Tidak jarang datang kemudian hinggap. Diusir dia, kembali mengendap-endap.
Andi Eriawan

Ya, selarik kalimat tadi dibuat oleh seseorang yang saya kagumi. Tak pernah bertemu, kenal juga tidak sama sekali, hanya saja, saya sering mengunjungi beranda maya miliknya.
Saya menyepakati, amat sangat mengamini.
Cinta, bisa saja kita merasa jatuh cinta dalam sekejap, tanpa babibu, tiba-tiba saja terasa.

Seperti yang terjadi pagi ini. Saya jatuh cinta pada sebuah gerakan sosial bernama ‘Koin Cinta Bilqis’ (KCB). Sebuah gerakan yang bertujuan menggalang dana untuk membantu proses pengobatan seorang bayi 17 bulan yang dideteksi mengalami kelainan bawaan bernama Atresia Bilier. Biaya pengobatan yang dibutuhkan tak tanggung-tanggung, yakni 1M. Sebuah nominal yang sangat fantastis tentu saja. Beruntung, kita berada di sebuah negara dimana msyarakatnya masih memiliki kepedulian terhadap sesama, dalam jangka waktu kurang dari 50 hari, KCB berhasil menggalang dana 1,5M.

Kini, segenap keluarga sedang menunggu keputusan tim dokter di RSUD Karyadi Semarang mengenai tindak lanjut langkah medis yang akan di berikan pada Bilqis Anindya Passa.

Semoga Bilqis mendapatkan yang terbaik, tanpa kecuali. Semangat hidupnya telah menginspirasi banyak orang di luarsana untuk terus berjuang, menerjang penghalang menuju pengharapan meski hanya setitik terang. Saya disini, merasa tersemangati lewat gelang dan pin yang tersemat hangat di dada.

Rabu, 03 Februari 2010

puisi untuk sepotong cerita di masa lalu


Ada yang hilang di sini, entah apa, aku tah tahu
Semua memisterikan diri
Seakan menjadi abu-abu
Memudar
Dan perlahan menghilang tanpa pamit
Ada yang berdenyut
Entah apa, yang pasti di dalam diriku
Dibarengi dengan memori masa lalu yang berkelebat
Aku rindu aroma daun bambu di sekitar lapangan basket itu
Aku rindu tawa dan makian tanda sayang sahabat di kampus tercinta
Aku ingin mencecap
Aroma semua yang dulu terasa manis
Kini
Ingatanku memburam
Perlahan dan pasti
23 juni 2009


tanpa sengaja kutemukan bait aksara diatas, meski sudah lama di buat, sampai saat ini saya masih merasakan hal yang sama.

Selasa, 02 Februari 2010

sandal jepit lepas landas


Sedang ingin berbicara tentang resiko. Setiap tindakan pasti mengandung resiko, baik itu resiko menyenangkan atau malah resiko menyebalkan.

Seperti yang sedang dijalani sandal jepit. Dia merelakan dirinya terjatuh dalam cinta, dalam dan menyanyat. Awalnya, dia hanya mencoba-coba belaka. Mencoba membuka hati pada batu yang selalu membuatnya tertawa. Mencoba menjalin cerita, setelah bertahun-tahun dia takut mencoba.

Beberapa waktu berselang, sandal jepit merasa senang. Bahagia. Dunianya seketika memiliki koleksi warna. Tidak hanya 24 macam, seperti koleksi spidol yang dimilikinya. Semburat diharinya pun langsung bermetamorfosa, tegas dan ceria.

Sampai satu masa datang membayangi. Ternyata, tak selamanya cinta menjanjikan suka ria semata. Cinta juga mengajak resiko. Sandal jepit sadar, sewaktu-waktu dirinya bisa saja terluka. Setidaknya ia tidak pernah menyesal, menjalani sepotong cerita dengan sapuan kuas cerita yang tak biasa.

Saat ini, sandal jepit akan terus melangkah. Menapaki setiap jalan yang akan mengajaknya ketempat-tempat tersempurna. Dalam setiap langkah, akan digoreskannya jejak-jejak perjalanan jiwa. Mungkin nanti akan ditemuinya jalan setapak yang lembut. Tak jarang juga membentang lautan luas, atau malah gemericik air di sungai jernih.

Saat ini, ada sebongkah batu yang mendampinginya. Mungkin besok malah sepatu kanvas. Bukan tak mungkin juga tas ransel. Semua begitu bebas menjelma, tanpa kategorisasi. Berpetualang, melanglanglang buana, sampai ditemukannya batas cakrawala.

Minggu, 17 Januari 2010

Melawan Rasa Malas

Ada banyak rencana yang harus diurai satu persatu dalam satu putaran tahun ini. Semoga saja kesemuanya tidak berhenti dalam tahap wacana. Yah, meski belum menjadi tekad yang membatu, kali ini saya cukup bersikeras untuk merencanakan ini itu. Bukan rencana yang cukup wah sebenarnya, sederhana malah.

Saya sedang ingin berkoar-koar tentang rencana, keinginan dan target.

Umm, setelah dipikir-pikir, tiba-tiba saya mengurungkan niat. Satu hal sederhana yang paling ingin saya lakukan adalah melawan rasa malas. Jika sudah bersentuhan dengan lima huruf ini, entah mengapa, rasanya semua energi langsung terserap. Mau punya ide brilian kek, mau semangat nulis kek, mau punya segudang rencana kek, entah mengapa semuanya langsung menguap. Ya, terkadang rasa malas saya memang mencapai tahap akut. Tak jarang saya tak melakukan apapun sepanjang hari, hanya leyeh-leyeh tak jelas juntrungannya.

Sialnya lagi, rasa malas ini suka kambuh tanpa pandang waktu. Dan saya akan kelimpungan sendiri jika malas ini menyergap di hari kerja. Bukannya apa-apa, saya toh tetap harus melaksanakan tugas bukan?
Maaf ya rekan sejawat, jika terkadang harus menyediakan stok sabar lebih banyak saat rasa malas mulai merasuki saya.

Tahun ini saya berjanji akan berusaha menghalau rasa malas yang kerap menghinggapi. Semoga tidak sekedar janji, namun ditepati.